
suatu hari ketika sedang libur bekerja dika menyempatkan diri untuk berolahraga pagi diluar rumah.
setelah selesai lari pagi dika berjalan ke arah dapur hendak mengambil air minum.
kebetulan vani dan arin juga sedang berada di dapur.
vani baru saja selesai memasak makanan khusus untuk suami tercintanya hari ini.
melihat vani ternyata juga sedang berada di sana dika pun berjalan menghampiri istrinya.
"sayang, kamu masak apa nih? kayanya enak banget deh"
dika menatap makanan yang sudah tersedia di atas meja lalu beralih menatap istrinya.
"iya, semuanya aku masakin khusus buat kamu mas"
dika memeluk pinggang istrinya sambil mengelus perut buncit itu.
arin yang juga sedang berada di sana mau tak mau harus menyaksikan adegan romantis pasangan suami istri itu.
sebelumnya arin melihat dika berjalan dengan tubuh tegap dan gagahnya menuju ke arah mereka. memperlihatkan lengan otot sempurna dengan kaos tipis tanpa lengan yang sedang dika pakai bahkan kaos itu basah oleh keringat sehingga memperlihatkan bentuk tubuh atletisnya juga.
arin menelan kasar salivanya dengan susah payah ketika melihat pemandangan itu di hadapannya. sebagai wanita dewasa yang normal tentu saja ia memiliki ketertarikan pada lawan jenis yang tampan dan menawan.
apalagi usia arin sebenarnya dua tahun di atas usia vani namun ia masih saja sendiri. entah apa yang membuat arin masih betah sendirian dengan usia dewasa saat ini.
"ya ampun mata ku" gumam arin saat melihat tubuh ideal dika yang terpampang nyata di hadapannya dengan cepat ia mengalihkan pandangannya dari dika.
'udah ganteng, gagah dan punya segalanya lagi. beruntung banget vani bisa punya suami kaya dika' batin arin yang kembali menatap dika dengan kagum.
di lihat bikin dosa enggak di lihat sayang sekali, mungkin begitulah pikirnya.
"mas lepasin, enggak enak disitu ada mbak arin tau" bisik vani pelan saat dika terus saja memeluk pinggangnya dan menyatukan kening mereka.
"hem?"
dika yang baru saja sadar jika sejak tadi ternyata ada arin disana pun langsung menarik tangannya dari tubuh vani lalu nyengir melirik kearah arin yang tidak terlihat disana.
"maaf ya sayang aku enggak liat" bisik dika kepada istrinya yang membuat vani harus menahan tawa karena dika tidak melihat arin sedang berdiri di samping mereka.
"ih kamu jail banget sih mas masa enggak liat sih"
vani menepuk pelan pundak suaminya.
sedangkan arin hanya tersenyum miris mendengar ucapan dika yang tidak melihat keberadaan dirinya disana.
"em, vani aku ke dalam dulu ya"
arin pun akhirnya melangkah pergi meninggalkan pasangan suami istri itu di dapur.
"eh, iya mbak" vani hanya mengangguk.
"em mas, anak kamu lagi pengen makan kue yang dibuat sendiri sama papanya nih"
vani mengelus calon buah hati mereka yang masih berada di dalam perutnya sambil tersenyum menatap suaminya.
"oh ya. beneran sayang?"
dika mendekatkan wajah di perut vani lalu mengelusnya lembut.
"iya papa"
"baby atau mama yang pengen hem?"
dika memainkan alisnya menatap vani.
"eh, liat deh sayang aku bisa ngerasain baby kita lagi gerak gerak sekarang"
dika antusias memegang perut vani yang terasa bergerak dari dalam.
