
Segala keperluan raffa memang berada di dalam kamar miliknya itu karena vani dan dika hanya akan membawa raffa ke dalam kamar mereka saat malam hari atau ketika bayinya sedang tidur saja sedangkan saat mandi, bermain dan lain lain dilakukan di dalam kamar khusus baby raffa.
hanya beberapa pakaian raffa untuk mengganti popok saat malam hari yang berada di dalam kamar mereka karena dika tidak mau jika ada orang lain yang datang dan masuk ke dalam kamarnya meskipun keluarga sendiri atau baby sitter ia tetap tidak akan menyukai hal itu.
menurut dika kamar adalah ruangan pribadi untuk dirinya dan istrinya saja.
vani yang tadi melihat hana berbicara dengan bik ina pun langsung bertanya kepada adiknya itu.
"hana, siapa yang datang?"
"aku enggak tau kak tapi kata bik ina dia bakal nunggu di ruang tamu" jawab hana duduk di tepi ranjang.
"oh gitu"
setelah merasa puas menyusu akhirnya baby raffa tertidur pulas. vani pun meletakkan baby raffa di atas ranjang yang beralaskan tempat tidur bayi itu.
"kalo gitu hana tolong kamu jagain baby raffa sebentar ya kakak mau keluar buat nemuin tamu dulu" vani beranjak dari duduknya menatap hana dan sri di sana.
"iya kak" keduanya mengangguk bersamaan.
vani berjalan keluar dari dalam kamar raffa menuju ruang tamu. sesampainya disana ia melihat arin yang sedang duduk menunggu dirinya.
"arin! ngapain kamu kesini?" tanya vani begitu dirinya sampai di hadapan arin. kemudian arin pun ikut berdiri karena melihat vani yang tidak mau duduk.
"aku mau bicara sesuatu sama kamu" arin menatap vani yang sudah berada di hadapannya.
"mau bicara apa, langsung aja deh enggak usah pake basa basi soalnya aku lagi sibuk" jawab vani malas.
"aku cuma mau bilang sama kamu tolong kamu jangan larang mas dika buat nemuin aku lagi karena kamu juga pasti ngerti keadaan ku vani"
"memangnya apa hak kamu pada suamiku arin?"
"karena mas dika juga ayah dari calon bayiku"
"cukup arin, kamu mungkin bisa bohongin semua orang dan pura pura menderita tapi aku enggak bakal percaya lagi sama kamu karena diri kamu sendiri yang udah buat penderitaan itu datang ke kamu"
"tapi kamu juga seorang ibu yang pernah mengandung jadi kamu pasti ngerti perasaanku"
"tolong stop semua sandiwara kamu ini arin dan akui yang sejujurnya ke semua orang tentang siapa sebenarnya ayah biologis dari bayi yang kamu kandung itu atau kamu mau aku sendiri yang jelasin ke semua orang?"
"apa maksud kamu vani?"
"jangan bersikap seolah kamu enggak tau arin harusnya cuma kamu satu satunya orang yang tau tentang siapa ayah dari bayi itu" vani menatap arin dengan tajam.
"jaga bicaramu vani, kenapa kamu selalu nuduh aku"
"aku enggak nuduh kamu, bukannya kamu ya yang udah nuduh dan fitnah suamiku? kamu bilang suamiku yang udah ngehamilin kamu padahal bukan"
arin terdiam sambil membelalakkan matanya mendengar pernyataan vani.
'pantes aja vani enggak bersikeras lagi buat pisah sama dika ternyata dia udah tau' batin arin.
