Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Jadi bimbang


__ADS_3

pintu lift terbuka setelah sampai di lantai dasar vani pun langsung berjalan menuju pintu keluar utama gedung.


tiba tiba saja jay datang dari arah belakang dan menyapa vani yang sedang berjalan.


"hai vani"


jay sengaja mempercepat langkah kaki agar jalannya sejajar dengan vani.


"eh pak jay, hai juga pak" vani pun tersenyum.


"kamu mau pulang ya?" tanya jay basa basi.


"iya nih pak mau pulang"


vani mengangguk sambil terus berjalan keluar hingga akhirnya mereka sampai di luar gedung.


"em, gimana kalau saya antar?" tawar jay.


"em, makasih pak tapi enggak usah. saya udah pesen taksi online tadi, kayanya sebentar lagi juga datang" vani merasa sungkan.


"oh gitu" jay mengangguk namun kecewa.


"nah, itu taksinya udah datang. mari saya duluan ya pak"


vani tersenyum manis lalu berjalan masuk ke dalam taksi meninggalkan jay yang masih berdiri di tempatnya.


"iya hati hati" jay hanya tersenyum miris.


setelah vani masuk, taksi itu pun langsung melaju untuk mengantar vani pulang.


jay hanya terdiam memandang taksi yang sudah melaju jauh hingga tidak terlihat lagi.


tiba tiba saja dari arah belakang rachel datang sambil mengusap lembut pundak jay.


"gue tau perasaan lo sekarang bang" rachel menebak isi hati abang sepupunya itu.


"ck! apa sih lo"


jay hanya memutar bola matanya jengah.


"jangan sedih gitu dong bang, lo harus tetap semangat buat ngejar cintanya"


jay pun hanya diam mendengarkan celotehan dari adik sepupunya yang cerewet itu.


"cewek itu adalah makhluk yang suka di perjuangin bang" rachel terus menggoda jay.


"hem"


jay hanya membalasnya dengan senyuman dan tidak terlalu menanggapi ucapan rachel.


"gue serius bang" gerutu rachel melirik jay yang hanya diam.


"dah lah gue mau pulang" jay pun berjalan menuju parkiran.


"eh bang, gue nebeng ya"


rachel mengejar langkah jay menuju mobil.


"iya boleh"


jay terus berjalan masuk ke dalam mobilnya.


"yes, baik banget sih abang gue ini, sayang aja vani nolak mulu" celoteh rachel sambil masuk ke dalam mobil.


jay melirik kesal saat mendengar ucapan adiknya yang sebenarnya fakta itu.


"hehe" nyengir rachel polos.


jika di pikir pikir ada benarnya juga. apa yang kurang dari seorang jay, pria tulus dan setia namun sayang vani selalu menolak cintanya padahal jay sudah sering menyatakan perasaan kepadanya.


sesampainya di rumah vani langsung menuju dapur hendak masak makan malam untuknya dan yuli lalu ia segera mandi setelah selesai memasak.


setelah mandi dan mengganti pakaian dengan memakai piyama, vani pun berbaring di atas ranjang karena merasa sangat lelah seharian.


"huh! capek juga ya jadi pak ray. kayanya badan ku lebih capek doble dari pada awal awal kerja apalagi kalo pak dika ngajak ke kantornya"


vani mengeluh sambil menatap langit langit di dalam kamarnya.


memang benar hidup menjadi seorang ray itu tidak mudah karena selain harus mengerjakan pekerjaan kantor yang banyak, ia juga memiliki tugas menjaga dan melindungi keselamatan bosnya terutama dika.


karena selama nama wijaya group masih terus bersinar di dunia bisnis maka selama itu juga akan banyak para pesaing yang mencoba untuk menghancurkan keluarga wijaya terutama para pewarisnya.

