Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 140


__ADS_3

Keesokan harinya, vani terbangun saat menjelang subuh tiba. ia melihat jam di dinding masih menunjukkan pukul 04:35 pagi.


mata vani beralih menatap suaminya yang masih terlelap di samping dengan posisi sedang memeluk tubuhnya dan wajah dika menghadap ke arah dirinya.


vani menatap lekat wajah suaminya itu sambil tersenyum.


"suamiku ganteng banget sih, aku beruntung banget bisa milikin kamu jadi setiap pagi aku bisa liat wajah tampan yang seindah ini"


"ya walaupun wajah ini juga yang buat aku harus nahan cemburu setiap hari karena ngeliat banyak tatapan kagum dari wanita lain ke kamu mas tapi aku bersyukur kamu memilih tetap ada di sisiku" gumam vani.


setelah itu vani beranjak dari tempat tidurnya melangkah menuju kamar mandi hendak segera membersihkan diri karena melihat raffa juga masih tertidur di dalam boxnya.


setelah selesai mandi vani merasa sangat ingin memasak hari ini karena sudah lama ia tidak melakukan kegiatan yang disukainya itu.


"em, aku masak dulu deh"


melihat suami dan bayinya masih terlelap vani pun keluar dari dalam kamar lalu berjalan menuju dapur hendak memasak terlebih dahulu sebelum bayinya terbangun. ia ingin memasak makanan kesukaan suami dan adik adiknya.


"maaf nyonya apa ada sesuatu yang bisa kami lakukan untuk nyonya?" tanya bi ina saat melihat vani datang ke dapur pagi pagi begini.


"em, gini bik saya pengen banget masak makanan buat suami dan adik adik saya hari ini boleh ya" minta vani dengan lembut kepada pelayan di rumahnya itu.


"tentu saja boleh nyonya, kami akan membantu nyonya memasak"


"makasih ya bik"


vani pun mulai membuka kulkas dua pintu yang berada di dapur itu dan melihat bahan bahan yang ingin ia masak. ternyata semua bahan makanan di dalam lemari pendingin masih lengkap karena mungkin bi ina baru belanja semua kebutuhan beberapa hari yang lalu.


"syukur deh masih lengkap bahan bahannya" ujar vani berbicara sendiri yang di dengar oleh bi ina.


"iya nyonya soalnya kan baru belanja kebutuhan dapur kemarin"


"oh iya makasih ya bik" vani tersenyum lalu ia segera mengeluarkan beberapa sayuran, daging, dan bahan lainnya.


vani dengan senang hati memasak semua makanan kesukaan mereka hingga selesai.


setelah jam menunjukkan pukul 06:45 pagi vani sudah menyelesaikan semua masakannya di bantu oleh bi ina dan asisten lainnya. karena vani belum boleh terlalu capek, dika selalu meminta asisten di rumahnya untuk menjaga kondisi istrinya itu. vani mulai menata semua makanan yang ia masak di atas meja makan.


"nah! sekarang udah selesai deh"


setelah selesai dengan semuanya vani melihat jam di dinding dan merasa heran kenapa belum ada satu orang pun yang bangun, termasuk kedua adiknya juga. biasanya mereka bahkan sudah lari pagi setelah subuh namun hari ini ia tidak melihat keduanya.


vani pun melangkah masuk kedalam kamar adiknya untuk mengecek apa yang terjadi.


ceklek....!!


vani membuka pintu kamar dua anak gadis itu dan mendapati adiknya masih tertidur di atas ranjang.


"ya ampun masih tidur, pintu juga enggak di kunci" omel vani saat masuk ke dalam kamar adiknya.


vani melihat hana yang sudah mandi dan rapi namun tidak dengan yuli yang masih berada di alam mimpi yang indah.


"hana, kok tumben sih yuli belum bangun jam segini? biasanya udah lari pagi" tanya vani kepada hana.


"enggak tau tuh kak, tadi malam pulangnya jam berapa aku juga engga tau karena aku udah ketiduran nungguin kak yuli tapi belum pulang juga" hana menjelaskan.


"apa!! pulang larut malam?" vani membelalakkan matanya.


"iya padahal tadi malam aku tuh tidur udah jam sebelas malam, tapi kak yuli belum pulang juga" hana mengadu pada kakaknya.


"ya ampun, yuli...!!!!!! bangun...!!!! kamu dari mana aja tadi malam enggak pulang tepat waktu?" vani bertanya sambil berteriak di dekat ranjang adiknya itu.


namun sekuat apa pun teriakan vani tidak akan membuat yuli bangun karena suaranya yang terlalu lembut. justru teriakan vani hanya terdengar seperti kicauan burung di telinga yuli.


"jangan gitu kak banguninnya, gini aja nih. haha" hana tertawa sambil menutup wajah yuli dengan bantal.


