Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Bab 100


__ADS_3

di tempat yang berbeda terlihat raka sedang menikmati minuman beralkohol bersama dengan seorang wanita.


wanita itu bukanlah seseorang yang raka cintai namun sejak vani memutuskan hubungan dengannya raka kini menjadi seorang pria yang menakutkan. ia berubah dari pria baik menjadi pria pemuja kebebasan dunia malam.


raka selalu menghabiskan malam indah bersama banyak wanita yang ia bawa masuk ke dalam apartemennya untuk sekedar melepas hasrat saja bahkan tidak ada malam yang raka lalui tanpa alkohol yang menemani dirinya.


hampir setiap hari raka akan menghabiskan beberapa botol minuman di tangannya hingga ia mabuk berat. itu sangatlah tidak bagus untuk kesehatan tubuhnya namun raka tidak perduli lagi pada dirinya sendiri.


malam ini tidak seperti biasanya raka yang sedang berada di dalam apartemennya bersama dengan seorang wanita seksi itu pun merasa bingung mengapa ada orang lain yang bisa masuk ke dalam apartemennya tanpa ia ketahui.


cup! raka sedang bermain bibir di bagian dada wanita seksi yang menemaninya hingga membuat wanita itu melenguh.


namun tiba tiba saja dari arah pintu ada seseorang yang datang dan menghentikan aktivitas mereka.


"hai, raka apa kabar?"


seorang wanita cantik menghampiri raka di dalam kamarnya itu.


bukan hanya masuk ke dalam apartemennya bahkan wanita itu juga bisa masuk ke dalam kamar raka.


melihat ada seorang wanita cantik di hadapannya membuat raka tidak dapat menahan diri lagi karena ia sudah berada di bawah pengaruh alkohol.


raka hendak segera menyerang wanita itu dengan sorot mata penuh gairah.


"siapa kamu? berani sekali datang dan mengganggu malam ku bersama wanitaku"


raka berdiri dan berjalan mendekati wanita asing itu.


"dia bukan wanita mu, dia cuma ****** yang kamu bayar untuk menemani mu setiap malam liat!! dia adalah wanita mu yang sesungguhnya"


wanita itu menunjukkan sebuah foto wanita yang sangat raka cintai.


siapa lagi wanita yang berada di dalam foto itu jika bukan vani wanita yang sangat raka cintai.


"hh! dari mana kamu tau?" raka menatap tajam wanita itu.


"aku tahu karena kita memiliki nasib yang sama. kamu sangat mencintai istrinya sedangkan aku membutuhkan pria yang ada disampingnya"


wanita itu sebenarnya adalah karin yang juga masih mengharapkan seorang radika wijaya untuk menjadi sandaran hidupnya.


"aku memang sangat menginginkannya tapi dia tidak pernah menginginkan aku"


raka mengalihkan pandangannya karena sudah mabuk berat hingga jatuh terduduk di tepi ranjangnya.


"aku akan menemani mu malam ini sebagai awal pertemanan kita. bagaimana apa kamu setuju?"


karin duduk di atas pangkuan raka lalu melingkarkan tangannya di bagian leher pria itu.


"untuk apa?" tanya raka dari jarak wajah yang dekat.


"kita akan bersenang senang" bisik karin mengusap bagian sensitif raka membuatnya terbuai.


"hem, baiklah kamu boleh juga" raka mengecup bibir karin.


"lebih baik kamu usir ****** ini lebih dulu karena aku tidak terlalu suka di tonton secara gratisan olehnya"


karin melirik wanita yang menemani raka sebelumnya itu.


"hei, pergilah aku tidak membutuhkan mu malam ini"


raka pun mengusir wanita itu dari dalam kamarnya.


"ck!"


wanita itu berjalan keluar dari dalam kamar raka dengan wajah tak suka menatap karin.


karin hanya tersenyum penuh kemenangan menatap kepergian wanita seksi itu.


"baiklah kamu memang pria yang penurut" karin menyatukan keningnya dengan raka.


raka langsung melahap bibir ranum karin dengan tidak sabar lalu karin pun membalasnya hingga berlanjut ke bagian dadanya yang menggoda.


