
di rumah yang berbeda tepatnya di dalam kamar yuli terbangun dari tidurnya karena bayinya sedang menangis.
"oeekk!! oeekkk!!"
ray yang juga mendengarnya pun ikut terbangun dan duduk di samping istrinya.
"sayang, arka bangun ya?"
ray melihat istrinya sedang berusaha untuk menggendong bayi mereka.
"iya nih mas tolong ambilin popoknya arka dulu ya" yuli meminta suaminya untuk membantu dirinya.
"em, oke sayang nih" ray memberikan pakaian bayinya.
"makasih ya mas"
"eh tunggu sayang, biar aku aja ya yang gantiin popoknya"
"oh ya udah makasih ya mas" yuli tersenyum.
"enggak usah bilang makasih dong sayang kan baby arka anak kita bersama jadi ini udah tanggung jawab aku juga"
"em iya deh suami ku emang yang terbaik" yuli mengacungkan jempolnya.
"nah, sekarang udah selesai ganti popok deh arka udah haus banget ya sayang"
ray menyerahkan bayinya kepada istrinya agar menyusu.
"nih sayang baby arka haus nih"
"oke sini sayang"
"ya udah kamu istirahat aja lagi mas baby arka biasa bangun lebih dari tiga kali dalam semalam"
"hem, iya sayang kadang dia juga enggak mau tidur sama sekali" ray memelas.
"sabar ya mas namanya juga jadi orang tua harus lebih sabar lagi dong"
"iya iya sayang papa sabar kok ini"
ray kembali merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.
di dalam kamar pasangan suami dan istri yang satu ini suasananya sedikit berbeda yaitu lebih hangat.
setelah berhasil membuka kancing piyama dika bibir mungil itu bergerak turun dari leher hingga ke bagian dada suaminya.
hal itu membuat dika melenguh merasakannya hingga ia tidak berdaya dan hanyut dalam permainan istrinya.
"kamu udah pinter ya sekarang" dika tersenyum karena merasa puas dengan permainan istrinya.
"hem oh ya?"
"em" dika mengangguk.
vani melanjutkan aksinya membuat dika semakin pasrah menerima permainan istrinya itu.
vani duduk di atas tubuh dika yang sedang berbaring lalu dengan perlahan mengarahkan milik suaminya itu pada bagian bawahnya.
"ahh!"
dika berusaha menahan suara lenguhannya mengingat saat ini mereka sedang berada di rumah kakak iparnya.
tidak tahan dengan perbuatan istrinya itu dika pun akhirnya membalik tubuh vani dan melakukannya dari posisi yang berbeda.
vani menggigit bibir bagian bawah sambil memejamkan matanya menikmati setiap hentakan dari suaminya.
setelah selesai dengan permainan mereka vani langsung berbaring dan memeluk tubuh suaminya itu dari samping dika pun dengan hangat mendekap tubuh istrinya.
"kamu capek ya?" dika khawatir dengan kandungan istrinya namun vani tidak menjawab.
setelah mendengar hembusan nafas vani yang teratur dika pun meyakini jika istrinya sudah tidur dengan pulas lalu ia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos vani.
__ADS_1
"makasih sayang" bisik dika lalu memeluk tubuh polos istrinya agar tidak merasa kedinginan.
keesokan harinya dika dan vani bangun dengan terlambat mungkin karena masih merasa lelah atau suasana di kampung yang nyaman membuat mereka enggan untuk bangun dari tidurnya.
"ahh!! ya ampun mas kita telat bangun"
vani yang baru terbangun langsung duduk sambil melihat jam di dinding kamarnya.
"emhh, masa sih perasaan masih dingin deh sayang" dika merasa sejuk.
"mas, suasananya emang sejuk di tambah mendung tapi sekarang udah jam tujuh loh" vani menepuk lengan suaminya.
"em, masa sih sayang berarti kita enggak subuh dong" dika mulai tersadar.
"hem iya mas, untung aja kamu enggak lupa ngunciin pintu tadi malam kalo enggak pasti pagi ini afa udah masuk kesini buat bangunin kita terus ngeliat keadaan kita yang masih berantakan ini"
vani beranjak dari atas ranjang lalu memakai handuk kimononya.
"em" dika hanya menjawab singkat dan masih enggan membuka matanya.
"mas ayo bangun..!!" vani menarik selimut suaminya.
"iya sayang aku masih ngantuk bentar lagi ya" dika berbicara masih dengan berbisik.
"ih enggak bisa ma emangnya kamu mau di liat sama mertua bangunnya lama" uccapan vani membuat dika langsung duduk dari tidurnya.
"iya jangan dong sayang nanti aku di kirain menantu abal abal lagi" dika terpaksa membuka matanya.
"makanya ayo cepetan kita mandi terus keluar dari dalam kamar mas" ajak vani.
"iya iya eh bentar deh sayang" dika menahan tangan istrinya.
"apalagi sih mas?" vani berbalik badan.
"anak papa di dalam baik baik aja kan?" dika mendekatkan telinganya di dekat perut istrinya.
