Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 170


__ADS_3

vani menatap dika tidak berkedip meskipun saat ini dika tidak mengingatnya namun sikap dika baru saja membuat vani merasa jika pria itu masih tetaplah suaminya yang dulu.


suaminya saat merasa cemburu akan bersikap dingin begitu.


"kenapa kamu menatap saya kaya gitu?"


dika menyadari jika vani terus saja menatap kearahnya dengan mata bulat yang polos.


"em, enggak papa pak" vani tersenyum.


"kamu jangan kepedean dulu ya, saya tadi bilang kaya gitu cuma karena enggak mau dia nanya terus dan ganggu orang yang lagi makan" ujar dika berkilah.


vani masih saja menatap dika yang sedang melanjutkan makannya itu setelah berbicara dengan nada dingin.


'suamiku ini gampang banget sih buat cewek baper tapi tiba tiba di jatuhin gitu aja' batin vani patah semangat karena dika kembali berkata dingin kepadanya.


"berhenti menatap saya seperti itu stevani" ucap dika penuh penekanan.


vani pun semakin membulatkan matanya mendengar ucapan dika.


"hah! bapak kok bisa tau nama saya sih?" pertanyaan konyol itu keluar dari bibir vani.


dika menatapnya tajam, sedang malas berdebat dengan kekonyolan vani.


"em maaf pak" vani akhirnya berhenti bertanya.


"hari ini kamu pulang sendiri ya. saya masih ada kerjaan disini" ucap dika.


"hah! pulang sendirian? tapi saya kan enggak tau jalan pulang pak. entar kalo saya nyasar gimana?" vani manyun dengan wajah sedih.


"vani, kamu itu kam wanita yang cerdas tolong kamu pakai otak cerdas kamu itu bukan cuma untuk bekerja tapi juga kamu pakai dalam kehidupan sehari hari kamu dong" jawab dika ketus.


'haish sekarang aku enggak terlalu penasaran lagi dari mana jatuhnya sikap dingin anakku' gumam vani terdiam mendengarkan ucapan suaminya yang ketus itu.


"kenapa kamu menatap saya begitu?" tanya dika saat melihat tatapan kesal vani.


"enggak ada, saya pulang sekarang ya pak permisi" vani beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan dika.


dika hanya menatap kepergian vani dengan tatapan datarnya.


sesampainya di rumah vani langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.


"huh!!! capek" keluh vani merebahkan tubuhnya di atas sofa itu sambil memikirkan sesuatu.


"kenapa mas dika ngajak aku ke villa ini ya, padahal kami kan bisa nginap di hotel aja, malah lebih dekat dari hotel ke kantor tapi emang disini sih lebih nyaman tempatnya sejuk dan tenang"


vani tersenyum mengingat perjalanan honeymoon mereka beberapa tahun yang lalu.


"enggak kerasa ya udah empat tahun lebih pernikahan kita mas"


vani tersenyum sambil menatap foto yang selalu ia bawa di dalam tas kecilnya. foto itu adalah foto keluarga kecil mereka.


sore harinya dika pulang dari kantor, ia duduk di sofa setelah membuka jas kerjanya.


"huh! haus lagi" dika sangat malas beranjak.


vani yang tidak mendengar kepulangan suaminya masih asik memasak di dapur dengan hanya menggunakan dress mini yang memperlihatkan pundak dan paha mulusnya.


dika datang hendak mengambil minum di lemari pendingin yang berada di dapur dan melihat pemandangan indah itu di hadapannya.


"kamu lagi ngapain?" tanya dika mengagetkan vani.


"eh, pak dika udah pulang. saya lagi masak nih pak" vani tersenyum dan tetap fokus pada masakannya.


"oh saya pikir kamu lagi berenang"


dika mendekat dan berdiri di samping vani yang sejak tadi tidak menatapnya.


"emangnya bapak ngelihat saya lagi berenang ya?" vani hanya cuek.


"iya soalnya kamu masak pake pakaian renang kaya gini"


dika menatap tubuh istrinya dari atas sampai bawah.


"ini tuh bukan pakaian renang pak"


vani santai tidak berniat untuk mengganti pakaiannya karena yang sedang melihatnya saat ini adalah suaminya sendiri pikirnya.


