Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 178


__ADS_3

hari hari vani berjalan baik di kampung halamannya itu. ia sudah mulai kembali bisa tersenyum dengan manis namun tidak dengan hari hari dika yang sepertinya sangat kacau.


semenjak kepergian vani beberapa minggu lalu dika terlihat tidak pernah bisa fokus dengan hal apapun yang sedang dilakukannya terutama dalam pekerjaan.


karena merasa seperti ada yang kurang dalam hidupnya dika juga sering kali marah marah tidak jelas kepada para karyawannya di kantor hanya karena hal yang sepele.


dika bahkan terlihat kesal ketika melihat ray sedang duduk di kursi meja kerjanya. hal itu karena ia masih berharap dapat melihat vani yang duduk di meja kerja itu seperti biasanya.


tidak hanya itu dika juga sering mengusir rissa yang selalu datang mengganggu dirinya setiap hari.


"ayolah sayang, kita pergi jalan jalan ya hari ini" ajak rissa membujuk dika agar mau pergi bersamanya.


"ck! tolong pergi rissa. jangan ganggu aku sekarang, aku lagi pengen sendiri hari ini" usir dika kepada rissa.


"dika, kamu itu kenapa sih masa setiap hari pengennya sendirian terus. kapan dong kamu punya waktu buat aku?" rissa dengan wajah sedihnya memeluk lengan dika.


"udahlah riss, kapan kapan aja ya. aku lagi sibuk banget sekarang" dika masih menahan diri agar tidak marah.


"ah! enggak mau. kita pergi sekarang aja ya" rissa terus membujuk dika dengan bersikap manja seperti biasanya.


"ck! aku bilang pergi rissa!!!!" teriak dika menunjuk ke arah pintu agar rissa pergi.


"enggak mau" namun rissa tetap menolak.


"keluar - sekarang - juga" dika mengeja kalimatnya dengan penuh penekanan di setiap kata.


"enggak!" tolak rissa tetap menantang.


prraankkk...!!!!


"akh!" kaget rissa.


"keluar...!!!!"


dika dengan keras melemparkan vas bunga yang ada di atas meja kerjanya itu ke lantai hingga berserakan dan membuat rissa terkejut.


"ck!! terserah kamu deh" rissa kesal lalu melangkah pergi dari dalam ruangan dika.


di luar ruangan tepatnya di meja kerja ray sedang duduk sambil memeriksa pekerjaannya hari ini.


sejak beberapa minggu lalu pulang dari london, ray pun sudah mulai kembali bekerja sebagai sekretaris dika di kantor seperti biasanya.


rissa yang baru saja keluar dari dalam ruangan dika itu berjalan cepat melewati meja ray begitu saja dengan wajah kesalnya.


"kenapa lagi tuh orang" gumam ray sambil menggelengkan kepalanya saat menatap kepergian rissa.


melihat kekesalan di wajah rissa itu ray pun meyakini jika rissa baru saja bertengkar dengan dika di dalam ruangan.


"hem baguslah kalo mereka berantem" gumam ray lalu melanjutkan pekerjaannya.


di dalam ruangan dika berteriak sambil meninju meja kerjanya karena merasa bingung dengan perasaannya sendiri.


"aarrggghhh!!! brakk!!"


"gue kenapa sih sebenarnya? kenapa gue selalu aja marah tiap liat rissa datang. apa ini karena waktu itu demi belain rissa gue bentak vani sampe buat dia nangis"


dika mengingat wajah sedih vani yang menagis menatap dirinya waktu itu membuatnya kesal pada diri sendiri.


"hhh! apa mungkin ini cuma karena gue masih ngerasa bersalah sama vani ya. apa gue harus minta maaf dulu sama dia biar perasaan bersalah ini bisa hilang" dika bertanya pada diri sendiri.


"ahh! tapi kan enggak mungkin gue nemuin vani lagi sekarang apalagi kemaren bang rangga bilang kalo vani udah balikan sama suaminya"


"argh! kenapa gue harus ngerasa bersalah sama vani sih, kenapa juga vani harus punya suami"


brakk!!

