
rangga dan ranty masuk ke dalam ruangan bayi dika dan melihat mama papanya yang masih berada di sana sedang menatap sedih tubuh mungil cucu mereka yang kondisinya sedang lemah itu.
"ya ampun, baby kamu kasian banget sayang harus pake selang oksigen kaya gitu"
yuli mendekati box merasa tidak tega melihat bayi yang baru lahir itu harus merasakan sakitnya.
arin yang ikut masuk juga menatap intens pada wajah bayi tampan yang mirip dengan papanya itu.
"baby kuat ya sayang, bentar lagi baby pasti sembuh" ranty juga mendekati box bayi dan berdiri di samping yuli.
"Aammiinn" ucap mereka bersamaan.
"sayang, kamu imut banget sih gemesin kaya mama kamu deh" ranty menatap wajah bayi mungil itu dari dekat.
"em menurut kamu dia mirip siapa sayang?" rangga mendekat dan memegang pundak istrinya dari belakang.
"iya jelas mirip dika sama vani dong mas" ranty tersenyum menatap suaminya dari samping.
"baby lucu banget deh gemesin, em oh iya ponakan aunty ini cewek atau cowok ya?" tanya yuli bingung sendiri.
"oh iya mama sama papa juga lupa buat nanya sama susternya tadi"
mama ratih dan papa hardi juga masih belum mengetahuinya.
"cucu mama ini cowok ma. emang mama enggak liat dia ganteng kaya aku" rangga memberi tahu.
"oh ya. wah!! pantesan aja baby kuat ternyata emang jagoan kita" ucap ranty tersenyum.
mama ratih dan papa hardi pun juga sangat bahagia atas kelahiran seorang cucu laki laki yang mereka harapkan.
mereka juga berharap kondisi kesehatan bayi dan ibunya akan segera membaik.
"rara pasti bakalan senang banget liat adeknya udah lahir"
rangga tersenyum membayangkan wajah gembira dari putrinya.
"iya mas, tapi aku masih khawatir sama keadaan baby. apa aku enggak usah pulang aja ya mas, nanti siapa yang bakal jagain baby kalo kita semua pulang" ucap ranty kepada suaminya.
"mama kan disini buat jagain cucu mama juga" mama ratih menimpali.
"ma tapi tadi dika minta mama sama papa buat pulang biar bisa istirahat di rumah aja" bujuk rangga pada kedua orang tuanya.
"enggak rangga, kalo kita semua pulang siapa yang bakal nemenin dika nanti dia bakal ngerasa sendirian disini. kalo kamu mau pulang ya kamu pulang aja mama tetap di sini" mama ratih menolak untuk pulang.
ceklek!
terlihat ray juga ikut masuk ke dalam ruangan bayi.
"ya udah kamu sama ray aja mas, sekalian antar yuli pulang juga ya soalnya hana lagi sendirian di rumah kasian" ucap ranty kepada suaminya ketika melihat ray masuk ke dalam ruangan bayi.
"ya udah deh kalo gitu sayang, aku pulang dulu ya nanti aku bakalan kesini lagi bareng rara" rangga setuju.
"em, oh ya anterin arin pulang juga ya mas biar dia bisa istirahat kasihan dia kan lagi hamil" ranty dan yang lain pun menatap arin.
sebenarnya ranty juga tidak begitu menyukainya hanya saja sebagai sesama wanita yang pernah mengandung ranty tau pasti arin sudah merasa lelah karena kurang tidur.
"iya sayang"
saat menjelang subuh akhirnya rangga dan ray pulang sedangkan ranty bersama kedua mertuanya tetap disana untuk menemani serta menjaga bayi vani dan dika.
di dalam ruangan vani, dika masih menatap wajah pucat istrinya sambil menggenggam tangan vani dengan erat.
dika memutuskan tidak akan tidur hingga pagi hari agar bisa terus menjaga istri dan bayinya.
"sayang sekarang anak kita udah lahir walaupun keadaan dan kondisinya masih belum stabil tapi aku seneng banget kalian baik baik aja"
"tadi dokter bilang detak jantungnya lemah" dika pun sedih.
"kamu tau gak anak kita cowok loh pastinya dia ganteng kaya aku kan?"
dika mengajak istrinya berbicara tentang bayi mereka.
