Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 102


__ADS_3

malam ini di dalam apartemennya raka dan karin sedang membicarakan sesuatu perihal perjanjian yang sudah karin ajukan kepada raka sebelumnya.


"raka gimana, kamu udah setuju kan bantu aku buat menghancurkan pernikahan dika dan vani?"


karin harus memastikan jika raka berada di pihaknya.


"hem apa itu penting?"


raka sebenarnya malas jika harus berurusan dengan dika karena itu sama saja dengan bunuh diri pikirnya.


"ayolah raka. aku yakin kamu tidak akan menolak kan?" bujuk karin


"hem baiklah apa yang harus aku lakukan?"


akhirnya raka menyetujui permintaan karin.


"bagus, kamu liat gadis ini? sekarang dia tinggal di rumah keluarga wijaya"


karin melempar beberapa lembar foto arin di atas ranjang.


"lalu apa urusannya dengan ku?" raka tidak mengerti.


"kamu harus berhasil menghabiskan malam dengan wanita ini" karin memulai rencananya.


"apa maksud mu. aku sama sekali tidak tertarik untuk mencobanya" raka menolak dan memalingkan wajahnya.


"kenapa? dia adalah wanita baik baik tetapi dia mencintai suami orang, karena wanita itu mencintai dika" karin sudah menyelidiki banyak tentang arin.


"lalu apa bedanya dengan mu? kamu adalah wanita baik yang mencintai suami orang juga kan"


raka tersenyum semirk membuat karin merasa kesal.


"aku tidak sebaik itu raka" karin dengan mata menggoda.


"hhh, iya benar! kamu bukan wanita yang baik" raka tersenyum miring menatap karin.


"sudahlah raka lagian kan kita enggak jauh berbeda, aku menginginkan suaminya sedangkan kamu juga masih mencintai istrinya"


karin mengingatkan jika tujuan mereka sama.


"lalu untuk apa aku harus menghabiskan malam dengan wanita itu. aku tidak mencintainya dan dia bukan tipe ku. dia terlihat seperti wanita kampung"


raka tidak mau menerima rencana karin.


"jangan lupa raka vani juga wanita yang berasal dari kampung tapi kamu sangat tergila gila kepadanya"


"dia berbeda, dia sangat cantik sikapnya manis juga anggun dan menyenangkan"


raka masih mengingat vani dengan segala kelembutannya.


"hhh! tapi dia tidak mencintaimu"


ucapan karin itu membuat raka merasa emosi.


"stop! jangan pernah katakan itu lagi karin. apa sebenarnya rencana gila mu itu?" raka menatap tajam kepada karin.


"pekerjaan mu mudah. kamu hanya harus menikmati tubuh wanita itu dan dika yang akan bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah kamu lakukan" karin mejelaskan rencana liciknya.


"apa maksudmu?" raka semakin tidak mengerti.


"pantas saja vani meninggalkan mu ternyata kamu emang lelaki yang bodch raka, begitu saja tidak mengerti" karin mengumpat raka dengan kesal.


"maksudmu, kamu akan memfitnah pria itu. kamu emang wanita licik karin pantas saja dika tidak mau dengan mu karena kamu wanita yang sangat licik"


raka menatap karin dengan lebih tajam dari sebelumnya.


"jangan naif raka, kamu bisa menikmati tubuh ku padahal kamu sama sekali belum mengenal aku sebelumnya. jadi kamu juga tidak butuh cinta untuk bisa melakukannya bersama dengan gadis itu kan"


karin meyakinkan agar raka tidak menolak rencananya.


"tapi untuk apa kamu memfitnah pria itu bukannya kamu masih mencintainya?"


"sudahlah raka jangan membahas tentang perasaan ku lagi saat ini. aku sedang ingin memikirkan hal lain saja"


"hem lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. aku juga tidak bisa memiliki wanita yang ku cintai" raka menunduk murung.


"kamu emang pria bodch raka! tindakan kamu sebelumnya itu sudah membuat vani membenci mu sekarang, andai aja waktu itu kamu enggak ceroboh apalagi mencoba untuk memperkaos vani. mungkin saat ini kalian masih berteman dan kamu bisa dengan mudah untuk masuk kedalam hidup vani lalu menghancurkan hubungannya dengan dika"


karin terus saja mengatai raka pria yang bodoh.


"iya aku tau itu tapi sudahlah aku tidak ingin mengingatnya lagi. sekarang bagaimana caranya aku bisa menghabiskan malam dengan wanita itu?"


raka akhirnya setuju dengan rencana karin itu.


"kamu tenang aja, aku sudah mengatur semuanya jadi kamu tinggal memainkan peran mu dan bersenang senang dengan gadis itu. aku sangat baik kan pada mu?"

__ADS_1


karin tersenyum menatap raka.


"hhh! kamu memang sangat baik karin, sangat baik. apalagi kalau malam ini kamu memuaskan ku seperti malam kemarin"


raka menarik tubuh karin ke dalam pangkuannya lalu melumvt bibir karin dengan lembut.


cup!


karin pun membalasnya dengan penuh gairah hingga mereka kembali menikmati malam indah bersama di dalam kamar itu.


keesokan harinya dika bekerja seperti biasanya sedangkan mama ratih hanya sibuk dengan persiapan tujuh bulanan untuk cucu kedua mereka.


"sayang, aku pergi dulu ya" emuach!


dika pamit pada istrinya sebelum pergi ke kantor


"mas tunggu!"


"ada apa sayang?"


"kemaren kamu dari mana sih. kok pulang sampe larut?"


"em, itu. aku ke kantor sayang buat nemuin ray"


"masa sih? tapi kemaren aku telpon mas ray katanya kamu enggak ada ketemu sama dia tuh"


"em, itu..."


"kamu bohong kan?"


