Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Pindahan


__ADS_3

akhirnya vani setuju atas permintaan dika.


"baik, saya mau pak" vani mengangguk.


melihat vani yang merasa canggung yuli pun langsung merangkul pundaknya.


"ye, akhirnya kakak ku enggak jadi pergi deh" yuli merasa senang.


"yuli, kamu enggak usah bilang sama keluarga di kampung kalau aku lagi sakit ya"


vani tidak mau keluarga terutama kakaknya akan khawatir.


"oke deh siap kak" yuli mengacungkan jempol.


"ya sudah, kalo gitu besok pagi kita langsung bawa barang barang kalian pindah ya"


"em, tapi besok saya kerja pak" ujar yuli.


"hem, gimana kalo kita beresin barang barang kamu malam ini. jadi besok kami tinggal bawa semuanya deh" vani memberi solusi.


"oke deh, tapi besok kamu jangan lupa kirimin alamat barunya ya kak, biar aku enggak nyasar hehe" nyengir yuli.


"oke, oke"


vani membentuk jari sambil mengedipkan sebelah matanya.


"ck! genit banget sih..."


yuli beranjak dari duduknya lalu berjalan ke dapur hendak mengambil minuman untuk mereka bertiga.


"ih, siapa yang genit coba,,,"


"iya elo, enggak usah sok imut di depan gue"


ujar yuli sambil meletakkan minuman yang ia bawa diatas meja.


"oh, kalo itu sih bukan sok imut tapi emang udah bawaan dari lahir tau" vani tersenyum percaya diri.


dika yang sejak tadi menyimak perdebatan kakak adik yang random itu pun tersenyum mendengar ucapan vani yang mengatakan jika keimutannya itu sudah bawaan dari lahir ya walaupun menurutnya memang benar sih.


"hah! bawaan lahir? ya ampun kak vani, sejak kapan tingkat kepedean lo itu naik 180 derajat gitu?" yuli heran.


vani hanya cuek mengendikkan bahu sambil memalingkan wajahnya.


"eh bentar deh! yang sakit itu kaki lo kan? kok otak lo juga ikut geser sih kak" ppfftt!


yuli menahan tawa menggoda kakaknya..


"hem, otak gue ada di kaki kali" celetuk vani.


"haha!!" mereka tertawa mendengar jawaban aneh dari vani.


"eh, mana ada sih otak di kaki"


"atau jangan jangan ini tuh karena elo....?"


yuli melirik dika lalu tersenyum dan memainkan alisnya sambil menatap vani.


"oh iya deh, kayanya ini karena aku sering deket sama pak dika yang tingkat pedenya tuh diatas rata rata jadi ketularan deh narsisnya. hehe"


vani menatap dika yang sejak tadi hanya diam saja mendengarkan mereka sambil tersenyum.


"haha, bisa jadi tuh" yuli pun tertawa.


"masa sih karena saya? kayanya emang karena kamu juga narsis deh" hehe dika pun ikut larut dalam candaan mereka.


"haha, enggak salah sih pak" celetuk yuli.


*


beberapa jam berlalu akhirnya dika pun pamit pulang karena malam sudah larut.


"sudah larut malam, kalo gitu saya pamit ya"


dika menatap vani dan yuli lalu beranjak dari duduknya.


"makasih ya pak, udah anterin kak vani pulang" ucap yuli.


"iya, sama sama" dika tersenyum.


"terima kasih banyak pak" vani pun menunduk.


"Assalamualaikum"


"Walaikumsalam"


dika berbalik badan hendak melangkah keluar.


"em, pak dika" panggil vani dengan canggung.

__ADS_1


"iya" dika kembali menoleh menatap vani.


"hati hati ya pak" vani tersenyum.


"hem, iya" dika mengangguk juga tersenyum.


setelah dika pulang, yuli tersenyum jahil sambil memeluk pundak vani dari samping karena tadi ia melihat interaksi canggung diantara kakak dengan bosnya itu.


"ehem, kamu suka ya sama bos ganteng kamu itu? hayoo ngaku" goda yuli.


"siapa sih yang enggak bakalan suka liat cowok kaya pak dika yul, tapi aku sadar diri kok" vani menunduk.


yuli memeluk kakaknya yang sedang menahan air mata.