"kamu cepat sadar dong sayang, kamu juga harus liat anak kita yang jagoan itu. maafin aku ya karena belum bisa jadi suami yang baik buat kamu"
dika terus berusaha menahan kantuk demi untuk menjaga istrinya namun perlahan pandangannya meredup hingga akhirnya dika terlelap dalam posisi duduknya.
pagi harinya dika terbangun dan melihat istrinya masih dengan kondisi yang sama.
rangga dan ray terlihat sudah kembali datang ke rumah sakit lalu masuk ke dalam ruangan vani.
__ADS_1
ceklek!
keduanya berjalan mendekati bankar vani hendak menghampiri dika yang masih duduk di kursinya.
"dika nih pakaian lo, sana mandi sama ganti baju dulu"
rangga menyerahkan paper bag berisi pakaian kepada adiknya itu.
"thanks ya bang"
dika beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti pakaiannya karena sejak kemarin ia bahkan tidak sempat memikirkan untuk mandi.
setelah selesai dengan mandinya dika pun keluar dengan wajah yang segar lalu ia sarapan bersama rangga dan ray karena sejak kemarin malam mereka belum makan dan tidak ada selera untuk makan juga.
setelah dika selesai sarapan tidak lama keluarga vani dari kampung halamannya pun datang bersama dengan yuli dan hana yang juga ingin melihat keadaan vani.
ceklek!
"assalamualaikum"
"walaikumsalam"
"dika, gimana keadaan vani?" tanya kak aida pada adik iparnya itu.
"masih belum sadar kak, dari kemarin selesai operasi vani belum sadar sampe sekarang"
dika menatap istrinya yang masih berbaring di sana dengan mata terpejam.
"ya ampun vani kok bisa kaya gini sih dek"
kak aida mendekati bankar vani lalu mengecup kening adiknya itu.
"maafin dika ya kak, ini salah dika yang lalai jagain vani"
"jangan ngomong kaya gitu dika kakak yakin vani pasti bakal baik baik aja, kamu yang sabar ya"
"iya kak"
"oh iya dimana bayi kalian?"
"ada di ruangan sebelah kak, soalnya keadaan mereka masih sama"
"sabar ya dika semoga kondisi vani sama bayi kalian juga lekas membaik"
"iya makasih ya kak"
"adek kamu cepet sembuh ya kakak selalu doain kamu di sini" kak aida mengusap kening adiknya.
setelah berada di dalam ruang vani kakak dan abangnya pun ingin melihat kondisi keponakan mereka yang baru lahir juga.
"oh ya kami juga mau liat keadaan bayi kalian ya dika"
rio dan yang lainnya pun pamit hendak keluar ruangan.
"iya bang, oh ya yuli bisa tolong tunjukin ruangan baby kan?" dika menatap yuli dan hana.
"bisa kok bang. ayo kita kesana sekarang kak" ajak yuli kepada kak aida dan yang lainnya.
"iya ayo"
semua keluarga pun bergantian datang dan masuk ke dalam ruangan vani dan bayinya untuk melihat keadaan keduanya namun vani masih betah dengan tidur panjangnya.
malam ini seperti biasanya dika masih setia menemani istri dan anaknya di rumah sakit karena kondisi keduanya masih sama seperti sebelumnya.
rangga dan ray juga terlihat masih terus bolak balik pergi ke kantor dan kembali ke rumah sakit untuk menemani dika begitu juga dengan beberapa anggota keluarga lain.
tidak semua keluarga bisa tetap berada di rumah sakit untuk menemani dika apalagi kesehatan mama dan papanya juga drop sebab kelelahan dan kurang istirahat sehingga kedua orang tuanya harus beristirahat di rumah.
malam ini hanya ada rangga dan ray yang setia menemani dika di rumah sakit namun sedikit berbeda dari malam sebelumnya karena kondisi vani dan bayinya tiba tiba saja drop membuat dika sangat khawatir dengan keduanya.
"sayang kamu kenapa?"
dika sangat panik saat melihat tubuh istrinya bergetar, vani mengalami kejang dengan nafas yang tidak beraturan.
dika pun langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan istrinya. kondisi vani tiba tiba saja drop sehingga membuatnya harus mendapatkan penanganan khusus yang lebih intensif. dokter meminta dika untuk menunggu di luar saja selama proses pemeriksaan.
akhirnya dika harus keluar dari dalam ruangan istrinya dengan perasaan sangat khawatir.
"sayang kamu harus sembuh" dika menunggu di luar ruangan istrinya.
__ADS_1
namun saat vani masih dalam penanganan dokter dika kembali mendapat informasi dari rangga dan ray jika kondisi bayinya juga drop.