"terus menurut kamu ini pakaian apa" dika terus menatapnya.

__ADS_1


"em, pakaian dinas kalo di rumah" vani mengedipkan sebelah matanya.


"hhh! kami mau goda saya? hem" dika mendekati vani.


tatapan mereka bertemu dan saling memandang satu sama lain.


"em maaf pak, maksud saya ini pakaian rumahan aja" hehe nyengir vani dengan canggung.


"oh" dika mengangguk lalu mengalihkan pandangannya.


"nih udah masak ayo bapak mau nyobain enggak?" tawar vani menaruh spaghetti ke dalam dua piring lalu menyajikannya di atas meja makan.


sedangkan dika masih tidak berhenti memandangi lekuk tubuh istrinya yang menggoda iman itu.


"saya enggak mau makan itu" ujar dika.


"tapi saya cuma masak ini doang pak, emangnya bapak mau makan apa?" vani duduk hendak mulai makan karena sudah merasa lapar.


dika pun mendekat lalu berbisik di dekat telinga vani.


"saya mau makan kamu"


setelah mengatakannya dika berjalan pergi meninggalkan vani yang menatapnya bingung.


"ih apaan sih pak dika, aneh banget deh"


"kalo enggak mau ya udah saya makan semuanya nih" vani menatap kepergian dika.


"hem, kok rasanya enggak seenak buatan mas dika sih" kesal vani setelah mencicipi masakannya sendiri.


sebenarnya ia ingin makan spaghetti karena dika selalu memasakkan untuknya namun ternyata rasanya berbeda dari buatan suaminya.


vani pun menghentikan makannya lalu menyimpan piring di dalam lemari karena ia kehilangan selera makannya dan memutuskan untuk kembali ke dalam kamarnya saja.


di dalam kamarnya dika sedang merasa frustasi karena terus mengingat apa yang baru saja di lihatnya.


"huh! ini semua gara gara vani" kesalnya.


dika berjalan masuk ke dalam kamar mandi hendak membersihkan diri.


keesokan harinya dika hendak pergi ke kantor tanpa mengajak vani. ia memutuskan untuk pergi sendirian saja padahal vani ingin ikut karena pasti akan merasa bosan jika tinggal sendirian di rumah.


"kamu di rumah aja ya, saya harus pergi ke lapangan hari ini untuk mantau langsung pembangunan"


"bapak jahat deh saya kan bosan di sini kalo enggak ada bapak" vani pura pura ngambek.


"emangnya kalo ada saya kamu mau ngapain?"


"iya godain bapaklah"


"hhh! saya enggak mungkin tergoda sama kamu"


"yakin?"


"iya paling juga kamu godain saya biar bisa meras saya kan karena saya ini banyak uang"


"ck! kok bapak tau sih saya cuma mau uang bapak aja. tapi kalo di liat liat bapak lumayan ganteng jadi kayanya bolehlah di pamerin ke temen temen" hehe canda vani.


"vani, saya cuma enggak mau ngambil resiko apapun kalo kamu ikut. saya enggak mau kamu kenapa napa nanti di sana ya" dika menggenggam wajah vani dengan kedua tangannya.


vani menatap lekat wajah dika dari jarak yang dekat, lebih dekat lagi hingga ia dapat merasakan hembusan nafas suaminya itu di wajahnya.


tanpa sadar vani memejamkan matanya saat merasakan kehangatan yang sangat ia rindukan itu.


dika yang melihat vani memejamkan matanya langsung meniup wajah sekretarisnya itu agar vani tersadar dan membuka matanya.


huuff...!! hembusan nafas dika membuat vani langsung membuka matanya.


"eh! em, pak dika belum pergi ya?"


vani merasa canggung lalu mengalihkan pandangannya sambil menarik diri menjauh dari dika.


"kamu mimpi ya, kan dari tadi kamu megangin tangan saya terus biar saya enggak pergi. lagian ngapain kamu malah merem segala? lagi tidur" dika menahan tawanya.


"ih pak dika, saya tuh enggak tidur tau" vani memanyunkan bibirnya dengan kesal.


"terus ngapain tadi kamu merem gitu?" dika mendekat membuat vani semakin membulatkan matanya.