"terserah kalo kamu enggak percaya, aku enggak peduli"
arin melangkah keluar dari dalam rumah vani dengan berjalan cepat karena merasa kesal.
vani menghempaskan tubuhnya duduk di atas sofa ruang tamu itu dengan mata yang kembali berkaca kaca karena mengingat apa yang sudah terjadi.
sebenarnya vani juga tidak punya bukti untuk mengatakan jika bayi itu bukanlah anak dari suaminya namun ia sudah mendengar kebenarannya waktu itu dari raka.
vani tau suaminya pasti akan mempercayai dirinya jika mengatakan hal itu namun bagaimana dengan yang lain mungkin mereka akan meragukan ucapannya itu begitu pikirnya.
setelah keluar dari rumah vani, arin pun kembali masuk ke dalam mobil hendak mencari keberadaan karin dan raka karena mereka harus melakukan sesuatu agar dika segera menikahi dirinya.
arin sudah mencari raka dan karin di semua tempat yang pernah mereka datangi saat bertemu dulu namun ia tidak menemukan keduanya dimana mana. ponsel mereka pun tidak aktif lagi membuat arin merasa frustasi mencarinya.
"mereka ada dimana sih, kenapa karin sama raka hilang kaya di telan bumi" omel arin memikirkannya.
__ADS_1
di dalam sebuah gudang besar yang sepi di tengah hutan raka sedang di hajar habis habisan oleh orang suruhan ray.
bugh!! bugh!! bugh!
"akkh...!!! shhh!" ringisan raka terdengar kesakitan.
terlihat raka di pukuli di seluruh bagian tubuhnya hingga tersungkur di lantai dengan tubuh penuh darah.
sedangkan karin juga di tampar dan di hajar oleh anak buah ray yang juga seorang wanita.
plak!! plak!!! plak!!
"arghh lepasin" teriak karin namun diabaikan.
setelah memastikan kondisi raka dan karin lemah, para anak buah ray pun keluar dari dalam ruangan tempat penyekapan itu.
karin dan raka di sekap di dalam ruangan yang terpisah sehingga keduanya tidak bisa saling membantu lagi.
'ck! brengsek'! batin raka.
menjelang sore saat melihat penjagaannya sedang lengah raka pun mencoba untuk kabur dari sana. ia meninggalkan karin yang juga sudah tidak berdaya setelah di siksa dengan niat dirinya akan kembali menjemput karin suatu saat nanti.
dengan kondisi lemah dan penuh luka di sekujur tubuhnya raka berusaha untuk berlari.
anak buah ray yang sudah menyadari raka kabur langsung mengejar raka dengan ancaman suara senjata tajam agar raka berhenti berlari namun raka tidak mau berhenti.
doorr!!
"berhenti atau mati"
anak buah ray pun mencoba untuk menembak kaki raka namun selalu gagal mengenainya.
"hhhh!" suara nafas raka tidak beraturan saat berlari.
doorr!!!
raka langsung jatuh dan tewas di tempat karena terkena tembakan senjata tajam terlebih lagi kondisinya yang saat itu juga memang sudah lemah.
para anak buah ray bergegas mendekati tubuh raka yang sudah tidak bernyawa itu.
"bagaimana ini dia udah tewas, apa bos akan membunuh kita juga?" salah satu dari mereka berbicara dengan panik.
"heh, diam lah!! bos enggak mungkin marah karena dia tau kita memang orang orang bayaran yang kerjaannya selalu menghilangkan nyawa orang lain" ucap ketua dari mereka.
"ayo kita bawa mayatnya balik ke dalam gudang baru kita kabarin bos tentang ini"
"baik bos"
mereka pun mengangkat tubuh raka dan membawanya kembali ke dalam gudang.
sesampainya di dalam gudang karin berteriak histeris saat melihat jasad raka.
"sayang bangun kamu enggak boleh ninggalin aku sayang" karin memeluk jasad raka.
"aku mencintai kamu raka. jangan tinggalin aku" hiks! karin menangis sambil terus memeluk pria yang dicintainya itu.
anak buah ray langsung menghubungi bosnya setelah meletakkan jasad raka di atas lantai.
ray yang mendapat telpon dari anak buahnya di jam kerja itu pun langsung kaget sekaligus merasa kesal mendengar kabar kematian raka.
