Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 82


__ADS_3

saat ini vani sedang duduk berbincang bersama dengan kedua adiknya di dalam ruangan kerja yang berada di dalam butik itu sambil mengecek pembukuan butik.


"Alhamdulilah, pemasukan butik makin naik tiap bulannya"


vani selesai melihat berkas di hadapannya.


"wah, Alhamdulillah berarti kita bakal naik gaji nih kak" hehe celetuk hana dengan nyengir.


"iya jelas dong, kak vani kan bos yang baik hati"


yuli pun ikut merayu dengan tersenyum manis.


"ppffttt" hana menahan tawanya.


"hem, iya iya nanti kalo semuanya udah stabil kalian bakal naik gaji" vani tersenyum.


"asik!! dua kali lipat ya kak" yuli semakin tersenyum lebar.


vani hanya menatap malas pada adik kesayangannya yang selalu ingin menggodanya itu.


"dasar kak tuyul soal uang aja ijo matanya" haha


hana menggelengkan kepalanya.


"ya enggak lah kalo liat uang mata gue jadi pink bukan ijo tau" sambung yuli.


"haha iya juga ya" hana baru menyadarinya.


saat sedang asik berbincang dengan kedua adiknya itu tiba tiba saja vani merasa ada sesuatu yang aneh pada perutnya seperti sebuah gerakan kecil dari dalam.


"eh, kok kaya ada yang gerak ya?"


vani membelai perut buncitnya.


"wah!! serius kak itu berarti baby udah bisa gerak ya dari dalam?"


yuli antusias mendekati vani karena merasa penasaran.


"ya ampun baby udah bisa gerak, gimana rasanya kak?" hana juga penasaran.


"iya, tapi gerakannya masih sesekali rasanya agak geli hihi" vani tersenyum senang.


"em, pengen deh pegang pas dia lagi gerak"


yuli pun mengelus perut kakaknya namun tidak ada gerakan lagi dari dalam.


"sabar ya, nanti makin nambah bulan pasti gerakannya makin aktif dan lebih sering"


vani menepuk pelan pundak yuli.


"hem, iya deh padahal aunty pengen rasain loh nih baby" yuli memelas.


"sabar kak yul mungkin baby tau deh kalo yang lagi pegang dia itu aunty yang garang.. waarrww"


hana meledek kakaknya.


"haha" vani tertawa dengan ucapan hana.


"ih, rese banget deh lo" yuli kesal pada adiknya itu.


"hehe, canda kak canda" nyengir hana.


malam hari di dalam kamarnya vani sedang mengadu manja pada suaminya tentang apa yang dirasakannya hari ini saat ia sedang berada di butik siang tadi.


"mas, gimana kerjaan kamu di kantor? lagi banyak banget ya kayanya kamu capek banget"


vani mengelus lembut wajah suaminya yang terlihat sedang kelelahan itu.


"ya, lumayan sih sayang"


dika memeluk istrinya yang duduk bersandar di atas tempat tidur.


"semangat ya papa kerjanya" emuach!


vani mengecup pipi suaminya sambil memberikan semangat agar dika tersenyum.


"hem, iya sayang makasih ya"


"oh iya mas kamu tau enggak tadi aku bisa ngerasain gerakan baby kita loh dari dalam sini"


vani bercerita sambil mengusap bagian perutnya


"oh ya? masa sih sayang, kamu serius baby kita udah bisa gerak" dika pun antusias.


"iya mas" vani mengangguk.


"hem, aku bisa ngerasain juga enggak ya?"


dika mendekatkan telinganya di perut istrinya.


"kamu kaya rara aja deh ma iya enggak bisa kedengaran suaranya tapi kamu bisa rasain gerakannya, ya itu juga kalo dia pas lagi nendang doang mas"


"sayang, ayo nendang dong sekarang papa juga pengen rasain nih"


dika meminta anaknya untuk bergerak di dalam perut.


"em, mungkin lain kali deh mas nanti kalo gerakannya udah aktif pasti kamu bisa rasain juga"


vani menyemangati suaminya yang memelas karena bayinya tidak kunjung bergerak dari dalam.


"hem iya deh sayang" dika kembali tidak bersemangat.


"mas kamu ngapain sih. geli tau"

__ADS_1


dika menciumi pundak hingga tengkuk istrinya.