"em, itu...tadi...saya..." vani bingung harus menjawabnya bagaimana.

__ADS_1


"oh atau kamu berpikir kalo saya bakal cium kamu ya..."


"ih! pak dika jangan mikir yang aneh aneh deh. saya cuma lagi ngantuk aja kok mau tidur"


vani langsung berjalan pergi meninggalkan dika yang menatapnya sambil tersenyum jahil.


"ngaku aja deh vani" teriak dika dari jauh agar vani mendengarnya.


"enggak"


"saya pergi dulu ya" dika akhirnya pergi menuju tempat pembangunan seorang diri.


vani yang sedang berada di rumah sendirian pun bingung harus melakukan hal apa karena seharian di rumah hanya menunggu sampai dika pulang.


terkadang vani merasa jika dika tidak memperlakukannya seperti bos kepada sekretarisnya melainkan dika selalu menyayanginya sama seperti dulu.


dalam keheningan ponsel vani pun bergetar menandakan ada pesan masuk


drt! drt! ternyata pesan chat itu di kirim oleh diki.


"mas diki?" gumam vani melihat profil chat yang masuk.


merasa bingung dari mana diki bisa mendapatkan nomor ponselnya.


hanya sekedar berteman saja tidak ada salahnya begitu pikir vani apalagi saat ini dirinya sedang merasa bosan sendirian di rumah akhirnya vani pun membalas pesan dari diki hingga mereka asik berchating ria membahas kisah lama di antara keduanya.


vani dan diki saling berbagi cerita bagaimana perjalan hidup yang sudah di lewati dalam beberapa tahun terakhir.


sejak awal vani memang tidak memiliki perasaan apapun terhadap diki maka ia menganggap pertemanan di antara mereka hanya hal yang wajar namun vani lupa bagaimana dalamnya perasaan yang pernah diki miliki untuknya dari sejak dulu hingga sekarang.


vani merasa senang karena chatingan bersama diki membuat rasa bosannya berkurang.


sore harinya vani duduk di sebuah kursi dekat tepi kolam renang yang berada di belakang rumah dengan santai sambil menikmati senja dan menunggu waktu matahari terbenam.


"huh! di sini rupanya" dika yang sudah pulang dari kantor pun melihat vani berada disana setelah sebelumnya ia mencari keberadaan sekretarisnya itu di seluruh ruangan.


dika datang dan membuyarkan lamunan vani.


"lagi ngapain disini?" dika berdiri tepat di samping vani yang sedang duduk.


"nunggu matahari terbenam pak"


"boleh saya temenin kamu?"


"em, boleh" vani mengangguk.


"oh ya vani lihat deh ini"


dika menunjukkan beberapa paper bag yang ia bawa pulang.


"apa ini pak?" vani menoleh dan menatap semua paper bag yang dika bawa itu.


dika mengeluarkan sebuah mainan robot yang dapat bergerak dan juga bersuara.


"wah!! lucu banget. buat siapa mainan ini pak?" mata vani berbinar melihatnya.


"ini buat raffa dan yang lain buat rara sama rasty juga. besok kita pulang saya kan udah janji mau beliin mainan untuk mereka"


"wah! beneran pak dika? anak anak pasti suka banget dapat mainan baru mereka"


"iya pasti dong"


"ya udah kalo gitu ayo kita masuk pak" ajak vani beranjak dari duduknya.


"eh tunggu dulu, kamu simpan mainan ini ya. saya mau berenang nih sekalian mandi" dika membuka kancing kemejanya satu persatu.


"em, iya pak"


vani hanya mematung sambil menatap suaminya membuka pakaian di hadapannya.


"kamu ngapain liatin saya kaya gitu, terpesona ya"


goda dika yang sudah melepaskan kemejanya dan lanjut akan melepaskan celananya juga.


vani yang melihat itu langsung menutup matanya dengan kedua tangan.


"aahhh! bapak mau ngapain?" teriak vani menunduk sambil menutup matanya.


"ya mau berenanglah kamu enggak liat apa saya masih pake celana pendek nih"

__ADS_1


ujar dika lalu berjalan menuju kolam meninggalkan vani.


__ADS_2