"emh! dengar raka! mulai malam ini aku ingin kamu menuruti semua permintaan ku sebagai temanmu"


sambil melenguh karin hendak menawarkan perjanjian kepada raka.


"apa pun yang kamu inginkan akan aku turuti"


raka yang sudah tidak tahan ingin melahap karin pun langsung setuju.


tidak ingin membuang waktu dengan buas raka merobek pakaian yang sedang karin kenakan.


"sabar lah dulu aku ingin menawarkan suatu perjanjian sebelumnya tapi kalo kamu mau sekarang maka secara otomatis kamu sudah menyetujuinya"

__ADS_1


"aku setuju" raka tidak mau berpikir panjang lagi.


dengan cepat raka langsung melepaskan seluruh pakaian yang sedang mereka pakai lalu menatap tubuh indah karin di hadapannya.


tersenyum semirk!


tanpa aba aba lagi raka pun langsung memasukkan miliknya ke dalam milik karin dengan satu kali hentakan.


"aakkhh!!"


karin meringis karena langsung mendapat hentakan keras di bagian sensitifenya tanpa pemanasan lebih dulu.


tubuh raka terus berpacu di atas tubuh karin dengan gerakan yang teratur.


"akhh! kamu boleh juga"


karin tersenyum dan melenguh di tengah pertempuran panasnya bersama raka.


"apa sebenarnya yang kamu inginkan?"


raka bertanya sambil terus menghujamkan miliknya pada tubuh karin.


"aku ingin kamu, emhh! membantuku"


karin berbicara sambil menikmatinya.


"bantu apa?"


"untuk menghancurkan pernikahan dika dengan vani wanita yang kamu cintai itu"


dengan nafas tak beraturan dan keringat yang mengucur karin menikmati setiap hentakan keras yang raka berikan kepadanya.


"vani?"


"emh!" karin mengangguk pelan.


"akh!"


mendengar karin menyebut nama vani membuat darah raka mendidih. ia semakin kuat menghujamkan miliknya secara bertubi pada tubuh karin membuat karin melenguh sejadinya menikmati pergerakan raka yang brutal.


"sshh! akhhh!"


sebenarnya karin merasa permainan raka sedikit kasar namun ia tetap menyukainya.


melihat karin yang sepertinya menikmati rasa sakit itu raka semakin bergerak cepat karena ia ingin membuat karin menderita di bawah tubuhnya namun ternyata karin mampu mengimbangi permainan brutal dari raka.


entah apa yang saat ini mereka pikirkan sepertinya raka dan karin hanya ingin meluapkan amarah dan sakit hati dengan berhubungan bebas bahkan dengan orang yang tidak mereka kenal sekali pun mungkin nikmat dan sakit sudah menjadi satu rasa bagi mereka.


"ayo lebih cepat!"


raka meminta karin untuk menahan gerakan akhir darinya karena akan segera melepaskan sesuatu yang sudah tidak tertahan dalam tubuhnya.


karin pun mengangguk menyetujuinya karena mereka akan melakukan bersamaan.


"akkhh!!!"


lenguhan panjang dari mulut keduanya mengakhiri pertempuran panas di malam yang indah itu.


nafas mereka bergetar hebat hingga keduanya terlelap saling berpelukan.


pagi yang cerah menyapa bumi vani terlihat sedang duduk di kursi teras rumah kakaknya sambil menikmati buah mangga yang kemarin baru mereka petik.


kemarin belum sempat vani memakan mangga karena dika selalu membuatnya lupa waktu jika sudah bersama.


"eh kak vani lagi makan apa tuh?"


yuli basa basi menghampiri kakaknya dengan niat ingin meminta buah mangga milik vani.


"oh aku lagi makan mangga yang kemarin nih yul kamu mau enggak? liat deh mangganya udah mateng, padahal aku pengen makannya kemarin waktu mangganya masih belum mateng kaya gini"


vani menawarkan mangga itu kepada yuli.