__ADS_1


dika semakin frustasi oleh ucapan rangga yang selalu terngiang ngiang di dalam ingatannya.


di rumah kak aida tepatnya di dapur vani dan yuli sedang sibuk hendak membuat kue. dengan perut buncitnya itu yuli masih saja semangat melakukan aktivitasnya.


yuli sengaja mengajak vani untuk membuat kue bersama dengannya agar vani kembali tersenyum seperti dulu lagi. karena belakangan ini yuli sering melihat vani selalu saja menangis dan bersedih secara sembunyi sembunyi.


meskipun vani tidak mengatakannya secara langsung namun yuli pasti tau apa yang sedang vani hadapi sekarang.


"hati hati yuli liat perut kamu udah besar sekarang, jadi kamu enggak boleh kaya dulu lagi ya" vani memperingati adiknya.


"iya deh iya aku enggak capek kok kak" yuli tersenyum.


terlihat sangat menyenangkan ketika mereka bertiga saling bercanda dan tertawa bermain tepung hingga membuat dapur berantakan.


awalnya yuli lebih dulu melempar tepung kepada hana dan di balas oleh vani hingga akhirnya mereka mulai saling melempar satu sama lain.


kak aida yang sedang menemani ketiga adiknya itu pun hanya membiarkan saja mereka bermain seperti anak kecil untuk mengenang momen membahagiakan seperti dulu.


setelah puas bermain akhirnya mereka kembali fokus membuat adonan kue masing masing.


"udah udah fokus buat kue yok" ujar hana.


kak aida keluar dari dapur karena hendak melihat anak anak yang sedang bermain di teras rumah.


"kakak liat anak anak sebentar ya"


"okay kak" jawab ketiganya dengan kompak.


saat sedang asik membuat kue tiba tiba saja vani merasa sedikit pusing namun ia tetap melanjutkan kue buatannya hingga selesai dan di masukkan ke dalam oven.


"sshh!! aw!" vani memegangi kepalanya yang terasa semakin pusing hingga rasanya rumah itu berputar.


"kak vani, kamu enggak papa?" tanya yuli khawatir karena melihat vani kesakitan hingga tubuhnya hampir terjatuh.


"kamu yakin kak?" tanya hana juga.


"hem, iya aku cuma pusing dikit kok nanti juga sembuh" vani mencoba untuk tersenyum.


"ya udah, kalo gitu kamu istirahat aja dulu ya" yuli berjalan mengajak vani untuk segera kembali ke dalam kamarnya agar bisa beristirahat.


"iya, kalian juga istirahat ya"


vani menatap kedua adiknya agar mereka juga beristirahat, yuli dan hana pun mengangguk setuju.


namun saat mereka sedang berjalan hendak menuju ke dalam kamar, vani merasa kepalanya semakin pusing luar biasa hingga penglihatannya mulai buram dan akhirnya


brruukk...!!!! vani pun jatuh pingsan karena tidak dapat menahan lagi rasa pusing di kepalanya.


"kak vani!!! kamu kenapa?" yuli dan hana panik mereka langsung mendekati tubuh vani yang sudah tergeletak di atas lantai.


yuli meletakkan kepala vani di atas pangkuannya lalu berteriak meminta pertolongan.


"kak aida!!! tolong kak vani pingsan" teriak yuli memanggil kakaknya.


"kakak" hana pun ikut memanggil.


setelah mendengar teriakkan dari adik adiknya kak aida pun langsung datang ke dapur dan melihat vani yang sudah pingsan.


"ya ampun vani!!!! kamu kenapa sih dek" kak aida sangat khawatir dan langsung mendekat.


"gak tau nih kak, tiba tiba kak vani pingsan"


"hana tolong kamu panggil rio sekarang ya" kak aida segera memanggil adik lelakinya untuk membantu mengangkat tubuh vani yang pingsan ke dalam kamarnya.