"iya mas baby baik baik aja di dalam sini udah deh aku mau mandi dulu ya"
sesampainya di depan pintu kamar mandi beruntung vani tidak perlu mengantri lagi karena sepertinya yang lain sudah selesai mandi sejak tadi.
"huh! untung kamar mandinya kosong"
vani langsung berjalan masuk kedalam kamar mandi yang berada di dekat dapur itu.
setelah selesai mandi vani kembali masuk ke dalam kamar hendak bergantian dengan dika.
"mas aku udah selesai nih cepetan sana kamu mandi juga" ujar vani pada suaminya yang masih duduk di tepi ranjang sambil menatap ponselnya.
"iya iya sayang, oh iya tadi aku liat handphone kamu bunyi tuh" dika melirik ponsel istrinya di atas nakas.
"em, siapa yang nelpon mas?" tanya vani bingung.
"enggak tau, aku enggak ada liat mungkin dari mantan kamu yang sok jagoan itu"
dika bersikap cuek sambil berjalan keluar dari dalam kamarnya.
"ck!" vani menatap kepergian suaminya yang merasa kesal.
"hah!! kenapa sih mas dika selalu ngungkit tentang masa lalu yang udah aku lupain itu. lagian apa bener ini telpon dari mas diki?" vani menatap ponselnya.
vani melihat nomor yang tertera di dalam layar ponselnya baru saja masuk hanya nomor yang tidak di save.
"em, siapa ya. ck! udah deh enggak usah di telpon balik. mungkin aja salah sambung"
vani kembali meletakkan ponselnya di atas ranjang lalu berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian gantinya.
setelah selesai mengganti pakaiannya vani keluar dari dalam kamar dan berjalan menuju dapur untuk menemui kakaknya.
sesampainya di dapur vani melihat kak aida yang sudah selesai memasak makanan.
"kak, kok udah siap sih masaknya kan tadi aku mau bantuin" vani memelas.
__ADS_1
"vani kamu sih telat kakak baru aja siapin semuanya. lagian kenapa kamu telat bangun hari ini tumben?" kak aida melirik ekspresi wajah adiknya.
"em, e... itu aku kecapekan kak hehe" nyengir vani dengan canggung.
"ya udah kita langsung sarapan aja ya kamu udah enggak mual di pagi hari lagi kan?"
"em, hamil kali ini aku emang enggak ada mual kak jadi bisa sarapan bareng deh" vani tersenyum.
"oh ya bagus dong enggak ngidam sampe sakit"
"iya soalnya yang ngidam papanya"
"oh ya? wah berarti baby nya sayang papanya dong"
"masa sih kak jadi maksud kakak baby nya enggak sayang sama aku gitu?" vani manyun.
"haha. bukan gitu vani itu cuma istilah aja kok ayo kita sarapan"
"kak, liat affa enggak?" tanya vani yang belum melihat keberadaan putranya itu.
"oh afa lagi main sama kakaknya di rumah hana"
"oh gitu ya kak. ya udah aku panggil mas dika juga ya"
"iya" kak aida mengangguk lalu vani berjalan kembali menuju kamarnya.
ceklekk!!!
vani membuka pintu kamarnya dan melihat dika sudah selesai mengganti pakaiannya.
"mas udah siap? ayo kita sarapan bareng di meja makan"
"em iya" dika mengangguk.
"mas kamu kenapa sih?"
vani menghentikan langkah serta menahan tangan suaminya yang hendak berjalan keluar dari dalam kamar.
"aku enggak papa, emangnya kenapa?" tanya dika balik.
"iya kok kamu jadi cuek gitu sama aku"
"enggak, aku biasa aja kok ayo kita keluar aku udah laper banget nih"
dika merangkul pundak istrinya dengan satu tangan dan tangan yang lain memegangi perutnya yang sudah lapar.
"sshh! aww!" vani merasa keram di bagian bawah perutnya.
"kamu kenapa?" dika melihat vani menahan sakitnya.
"perut aku keram mas" vani meringis.
"ya udah kamu duduk dulu" dika menggendong tubuh istrinya kembali duduk di tepi ranjang.
"atau kamu tiduran aja dulu ya biar keram nya berkurang" dika meminta vani untuk merebahkan diri.
"shh! iya mas" vani akhirnya kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil mengatur nafasnya.
"kamu mikirin apa sih sampe perut kamu keram lagi. kata dokter kan ini terjadi kalo kamu mengalami stress yang berlebihan" tanya dika yang sudah duduk di tepi ranjang.
"aku mikirin sikap cuek kamu mas kamu kenapa sih masih bahas tentang mas diki dan kesel kaya gitu mukanya"
"oh itu, enggak kok. aku enggak mikirin tentang dia lagi. aku juga percaya sama kamu kalo kamu emang enggak ada hubungan apapun sama dia lagi"
"kalo kamu percaya sama aku kok kamu sikapnya dingin kaya gitu sih mas"
"apa sih vani! udah dong jangan bahas dia lagi aku bosen dengernya" dika menjadi kesal lalu keluar dari dalam kamarnya.
"mas maaf aku enggak bakal bahas itu lagi"
vani merasa bersalah namun dika tetap melangkah pergi meninggalkan dirinya yang masih berbaring di ranjang
__ADS_1