Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 162


__ADS_3

setelah dokter farhan keluar rangga saling bertatapan dengan ray lalu mereka juga keluar dari dalam ruangan dika hendak melihat keadaan vani yang berada di dalam ruang rawat berbeda.


keluarga khawatir karena vani masih belum juga sadarkan diri sejak kemarin. yuli yang selalu mengikuti langkah suaminya pun melihat kedua pria yang sedang bertatapan di depan pintu ruangan dika itu.


"hem gimana menurut lo?" tanya rangga kepada ray.


"menurut saya sih bos, kayanya dika juga enggak ingat deh sama anak dan istrinya. soalnya dia enggak sekali pun mencari keberadaan vani yang enggak ada disana saat dia sadar tadi" ray memikirkan kemungkinannya.


"terus gimana?" rangga bingung.


"hhhh" ray menghembuskan nafas beratnya sambil mengusap pelipis karena juga bingung.


"kak yuli!" panggil hana saat melihat yuli sedang berada di sana.


"ada apa hana?" yuli melihat hana menghampiri dirinya.


"itu, kak vani udah sadar sekarang" hana memberi tahu keadaan vani kepada yuli.


"beneran? ya udah ayo kita liat kak vani" ajak yuli pada suaminya dan juga rangga.


mereka masuk ke dalam ruangan vani dan melihat kak aida dan bang rio juga masih berada disana untuk menemani vani hingga sadarkan diri.


vani akhirnya tersadar dengan membuka matanya secara perlahan sambil menyebut nama seseorang yang namanya tidak pernah ia lupakan meski dalam keadaan apapun.


"mas dika..." vani membuka matanya lalu melihat ke arah semua orang di sekelilingnya.


vani yang tidak melihat keberadaan suaminya disana pun mengingat kecelakaan mobil yang sebelumnya terjadi pada mereka. vani langsung bangkit dari tidurnya dengan khawatir mencari keberadaan anak dan suaminya.


"mas dika sama raffa dimana hana?"


vani memegang tangan adiknya yang sedang berdiri tepat di samping bankarnya itu.


"vani kamu tenang ya raffa udah di rumah sekarang, keadaanya baik baik aja jadi kamu jangan khawatir ya. dia pasti lagi main sama rara dan ranty di rumah" jelas rangga agar vani kembali tenang.


"enggak! aku enggak percaya sebelum aku lihat langsung mas. dimana anak ku hiks! hiks!" vani menangis.


rangga pun langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku lalu melakukan panggilan video kepada istrinya agar vani bisa melihat keadaan raffa yang sedang baik baik saja di rumah.


setelah sambungan telpon itu terhubung, rangga pun memperlihatkan layar ponselnya kepada vani.


"liat vani, ini raffa dia lagi ada di rumah sama mbak ranty. liatkan dia lagi main sama rara rasty"


rangga tersenyum menatap kearah layar ponselnya karena melihat anak anak mereka sedang bermain dengan akrab.


"raffa sayang. syukurlah kamu baik baik aja nak" vani tersenyum haru melihat putranya yang sedang bermain.


"vani, kamu jangan khawatir ya. raffa baik baik aja kok di sini" ujar ranty pada adik iparnya itu.


"iya mbak. tolong jagain raffa ya mbak"

__ADS_1


"iya pasti, kamu tenang ya pokoknya kamu harus cepat sembuh"


"em iya mbak" vani pun mengangguk.


setelah merasa tenang melihat putranya, vani mematikan panggilan di ponsel rangga.


"kamu udah liat kan raffa baik baik aja" rangga menerima ponselnya yang diberikan oleh vani.


"iya tapi dimana mas dika mas?"


"dika juga baik kok, dia lagi di rawat di ruangan sebelah" jawab rangga.


"aku mau liat keadaan mas dika sekarang" vani hendak turun dari tempat tidurnya.


"vani dengar kondisi kalian masih lemah jadi lebih baik sekarang kalian istirahat dulu sampe keadaan kalian benar benar pulih" rangga mencoba untuk menenangkan vani


"tapi aku mau liat dulu keadaan mas dika dan mastiin kalo dia benar baik baik aja karena sebelum itu aku enggak bakal bisa tenang mas rangga. aku mohon" vani kekeh ingin melihat keadaan suaminya.


"oke, tapi kamu tenang dulu ya. mas bakal bawa kamu ke dalam ruangan dika sekarang"


akhirnya rangga pun mengajak vani untuk menemui dika di dalam ruangannya dengan menggunakan kursi roda sebab kondisi vani masih lemah.


rangga mendorong kursi roda vani untuk masuk ke dalam ruangan dika. setelah mereka berada di dalam ruangan dika, vani pun tersenyum melihat suaminya yang sedang duduk sambil makan dari suapan mamanya.


"mas dika syukurlah kamu baik baik aja" vani mendekat dan berusaha berdiri untuk memeluk dika yang sedang duduk di atas bankarnya itu.


vani memeluk tubuh suaminya yang hanya terdiam dika bahkan tidak membalas pelukannya.


"maksud kamu apa mas, kamu enggak kenal sama aku?" vani merasa lebih bingung karena suaminya bertanya tentang siapa dirinya.


"emangnya kamu siapa?"


"aku ist..."


