Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Trauma


__ADS_3

melihat dika yang masih berada di sana hingga larut malam vani pun kembali bertanya.


"kenapa kamu masih ada disini, apa kamu enggak mau pulang?" vani tidak mau menatap wajah dika.


"aku mau disini aja nemenin kamu, aku enggak mau pulang"


"tapi mas nanti istri kamu nyariin terus ak,,,"


"sssttt!" dika meletakkan jarinya di bibir vani.


"lebih baik sekarang kamu istirahat lagi ya sayang biar besok kondisi kamu udah lebih baik"


"tolong jangan panggil aku sayang lagi mas" ucap vani.


"emangnya kenapa, aku enggak boleh sayang sama kamu. apa kamu enggak sayang lagi sama aku?"


dika tersenyum sengaja ingin menggoda vani.


"karena itu bisa buat aku jadi sayang sama suami orang. apa kamu mau aku jatuh cinta sama suami orang?"


vani mengalihkan pandangannya.


"kenapa sih kamu manggil aku suami orang terus?"


"ya iya lah masa aku harus panggil kamu suami ku gitu. kamu kan suaminya karin berarti suami orang dong"


vani menatap dika malas lalu mengalihkan pandangannya.


"masa sih tapi aku gak ngerasa tuh"


"ck! kamu tuh jangan jadi suami durhaka ya mas. masa enggak ngakuin istrinya sendiri sih" ucap vani.


"iya tapi aku serius"


"maksud kamu? bukannya kamu emang udah nikah sama karin ya?" vani merasa bingung.


"berhubung karena aku enggak mau nikah sama karin jadi aku batalin deh. kebetulan juga aku cintanya sama kamu"


"maksudnya?"


"iya aku batalin nikah sama karin jadi aku masih single bukan suami orang"


"kamu serius?" vani masih tidak percaya.


"iya serius dong. coba aja waktu itu kamu enggak pergi ninggalin aku mungkin sekarang kita udah nikah sayang"


"em, maafin aku ya mas aku juga nyesel udah ninggalin kamu waktu itu padahal aku masih cinta sama kamu. harusnya aku bertahan dan perjuangin cinta kita tapi aku enggak berani" vani menunduk sedih.


"udahlah kamu jangan nangis lagi ya. udah cukup selama ini kamu nangis jadi mulai sekarang aku janji akan jagain kamu dan akan selalu bahagiain kamu terus sampe kamu lupa caranya buat nangis"


'kayanya itu enggak mungkin mas'


vani tertunduk sedih karena merasa jika apa yang dika katakan itu tidak mungkin terjadi lagi sekarang.


"kamu mau kan mulai semua dari awal lagi sama aku. kita buka lembaran hidup baru?"


dika tersenyum menggenggam tangan vani.


jujur vani sangat bahagia mendengar ucapan dika untuk menjalin kasih kembali bersamanya namun vani teringat dengan apa yang sudah terjadi kepada dirinya.


vani merasa dirinya tidak pantas untuk bersanding dengan pria sebaik dika. apalagi ia sudah di sentuh oleh pria lain membuatnya semakin tertunduk.


"maaf, aku enggak bisa mas" vani menggeleng pelan.


"tapi kenapa?"


"kamu pantes dapet cewek yang lebih baik dari pada aku"


"tapi aku masih sayang sama kamu vani tadi kamu bilang kamu juga masih sayang sama aku kan?"


"apa aku masih pantas buat kamu mas, setelah apa yang udah terjadi sama aku apa kamu enggak jijik liat cewek kaya aku ini"


vani berbicara dengan suara yang sangat pelan namun dika masih bisa mendengarnya.


"tolong kamu jangan bilang kaya gitu ya, aku beneran enggak peduli sama apa yang udah terjadi ke kamu sekarang karena aku masih cinta sama kamu sayang"


dika menggenggam wajah vani di kedua tangannya.


dapat hidup bersama dengan pria yang dicintainya itu memang sudah menjadi impian vani selama ini namun ia sudah tidak percaya diri dengan keadaanya saat ini.


"maaf mas tapi aku enggak bisa, aku enggak pantas buat kamu" vani terus menggelengkan kepalanya.


"sayang, percaya ya sama aku pliss aku cinta sama kamu"


"apa kamu yakin masih mau nerima aku jadi istri kamu"


"aku yakin sayang aku bakal nerima semuanya apa yang ada di diri kamu karena aku tulus"

__ADS_1


ujar dika tanpa ragu menatap gadis itu.