"eh!!!! apaan sih hana, lo mau gue mati ya enggak nafas" omel yuli memarahi adiknya.


"ya habisnya kamu tuh enggak bangun bangun udah siang juga kak" protes hana.


"ya kan gue masih ngantuk tau" jawab yuli malas.


"kamu tuh, dari mana tadi malam. kenapa pulangnya sampai larut?" tanya vani sambil berkacak pinggang di samping tempat tidur yuli.

__ADS_1


"eh kak vani. sejak kapan ada disini hehe baru keliatan" yuli nyengir menatap kakaknya.


"enggak usah mengalihkan pembicaraan ya yuli jawab pertanyaan aku sekarang!" vani memicingkan matanya kesal karena yuli malah bercanda dengannya.


"eh itu, aku tadi malam,,,,, motor aku mogok kak di jalan. jadi pulangnya lama deh"


yuli menjelaskan kebenarannya namun tidak jujur dengan alasan yang sebenarnya jika dirinya terlambat pulang karena ketiduran sampai malam di dalam butik dan juga di ganggu oleh dua orang pria asing.


yuli tidak mau membuat kakaknya khawatir namun vani tidak percaya semudah itu.


"mogok!! terus motor kamu dimana sekarang. kamu juga pulang naik apa?" vani mengintrogasi adiknya karena merasa khawatir.


"em aku.... itu tadi malam kebetulan pak ray lewat jadi dia ngasih aku tumpangan deh" yuli tersenyum saat mengingat momen itu.


"mas ray kok bisa kebetulan gitu sih?" pikir vani bingung.


"iya bisalah kebetulan mungkin kami juga jodoh"


"apa!!! jodoh?" hana heran mendengar ucapan yuli.


"em maksud aku.."


"kamu suka ya sama mas ray?" tanya vani menyelidik.


"eh em hehe enggak kok kak" yuli hanya nyengir dengan canggung.


"hem, kalo iya juga enggak papa sih yul. kakak setuju kok kalo kamu sama mas ray, soalnya dia tuh cowok yang baik dan bertanggung jawab. dia juga masih jomblo loh nanti aku bantuin kamu ya buat lebih dekat sama mas ray" vani tersenyum dan memainkan alisnya pada yuli.


"em..., terserah kamu deh kak tapi aku enggak yakin kalo pak ray punya perasaan yang sama kaya aku"


"cie! jodohnya pake jalur orang dalem nih ya" ledek hana karena mendengar dukungan dari vani.


"udah enggak usah sedih gitu, cepetan mandi sana. kita sarapan bareng aku udah masakin makanan kesukaan kalian" vani menatap yuli dan hana.


"wah!!! asik dong hari ini bisa makan masakan kak vani lagi, aku suka banget karena lebih enak" hana sangat bersemangat.


"ih!! apaan sih lo gue juga bisa masak kok" yuli protes melihat kesenangan hana.


"eh, emang kakak bisa masak makanan seenak masakan kak vani?" tanya hana.


"udah udah aku mau ke kamar dulu ya, mau lihat raffa mungkin udah bangun juga"


vani keluar dari dalam kamar adiknya lalu berjalan menuju kamarnya.


ceklek....!


vani membuka pintu kamarnya lalu masuk dan melihat dika yang sudah rapi memakai pakaian kantor namun masih belum memakai dasi dan jasnya.


"sayang kamu dari mana aja sih? aku kesusahan tau pakainya" omel dika karena saat bangun ia tidak lagi melihat keberadaan istrinya itu di sampingnya.


"suami aku udah ganteng, sini aku pakein dasinya sayang"


"udah ganteng dari lahir tau" dika masih manyun.


"oh iya ya" dengan lembut dan penuh perhatian vani pun hendak memakaikan dasi dika dan sengaja mengalihkan ucapan suaminya yang sedang protes karena tidak mau berdebat pagi ini.


vani dengan senyum memakaikan dasi di kerah kemeja yang dipakai oleh suaminya itu. dika terus menatap wajah istrinya sambil merangkul pinggang vani dengan kedua tangannya.


"udah selesai" vani mengusap usap dada suaminya di kedua sisi untuk memastikan semuanya sudah rapi.


"makasih ya istriku yang cantik" ujar dika memegang dagu istrinya membuat vani semakin tersenyum mendengar ucapan suaminya itu.


"sama sama suamiku" vani tersenyum membalasnya.


dika mendekatkan wajahnya dengan wajah vani hendak mengecup bibir istrinya itu namun tiba tiba raffa terbangun dan menangis.


"ooeekk ooeekk!!!"


vani yang mendengar tangisan bayinya langsung menarik diri dari suaminya dan langsung melangkah menuju box bayi. dika yang gagal merasakan bibir manis istrinya pun langsung memejamkan mata sambil tersenyum miris lalu memutar bola matanya.