"mau kak ya lebih enak udah mateng gini dong"


yuli pun langsung menakan mangga yang sudah di kupas dan di potong oleh vani.


"em, selera orang kan beda beda yul"


vani juga masih menyantap mangga itu meskipun sudah matang.


menurut vani buahnya terasa lebih segar karena masih ada rasa asam di dalam mangga itu berbeda dengan mangga yang di jual di super market yang hanya rasa manis saja.


"emh!! tapi mangganya asem banget"

__ADS_1


yuli meringis dengan wajah kecut tidak mau memakan lebih banyak karena takut sakit perut.


"justru karena asem jadi makin seger tau rasanya"


vani masih memakan mangga dengan lahap.


"ih, awas kamu sakit perut ya mangga asem gitu kok di bilang enak sih" omel yuli.


'wah!'


melihat ada segelas jus di atas meja yuli pun langsung meminum jus yang berada dekat dengannya itu.


slurupp!!


"hem, huek!! ya ampun ternyata jus mangga ini juga?"


yuli dengan wajah berkerut menahan rasa asam di mulutnya.


"hehe iya enak kan?" vani cengengesan.


"enak dari hongkong! asem banget tau"


yuli pun berlari menuju dapur untuk mencari air putih atau madu agar rasa asam di mulutnya menghilang.


"huh! ya udah kalo enggak mau" vani hanya cuek saja.


tak lama dika terlihat datang hendak menghampiri istrinya yang sedang duduk di kursi teras rumah itu.


"hai sayang"


"hai mas"


"em yuli kenapa tuh lari larian ke dapur gitu" dika bingung.


"tau tuh! katanya sih mangga yang aku makan ini asem banget padahal menurut aku enggak asem sama sekali"


"oh ya? mana coba" dika pun mencicipinya.


"enakkan?" vani tersenyum menatap suaminya.


"em, kamu serius sayang bilang mangga ini enak?"


dika sudah mencicipi jus buah mangga yang asam itu.


"hem"


vani mengangguk saja karena ia suka dengan rasanya dan terus memakan buah yang enak menurutnya itu.


"hem"


dika hanya geleng kepala melihat vani yang sangat lahap memakan buah mangga asam itu, ia maklum saja karena tau jika mangga itu adalah permintaan dari calon bayinya.


"beneran anak papa suka banget sama mangganya?" dika mengusap lembut perut istrinya.


"iya pa, enak!" vani pun meminum jus mangga pula.


"kok bisa sih sayang atau mungkin kamu bilang mangga ini rasanya enak banget karena di petik dari pohon mangga punya mantan kamu itu ya?" dika iseng bertanya.


"ish mulai deh mas"


"iya kan mana tau"


"em, kayanya iya deh mas rasa mangga ini tuh beda soalnya kaya rasa yang pernah ada dulu gitu"


vani tersenyum karena telah membuat dika merasa kesal.


"oh, rasa yang pernah ada?" dika geram mendengarnya.


"haha. berarti rasa yang pernah ada dulu rasanya asem dong kak"


yuli yang baru saja kembali itu menyambung ucapan kakaknya.


"haha. bener tuh yul manisnya mah cuma sama aku doang" dika kembali tersenyum.


"ck! apaan sih liat deh sayang papa kamu seneng banget"


"iya dong"


selama masa kehamilannya vani memang tidak pernah mengidam hal hal yang aneh. dika juga merasa sangat bersyukur karena kehamilan istrinya kali ini sama sekali tidak merepotkan baginya dan keluarga yang lain juga.


kandungan vani juga terbilang kuat sehingga dika tidak begitu kesulitan untuk menjaga vani dan calon bayinya. terbukti karena bayi masih baik baik saja bahkan saat vani mengalami keracunan makanan waktu itu.


bahkan perut vani pernah terbentur di tangga hingga ia mengalami pendarahan ringan saat itu namun beruntung bayinya tetap bertahan dan kembali sehat.

__ADS_1


hal itu membuat dika selalu menyebut bayinya sebagai jagoan papa.


__ADS_2