"apa!! mati, dasar enggak berguna! saya nyuruh kalian buat ngasih mereka pelajaran lalu bawa ke kantor polisi bukan membunuhnya" kesal ray tiada arti.
tut!
ray mematikan sambungan teleponnya dan langsung bergegas menuju ruangan rangga untuk memberi kabar yang sama.
ceklek!
__ADS_1
ray masuk kedalam ruangan rangga tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena panik.
"heh! lo bisa gak sih ketuk pintu dulu kalo mau masuk ke ruangan orang lain" omel rangga.
seperti biasanya rangga akan mengomel sambil bercanda jika bertemu dengan ray ataupun dika namun setelah ray menjelaskan tentang raka yang terbunuh rangga pun kaget dan langsung berdiri dari duduknya.
"bos tolong nanti aja marahnya sekarang saya mau ngasih tau kalo raka meninggal"
"apa!!! meninggal?"
"iya bos. ini sebuah ketidak sengajaan"
"ayo kita kesana sekarang"
rangga mengajak ray bergegas menuju gudang tanpa mengajak dika.
di tempat yang berbeda arin sedang berada dipinggir jalan masih berusaha untuk menyebrang dalam kegugupan. ia ingin kembali masuk ke dalam mobil yang di bawa oleh supir keluarga wijaya itu.
namun tiba tiba saja dari arah lain ada sebuah mobil hitam melaju dengan kecepatan tinggi lalu menabrak tubuh arin yang sedang menyebrang di tengah jalan hingga terpental.
tinnn..!! bruk!!
kecelakaan tak terhindarkan, tubuh arin berlumuran darah dari bagian kepala hingga tubuh lainnya. semua orang langsung berkumpul melihat kecelakaan tabrak lari yang terjadi.
supir keluarga wijaya yang juga melihatnya pun langsung berlari mendekat pada arin.
"non arin!! ya ampun saya harus telpon pak dika ini"
supir itu langsung menelpon dika dalam kepanikannya melihat arin yang kecelakaan.
tidak lama polisi dan mobil ambulan datang mengevakuasi korban kecelakaan dan segera membawanya ke rumah sakit serta polisi masih mengusut siapa orang yang sudah menabrak lari arin.
dika yang mendapat telpon dari supir pribadi rumahnya itu pun langsung berdiri dari duduknya karena kaget saat mendengar kabar kecelakaan arin.
"apa!!! baik saya segera kesana" tut! dika menutup telpon.
dika berjalan cepat keluar dari dalam ruangannya. ia melihat ray sudah tidak berada di meja kerjanya lagi dan ruangan rangga juga sudah kosong.
"sial,,, dimana mereka, apa udah dapat kabar duluan ya" dika pun bergegas menuju lift hendak turun ke lantai dasar.
dengan langkah cepat dika masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit yang sudah di beritahu oleh supirnya.
sesampainya di rumah sakit dika pun bertanya pada supir itu dengan sangat panik hingga wajahnya terlihat pucat.
"bagaimana keadaan arin?" dika mendekati supir yang sudah sejak tadi menunggu arin di luar ruang ICU.
"saya juga belum tau pak" supir menjawab gugup karena takut jika dika akan memecat dirinya atas kelalaiannya dalam menjaga arin.
dika baru menyadari jika di rumah sakit itu ia tidak melihat ray dan rangga berada disana membuat dirinya semakin bingung kemana sebenarnya kedua pria itu pergi.
dika merogoh sakunya untuk megambil ponsel lalu dengan segera menghubungi rangga.
saat telpon tersambung dika langsung bertanya kepada abangnya itu.
Rangga: hallo....?
Dika : lo dimana bang?
Rangga: gue lagi ada di gudang dalam hutan. ada apa dik? tanya rangga keceplosan.
Dika : di hutan!! ngapain lo disana, terus apa elo juga lagi bareng ray? tanya dika penasaran.
Rangga: iya nih.
Dika : cepat pulang dan langsung ke rumah sakit karena arin baru aja kecelakaan.
Rangga: apa!! okay okay kita kesana sekarang.
__ADS_1
rangga mematikan sambungan telponnya secara sepihak seperti biasanya.