"sayang, kamu tuh suka banget ya ngerjain papa" dika ikut mendekat pada box bayinya.


"affa udah bangun dari tadi ya sayang, maaf ya mama enggak tau" vani menggendong bayinya yang menangis lalu dika mengecup gemas pipi bayinya.

__ADS_1


umuach!!!


"raffa bau banget sih belum mandi ya sayang, sana deh affa mandi sendiri biar ganteng kaya papa" dika menggoda anaknya yang bahkan belum mengerti ucapannya itu.


"ada ada aja deh papa" vani langsung menepuk pelan pundak suaminya sambil tersenyum karena dika selalu menggoda bayinya.


"hehe iyakan bener sayang"


"mas kamu langsung sarapan aja yuk"


"ayo sayang" dika merangkul pundak vani yang sedang menggendong bayi mereka.


sesampainya di meja makan, kedua adiknya juga sudah berkumpul disana. mereka duduk di kursi masing masing hendak segera sarapan bersama.


"nih! kak vani kamu harus sarapan yang banyak ya biar raffa juga kenyang" yuli meletakkan makanan yang lebih banyak di piring vani.


"ini udah banyak kok, kamu tau kan aku enggak pernah sarapan pake nasi sebelumnya" vani berusaha untuk terus memakan sarapannya.


sedangkan raffa sedang di gendong oleh sri salah satu baby sitter yang membantu vani untuk mengurus raffa.


"iya tapikan...." ucapan yuli menggantung.


"udah deh kak yul, biarin aja kak vani kan belum terbiasa. beda sama kita" hana menengahi.


"iya iya deh. tapi..." yuli melirik dika yang hanya diam saja.


"oh ya bang dika tadi malam dari mana?" tanya yuli membuat dika tersedak makanannya.


"uhuk,, uhuk,,," dika pun langsung meminum air dari dalam gelas yang vani sodorkan.


"mas hati hati dong makannya" vani mengusap punggung suaminya pelan.


"iya makasih ya sayang" dika tersenyum pada istrinya.


"maksud kamu mas dika dari mana yul?" tanya vani kepada adiknya.


"iya waktu aku baru pulang tadi malam tuh enggak lama aku denger suara orang lain juga masuk ke dalam rumah tapi enggak mungkin kamu kan kak jadi aku pikir itu pasti bang dika" yuli menceritakan apa yang ia dengar.


"emangnya tadi malam kamu pergi ya mas?" tanya vani penasaran.


"em, enggak kok sayang. aku cuma ke dapur aja buat ambil minum" ujar dika beralasan.


"hah!!! tapi aku dengernya...." yuli kembali berpikir untuk mengingat sesuatu.


"ck! udahlah yul. paling juga kamu salah dengar." dika memotong ucapan adik iparnya.


"aku beneran yakin kok"


"ya udah kalian selesain makan cepat ya entar telat lagi kerjanya" vani pun melerai.


setelah selesai sarapan dika pamit berangkat ke kantor pada anak dan istrinya dengan mengecup kening dan pipi keduanya.


"emuach! papa pergi kerja dulu ya sayang, kalian baik baik di rumah ya"


"iya pa. ayo aku anterin ke depan mas"


"makasih ya sayang, anak papa jangan nakal ya"


"iya papa" vani pun membawakan tas kerja suaminya hingga ke depan pintu keluar.


"dah sayang" dika melambaikan tangan yang di balas oleh vani juga.


setelah dika masuk mobil pun melaju menuju kantor. vani kembali masuk ke dalam rumah untuk menjaga bayinya.


"eh, yuli kamu enggak pergi kerja?" tanya vani saat melihat yuli yang masih bersantai duduk di atas sofa


"enggak deh kak, aku udah bilang sama sarah buat gantiin aku hari ini. kayanya aku lagi enggak enak badan"


yuli mengatakan apa yang ia rasakan namun tidak mau menjelaskan pada kakaknya jika badannya terasa sakit akibat berlari di tengah malam kemarin membuat tubuhnya kemungkinan masuk angin.


"oh ya udah kalo gitu kamu istirahat aja ya" ujar vani dan yuli pun mengangguk.


vani berjalan menuju tempat dimana raffa berada karena sedang di jaga oleh hana.

__ADS_1


"huh!!! untung aja kak vani percaya kalo sampe dia tau aku di gangguin preman tadi malam, bisa bisa dia beneran enggak bakal izinin aku buat pergi kemana pun naik motor kesayangan aku lagi deh" gumam yuli merasa lega.


yuli beranjak dan kembali masuk ke dalam kamarnya hendak segera beristirahat.


__ADS_2