"dika gimana keadaan vani?" rangga mendekati adiknya.
"gue belum tau bang tapi tadi kondisinya makin lemah"
dika menunduk sedih dan tidak bisa menahan air mata jatuh di pipinya.
"em, dika lo yang sabar ya tapi sekarang kondisi bayi kalian juga makin lemah tadi dokter bilang detak jantung bayi lo udah enggak terdeteksi lagi di alat pendeteksi jantung bayi" ucapan rangga membuat dika semakin tertegun.
"lo ngomong apa sih bang, elo bohong kan? anak gue pasti baik baik aja sekarang. itu enggak mungkin!!! bayi gue enggak mungkin ninggalin gue!!"
dika menarik kerah baju rangga karena merasa marah dalam kesedihannya.
"dika sabar lo tenang dulu ya"
rangga mencoba untuk menenangkan adiknya namun dika langsung berlari menuju ruang bayi yang tidak jauh dari ruangan istrinya itu. rangga pun ikut mengejar adiknya sedangkan ray tetap di sana untuk menjaga vani.
sesampainya dika di dalam ruangan bayinya dokter pun mengatakan jika bayi mereka tidak bisa di selamatkan lagi.
"dokter gimana keadaan bayi saya?"
"maaf pak dika tapi,,, bayi bapak sudah,,," dokter belum menyelesaikan ucapannya.
"enggak dokter itu pasti salah. tolong periksa keadaannya sekali lagi dokter" dika mendekati box bayinya.
"kami sudah berusaha semaksimal mungkin pak tapi detak jantung bayi bapak sudah tidak ada. sabar ya pak dika"
dokter menatap dika yang terlihat sangat menyedihkan.
"enggak mungkin!"
"dika" rangga ikut mendekat.
"sayang ini papa, kamu jangan tinggalin papa ya nak. papa sayang banget sama kamu. jangan tinggalin papa sayang papa mohon. hiks! hiks!"
dika menangis sejadinya sambil menggendong tubuh baby ke dalam pelukannya.
ini pertama kalinya dika bisa menggendong dan memeluk tubuh mungil putranya namun sayangnya ia baru bisa memeluk tubuh bayinya setelah bayi itu tiada.
betapa hancurnya perasaan dika saat ini karena tidak punya kesempatan untuk menjaga putranya lagi.
"dika sabar ya lo harus kuat"
rangga tidak kuasa menahan tangis melihat kesedihan adiknya bagaimana mungkin ia meminta dika untuk tenang sedangkan dirinya sendiri menangis.
"sayang, bangun! ini papa nak maafin papa ya enggak bisa jagain kamu"
dika masih memeluk tubuh bayinya dengan lembut sambil terus mengecupnya.
ray pun datang dan masuk ke dalam ruangan bayi karena mendengar suara dika menangis dari luar ruangan.
"dika?" gumam ray tertegun berdiri di dekat pintu masuk.
sama seperti rangga ray pun tidak dapat membendung air mata mengalir di pipinya saat melihat dika sudah terduduk di lantai sambil menangis memeluk bayinya.
"sayang, maafin papa ya" hiks!
jika ray saja merasakan kesedihan saat melihat tubuh bayi mungil itu tidak lagi bernyawa apalagi dika sebagai ayah dari si bayi, hatinya pasti sangat hancur menerima ini semua.
ray melangkah masuk secara perlahan mendekati dika yang sedang terduduk di atas lantai itu karena hendak memberi informasi tentang vani kepada dika.
ray ikut berlutut di hadapan dika lalu mengusap pundak sahabatnya itu untuk menguatkan.
"dika lo yang sabar ya" ray menatap wajah sedih dika dan beralih melihat wajah mungil bayi tampan di hadapannya.
hiks! hanya suara isak tangis dika yang terdengar tanpa menjawabnya.
"dika gue mau ngasih tau tentang keadaan vani, tadi dokter udah keluar dari dalam ruangannya terus dokter bilang sekarang keadaan vani udah lebih baik tapi dia masih koma kaya sebelumnya"
ray mengatakan dengan hati hati karena takut akan membuat dika semakin sedih.
dika tetap tidak menjawab apapun dan hanya fokus pada putra kecilnya.
"sayang bangun ini papa nak, jangan tinggalin papa ya sayang"
dika menatap tubuh bayinya dengan penyesalan yang mendalam.
"sabar dika lo yang kuat ya ayo"
__ADS_1
rangga dan ray membantu tubuh dika untuk berdiri.