"hem, tapi aku liat kayanya dia juga suka deh sama kamu"


"ck! iya enggak mungkin lah yul, kamu tau dari mana?"


"iya, buktinya dia baik banget sama kamu hehe"


"ya itu karena dia orangnya emang baik yul, mungkin aja dia baik kaya gitu ke semua orang"


"masa sih, sebaik baiknya orang pasti enggak mungkin perhatian ke semua orang lah kak"


"udah deh, enggak usah di bahas lagi. ayo kita beresin semua barang barang kamu" ajak vani


"oke deh. ayok!"


yuli tersenyum semangat lalu mereka mulai mengemas barang barang yang akan di bawa untuk besok.


di sela waktu mengemas barang, vani kembali merasa bimbang dengan keputusannya.


"yul, apa enggak lebih baik aku tolak aja ya tawaran dari pak dika soal rumah itu"


vani kembali merasa ragu.


"loh, emangnya kenapa kak?"


yuli pun berhenti mengemas barangnya.


"ya,,, kayanya enggak pantes deh kalo aku karyawan yang baru beberapa bulan kerja disana udah dapet rumah dinas dari kantor. lagian aku enggak mau jadi makin deket sama pak dika. mendingan aku jauhin dia biar enggak terlalu sakit hati nantinya"


"bener juga sih, tapi soal itu kamu bisa pikirin nanti aja kalo kaki kamu udah beneran sembuh kak. soalnya kalo kamu nolak dan pulang ke kampung aku bakal kesepian dong"


yuli kembali memasang wajah murung.


"hem, ya udah deh. ini semua demi adek kesayangan aku ya"


"makasih kak" yuli pun kembali tersenyum.


*


keesokan harinya vani sudah bersiap di bantu oleh dika dengan ranty dan rara yang akan ikut menemani mereka.


dika sengaja mengajak ranty dan rara untuk menemaninya agar mereka tidak hanya berdua saja di dalam rumah baru itu nanti.


karena dika tau jika yuli pasti sudah berangkat bekerja sejak pagi.


tidak banyak barang yang akan mereka bawa hanya ada pakaian sepatu dan tas serta alat make up kedua gadis itu.


perabotan rumah dan semua fasilitas adalah milik si pemilik rumah kontrakan jadi mereka tidak perlu repot membawanya.


lagi pula rumah baru yang akan mereka tempati sudah di lengkapi dengan fasilitas perabotan rumah yang mewah.


tanpa sepengetahuan vani, ternyata dika memang sengaja membelikan rumah mewah untuk gadis itu agar mereka merasa nyaman tinggal di rumah barunya.


*


akhirnya mobil dika sampai di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah bernuansa modern berlantai tiga itu.


dengan halaman yang luas serta taman kecil yang indah di belakangnya karena dika tau vani sangat menyukai bunga dan taman.


setelah mobil berhenti di halaman rumah itu, ranty pun mendorong kursi roda vani dengan hati hati memasuki rumah barunya di ikuti oleh rara yang berjalan di samping kursi roda.


sedangkan dika akan mengangkat koper milik gadis itu di bantu oleh beberapa asistennya.


mereka memindahkan koper ke dalam salah satu kamar yang berada di lantai satu.


kamar itu dominan dengan warna putih cream yang terlihat mewah dan nyaman.


setelah selesai meletakkan koper di dalam kamar, dika kembali berjalan hendak bergabung dengan vani dan ranty yang sedang duduk di ruang tamu.


di ruang tamu itu vani dan ranty sedang duduk diatas sofa menemani rara yang asik bermain boneka di samping mereka.


"em,,, kenapa rumah ini sangat besar dan mewah? apa ini tidak berlebihan mbak?"


ujar vani sambil mengamati rumah baru yang dika berikan.


rumah itu tidak terlihat seperti rumah dinas perusahaan pada umumnya yang seharusnya berukuran standar saja.

__ADS_1


"kamu jangan ngomong kaya gitu dong vani rumah ini pantes kok buat kamu. apalagi kamu kan udah nolongin dika waktu itu"


"tapi saya ikhlas kok mbak"


"coba deh kamu bayangin kalo waktu itu kamu enggak nolongin dika terus bahan bangunan yang berat itu jatuh nimpah bagian kepala dika mungkin dia...."


