
sesampainya di tempat yang mereka tuju dika dan rangga langsung turun dari dalam mobil di ikuti oleh ray dan yuli yang juga turun dari dalam mobil mereka.
saat ini mereka masih mengintai rumah itu dari kejauhan karena melihat banyak penjaga di luarnya.
sejak tadi dika sudah merasakan sakit luar biasa di bagian punggung dan pinggangnya membuat dirinya merasa tidak sabar jika harus menunggu lebih lama.
"ayo kita masuk sekarang" dika hendak melangkah.
"tunggu dika lo gak liat penjaganya banyak" cegah rangga.
"ck! gue mau masuk ke dalam rumah itu sekarang!!!"
"sabar dik, kita harus cari celah buat masuk ke dalam"
ray juga menahan dika yang hendak melangkah masuk.
"heh, lo bego ya! kita enggak tau gimana keadaan vani di dalam sana tapi lo masih nyuruh gue buat nunggu disini. apa gunanya elo bawa anak buah sebanyak itu kalo cuma buat pajangan mending sekarang serang rumah itu atau lo semua gue pecat!"
dika kesal dan emosi karena sejak tadi ray selalu bermain lambat membuat mereka semakin lama menemukan keberadaan istrinya.
"oke kalo gitu yuli sekarang kamu tunggu di dalam mobil aja dan kunci dari dalam ingat! jangan keluar sebelum kami bertiga datang" ray menatap yuli.
"iya, baik pak"
yuli mengangguk lalu masuk kedalam mobil karena akan memantau dari dalam saja.
dika ray dan rangga berjalan masuk menuju rumah itu melalui pintu gerbang utama dengan di iringi oleh anak buah yang masing masing sudah membawa senjata.
seluruh anak buah raka langsung menodongkan pistol saat melihat kedatangan tiga pria tampan itu berjalan mendekat tanpa memegang senjata apapun.
"siapa kalian?"
salah satu anak buah raka bertanya pada ketiga pria itu.
"turunkan senjata kalian dan panggil bos kalian untuk keluar" rangga maju paling depan.
"bos sedang tidak ada" jawab mereka.
"kalo gitu kita langsung masuk!"
dika pun melangkah menuju pintu masuk tanpa ragu.
"berhenti atau kalian mati!"
salah satu anak buah raka yang menjadi ketua dari yang lainnya pun menodongkan senjata ke arah dika.
dika melirik ray sambil memberi aba aba kepada ray agar anak buahnya segera bertindak untuk menjatuhkan lawan.
menatap aba aba perintah dari bosnya itu ray langsung mengangguk paham.
"jatuhkan!!" teriak ray kepada anak buahnya.
door!!!
suara tembakan saling beradu untuk menjatuhkan lawan masing masing.
dika dan rangga langsung berlari masuk ke dalam rumah itu untuk mengecek apakah vani berada di sana atau tidak.
ray ikut menyusul kedua bosnya untuk masuk ke dalam rumah itu sedangkan anak buah mereka masih saling menyerang di luar sana.
beruntung pada saat itu ray tidak terkena luka tembakan di bagian punggung karena ia sudah mengantisipasi dengan menggunakan baju anti peluru di dalam kemeja kerjanya.
saat ada serangan mendadak setidaknya ray tidak akan terluka dan masih bisa melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah.
hal itu membuat dika dan rangga selalu merasa aman jika sedang bersama dengan ray.
rangga dan dika yang sudah masuk ke dalam rumah itu pun langsung berpencar untuk mencari keberadaan vani di setiap sudut ruangan namun mereka tidak menemukan siapapun di sana.
"vani!" panggil rangga.
"sayang?"
ceklek!!
__ADS_1
"bu bos?"
setelah mencari di seluruh ruangan akhirnya ketiga pria itu kembali berkumpul ditempat sebelumnya karena mereka tidak berhasil menemukan vani di dalam rumah itu.
dika duduk di sebuah kursi dengan perasaan yang sangat gelisah dan khawatir memikirkan istrinya.
"sebenarnya kamu ada dimana sih sayang?"
dika menyapu wajahnya dengan frustasi karena ia tidak berhasil menemukan vani disana.
