
setelah pulang dari kantor, seperti biasanya ray hendak menemui naya yang sedang sakit di rumahnya karena ingin tahu perkembangan kesehatan istrinya itu hari ini.
sesuai dengan rencana yang sudah yuli katakan sebelumnya, kedua pria suruhannya itu memulai pekerjaan mereka dengan mengikuti laju mobil ray dari jarak yang cukup jauh.
di dalam perjalanan salah satu dari dua pria itu menelpon yuli untuk memberi informasi.
"halo bu bos, kami sedang mengikuti mobil bapak seperti yang ibu perintahkan" ucapnya kepada yuli.
"bagus, kemana arah mobil itu pergi kalian cukup liat dimana mobil berhenti setelah itu kalian kirim alamatnya"
"baik bu bos setelah kami sampai di lokasi, kami akan segera mengirim alamatnya ke ibu"
"oke, makasih ya" yuli mematikan sambungan telponnya.
"kena kamu mas, enggak sia sia ya aku bersuamikan kamu yang punya banyak anak buah andalan" hhh!! yuli tersenyum semirk.
yuli tau jika perbuatannya ini hanya akan membuat dirinya menangis tapi keyakinannya akan pengkhianatan yang ray lakukan di belakangnya membuat ia harus menyiapkan hati dan diri untuk tetap tegar menghadapi kenyataan yang ada. meskipun sakit namun mungkin akan lebih baik dari pada harus terus di bohongi begitu pikirnya.
di dalam mobilnya ray merasa ada yang aneh, seperti sedang ada yang mengikutinya.
"mungkin cuma perasaan gue aja kali ya" ray menepis sesuatu yang sedang ia pikirkan.
mobil ray melaju dan berhenti di halaman rumah naya.
setelah mendapat alamat rumah naya yang di kirim oleh anak buahnya, yuli pun segera berangkat menuju alamat rumah itu dengan menggunakan mobil dan seorang supir namun sebelum pergi yuli menitipkan baby arka di rumah kakaknya.
sesampainya di rumah vani, yuli berteriak memanggil kakaknya.
"kak aku titip baby arka sebentar ya!"
"loh memangnya kamu mau kemana yul?" tanya vani bingung.
"nanti aku ceritain kak, pokoknya sebentar aja" yuli pun langsung pergi begitu saja setelah mengantar putranya.
"aneh banget sih"
vani bingung namun akhirnya ia menggendong arka untuk bermain di dalam kamar raffa dan raja saja.
"sayang, iam home" dika yang baru saja pulang dari kantor.
"mas, kamu udah pulang" vani berbalik badan menghadap suaminya.
"eh, ada baby arka ya. dimana emak bapaknya nih?"
dika celingak celinguk menatap sekelilingnya karena tidak melihat yuli berada di sana.
"kamu enggak ketemu sama yuli di depan tadi emangnya, dia baru aja keluar mau pergi kayanya buru buru banget gitu mas"
"em, enggak tuh sayang aku enggak ada liat. emang mau kemana?"
"aku juga enggak tau dia mau kemana tapi malah nitipin baby arka di sini"
"aneh banget tapi emang dia aneh sih" dika tersenyum namun sambil berpikir.
"oh ya udah kamu mandi dulu sana biar seger mas"
vani mengusap pundak suaminya lalu ia berjalan masuk ke dalam kamar putranya.
"iya sayang" dika tersenyum mengangguk.
'ck! apa jangan jangan yuli udah tau tentang naya' batin dika. ia teringat kepada ray yang sedang berada di sana.
"gue harus telpon ray sekarang" dika berjalan masuk ke dalam kamarnya.
setelah sampai di rumah itu, mobil yuli berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah yang mewah. rumah itu tak lain adalah rumah naya yang telah di belikan oleh ray dan bahkan sudah di berikan secara resmi kepada naya.
seperti dugaannya mobil ray benar terparkir di depan halaman rumah itu.
