Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 160


__ADS_3

tiga bulan berlalu sejak yuli menikah dengan ray, ia pun harus ikut tinggal bersama dengan suaminya itu di london.


dika dan rangga meminta ray untuk mengurus perusahaan yang ada di sana karena saat itu keduanya masih memiliki banyak pekerjaan lain di kantornya masing masing. ray pun setuju dengan keputusan itu karena ia memang ingin memulai kehidupan baru bersama istrinya di negara yang berbeda.


alih alih bekerja di london setidaknya ray juga tidak perlu bertemu dengan naya setiap hari di kantor rangga karena hingga detik ini naya masih bekerja di sana.


sejak yuli tinggal di luar negeri hana pun memutuskan untuk pulang ke kampung halaman dan menatap di sana dalam beberapa waktu karena ia merasa rindu dengan suasana rumah masa kecilnya itu.


saat ini vani dan dika hanya tinggal bertiga dengan raffa di rumah mereka. meskipun banyak asisten rumah tangga di sana namun vani merasa kesepian karena biasanya ada kedua adiknya yang selalu ikut bermain dengan dirinya dan raffa di dalam rumah atau di taman.


suatu malam dika melihat istrinya yang sedang berdiam diri duduk di tepi ranjang sambil melamun.


"sayang kamu kenapa kok ngelamun aja sih?" tanya dika mendekati vani lalu duduk di samping istrinya itu.


"enggak papa aku cuma kangen sama adek adek mas" vani menatap suaminya sambil tersenyum tipis.


"sayang maaf ya, aku sama bang rangga terpaksa ngirim ray ke sana buat beberapa waktu dan belum bisa di pastiin kapan mereka bakal pulang. kalo kamu kangen sama yuli kita bisa kok main kesana sambil liburan" ujar dika membelai rambut istrinya.


"beneran mas kapan kita bisa kesana?" vani tersenyum dan bersemangat.


"em, aku atur jadwal buat cuti dulu ya sayang. soalnya semenjak enggak ada ray semua jadwal aku jadi berantakan" ucapan dika membuat vani memutar bola matanya dan kembali murung.


"hhh! belum pasti dong"


"pasti kok"


"iya tapi enggak tau kapan"


"iya kamu sabar dong sayang"


"hem, gimana kalo aku jadi sekretaris kamu lagi mas" vani tersenyum memandang wajah suaminya.


"kalo kamu kerja di kantor lagi terus siapa yang bakal jagain raffa sama ngurus butik sayang" dika merapikan helaian rambut istrinya.


"iya kan ada mbak sri yang bakal jagain raffa terus ada sarah juga yang bisa handle butik mas"


"gini aja deh aku janji, secepatnya kita bakal pergi kesana sekalian honeymoon kedua buat adek raffa gimana sayang kamu setuju kan?"


dika tersenyum sambil mengusap perut istrinya berharap vani akan setuju untuk menambah momongan karena ia juga ingin memiliki seorang putri seperti rangga yang kini sudah memiliki dua putri cantik.


"em" vani hanya tersenyum tipis, sebenarnya ia juga ingin memiliki seorang putri dari suaminya itu namun entah mengapa vani masih belum siap untuk hamil lagi meskipun sekarang usia raffa sudah dua setengah tahun.


"oh ya mas, kenapa ya raffa masih aja suka diem. aku seneng sih dia suka belajar tapi interaksi sama temannya itu dikit banget. padahal kita enggak kaya gitu deh nurun siapa ya anak kita mas?"


vani sengaja mengalihkan pembicaraan mereka sekaligus membahas sikap putranya itu.


"em, aku juga bingung sih sayang mungkin raffa memang punya sikap kaya gitu kali tapi kita doain aja yang terbaik buat anak kita ya"


"iya mas"


"sini bobok" dika merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"ih males ah masih siang juga" vani menolak.


"enggak papa dong sayang kan tetap halal siang atau pun malam" hehe


hari ini adalah hari libur jadi vani dan dika memutuskan untuk mengajak raffa berlibur ke rumah keluarga vani yang berada di kampung halamannya.


meskipun raffa tidak terlalu banyak bermain namun saat berada di kampung halaman ibunya itu ia cukup banyak berinteraksi dengan sepupunya yang lain disana.


vani yang saat ini sedang berkumpul dengan seluruh anggota keluarga di dalam rumah bibinya (rumah orang tua yuli) itu pun menghubungi adiknya dengan panggilan video karena saat ini hanya yuli saja yang tidak ikut berkumpul di sana.


saat panggilan video tersambung, vani pun menyapa dan melihat senyum juga mengembang di wajah adiknya itu.

__ADS_1


"hai! apa kabar yuli?" vani menatap layar di ponselnya.


"hai kak. aku baik, wah!! kalian lagi ngumpul di rumah mama ya?"


yuli pun sangat merindukan keluarganya terutama kedua orang tuanya karena sudah lama mereka tidak bertemu sejak ia menikah dan tinggal di london.


"iya nih semua lagi libur kerja juga, minus kamu doang yang enggak ada disini" vani semakin membuat wajah adiknya itu menjadi sedih.


"yahh!! jangan gitu dong, aku kan jadi pengen pulang nih ck!" keluh yuli menahan rindunya.


"haha" yang lain pun ikut tertawa saat mendengarnya.


"ya udah sini pulang dong" vani juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan adiknya.


"hem kayanya enggak bisa deh, soalnya suamiku masih sibuk kerja di sini. ini semua karena bang dika yang selalu ngasih tugas banyak sama mas ray" protes yuli melirik sinis abang iparnya yang sedang duduk di samping kakaknya itu.