__ADS_1


di kantor terlihat dika baru saja menyelesaikan pekerjaannya setelah hari sudah mulai berubah menjadi gelap. ia pun memutuskan untuk segera pulang ke rumah.


dika melangkah masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar lalu berjalan keluar dari dalam gedung menuju parkiran.


sesampainya di parkiran dika langsung masuk ke dalam mobil dan melaju hingga berhenti tepat di halaman rumah mewahnya.


dika keluar dari dalam mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah dan menaiki satu persatu anak tangga hingga sampai di depan pintu kamarnya yang berada di lantai dua.


ceklek!


pintu terbuka, dika langsung masuk ke dalam kamarnya dan mandi hendak melaksanakan sholat di masjid dekat rumahnya.


di waktu yang bersamaan namun di tempat yang berbeda vani juga baru menyelesaikan sholatnya di rumah.


vani berjalan menuju ruang tamu rumahnya lalu duduk sambil menunggu yuli pulang bekerja.


saat masih asik menonton televisi sendirian, vani melihat kepulangan adiknya yang sedikit berbeda dari biasa karena hari ini yuli pulang bekerja lebih awal.


"Assalamualaikum"


yuli masuk ke dalam rumah dan melihat vani yang sudah menunggu kepulangannya.


"Walaikumsalam" vani tersenyum.


yuli melangkah masuk ke dalam kamar mereka lalu membersihkan diri dan menunaikan sholat.


setelah itu keduanya makan malam bersama dengan makanan sederhana yang sudah vani masak tadi.


*


di dalam rumahnya, saat ini dika juga sedang makan malam bersama keluarganya di meja makan dengan makanan yang mewah.


disela makan, ranty memperhatikan dika yang hanya terlihat murung tidak seperti biasanya.


"gimana kerjaan kamu dika, apa kamu ngerasa kecapekan karena enggak ada mas rangga di kantor?"


tanya ranty karena adik iparnya itu hanya diam saja sejak tadi padahal biasanya dika selalu bercanda dengan rara.


"semua baik baik aja kok mbak, kerjaan juga aku bisa handle" jawab dika menatap ranty.


"oh syukurlah kalo gitu" ranty mengangguk.


"em, hubungan kamu sama karin gimana dika? kalian baik baik aja kan, kapan karin pulang?" tanya mama ratih kepada putra bungsunya itu.


"udah lah ma biarin aja dulu, nanti juga pasti pulang sendiri" ranty pun sebenernya malas membahas tentang karin.


"ya udah, mama harap kamu sabar ya dika. mama yakin karin pasti pulang dan mau nikah sama kamu" mama menyemangati putranya.


"iya ma" dika hanya mengangguk.


di dalam rumah kontrakan dua gadis manis yang random itu.


setelah selesai makan malam, terlihat vani dan yuli sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil bermain ponselnya masing masing.


tiba tiba saja vani kembali teringat dengan pertemuan mereka beberapa hari yang lalu. tentang seorang pria yang sedang bersama yuli di restoran waktu itu.


pasalnya vani mengetahui jika pria yang sedang bersama adiknya saat itu bukanlah pacar yuli yang selama ini sudah ia kenal.


"ehem, siapa dia yul?"


vani sebenernya ingin bertanya sejak kemarin namun ia selalu lupa.


"siapa?"


yuli pura pura bingung padahal ia sudah tau kemana arah pembicaraan itu.


"cowok itu"


keduanya masih asik menatap ponsel di tangan masing masing.


"em, cowok yang mana?" yuli mengernyit.


"enggak usah pura pura enggak tau gitu deh"


vani melirik yuli yang berada di sampingnya.


"hem, temen kerja" jawab yuli fakta namun bukan jujur yang sebenarnya.


"spesial?" vani masih penasaran.


"yah lumayan lah" jawab yuli malas.

__ADS_1


"lumayan gimana?" bingung vani.


"ih! nanya mulu deh, sekarang aku yang gantian nanya sama kamu ya. itu cowok yang kemaren makan bareng kamu juga siapa, hah?"


yuli mengalihkan pembicaraan karena malas menjawab pertanyaan dari kakaknya.


"mana ganteng banget lagi" sambung yuli bergumam.


"itu em, itu bos aku yang pernah nolongin aku waktu itu loh. kamu kan udah pernah ketemu sebelumnya" vani merasa canggung.


"oh ya? masa sih tapi kok lebih ganteng ketemu siang ya, apa karena waktu itu udah malam jadi mukanya agak buram enggak jelas gitu" jawab yuli ngasal.