"ternyata bener selama ini kamu pulang larut malam karena kamu terlalu betah tinggal di rumah ini mas"
__ADS_1
yuli dengan mata yang sudah berkaca kaca menatap ke arah rumah besar itu.
yuli segera turun dari dalam mobil dan langsung berjalan dengan langkah cepat menuju rumah itu.
langkahnya berhenti tepat setelah ia berada di depan pintu rumah itu yuli mengangkat tangan hendak mengetuk pintu namun tangannya bergetar melayang di udara karena merasa ragu untuk mengetuk pintu itu.
sekali lagi yuli berpikir apakah ia akan sanggup untuk melihat suaminya berada di dalam rumah itu bersama dengan wanita lain.
yuli memejamkan matanya untuk meyakinkan hatinya lalu mengetuk pintu rumah itu tanpa ragu.
tok!! tok!! tokk!! pintu rumah sudah di ketuk dengan cukup keras. ia menunggu hingga pintu terbuka.
tak lama kemudian pintu pun terbuka, dengan ray yang membuka pintunya.
"iya siapa ya?"
ceklek! ray membuka pintu rumahnya.
alangkah kagetnya ray saat melihat ternyata istrinya yang sedang berada di hadapannya saat ini.
"sayang?" ray dengan ekspresi kagetnya.
"mas ray"
yuli yang melihat ternyata pria di hadapannya benar benar suaminya pun langsung meneteskan air matanya. padahal ia masih berharap jika pria itu bukanlah suaminya.
"siapa yang datang pak?"
naya yang penasaran pun melihat ke arah pintu, ia datang dari belakang punggung ray.
'mbak yuli' batin naya juga merasa kaget melihat kehadiran istri sah dari suaminya itu.
'naya' mata yuli semakin melotot melihat siapa wanita yang menjadi simpanan suaminya.
"sayang" ray hendak memegang tangan yuli namun langsung di tepis oleh istrinya.
"jangan sentuh!" yuli menarik tangannya.
"kamu mau jelasin apalagi mas?" yuli menggelengkan kepalanya tidak menyangka.
"sayang aku sama naya cuma..." ucapan ray menggantung.
"stop!!" yuli menutup kedua telinganya karena tidak mau mendengarkan penjelasan ray.
"semua ini udah cukup jelas mas aku enggak nyangka kamu tega ngelakuin ini sama aku. kamu juga enggak sayang sama anak kita kamu jahat mas!! kamu jahat!!" hiks! hiks! yuli hanya bisa menangis dalam rasa kesalnya.
"sayang aku sayang sama kalian, maafin aku tapi aku punya alasan aku mohon kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya ke kamu"
"oke sekarang jelasin sama aku apa sebenarnya hubungan kalian mas?" yuli menatap suaminya.
"aku sama naya..." ray bingung harus menjawab apa ia benar benar tidak bisa memikirkan apapun saat ini.
"enggak bisa jelasin kan? selama ini aku udah kasih kamu kesempatan buat jelasin semuanya mas tapi kamu malah bohongin aku terus"
yuli menatap lurus lalu mengalihkan pandangannya kepada naya.
"dan kamu"
yuli menunjuk wajah naya dengan kesal lalu menatap perut buncit naya yang menambah rasa sesak di dadanya.
"kamu seorang wanita sama kaya aku, kenapa kamu tega nyakitin perasaan wanita lain demi kebahagiaan kamu sendiri. kamu ngancurin rumah tangga orang lain demi kepentingan kamu sendiri!"
naya hanya diam menunduk dengan takut melihat kemarahan yuli.
"aku tau kalo dari dulu suamiku itu cinta sama kamu tapi kamu udah nolak dia kan kenapa sekarang setelah dia punya kehidupan baru kamu malah merusaknya! dasar kamu wanita ******!" yuli menunjuk wajah naya geram.
"sayang, ini bukan salah naya. aku bisa jelasin sama kamu kenapa ini semua terjadi"
ray tidak tega melihat raut wajah takut naya karena sejak tadi ia hanya menunduk saja.