"em, vani ayo kita balik lagi"


rangga langsung menarik kursi roda vani dan membawa adik iparnya keluar dari dalam ruangan dika.


rangga mendorong kursi roda vani kembali menuju ruangan sebelumnya.


"ma, siapa sih cewek itu aneh banget deh kenapa dia datang terus tiba tiba meluk aku. seakan kalo kami udah saling kenal sebelumnya" dika menatap mamanya.


"em, udah sayang kamu enggak usah pikirin dulu. lebih baik sekarang kamu istirahat yang banyak biar kondisi kamu cepat pulih ya nak" mama ratih pun bingung harus menjawab apa.


dika hanya menuruti ucapan mamanya untuk beristirahat saja karena masih selalu merasa pusing di kepalanya. ia pun kembali tidur setelah selesai makan.


setelah rangga membawa vani kembali masuk ke dalam ruangan sebelumnya ia pun meminta adik iparnya itu untuk beristirahat saja agar kondisinya cepat membaik.


"vani, kamu istirahat aja dulu disini ya. mas mau keluar dulu" rangga berbalik badan hendak keluar dari dalam ruangan namun vani langsung menghentikan langkah abang iparnya itu.

__ADS_1


"mas rangga, tunggu..! ".


"iya ada apa vani?" rangga kembali berbalik badan menghadap kearah vani.


"mas tolong jelasin sama aku apa yang sebenarnya terjadi sama mas dika. kenapa tadi dia nanya siapa aku kan aku ini istrinya" vani meneteskan air matanya.


"hhh" rangga menghembuskan nafas berat hendak menjawabnya.


"jadi gini vani, tadi dokter bilang kalo dika mengalami amnesia akibat benturan keras yang terjadi di kepalanya waktu kecelakaan kemarin. untuk saat ini dika enggak bisa ingat sama beberapa orang termasuk kamu. terus dokter juga nyaranin kita jangan maksa ingatan dika buat balik sekarang tapi secara perlahan dan bertahap dika pasti bakal ingat semuanya lagi" jelas rangga.


"tapi kenapa harus aku yang mas dika lupain sih mas hiks! hiks! hiks! mas dika jahat banget"


vani sangat sedih saat mendengarnya karena suami yang sangat mencintainya dulu kini bahkan tidak mengenali dirinya lagi.


"kamu yang sabar ya vani, ini juga demi kesembuhan dika karena dokter bilang kalo kita maksain dika buat ingat semuanya sekarang. kondisi kesehatannya bisa drop. mas tau kamu pasti enggak mau hal itu terjadi sama suami kamu kan?"


"iya mas. aku enggak mau mas dika sampe kenapa napa, aku enggak papa kok mas dika lupain aku asal dia tetap sehat" vani akhirnya mengerti.


"kamu tenang aja ya, mas yakin kok walaupun dika masih lupa sama kamu tapi hatinya pasti enggak bakal pernah bisa lupain kamu karena dika sangat mencintai kamu"


rangga tersenyum untuk menenangkan adik iparnya yang sedang menangis itu.


"iya kak vani, kamu yang sabar ya" yuli pun mendekat dan memeluk kakaknya .


rangga keluar dari dalam ruangan vani lalu kembali masuk ke dalam ruangan dika yang berada di sebelah ruangan itu.


"ma gimana keadaan dika?" tanya rangga kepada mamanya saat melihat adiknya sudah tertidur di atas bankar.


"mama suruh dika istirahat biar kondisinya cepat membaik"


"ma dika itu udah dewasa emang harus dielus elus gitu baru bisa tidur" ujar rangga melihat tangan mamanya sedang mengusap kepala adiknya agar dika tertidur.


"sedewasa apapun kalian bagi mama kalian tetap putra kecil mama yang menggemaskan" jawab mama ratih yang membuat rangga hanya geleng geleng kepala namun itu memang benar adanya.


"rangga gimana keadaan vani, pasti sekarang dia lagi sedih banget ya?" tanya mama ratih dan papa hardi yang juga mengkhawatirkan keadaan menantu mereka itu.


"liat sendirilah pa di dalam ruangannya vani tuh lagi nangis karena suaminya sendiri lupa sama dia. ya walaupun tadi dia udah ngerti pas aku jelasin tapi pasti vani masih sedih banget ma" rangga duduk bersandar di atas sofa.


"ya udah kalo gitu kamu jagain adik kamu ya, mama sama papa mau ke ruangan vani dulu"


"hem" rangga pun memejamkan matanya yang terasa berat karena sejak kemarin ia tidak bisa tidur karena kondisi dika masih kritis.


sesampainya di dalam ruangan vani mama ratih dan papa hardi pun mendekati bankar menantunya itu.


"sayang gimana keadaan kamu sekarang?" mama ratih mengelus lembut pucuk kepala menantunya yang sedang berbaring di atas bankarnya itu.


"udah lebih baik ma" vani sedikit tersenyum.


"sayang, kamu jangan sedih lagi ya. nanti kita bakal jelasin secara perlahan sama dika tentang hubungan kalian yang masih dia lupain ini. mama yakin dika pasti cepat ingat sama kalian lagi" mama ratih menatap wajah sedih vani.

__ADS_1


"iya ma, aku enggak papa kok"


vani menundukkan pandangannya sedih namun ia tetap berusaha tersenyum agar mama ratih tidak sedih.


__ADS_2