"itu artinya baby lagi ngerespon ucapan kita mas. kamu harus sering sering ajak baby ngobrol biar baby kita makin pinter dan aktif di dalam"
"em, iya sayang anak papa lagi senang ya nak karena papa mau buatin kue buat baby"
dika terus mengusap lembut perut istrinya dengan haru.
dika kembali mengingat ketika pertama kali dirinya ikut menemani istrinya untuk melakukan check up rutin serta melakukan USG di rumah sakit. ia menatap calon anaknya di dalam layar monitor pada saat itu dengan perasaan yang sangat haru hingga meneteskan air matanya.
dika sangat bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk bisa melihat calon bayinya tumbuh.
"jangan nangis lagi dong sayang, huh otot aja yang gede. baru juga ditendang dikit aja sama anaknya udah mewek"
vani menggoda suaminya karena melihat dika sedang berusaha untuk menahan air matanya.
"kamu tuh ya bisa aja deh, aku enggak nangis karena itu sayang" cubit dika gemas pada pipi vani.
"terus kenapa dong kamu nangis?"
"iya karena aku bersyukur masih di kasih kesempatan buat hidup dan bisa ngeliat baby kita tumbuh di sini sayang"
__ADS_1
dika kembali mengelus perut istrinya.
"hem, iya berkat pertolongan mbak arin kan mas"
"em iya sayang. ya udah kalo gitu aku mandi dulu ya habis itu baru buatin kue buat baby"
"iya cepetan ya mas"
dika mengangguk lalu melangkah menuju kamarnya.
setelah dika selesai mandi ia segera turun menuju dapur hendak membuat kue permintaan baby mereka namun saat sampai di dapur vani malah mengajaknya untuk makan lebih dulu karena makanan yang sudah ia masak sejak tadi akan segera dingin.
"mas ayo kita makan dulu" ajak vani pada dika.
"nanti aja sayang. kan aku lagi..."
"udah ayo mas nanti aja buat kuenya entar keburu dingin loh makanannya" vani menarik lengan suaminya.
"iya deh iya"
dika pasrah lalu duduk di kursi bersama vani dan arin juga.
"nih mas makan yang banyak ya"
vani mengambilkan makanan lalu meletakkannya di dalam piring dika.
"makasih ya sayang" dika tersenyum.
"iya mas sama sama"
"arin, kamu kok makannya dikit banget sih nih ayo makan yang banyak biar kamu cepat gede"
dika meletakkan makanan yang lebih banyak di dalam piring arin.
"iya makasih mas aku lagi diet kok"
arin tersenyum canggung menatap vani yang juga sedang menatapnya.
"ngapain sih kamu diet segala badan kamu udah langsing gitu liat vani sekarang badannya tuh udah makin berisi karena aku kasih makan yang banyak"
dika tersenyum pada arin.
"hhh! iya mas"
arin merasa canggung sedangkan vani sudah memasang wajah datar kepada suaminya namun ia segera menepis pikiran anehnya.
vani mencoba untuk mengabaikan perasaan cemburunya.
dika selesai makan dan menghabiskan semua masakan istrinya lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruang keluarga sambil menonton tv.
"sayang kamu sengaja ya masak makanan kesukaan aku banyak biar perut aku buncit kaya perut kamu juga?"
dika menuduh istrinya setelah ia merasa kekenyangan.
"loh, kok malah nyalahin aku sih mas lagian kenapa semua makanannya kamu habisin aku juga bingung tau"
"gagal diet aku dong" dika manyun.
"emangnya buat apa kamu diet?"
"iya biar badan aku tetap bagus dong sayang"
"oh biar badan kamu tetap bagus terus kamu bisa tebar pesona dan genit genit sama cewek lain di luar?"
"eh, iya enggak dong sayang pastinya biar kamu makin cinta dong sama aku"
dika mendekat lalu memeluk pinggang istrinya dari samping.
"aku bakalan cinta terus sama kamu dalam keadaan apapun mas"
"sayang jangan sedih dong iya aku tau kok kalo kamu cinta mati sama aku" hihihi
vani hanya diam menatap suaminya yang selalu bercanda
saat ini dika sedang berusaha dan berjuang sendirian di dapur untuk membuat sebuah kue permintaan istrinya itu.
dika memang sudah banyak belajar memasak makanan dari mamanya namun ia belum pernah membuat kue sebelumnya.
