
menjelang siang hari setelah selesai memasak makanan yang di inginkan oleh suaminya vani pun segera pergi ke kantor untuk membawakan makan siang.
vani akan menjemput raffa lebih dulu di sekolahnya lalu mengajak putranya itu untuk pergi bersamanya ke kantor wijaya. ia di antar oleh supir pribadi menuju sekolah raffa.
sesampainya di depan gerbang sekolah terlihat raffa sudah menunggu jemputan kemudian ia pun melihat mobil mamanya datang.
"mama!"
raffa tersenyum dan langsung langsung masuk ke dalam mobil setelah pintunya terbuka.
"hai sayang gimana sekolahnya hari ini. afa seneng kan bisa main sama temen temen?" vani menyambut putranya yang masuk ke dalam mobil
"afa seneng ma. afa juga suka main sama temen temen" raffa duduk di samping mamanya.
"ya udah kalo gitu sekarang kita ke kantor papa ya"
"oke ma"
raffa sudah tidak sabar ingin bertemu dengan papanya di kantor. ini memang bukan kali pertama raffa berkunjung ke kantor papanya namun sudah cukup lama ia tidak pernah ikut ke kantor papanya itu.
sesampainya di kantor vani dan raffa langsung berjalan memasuki lobby dan melihat ternyata dika sudah menunggu kedatangan anak dan istrinya itu di sana.
"papa!!!" teriak raffa berlari senang ke arah papanya.
"hei sayang" dika langsung menyambut putranya itu dengan pelukan dan mengecup keningnya.
dika menggendong putranya lalu berjalan menuju lift untuk naik ke lantai atas menuju ruangannya.
"kamu udah lama nunggu disini mas?" tanya vani sambil ikut berjalan di samping suaminya.
"iya enggak dong sayang ngapain juga aku nungguin kamu lama lama disini. emangnya aku enggak ada kerjaan lain apa?" dika masih saja membuat vani merasa kesal.
"iihh!!! ngeselin banget sih nih orang" gumam vani yang masih terdengar oleh dika.
"eh, orang orang siapa maksud kamu?" dika menatap istrinya.
"orang orangan sawah maksudnya" jawab vani asal.
"siapa orang orangan sawah?" tanya dika jahil.
"iya kamu mas"
"hem, untung aja kamu istri aku sayang" dika terus berjalan.
"habis kamu ngeselin mulu dari tadi pagi" gumam vani mengikuti suaminya masuk ke dalam lift.
semua hal yang terlihat di lobby tak luput dari pandangan mata para karyawan disana. mereka ikut tersenyum melihat keluarga kecil dika dan vani yang selalu bahagia.
ya selalu terlihat bahagia di mata orang lain namun tidak semua orang mengetahui gelombang dan pasang surutnya masalah terjadi dalam bahtera rumah tangga pasangan yang selalu terlihat serasi itu.
karena setiap rumah tangga pasti memiliki masalahnya masing masing. tidak akan selalu berjalan mulus seperti yang kita inginkan namun kita harus tetap bersabar dan menyikapinya dengan baik agar rumah tangga yang di jalani tetap utuh sebab ego mampu menghancurkan kebahagiaan.
sesampainya di lantai paling atas dika dan vani langsung melangkah menuju ruangannya.
sebelum masuk ke dalam ruangan papanya raffa menyapa ray yang terlihat sedang duduk di kursi meja kerjanya yang berada di depan ruangan itu.
"hai om ray...!!." sapa raffa tersenyum kepada ray.
"hai bos kecil, apa kabar?" ray juga tersenyum menatap putra dari sahabatnya itu.
"afa baik om. oh ya ayo kita makan siang bareng om" ajak raffa.
ray menatap dika untuk meminta persetujuan namun dika hanya menggeleng pelan menatap ray, sepertinya dika sedang tidak ingin di ganggu. mungkin ia ingin menikmati momen bersama istri dan anaknya saja di dalam ruangan.
ray yang mengerti pun langsung menolak secara halus ajakan dari bos kecilnya itu.