"sayang. aku..."


"ck! hhh! udah lah mas. aku malas berdebat"


vani kesal setelah memastikan ternyata dika sedang berbohong kepadanya.


dika pergi ke kantor seperti biasanya di jemput oleh sekretaris ray sedangkan vani pergi ke butik bersama dengan arin.


sekarang kaki arin sudah sembuh dan bisa kembali berjalan normal karena memang kaki arin sudah sembuh sejak minggu lalu namun ia merahasiakannya untuk mendapat simpati dan perhatian dari dika.


sebenarnya vani masih merasa kesal dengan kebohongan arin namun mengingat kebaikan arin yang sudah menyelamatkan dika pada saat kecelakaan waktu itu membuat vani berusaha untuk tetap bersikap baik kepada arin meskipun ia tau jika arin sangat mencintai suaminya.


sesampainya di butik vani kembali bertanya kepada arin untuk memastikan sesuatu.


"iya" arin mengangguk.


"sama siapa dan kemana?" vani ingin memastikan.


"sama seorang temen soalnya dia mau nepatin janjinya buat ngajak aku jalan jalan karena kaki aku udah sembuh"


arin tidak menyebutkan nama seseorang yang ia maksud.


"siapa?" tanya vani curiga.


"teman baik aku. kemaren kami seneng seneng bareng buat nikmati hari sampe larut"


arin tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan vani.


"mas dika juga pulang larut kemaren atau jangan jangan arin memang pergi bareng suamiku?" gumam vani sambil berpikir.


vani berjalan dengan tidak semangat menuju ruangannya di dalam butik.


yuli yang melihat vani sedang murung itu pun mendekat dan menghampiri kakaknya.


"hai kak" sapa yuli.


"hem"


"kamu kenapa kok murung?"


"enggak papa yul"


"ayolah cerita dong sama aku plis"


"hem aku cuma lagi mikirin sesuatu tentang mas dika sama arin"


"maksudnya?"


"kemaren mas dika sama arin tuh sama sama pergi dan juga sama sama pulang larut. apa mungkin mereka perginya emang bareng ya"


"hem! ya udah pastilah kan kamu sendiri yang bilang kalo mereka tuh pergi dan pulang di waktu yang sama"


"haish! kak yuli harusnya kamu tuh jangan bilang kaya gitu dong kan kasian kak vani jadi makin kepikiran" hana menggelengkan kepalanya.


"hehe maaf ya"

__ADS_1


"kak vani sabar ya jangan terlalu di pikirin, kan belum tentu juga yang kakak pikirin itu bener. mungkin aja itu cuma suatu kebetulan"


hana mengusap lembut pundak vani.


"iya sih. makasih ya kalian udah mau dengerin curhat kakak"


"pasti dong kak"


ketiganya saling berpelukan.


"ayo kita kerja lagi kak yul" ajak hana


"iya iya"


akhirnya mereka pun melakukan aktivitas seperti biasanya dan berusaha untuk melupakan permasalahan yang membuat vani pusing.


menjelang sore hari arin hendak pamit kepada vani untuk pulang lebih awal dari pada teman temannya yang lain karena arin ingin menikmati indahnya senja di taman seorang diri.


arin pun menemui vani di dalam ruangannya untuk meminta izin pulang lebih awal.


"tok! tok! tok!


"ya masuk!"


"hai vani" arin berjalan mendekat.


"mbak arin, ada apa ya?"


"vani, kalo boleh aku mau izin pulang duluan ya. aku mau pergi soalnya aku kan baru aja sembuh jadi aku pengen banget jalan jalan. bolehkan?"


arin sedang duduk di dalam ruang kerjanya.


"oh, iya udah mbak kamu boleh pulang duluan hati hati ya"


vani pun mengizinkan arin untuk pergi karena ia merasa alasan arin ada benarnya juga. arin pasti merasa bosan berada di dalam rumah selama kakinya sakit maka vani berpikir arin butuh berpergian untuk merefresh kembali.


"baiklah makasih ya"


arin pun tersenyum lalu melangkah pergi.


vani mengangguk menatap kepergian arin dari dalam ruangannya.


saat ini arin sedang duduk di bangku taman seorang diri. ia mengambil ponsel dari dalam tasnya karena hendak menelpon dika dan memintanya untuk datang.


tut! tut! tut!


cukup lama arin menelpon dika namun tidak ada jawaban.


arin kembali murung sambil memakan ice krim di tangannya dengan tidak bersemangat.


beberapa saat kemudian terdengar suara ponsel arin berbunyi tanda panggilan masuk yang ternyata dika menelponnya balik.


drtt!! drtt!!


"mas dika?"


arin pun tersenyum menatap panggilan itu dan langsung menjawab telpon dari dika.


setelah telpon terhubung dengan senyuman mengembang arin pun menjawabnya.


Dika: halo arin?


Arin: mas dika, apa kamu masih sibuk di kantor?


Dika: lumayan emang kenapa?


Arin: ku bosen banget nih sendirian, aku kangen banget sama kamu. apa kita bisa ketemu di luar hari ini?


Dika: em, aku masih ada meeting penting arin tapi nanti kalo udah selesai aku pasti langsung nemuin kamu.


Arin: oke deh aku tunggu kamu ya mas


Dika: kirim aja alamat dimana kita ketemuan ya.


Arin: iya nanti aku kirim lokasi tempatnya.


Dika: iya oke. see you


tut!!


arin pun menutup ponselnya dengan hati yang sangat bahagia karena dika akan menemuinya hari ini.


"hem, bagus deh mas dika setuju"


arin sangat bahagia karena sekarang dika sudah tidak marah lagi kepadanya meskipun sebelumnya arin pernah berbohong dan membuat dika kecewa.

__ADS_1


__ADS_2