"ehem, butuh bantuan enggak?"
vani jahil menghampiri dika yang sedang berkonsentrasi dengan tepung tepungnya.
"enggak usah sayang kamu duduk manis aja di sana sambil liatin suami kamu yang ganteng ini masak buat kalian"
dika tetap fokus pada pekerjaannya yang sedang mengaduk aduk adonan.
"buat adonan kue jadi ngembang pasti enggak susah buat kamu lakuin mas" vani menatap suaminya.
"kenapa kamu bilang gitu sayang?"
__ADS_1
dika bingung pasalnya ia bahkan belum pernah membuat kue sebelumnya bagaimana vani bisa sangat yakin akan kemampuan dirinya pikirnya.
"iya, karena buat perut aku jadi mengembang kaya gini aja kamu bisa masa buat kue biar mengembang juga enggak bisa sih mas. hehe" vani tertawa menjahili suaminya.
"haha. kamu bener juga sih"
dika menoel wajah vani dengan adonan basah yang belum selesai itu.
"ih, mas dika"
vani cemberut lalu mengambil tepung di sampingnya dan langsung melempar juga ke wajah dika hingga wajahnya di penuhi oleh tepung yang putih.
"haha kamu kaya badut mas"
vani tertawa melihat wajah dika yang putih di penuhi tepung itu.
"aduh sayang tepungnya masuk mata aku nih, tiupin tiupin"
dika pun mendekatkan wajahnya.
huuffttt! huuffttt!
vani meniup mata suaminya dengan penuh perhatian lalu membersihkan wajah dika dengan hati hati.
"maaf ya sayang"
vani merasa bersalah lalu membersihkan wajah dika menggunakan tisu basah.
"enggak papa kok sayang"
dika tersenyum agar vani tidak bersedih lagi.
kemesraan pasangan suami istri itu tidak luput dari pandangan mata arin yang sedang melihat mereka dari kejauhan.
setelah beberapa jam menunggu sambik bermain tepung di dapur akhirnya kue buatan dika sudah matang dengan sempurna setelah beberapa kali percobaan sebelumnya gagal.
"sayang kuenya udah jadi nih"
dika membawa kue buatannya kehadapan istrinya yang sebenarnya sudah bosan menunggu itu.
"em, lama banget sih pa?"
vani manja memeluk lengan suaminya yang baru saja duduk di sampingnya itu.
"maaf ya sayang papa harus belajar dulu soalnya" dika mengelus perut vani.
"em, ya udah suapin dong baby"
vani menunjuk ke arah mulutnya yang sudah terbuka.
"oke tuan putri ku"
dika segera memotong kue buatannya lalu menyuapi vani dengan kue itu.
"gimana rasanya sayang?"
"emm enak banget mas. ini buat aku semua kan?"
vani sangat suka dengan rasa kuenya.
"iya sayang pelan pelan makannya ya. enggak bakal ada yang minta kok semuanya buat kamu"
dika membelai rambut vani.
"em mbak arin mau kue enggak?"
vani menawarkan saat melihat arin yang kebetulan lewat.
"em boleh"
arin mendekat lalu mengambil sepotong kue dan memakannya.
"gimana arin rasanya, enggak buat kamu ilfeel kan?"
dika ragu takut jika rasanya tidak seenak yang vani katakan.
"enak kok mas, ini enak banget malah" arin tersenyum
"wah! berarti kamu udah bisa buka toko kue nih mas"
vani tersenyum manis
"bisa sayang, aku juga bisa kok beliin pabriknya toko kue buat kamu"
dika berdiri mengacak acak rambut istrinya lalu melangkah menuju ke ruang kerjanya.
"ih, salahnya dimana coba"
vani memanyunkan bibirnya cuek dan melanjutkan makanannya.
__ADS_1