"hem mungkin lain kali aja ya bos kecil, soalnya om udah ada janji sama orang lain nih"
"yah!!! yaudah deh om lain kali kita makan siang bareng di dalam ruangan papa ya" pinta raffa.
"pasti bos" ray menggerakkan tangannya hormat.
dika tersenyum senang mendengar jawaban dari sahabat yang selalu mengerti keinginannya itu.
vani dan dika pun melangkah masuk kedalam ruangannya.
sesampainya di dalam ruangan vani meletakkan rantang yang ia bawa di atas meja lalu membuka makanannya.
"mas, ayo makan dulu mumpung masih hangat nih"
"iya sayang sebentar lagi ya" dika masih fokus menatap layar di hadapannya.
"mas, katanya kamu udah laper banget jangan di tunda lagi dong makannya nanti perut kamu bisa sakit"
"iya sayang, makannya disuapin dong"
"ya ampun mas kamu tuh udah gede masih aja minta di suapin, aku masih nyuapin afa makan nih"
"ma, afa bisa kok makan sendiri" raffa mengambil alih sendok di tangan mamanya.
__ADS_1
"anak mama pinter banget sih udah bisa makan sendiri, ya udah affa makan yang banyak ya sayang" vani mengusap rambut putranya.
"oke ma"
"mas, emangnya kamu sesibuk itu ya sampe enggak ada waktu buat makan?" tanya vani berjalan mendekat.
"enggak sih sayang cuma aku pengen banget di suapin sama kamu hehe"
dika nyengir melirik istrinya yang datang sambil membawa makanan di tangannya.
"hem ya udah deh nih aku suapin kamu ya mas" vani duduk di samping suaminya.
"kita duduk di sofa aja yuk sayang bareng raffa"
"em ya udah"
akhirnya dika makan bersama raffa di sofa dengan vani yang menyuapi suaminya.
"liat deh mas afa yang masih kecil harus ngalah demi papanya yang manja ini"
vani menatap raffa yang sedang makan sendiri dengan lahapnya.
"afa udah gede ma" bantah raffa karena selalu di katakan anak kecil.
"nah! dengarkan sayang, afa tuh udah gede tau" dika tersenyum.
"em, ya udah deh gimana kalo mama suapin kalian berdua aja mau enggak?" vani menatap keduanya.
"mauu.....!!!" ayah dan anak itu kompak menjawab.
"oke ayo buka mulutnya aaaaaa" vani menyuapi keduanya.
"em, enak ma" ujar raffa dan dika bersamaan.
"uhh gitu dong pinter anak anak mama" vani tersenyum jahil mengusap rambut raffa dan suaminya juga.
dika hanya melirik saja mendengar ucapan istrinya.
"sekarang kita yang suapin mama ya" raffa pun menyuapi mamanya juga.
"oke deh aaaa" vani menerima suapan dari putranya dan juga suaminya yang tidak mau ketinggalan menyuapi.
makan siang romantis di antara ketiganya yang saling menyuapi satu sama lain.
setelah selesai makan siang vani kembali membereskan rantang tempat makannya namun tiba tiba saja ia merasa pusing hingga hampir terjatuh.
dika merasa cemas karena melihat wajah istrinya yang berubah menjadi pucat.
"shhh!!" vani menahan pusing di kepalanya.
"sayang kamu kenapa?" dika menopang tubuh istrinya dari belakang agar tidak terjatuh.
"aku enggak papa kok mas cuma pusing dikit aja"
"kamu yakin?"
"em" vani hanya mengangguk.
"kalo gitu kamu istirahat di kamar dulu ya"
"iya"
dika mengajak vani masuk ke dalam kamar tempat beristirahat.
raffa mengikuti langkah mama dan papanya masuk ke dalam ruangan itu
"mama kenapa pa??"
"mama enggak papa kok sayang"
vani tersenyum menatap putranya agar raffa tidak khawatir dengan keadaannya lagi.
"sayang kamu yakin kita enggak perlu ke dokter?" dika pun masih merasa khawatir.