"liat ini mas, coba kamu liat baik baik tubuh aku yang udah enggak suci ini. apa kamu yakin mau nikah sama cewek kotor kaya aku. kamu bisa dapetin yang lebih baik dari aku mas. cari aja wanita lain yang terbaik buat kamu yang pasti itu bukan aku"


vani menunjukkan bagian tubuhnya yang terdapat banyak bekas luka dari gigitan raka sebelumnya.


"sayang bekas ini pasti akan hilang dalam beberapa hari lagi jadi kamu jangan bilang kaya gitu ya"


"ada satu bekas yang enggak akan pernah hilang mas. aku enggak mau kamu nyesel suatu saat nanti kalo kita nikah"


vani tak kuasa menahan kesedihan di dalam hatinya.


"dengerin aku sayang. aku janji aku enggak akan pernah nyesel nikah sama kamu"


"hiks! hiks! hiks!"


dika memeluk tubuh gadis yang dicintainya dengan penuh sayang lalu mengusap lembut punggungnya membuat vani terdiam namun tak berniat untuk membalas pelukan hangat itu.


saat merasakan pelukan dari seorang pria vani kembali teringat kepada raka dan langsung mendorong tubuh dika menjauh darinya.


"jangan sentuh aku...."


vani mendorong tubuh dika lalu menjauh.


"vani, kamu kenapa?"


"pergi! pergi!" vani menunduk takut.


"hei liat aku, ini aku sayang bukan orang jahat itu jadi kamu tenang ya"


dika khawatir jika vani benar benar akan merasa trauma berat saat mendapat sentuhan dari seorang pria.


"enggak! jangan sentuh aku!"


vani menutup kedua telinganya sambil meringkuk.


"sayang, ini aku dika"


dika mencoba untuk mendekati vani.


"mas dika, aku takut!" vani merasa ketakutan.


dika kembali memeluk tubuh vani yang sudah gemetaran karena merasa takut hingga membuat tubuhnya lemah.


"ini kamu minum dulu ya biar lebih tenang"


"makasih"


vani memegang gelas dengan tangan bergetar karena merasa takut.


"udah ya kamu jangan takut lagi"


dika kembali memeluk tubuh vani agar tidak perlu takut kepadanya.


vani yang sedang memeluk tubuh dika pun tak sengaja melihat cincin lamaran yang masih berada di jari manisnya. ia melepaskan cincin itu lalu menatapnya dengan kesedihan yang mendalam.


'kenapa kamu jahat banget sama aku sih mas, maafin aku ya udah buat kamu kecewa'


vani kembali meneteskan air matanya mengingat raka.


dika melepaskan pelukan mereka secara perlahan setelah merasa vani lebih tenang.


vani yang tadinya masih memikirkan raka pun tersentak saat dika melepaskan pelukannya lalu dengan cepat menghapus air mata di pipinya.


"apa itu sayang?"


dika melihat vani sedang memegang sesuatu di tangannya.


"enggak apa apa kok ini cuma cincin lamaran aku mas, aku mau buang aja" vani tertunduk.


"kenapa mau di buang, kenapa kamu enggak balikin aja secara baik baik cincin itu sama kaya cincin kita waktu itu yang kamu pulangin" dika memberi saran.


"enggak! aku enggak mau ketemu dia lagi! aku enggak mau liat mas raka lagi. dia jahat banget sama aku mas. dia jahat! dia jahat!... tapi aku juga jahat sama dia" hiks! hiks!


vani kembali histeris menutup wajahnya sambil memeluk lututnya yang membuat dika khawatir kepadanya.


"vani, kamu tenang ya"


dika mencoba untuk menenangkan vani.


"enggak! pergi!"


vani mengusir dika dan mendorong tubuhnya yang hendak mendekat.


kondisi mental vani benar benar tidak stabil saat ini.


yuli terbangun karena mendengar teriakkan itu ia pun berjalan mendekat dan langsung memeluk vani karena melihat kakaknya merasa ketakutan.

__ADS_1


"ya ampun kak kamu kenapa?"


"aku takut" vani gemetaran sambil menutup wajahnya.


"kamu takut apa? enggak ada yang jahat disini, kamu tenang ya"


yuli berusaha untuk menenangkan vani dan mengelus lembut rambut sang kakak.