"pengen" rengek dika pada istrinya itu.


"mas, katanya kamu lagi capek mendingan kita istirahat aja yuk" vani sambil merebahkan dirinya.


"aku enggak capek kok sayang"


dika terus saja mengecup bagian leher dan dada istrinya hingga akhirnya vani pasrah dan membiarkan saja suaminya melakukan apapun yang diinginkannya.


percuma saja menghindar juga tidak mungkin bisa jika suaminya sudah menginginkannya begitu pikirnya.


keesokan harinya di depan rumah mewah itu ray sedang disibukkan oleh rangga yang akan pindah ke rumah baru.


"ayo bergerak cepat, kita harus segera menyelesaikannya"


ray menatap beberapa asisten yang ikut berkemas.


yuli dan hana yang baru saja sampai di kediaman wijaya itu pun merasa penasaran melihat banyak koper yang di bawa oleh ray.


"loh pak ray, siapa yang pindah kok banyak banget barang yang di keluarin?" tanya yuli mendekat.


"hem, ini pak rangga lagi diusir sama pak dika yul"


ucapan ray terdengar cukup serius.


"hah!! masa sih di usir. bapak serius?"


"iya" ray mengangguk.


"masa sih emangnya mereka lagi ada masalah apa pak?"


yuli mondar mandir mengikuti langkah kaki ray yang sedang sibuk mengangkat barang barang itu.


saat ray berbalik badan mereka justru bertabrakan dengan kening yang menyatu.


bruk!!


"aww, sakit"


keduanya mengusap kening yang membentur cukup keras.


"kamu ngapain sih ngikutin saya?" kesal ray menatap yuli.


"habisnya pak ray sih. bercanda mulu, masa iya pak rangga di usir sama bang dika dari rumah ini. kan enggak mungkin pak" yuli pun mengusap usap keningnya yang memerah.


"mereka lagi perang antar saudara yuli. ya sudah kalau kamu tidak percaya"


ray berjalan meninggalkan yuli lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"ppffttt"


hana hanya tertawa melihat tingkah yuli dengan ray yang terlihat lucu.


yuli menarik lengan hana berjalan menyusul masuk ke dalam karena masih penasaran.


"semua sudah siap pak"


ray melaporkan pekerjaannya kepada rangga.


"hem bagus, kalo gitu ayo sayang kita pindah ke rumah baru kita sekarang"


rangga mengajak anak dan istrinya.


"iya mas ayo" ranty pun mengangguk.


"lo beneran yakin bang mau pindah rumah, maksud gue kan rumah ini gede banget bakal kerasa sepi kalo kalian pindah" dika menatap rangga.


"kenapa, lo enggak rela tinggal jauh jauh dari gue?"


rangga menyipitkan matanya menggoda adiknya itu


"heh! enak aja. bukan gitu maksudnya"


dika pun mengalihkan pandangannya dari tatapan abangnya yang aneh itu.


"haha. ya udah kalo lo enggak mau ngaku gue pergi nih"


"ya udah sana lo pergi siapa juga yang ngelarang"


dika masih kesal dengan ledekan abangnya.


"oke deh. dika lo jagain vani baik baik ya ingat kalian jangan berantem terus kalo ada apa apa jangan lupa kabari kami. rumah kita enggak jauh kok cuma beda satu gang doang" rangga menasihati adiknya.


"iya iya, kalian juga baik baik disana ya. lagian kita enggak pernah berantem deh kayaknya. iyakan sayang?"


dika menatap istrinya lalu dibalas anggukan oleh vani.


"em"


"hem. iya baguslah mana tau kalian khilaf"hhh! rangga tertawa kecil.


"vani mbak pergi dulu ya kamu sehat sehat sama calon baby" ranty memeluk vani.


"iya mbak, sering main ke sini ya"


vani membalas pelukan ranty.


"iya pasti, kalian juga sering main kesana ya"


"iya mbak" vani pun mengangguk.


"arin kami pergi ya kalian baik baik disini"

__ADS_1


ranty pun memeluk arin.


"iya mbak" arin tersenyum canggung.


"papa, rara mau tetep tinggal di sini sama adek rara, kenapa kita harus pindah sih pa?" rara sedih.