"iya mas, aku enggak papa kok kamu lanjut kerja aja ya"
"ya udah deh sayang sekarang kamu istirahat dulu ya, aku emang harus lanjutin kerjaan"
"iya mas semangat ya kerjanya" vani mengusap lengan suaminya.
"pasti dong sayang kan ada kamu sama afa disini emuach"
"pa afa mau ikut kerja sama papa ya"
"oke deh bos, ayo kita kerja sekarang" ajak dika.
"siap pa" raffa menggandeng tangan papanya.
"ma afa sama papa kerja dulu ya, nanti uangnya buat mama semua deh hehe" ujar raffa tersenyum.
__ADS_1
"iya sayang kalian semangat ya kerjanya"
"siap komandan"
anak dan ayah hormat bersamaan seperti seorang prajurit pada komandannya membuat vani tersenyum gemas.
di dalam butik, hana masih sibuk melayani pengunjung yang datang namun ia di kejutkan dengan kedatangan dimas secara tiba tiba.
"hai hana" sapa dimas menghampiri hana.
"eh, bang dimas, hai juga abang mau belanja ya?"
"enggak sih aku cuma mau jemput kamu. kita jalan yuk"
"em, gimana ya bang aku takut nanti kalo kelamaan pulang kak vani khawatir lagi nyariin aku"
"enggak bakal lama kok hana nanti kamu kabari mbak vani aja dari telpon" bujuk dimas.
"oke deh bang" hana pun setuju.
dimas dan hana pulang dari butik lebih awal karena akan pergi jalan.
sore harinya dika dan vani mengajak raffa kembali pulang ke rumah.
sesampainya dirumah mereka langsung membersihkan diri dan beristirahat di dalam kamar.
malam harinya dika dan istrinya bersiap untuk makan malam bersama.
hana yang baru saja pulang dari jalan bersama dimas pun langsung menuju dapur dan menghidangkan makanan yang sudah ia beli sebelumnya.
hari ini hana sengaja membelikan makan malam untuk semua orang.
setelah sampai di meja makan vani dan dika tercengang melihat banyak sekali makanan di atas meja makan.
"wah!!! hana kamu yang masak semua ini?"
dika menatap satu per satu menu yang terlihat lezat di atas meja makan.
"em, enggak sih bang tadi aku beli hehe"
"oh kirain kamu masak sebanyak ini"
"ya enggak sempat dong bang"
"em, emangnya dalam rangka apa nih kamu neraktir kita makan han?"
dika tersenyum jahil karena merasa curiga apa alasannya hana membeli banyak makanan.
"enggak papa sih bang aku cuma pengen aja sekalian mau bilang makasih karena abang sama kak vani udah izinin aku tinggal di rumah ini plus kerjaan di butik juga" hana mencari alasan.
"oh ya masa sih?"
dika tersenyum semakin jahil hendak menggoda adik iparnya yang terlihat gugup.
"ihh! mas kamu kok nanya kaya gitu sih"
"aku curiga sayang jangan jangan dalam rangka baru jadian nih" hehe nyengir dika.
"ck! abang ih" hana merasa malu.
"iya kan mana tau yakan sayang"
"iya juga sih mas" hihi
keduanya kompak menggoda hana hingga membuat gadis itu merasa malu.
"mama, papa udah dong ayo kita makan" ujar raffa yang merasa kasihan pada bibinya.
"iya sayang, ayo kita makan sekarang" ajak dika.
"maaf hana, makasih ya tapi kamu enggak usah berlebihan kaya gini pake ucapin makasih segala. mending uangnya kamu tabung dari pada beli makanan"
"iya kak enggak papa sekali kali doang kok"
"iya hana, mendingan uangnya kamu tabung buat biaya kuliah"
"udah lulus bang" hana memutar bola matanya.
"iya lanjut s2 dong"
"capek bang"
"ya udah kalo kamu capek langsung nikah aja" jahil dika.
"ck! mas" vani melirik suaminya yang selalu menjahili adiknya itu.
"hehe"
akhirnya mereka makan dengan tenang, hana yang melihat ketiganya makan dengan lahap pun merasa senang karena ternyata dika dan vani sangat menyukai makanan yang ia bawa itu.
__ADS_1