"eh, kok jadi salah aku sih ya udah deh yuli kamu pulang aja kesini tinggalin aja tuh ray disana" ujar dika tersenyum jahil menanggapinya.


"ih, enggak mau. aku kan enggak bisa jauh jauh dari suami aku bang" yuli tersenyum.


"heh! dasar bucin" dika menunjukkan wajah julid.


"enak aja, abang tuh yang bucin buktinya enggak mau jauh jauh dari kak vani makanya deh mas ray yang di tugasin disini" yuli memanyunkan bibirnya.


"haha, iya dong yul tau aja deh kamu" dika malah tertawa membuat yuli semakin kesal.


"ih ngeselin banget deh. bisa enggak sih kak vani, suami kamu tuh di pinggirin aja enggak usah kelihatan di dalam kamera soalnya aku lagi males liat muka gantengnya yang ngeselin itu"


"haha. iya udah kalo gitu liat wajah affa aja deh aunty" vani pun mendudukkan raffa di atas pangkuannya agar yuli dapat melihatnya di dalam layar.


"hei sayang nya aunty, makin gede makin ganteng aja ya kamu sayang. gemes banget pengen cubit deh"


"iya, aunty pulang dong affa juga kangen nih pengen main lagi kaya dulu" ujar vani.


"aunty juga kangen banget sama affa nanti deh aunty ajak om kamu pulang ya"


"oke deh aunty jangan lupa bawa oleh oleh ya"


"okey"


"ayo dong sayang sapa aunty dulu"


vani meminta putranya itu untuk menyapa namun raffa menolaknya.


"hai kak yul, apa kabar" hana menghampiri vani dan duduk di sampingnya.


"alhamdullilah baik hana. kamu juga apa kabar?"


"aku juga baik kok kak. oh ya gimana nih udah ada kabar baik belum. hehe" hana memainkan alisnya.


"syukurlah kalo gitu, maksudnya kabar baik apa nih?"


"ya kabar baik kalo aku bakal nambah keponakan baru lagi dong. hehe" hana tersenyum menggoda kakaknya.


"hem, doain aja ya"


"pasti kak tapi jangan lama lama deh soalnya entar malah keduluan sama kak vani lagi loh. kan affa mau punya adek" hana melirik vani sambil tersenyum.


"oh raffa mau punya adek ya. enggak papa kok aunty seneng dengernya"


"ih apa sih kalian ini, belum loh" ujar vani malu malu.


"belum apa nih, belum jadi atau belum di buat?" yuli bertanya dengan absrudnya sambil tertawa begitu pun hana yang ikut tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"belum jadi dong yul, kalo buatnya sih udah tiap malam. iya kan sayang" celetuk dika saat mendengar pertanyaan dari adik iparnya itu.


"ck!"


"hahaha" mereka semakin tertawa melihat vani yang malu sekaligus kesal dengan jawaban suaminya itu.


vani dan yuli melanjutkan pembicaraan sambil terus bercanda.


"oh ya kak vani, harusnya bayi arin sama dokter radit udah lahir kan sekarang. anaknya cowok atau cewek ya?"


tiba tiba saja yuli teringat pada kehamilan arin beberapa bulan yang lalu saat resepsi pernikahannya berlangsung.


"iya udah yul, bayi mbak arin sama dokter radit itu cewek namanya affika cantik deh gemes banget liatnya. pipinya bulat kaya kue pau" vani membayangkan wajah chuby putri dokter radit dan arin itu.


"oh ya? wah!!! pasti lucu banget deh"


"iya lucu banget jadi pengen bayi cewek juga deh" ujar vani.


"gass lah kak buat aja nunggu apalagi" celetuk yuli.


"haha! main di gass gass aja ya kak" sambung hana menimpali.


"namanya lucu ya, affika? iya! ada yang baru loh, apa?"


"lo kira iklan kak haha" timpal hana.


"haha mirip"


yuli menatap wajah abang iparnya yang hanya terlihat diam saja ketika mereka membahas tentang arin pikirnya.


"bang dika kok diem aja sih. entar kesambet loh" tanya yuli.


"ck! kangen banget ya kamu debat sama abang"


"haha bisa jadi sih bang" ujar yuli bercanda.


rasanya memang sudah lama mereka tidak berdebat seperti sebelumnya.


"ya udah jangan debat lagi dong. kita lanjut besok lagi ya yul, bye"


"oke bye"


vani mengakhiri panggilan mereka karena melihat raffa sudah mengantuk.


setelah beberapa hari menginap di rumah kakaknya vani dan dika pun memutuskan untuk kembali pulang ke kota karena masih banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor.


sekarang dika sudah tidak bisa bebas seperti dulu lagi, jika sebelumnya ia bisa menyerahkan tugasnya kepada ray dan semua akan selesai sesuai keinginannya namun sekarang tidak ada ray yang menghandle pekerjaannya sebab ray sedang berada di london.


di dalam perjalanan pulang terlihat dika baru saja selesai menerima telpon dari seorang rekan bisnisnya.


"siapa mas?" tanya vani yang berada di samping dika.


"biasa deh sayang temen kerja"


"ouh" vani mengangguk mengerti


"sini sayang peluk papa"


dika mengangkat tubuh putranya lalu menggelitik perut raffa hingga membuat putranya itu tertawa lepas.


"anak siapa sih ini gemes banget hem"


"haha, papa janan papa geli tau"

__ADS_1


"haha iseng banget sih papa ini" vani pun ikut tertawa melihat raffa yang terkekeh geli dengan perbuatan papanya itu.


__ADS_2