"yee, itu sih pasti mata kamu aja yang burem karena waktu itu kamu udah ngantuk. padahal dia selalu ganteng mau siang ataupun malam"


vani tersenyum sambil membayangkan wajah tampan bosnya.


"hem, lo suka ya sama dia?" yuli menggodanya.


"eh, enggak kok aku cuma kagum aja" vani jadi salah tingkah.


"cie udah ngaku aja deh lo, lagian suka sama kagum itu kan sama aja dodol. otak lo itu ya jago belajar tapi kok lemot banget sih kalo masalah hati" ucap yuli faktanya.


"apa sih enggak jelas!"


vani jadi kesal karena awalnya ia hanya ingin bertanya namun justru dirinya yang mendapat pertanyaan menyebalkan dari yuli.


memang benar vani sangat sensitif jika soal urusan hati karena ia selalu tertutup kepada siapapun tentang perasaannya.


akhirnya vani pun memilih diam dan kembali menatap ponsel karena ingin menghindari pertanyaan random dari adiknya.


*


di dalam kamar luasnya terlihat dika sedang duduk di atas sofa sambil memegang ponsel di tangannya. ia baru saja menerima telpon dari rangga yang membicarakan tentang masalah pekerjaannya yang ada di sana.


dika juga masih berusaha untuk menghubungi karin agar memberi kepastian kapan dirinya akan kembali namun tetap saja seperti biasa gadis itu tidak dapat di hubungi.


tut!!! tut!! panggilan tidak terhubung.


"ck! karin dimana sih handphone enggak aktif, ngapain aja coba dia di sana"


dika pun kembali berfikir dan teringat ucapan rangga beberapa hari lalu tentang karin yang sepertinya tidak serius dengan hubungan mereka.


"apa bener gue bahagia sama karin?"


dika bertanya tanya pada diri sendiri sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"tapi kenapa gue kayanya enggak pernah ngerasa kangen sama karin ya walaupun dia lagi pergi jauh?"


sebenarnya dika bisa saja menyusul karin di luar negeri namun karin pernah meminta dika untuk tidak mengikutinya.


"apa dia enggak kangen gitu sama gue, cowok ganteng gini kok malah di tinggalin sih. mana dia juga enggak pernah ingat sama gue lagi"


pasalnya selama karin pergi ke luar negeri, calon istrinya itu jarang sekali menghubunginya untuk sekedar memberi kabar bahkan saat dika menelepon pun karin selalu saja mengatakan jika ia sedang sibuk dengan teman temannya.


"huh, dasar cewek!! dulu aja ngakunya cinta, sekarang setelah gue kasih semua kemewahan dia malah pergi dan bisa hidup bahagia tanpa gue. sebenernya dia cinta sama gue apa sama duit gue doang sih?"


dengan bodohnya dika bertanya pada dirinya sendiri.


"ck! tau ah!"


merasa kesal sendiri dika pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ranjang sambil terus mengomel pada calon istrinya yang jauh disana.


"terpesona katanya? huh! terpesona sama ketampanan gue atau cuma terpesona sama duit gue doang"


dika mengingat semua ucapan yang pernah karin katakan dulu kepadanya untuk merebut hatinya.


sesampainya di tepi ranjang dika meletakkan ponselnya di atas nakas lalu berbaring di atas ranjang mewahnya hendak segera beristirahat.


saat ia memejamkan mata justru wajah cantik dengan senyuman manis vani yang muncul di dalam ingatannya.


"hhh!"


dika langsung membuka matanya kembali saat bayangan wajah vani muncul dalam pikirannya.


"ck! kenapa malah dia yang muncul sih"


dika merasa heran karena saat ia memejamkan mata justru wajah sekretaris penggantinya itu yang muncul.


"dasar cewek aneh!"


kesal dika mengingat kerandoman vani yang menurutnya lucu namun sangat aneh itu.

__ADS_1


setelah lelah berpikir kemana hatinya akan berlabuh akhirnya dika pun tertidur di atas ranjang king size yang empuk membawanya masuk ke alam mimpi yang indah.


__ADS_2