"sabar ya dik, gue yakin kok kita bakal nemuin vani" rangga mengusap pundak adiknya untuk memberikan semangat.
"gimana kalo kita nyari vani ke dalam hutan aja bos, kan ada kemungkinan mereka masuk ke dalam hutan" ray memberi saran.
"tapi gimana kalo para penculiknya udah bawa vani pergi dari sini" rangga menimpali.
"enggak ada salahnya kan kita coba, siapa tau mereka masih ada di sekitar tempat ini" ray sedikit ragu.
"iya lo bener juga ayo sekarang kita cari dik"
rangga pun merangkul dika berdiri agar mereka segera berjalan masuk ke dalam hutan yang sudah mulai gelap gulita itu untuk mencari vani di sana.
setelah ketiga pria itu pergi terlihat dari arah yang berbeda raka dan karin kembali ke rumah itu karena mereka sudah lelah mencari keberadaan vani di dalam hutan namun tidak menemukannya lagi.
raka dan karin pun terkejut saat melihat seluruh anak buah mereka yang sudah tergeletak di halaman rumah.
"apa apaan ini! siapa yang udah berani nyerang anak buah kita sampe mereka tewas di tempat kaya gini" kaget raka dengan kesal.
"lebih baik sekarang kita pergi dari tempat ini raka, aku yakin semua ini udah pasti perbuatan ketiga putra wijaya. cuma mereka yang berani ngelakuin hal gila kaya gini. pasti mereka datang buat nyari keberadaan vani disini" karin panik sambil menatap raka.
"siapa! maksud kamu dika?" tanya raka menatap karin.
"ya iya lah, menurut kamu siapa lagi ayo sekarang kita pergi dari sini karena lebih baik kita di tangkap polisi dari pada kita harus ditangkap oleh orang orang suruhan dika sama ray. bisa bisa nasib kita sama kaya mereka semua"
karin menunjuk para anak buah mereka yang sudah tergeletak tak bernyawa di tanah.
"tapi aku juga enggak mau kita di tangkap polisi sayang"
karin menarik tangan raka agar mereka segera pergi dari sana.
"bukannya kamu bilang dika itu pria yang baik jadi dia enggak mungkin ngelakuin hal itu ke kita kan" raka masih saja bertanya.
"raka, kita udah nyulik istri sama anaknya malah sekarang vani juga belum ditemukan. apa menurut kamu dika bakal biarin kita tetap hidup dan keluar dari tempat ini kalo dia sampe tau ini semua perbuatan kita?" karin masuk kedalam mobil.
"oke ayo kita pergi sekarang"
raka segera melajukan mobilnya kembali menuju kota setelah karin duduk di sampingnya.
"kita harus pergi yang jauh dari tempat ini raka. bawa aku pergi dari sini please!" karin tertunduk ketakutan.
"sayang tenang ya lagian ini semua rencana kamu sendiri kan" raka mencoba menenangkan karin namun sekaligus menyalahkan karin juga atas tindakan cerobohnya.
"tapi aku enggak tau kalo sampe kaya gini..."
"sebelumnya kamu udah tau seburuk apa konsekuensinya kalo kita melawan putra wijaya itu tapi kamu tetap nekat ngelakuinnya karin"
"maafin aku raka, aku nyesel...."
karin menunduk sedih sekaligus takut ia menyesali perbuatannya namun percuma semua sudah terlambat.
di dalam hutan, tepatnya di bawah sebatang pohon yang sangat besar vani mencengkram kuat batang pohon di sampingnya itu sambil menahan rasa sakit perutnya.
"shh! aakhh!"
terlihat ada banyak darah yang mengalir di kakinya.
vani mengalami pendarahan yang membuat tubuhnya sangat lemah ia juga khawatir dengan keadaan bayinya namun tidak bisa berbuat apa apa lagi.
"sayang maafin mama ya, mama enggak bisa jagain kamu. mama enggak kuat lagi! huh! huh!"
vani masih berusaha mengatur nafas sambil berpegangan kuat pada batang pohon disana.