__ADS_1
"kamu masih belain dia mas?"
"bukan gitu sayang"
"iya dia emang enggak salah mas tapi aku yang salah! aku salah karena udah berpikir kalo selama ini kamu adalah laki laki terbaik dalam hidup ku bodohnya aku yang mikir suatu saat nanti aku bakal berhasil dapetin cinta dari kamu tapi ternyata cinta kamu cuma buat dia"
"itu enggak bener sayang"
"kenapa kamu diem aja hah! cuma berani godain suamiku dari belakang? sekarang hadapin aku langsung ayo"
yuli mendorong tubuh naya namun naya hanya diam saja.
"ayo liat muka aku kalo kamu memang lebih cantik"
"maafin aku mbak..."
naya memberanikan diri untuk menatap istri dari suaminya itu namun dengan cepat yuli menampar wajahnya.
plakkk!!
satu tamparan keras mendarat di pipi naya membuat sudut bibirnya berdarah namun naya tetap hanya diam saja menerimanya.
naya menangis bukan karena rasa sakit atas tamparan itu namun karena dirinya merasa bersalah kepada wanita di hadapannya.
ray yang melihatnya pun hanya bisa terdiam karena jika ia membela naya maka akan membuat istrinya itu semakin kesal kepada dirinya.
"kenapa kamu mau marah karena aku tampar dia di depan kamu?" yuli menatap suaminya.
"tolong dengerin penjelasan aku dulu"
"makasih tapi aku enggak butuh!" yuli berbalik lalu pergi meninggalkan ray.
"sayang, tunggu aku bisa jelasin semuanya ke kamu"
ray mengejar yuli dan langsung masuk ke dalam mobilnya hendak mengikuti mobil istrinya itu. ia meninggalkan naya begitu saja dengan rasa trauma yang berat.
hal ini yang sangat di takutkan oleh naya namun ia tau jika dirinya tidak lagi bisa menghindar.
"hiks!! hiks! hiks!!" naya merasa sangat bersalah namun ia tidak tau harus melakukan apa hanya bisa menangis.
tubuh naya merosot hingga terduduk di lantai.
"shh!!! aw!!!" naya memegangi perutnya yang terasa sakit.
yuli melajukan mobilnya menuju kediaman vani dan dika hendak segera menjemput putranya.
sesampainya di rumah vani, yuli langsung masuk ke dalam ruang keluarga untuk mencari putranya.
"hikss! hiks! arka sayang!" panggil yuli mencari putranya.
ray yang mengikuti langkah istrinya pun masuk ke dalam rumah bosnya itu dengan juga membawa semua masalah rumah tangganya ke dalam.
"sayang" bujuk ray mendekat.
"lepasin! ngapain kamu kesini ngikutin aku? harusnya kamu di sana aja mas nungguin sampe anak kamu itu lahir" yuli menunjuk sambil mendorong tubuh ray.
"sayang aku bisa jelasin" ray masih melanjutkan permohonannya.
"anak itu anak kamu kan mas. iya kan?" yuli menatap suaminya.
"iya sayang, tapikan,,,"
"udah cukup mas! kamu jawab iya aja itu udah cukup mas, cukup nyakitin buat aku jadi jangan kamu tambahin lagi dengan bilang kalo wanita itu sekarang juga istri kamu" yuli mengalihkan pandangannya.
vani dan dika yang mendengar keributan di rumahnya pun datang menghampiri keduanya. menyadari jika adiknya itu sedang mengalami masalah rumah tangga yang serius vani meminta luna dan hana segera membawa anak anak masuk dan menjaga anak anak di dalam kamar raffa saja.
"hana bawa anak anak masuk aja ya"
vani mengalihkan gendongan raja kepada hana lalu dika pun mengalihkan gendongan baby arka kepada luna.
__ADS_1
"iya kak" hana mengangguk.