"iya kak"

__ADS_1


akhirnya mereka membawa vani masuk ke dalam kamar dengan bantuan rio yang mengangkat tubuh adiknya itu.


sesampainya di dalam kamar rio merebahkan tubuh vani di atas ranjangnya lalu kak aida pun langsung mendekat.


"vani kamu kenapa sih?" cemas kak aida.


"apa perlu kita panggil bidan kak?" ujar yuli


"iya kita bawa ke klinik aja ya kak" timpal hana


kak aida yang khawatir dengan keadaan adiknya itu pun mengusapkan minyak angin di tubuh vani.


setelah beberapa menit sebelum di bawa ke klinik akhirnya vani tersadar dari pingsannya dan merasa bingung karena dirinya sudah berada di dalam kamarnya.


vani membuka mata secara perlahan sambil berusaha untuk duduk bersandar di atas ranjangnya.


"kamu udah sadar dek?" kak aida duduk di tepi ranjang.


"kak, kok aku ada disini ya, bukannya tadi...." vani bertanya karena mengingat tadi ia sedang berada di dapur.


"tadi kamu pingsan kak, buat khawatir aja deh. sekarang kamu baik baik aja kan?" tanya yuli duduk di tepi ranjang.


"hem pingsan? kok bisa sih" vani masih bingung mengapa dirinya bisa sampai pingsan padahal sebelumnya ia baik baik saja hanya sedikit pusing.


"ya mana aku tau kak, mungkin karena kamu kecapekan kali. liat deh muka kamu juga agak pucat gitu kamu lagi sakit ya?" yuli mengamati wajah kakaknya karena jika vani berbohong ia pasti akan mengetahuinya.


"enggak kok, aku baik baik aja" jawab vani jujur.


"em,,, mungkin tadi tuh kak vani belum sarapan makanya deh sampe pingsan gitu" hana menebaknya dengan benar.


"bener tuh, pasti kamu belum makan dari pagi kan?" timpal yuli dengan nada curiga.


"em, aku...?" vani menunduk karena itu memang benar.


"dek, kamu harus tetap makan teratur ya jangan sampe telat makan nanti kamu bisa sakit" kak aida menasihati adik kesayangannya itu.


"bener tuh kak, liat deh raffa. kasian kan kalo sampe kamu sakit pasti dia bakal sedih" yuli menatap raffa yang juga sedang menatap mamanya itu.


vani mengalihkan pandangannya menatap sendu wajah putranya yang terlihat hanya duduk dan diam saja berada di sampingnya itu.


"maafin mama ya sayang" vani memeluk putranya.


"iya ma, mama enggak boleh sakit ya" raffa mengangguk dalam pelukan mamanya.


"iya sayang mama baik baik aja kok" cup!


vani mengecup kening raffa, ia sedih bila melihat putranya murung karena merindukan papanya.


suatu hari di kantor dika memanggil ray untuk masuk ke dalam ruangannya.


tok! tok! tok!


"permisi pak, apa yang bisa saya lakukan untuk bapak?" tanya ray dengan formal setelah masuk ke dalam ruangan sahabatnya itu.


"ray, tolong kamu jelasin tentang foto ini"


dika menunjukkan foto pernikahannya dengan vani. ia mendapatkan foto itu dari dalam laci ruangan kerja yang berada di rumahnya.


"itu foto bapak" jawab ray singkat.


"iya saya tau ini foto saya, tapi kenapa saya bisa foto bersama vani dengan pakaian pengantin seperti ini?" ujar dika dengan bahasa yang formal juga karena kesal dengan jawaban sekretarisnya itu.


"hhh!!!!" ray menghembuskan nafasnya dengan berat.


ray duduk di atas sofa berhadapan dengan dika sambil memikirkan tentang sahabatnya yang tak kunjung ingat dengan keluarga kecilnya itu.

__ADS_1


__ADS_2