"mas dika, kamu dimana aku udah enggak kuat lagi mas huh! huh! tolong!"
__ADS_1
tubuh vani yang sedang bersandar di batang pohon itu pun semakin merosot kebawah karena merasa lemah. ia tidak sanggup untuk tetap berdiri apalagi terus berjalan.
vani bahkan sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya karena rasa sakit itu membuat dirinya seperti setengah sadar. ia kehabisan cairan di dalam tubuhnya sehingga tidak memiliki tenaga lagi untuk bangkit.
di tempat lain terlihat dika yuli dan rangga serta anak buah mereka masih terus berjalan menyusuri hutan itu untuk mencari keberadaan vani sedangkan ray membawa mobil untuk menerangi jalan sekaligus hendak berjaga jaga jika seandainya ada hewan buas yang akan menyerang mereka di dalam hutan itu.
ray sudah meminta seluruh anak buah mereka yang ikut untuk berpencar mencari vani di dalam hutan yang gelap gulita itu.
"aduh capek banget sih, kak vani kamu dimana?"
yuli memanggil kakaknya sambil mengeluh.
"sayang!" teriak dika juga memanggil istrinya.
"vani! kamu dimana ada di sini bukan?"
rangga selalu berteriak memanggil adik iparnya hingga suaranya hilang.
"bang dika kaki aku pegel nih, kita juga udah jalan jauh banget apa mungkin kak vani sampe di sini?"
yuli khawatir namun tetap mengeluh.
"iya takutnya vani udah enggak di sini lagi dik gimana menurut lo?"
"gue juga enggak tau bang tapi perasaan gue makin enggak enak dari tadi entah kenapa gue yakin vani masih ada disini"
dika menatap penjuru hutan dengan sendu namun matanya tidak bisa menjangkau jauh lagi karena hari sudah malam dan keadaan hutan gelap gulita.
"tapi gimana mungkin kak vani bisa jalan sejauh ini dalam kondisi hamil besar bang. aku khawatir banget atau jangan jangan..."
"jangan jangan apa sih yul"
rangga menimpali agar yuli berhenti berbicara sesuatu yang aneh.
"ayo kita mencar aja pak buat nyari kak vani" yuli menatap rangga.
"enggak bisa yuli kita enggak bisa jalan di tempat gelap soalnya lampu mobil cuma bisa ngikutin satu arah aja. lagian anak buah ray yang bakal nyari vani di tempat lain"
"bener juga sih" yuli pun terus berjalan.
"sayang"
dika terlihat sudah sangat lelah sejak tadi bahkan ia juga merasakan sakit yang luar biasa di tubuhnya terutama pada bagian pinggang yang seperti hampir remuk rasanya namun ia terus mencoba untuk menahan demi mencari keberadaan istrinya karena rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa khawatir kepada istri dan anaknya.
"aakkhhh!! shh!!"
dika meringis merasa pusing di kepalanya hingga berjalan sempoyongan dan hampir terjatuh.
"dika! lo enggak papa?"
rangga langsung menopang tubuh adiknya.
"gue enggak papa bang ayo kita jalan lagi" dika pun menguatkan diri.
"mendingan lo masuk ke dalam mobil aja ya soalnya keadaan lo makin lemah dik" rangga memberi saran.
"enggak bang, gue enggak papa kok gue mau tetap cari vani sampe ketemu" dika bersikeras menolak.
"tapi dika..."
"gue baik baik aja!"
dika terus berjalan dan tidak mau mendengarkan ucapan abangnya.
di tempat itu vani terlihat semakin kesakitan tidak dapat menahan lagi hingga wajahnya pucat di dalam gelapnya hutan.
"huh!! huh!! shh! aw! sakit"
"mas dika!"
vani terus saja memanggil nama suaminya karena merasa yakin jika dika akan datang untuk menyelamatkan dirinya seperti sebelumnya meskipun tidak tau kapan suaminya itu akan datang.
"sayang kamu dimana? aku tau kamu pasti masih ada disini. aku datang buat kamu sayang " gumam dika sambil terus berjalan.
__ADS_1