"aku takut dia"


"dia siapa kak, pak dika kak vani kenapa ya?"


yuli menatap dika karena melihatnya yang sudah bangun terlebih dahulu dari pada dirinya.


"saya juga bingung yul tadi kami ngobrol baik baik aja tapi tiba tiba vani jadi histeris kaya gini waktu bahas soal calon suaminya" jelas dika.


"maksudnya bang raka?" yuli pun berfikir.


dika hanya menganggukkan kepalanya tanda iya meskipun sebenarnya dirinya tidak tau siapa raka.


"kak apa ini semua emang perbuatan bang raka?"


yuli bertanya dengan hati hati karena takut vani akan kembali histeris jika mendengar nama raka.


vani pun langsung menganggukkan kepalanya masih dalam ketakutan.


"tapi kenapa dia tega ngelakuin ini sama kamu kak. bukannya dia sayang banget sama kamu?"


"dia marah karena aku batalin pernikahan kami yul" hiks! hiks!


vani menjelaskan dengan suara gemetar takut diiringi tangisan atas penyesalannya juga.


"ya ampun aku enggak nyangka bang raka tega ngelakuin ini sama kamu kak"


yuli masih memeluk kakaknya yang sedang ketakutan.


'sebenarnya wajar sih kalo bang raka marah karena kak vani tiba tiba mau batalin pernikahan mereka tapi enggak seharusnya dia nyakitin cewek sampe trauma kaya gini kan' batin yuli ikut sedih.


"ya udah sekarang kamu tenang ya, bang raka enggak akan bisa nyakitin kamu lagi kok kamu udah aman disini kak. kamu istirahat lagi ya"


yuli membantu vani untuk kembali berbaring.


"tapi gimana kalo dia datang lagi buat nyakitin aku, gimana kalo dia,,, dia mau bunuh aku?" vani semakin takut.


"enggak! itu enggak mungkin kak aku bakal jagain kamu disini jadi dia enggak akan berani datang oke"


yuli mencoba untuk menenangkan vani.


"tapi aku takut" vani terus memegangi tangan adiknya.


"kamu jangan takut lagi ya, aku ada disini buat kamu. aku juga bakal minta anak buah ray buat jagain pintu ruangan ini 24 jam jadi enggak akan ada yang berani datang oke" dika meyakinkan vani.


"iya kak, kamu jangan takut lagi ya sekarang"


yuli meminta vani untuk memejamkan matanya namun vani tetap tidak bisa tidur, ia selalu terbayang wajah raka saat menyiksa tubuhnya hingga membiru.


akhirnya dika dan yuli pun memutuskan untuk memanggil dokter agar memberi obat penenang kepada vani karena merasa kasian melihat kondisi vani yang benar benar seperti orang ketakutan.


setelah dokter menyuntikkan obat penenang di infusnya beberapa menit kemudian vani pun kembali memejamkan matanya dan mulai tertidur.


'kenapa ya vani mau batalin pernikahannya padahal waktu itu...' batin dika bingung sambil menatap wajah pucat vani yang sudah terlelap.


"syukurlah kak vani udah bisa tenang sekarang, em, ya udah pak dika kalo gitu kita gantian istirahatnya ya. biar sekarang aku yang jagain kak vani disini"


yuli menatap dika karena melihat wajah dika yang sepertinya sudah lelah menjaga vani sejak tadi.


"enggak usah yuli. kamu istirahat aja di sana biar saya yang jagain vani disini, lagian besok kan kamu harus masuk kerja" dika yang mengerti.


"serius nih?"


yuli merasa tak enak jika mereka harus terus merepotkan dika namun jika yuli tidak tidur malam ini maka ia tidak akan bisa fokus bekerja besok.


"iya, udah sana kamu tidur lagi"


dika mengangguk meminta yuli untuk beristirahat.


"oke deh makasih ya bang dika"


yuli tersenyum karena kembali memanggil dika dengan sebutan abang.


"hhh!" dika menggelengkan kepalanya melihat kelakuan random gadis di hadapannya itu.


yuli pun langsung melangkah menuju sofa dan kembali berbaring di atas sofa itu untuk melanjutkan istirahatnya.


dika duduk di kursi yang berada di samping bankar untuk menjaga vani lalu menggenggam tangan gadis itu dan mengecupnya.


'kenapa kamu lakuin ini?' batin dika menatap wajah pucat vani.

__ADS_1


__ADS_2