"sayang, rara boleh datang kesini setiap hari kok buat main sama adek nanti lagian kan rumah kita deketan sama rumah adek" rangga membujuk rara.


"em, tapi pa"


"hem, iya sayang setiap hari rara boleh main kesini kok jadi jangan sedih lagi ya tuan putriku" dika mengecup pipi rara.


"iya, deh om" rara yang akhirnya setuju pun mengangguk.


"em, mbak ranty sama pak rangga kok mau pindahan sih?"


yuli melihat mereka sedang berpelukan dengan adiknya begitu juga rara yang habis menangis.


"eh yuli, iya nih saya udah di usir sama abang ipar kamu nih si dika"


rangga mengatakan hal yang sama saja dengan jawaban sekretarisnya ray.


"jadi bener yang dibilang sama pak ray?"


yuli melirik ray sedangkan yang dilirik hanya cuek saja.


"hh! kamu jangan percaya sama mereka yul"


ranty tertawa melihat yuli kebingungan.


"em, emangnya kenapa harus pindah mbak kan harusnya disini jadi lebih ramai karena ada rara" tanya yuli


"sebentar lagi juga makin rame karena ada suara bayi kecil mereka yul. lagian inikan emang rumah dika kami juga udah bangun rumah itu dari sejak lama dan sengaja dekat dari rumah ini" rangga menjelaskan.


"oh gitu ya pak" yuli akhirnya mengerti.


"iya yul, kamu sama hana juga harus sering main ke rumah mbak ya" ranty tersenyum pada yuli dan hana.


"iya mbak"


yuli dan hana mengangguk sambil tersenyum.


"ini semua barang barang yang mau di bawa ya mbak?"


"iya banyak banget"


"iya sih"


"itu cuma sepuluh persen dari semua barang mereka yang ada disini yul" dika menimpali.


"haha. iya kan nantinya kita bakal tetap sering main dan nginap disini juga" rangga tertawa.


"iya bener tuh pak rangga, bang dika nih gitu pun tak tau"


yuli tetap menyudutkan abang iparnya yang tidak pernah akur dengannya itu.


"terserahhh" dika memutar bola matanya.


"ya udah kita berangkat ya. bye!"


mereka melambaikan tangan saat sudah berada di dalam mobil.


"dahh om sayang, tante cantik!"


rara melambaikan tangannya.


"dahh sayang"


vani dan dika pun membalas lambaian tangan mereka.


akhirnya rangga bersama anak dan istrinya pun pergi, mereka di antar oleh ray untuk menempati rumah mereka yang baru.


setelah kepergian mobil rangga yuli mendekati vani lalu menarik lengan kakaknya itu agar tetap berada disana.


dika sudah berjalan masuk ke dalam rumah mendahului vani sambil fokus memainkan ponsel hingga tidak menyadari jika istrinya tidak mengikutinya berjalan.


"eh kak bentar deh" yuli menahan lengan vani.


"ada apa sih yul?" tanya vani menatap adiknya itu.


"kalo mbak ranty sama pak rangga pindah itu berarti kalian bakalan tinggal cuma bertiga doang bareng arin dong?"


"em, iya dong kan mama sama papa lagi pergi ke london buat beberapa minggu. emangnya kenapa yul?"


"enggak papa sih kak gue cuma mau ngingetin lo aja buat hati hati takutnya entar bang dika salah masuk pintu lagi"


celetuk yuli yang membuat vani melotot ke arahnya sebab mengerti maksud dari adiknya itu lalu dengan reflek vani pun menepuk pundak yuli.


"ih, yuli kamu ada ada aja deh ya enggak mungkinlah"


vani pun berlalu pergi meninggalkan adiknya


"hem. di bilangin juga enggak percaya" omel yuli.


sebenarnya yuli pun bingung mengapa dirinya berkata itu padahal ia tau kalau dika sangat mencintai vani namun yang namanya pria pasti ada khilafnya begitu pikirnya.


"hush kak!! kamu ngomong apa sih"


hana menepuk lengan kakaknya.


"gue kan cuma mau ngingetin biar kak vani hati hati han"


"ya udah deh ayo masuk" ajak hana.

__ADS_1


yuli dan hana pun ikut masuk ke dalam rumah karena sebelumnya memang ada yang ingin mereka lakukan.


__ADS_2