"cukup mbak!!! jangan bilang kaya gitu"


vani menutup kedua telinga dan memejamkan matanya seolah tidak ingin mendengar sesuatu yang buruk terjadi kepada dika.


ranty yang melihat reaksi vani pun tersenyum lalu membelai rambutnya dengan lembut.


"mbak ngerti, kamu enggak bisa bayangin hal itu sampe terjadi ke dika karena kamu sayang sama dia kan?"


ranty berbisik membuat vani kembali membuka matanya.


"em, maksudnya?" gumam vani menatap ranty.


"kamu jangan kaget gitu dong, mbak tau kok"


ranty tersenyum menggoda sekretaris dari adik iparnya itu.


vani langsung mengalihkan pandangannya dengan canggung karena ranty mengetahui isi hatinya.


dika sampai di ruang tamu lalu tersenyum menatap kearah vani dan ranty yang sedang duduk disana.


"vani, saya sudah pindahin semua koper ke dalam kamar kalian. nanti biar pakaiannya di rapikan oleh asisten aja ya.


ujar dika lalu duduk di samping rara yang sedang bermain boneka kesayangannya.


"makasih pak"


"nanti akan ada dua asisten yang menemani kalian disini. jadi kalian tidak perlu khawatir"


"tapi, kayanya rumah ini terlalu berlebihan pak. kami kan hanya tinggal berdua disini" vani merasa tidak enak.


"enggak papa, rumah ini biasa aja kok enggak terlalu berlebihan. kamu tau kan rumah mbak ranty jauh lebih besar loh dari pada rumah ini" dika melirik kakak iparnya.


"terus, apa hubungannya rumah sekretaris kamu sama rumah mbak?"


ranty melirik dika sengaja menggoda adik iparnya itu.


"ya enggak ada sih" jawab dika cuek.


"emangnya harus sama gitu besarnya rumah mbak sama rumah vani?" ranty mode julid on.


"iya harusnya sama sih"


dika hanya menanggapinya dengan cuek sambil memainkan ponsel.


"hem, boleh aja sih rumah kita sama besarnya asalkan posisi kita juga sama. iyakan vani..." ranty melirik dika.


"em, maksudnya?" vani tersenyum bingung.


"sama sama menantu wijaya"


bisik ranty kepada dika yang sebenarnya juga dapat di dengar oleh vani.


dika tetap fokus menatap ponselnya tanpa merespon apapun.


"ppfftt!" ranty menahan tawanya.


mendengar itu, vani pun diam tertunduk malu.


dika menoleh lalu tersenyum tipis melihat vani yang tertunduk malu mendengar ucapan kakak iparnya itu.


tidak lama kedua asisten yang sudah di tugaskan oleh dika untuk menemani dan merawat vani pun datang.


sekaligus tiga asisten rumah tangga yang akan bersih bersih dan memasak untuk mereka dan beberapa satpam untuk berjaga di luar rumah agar memastikan keamanan kedua gadis itu disana.


selama ini vani lah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah, namun karena gadis itu sakit maka dika membawakan banyak art untuk mengerjakannya sebab yuli selalu sibuk.


'kok banyak banget sih asistennya' batin vani bingung.


"ya udah, kalo gitu sekarang kamu istirahat dulu ya vani. pasti kamu capek" ucap ranty.


"iya mbak" vani mengangguk.


"dika, bantu vani masuk ke kamarnya ya, dia harus istirahat" ujar ranty pada adik iparnya itu.


"iya mbak"


dika berdiri lalu menggendong tubuh vani hendak membawanya ke kamar.


padahal seharusnya ia bisa saja mendorong kursi roda hingga masuk ke dalam kamar.


vani yang merasa kaget karena dika tiba tiba saja mengangkat tubuhnya pun tanpa sadar langsung memeluk erat pundak bosnya itu.


karena merasa malu ia pun menyembunyikan wajahnya di pundak dika sambil memejamkan mata, membuat vani dapat mencium aroma parfum yang manly dari tubuh bosnya itu.

__ADS_1


aroma yang begitu menenangkan membuatnya merasa nyaman.


menyadari hal itu dika pun tersenyum dan terus berjalan hingga masuk ke dalam kamar vani.


__ADS_2