Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 71


__ADS_3

tidak terasa hari berganti begitu cepat, beberapa bulan telah berlalu saat ini vani sedang duduk sendirian di sebuah bangku taman belakang rumahnya.


selama beberapa bulan terakhir vani hanya berdiam diri di dalam rumah saja, ia selalu di perlakukan dengan baik seperti seorang ratu di rumah suaminya.


ya tentu saja bagaimana pun juga vani adalah nyonya di rumah itu. dirinya pun tidak pernah merasa kekurangan apapun karena semua orang selalu memperhatikannya dan memberikan semua keinginannya.


hanya saja jika vani sedang merindukan suaminya. ia selalu merasa kesepian di tengah keramaian.


sampai detik ini vani masih saja merasa seperti sedang mimpi buruk karena perasaannya selalu mengatakan jika suaminya itu masih hidup. ia menganggap jika dika hanya pergi keluar kota untuk bekerja.


seperti biasanya, saat ini vani sedang mengajak bayi di dalam perutnya berbicara.


"sayang kamu pasti kangen sama papa ya? mama juga kangen banget sama papa. kamu sabar ya sebentar lagi papa pasti pulang buat kumpul lagi sama kita nanti papa pasti bakal sayang banget sama kamu kaya gini"


vani mengelus lembut perutnya sambil tersenyum.


saat tersadar dengan ucapannya sendiri vani pun terdiam lalu kembali meneteskan air matanya.


"maaf ya sayang, mama enggak bermaksud ngomong kaya gitu nanti kamu pasti ngerti kalo sekarang mama lagi kangen sama papa" hiks! hiks!


setelah menumpahkan rasa sesak di dalam dadanya dengan menangis. vani langsung menghapus air matanya karena sudah berjanji kepada keluarganya untuk tidak menangis lagi demi kesehatannya dan juga calon bayinya.


tidak bisa di pungkiri jika saat ini vani merasa sangat kesepian meskipun banyak orang yang menemaninya namun terasa kosong di dalam hatinya.


vani sangat merindukan suaminya terlebih saat ini dirinya sedang hamil yang membuat perasaannya sensitive dan membuatnya mudah menangis.


di kota yang berbeda terlihat seorang pria sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan balutan perban di kepala dan sekujur tubuhnya serta banyak peralatan medis yang masih menempel di tubuhnya.


seorang gadis yang sederhana sedang duduk di samping bankar untuk menunggu kesadaran pria itu.


"ganteng banget sih dia, emang boleh ya punya muka seganteng itu" gumam gadis bernama arin itu menatap wajah pria di hadapannya dengan teliti meskipun hanya sebagian wajah yang terlihat karena perban masih menutupi sebagian wajah pria itu.


dokter datang untuk memeriksa keadaan pria yang belum sadarkan diri setelah beberapa bulan di rawat di rumah sakit itu.


"bagaimana kondisinya dokter?" tanya arin kepada dokter yang merawatnya.


"keadaannya sudah lebih baik, dia sudah melewati masa kritisnya dan sekarang kondisinya mulai stabil. kita tinggal menunggunya kembali pulih dan sadar dari komanya" dokter menjelaskan.


"syukurlah kalau gitu terima kasih dokter"


arin mengangguk kembali duduk di samping bankar itu.


"baik saya permisi dulu ya"


dokter pun keluar dari dalam ruangan itu.


arin kembali mengingat bagaimana saat ia menemukan pria itu yang sedang tergeletak tidak bedaya di tepi sungai dengan luka di sekujur tubuhnya.


saat melihat pria itu masih bernafas arin merasa jika ia tidak mungkin meninggalkannya begitu saja


terlebih lagi tidak ada siapapun yang melihat di sana dan akhirnya arin pun memutuskan untuk menolong dan membawa pria itu ke rumah sakit namun ia tidak punya biaya untuk pengobatan pria yang sedang koma itu. sehingga arin rela menjual tanah peninggalan neneknya untuk biaya pengobatan pria yang bahkan tidak di kenalnya itu.


untuk sesaat arin merasa jika dirinya sudah menjadi seorang wanita yang paling bodoh di dunia karena ia rela menjual tanah satu satunya peninggalan neneknya demi biaya pengobatan lelaki yang bahkan tidak di kenalnya itu.


namun di sisi lain sebagai sesama manusia yang berperasaan tidak mungkin arin pergi begitu saja meninggalkannya setelah melihat ada seseorang yang membutuhkan pertolongannya.


"kayanya besar banget deh keinginan cowok ini buat tetap bertahan hidup sampe dia masih bertahan walaupun waktu itu kondisinya udah parah banget"


arin masih mengamati pria di hadapannya itu.


"apa ya kira kira hal yang udah buat kamu sekuat itu untuk bertahan hidup. apapun itu pasti sesuatu yang sangat istimewa dalam hidup kamu"


arin masih berbicara kepada pria di hadapannya.


melihat begitu kuat keinginan pria itu tetap bertahan hidup membuat arin tidak berpikir panjang untuk membiayai pengobatannya meskipun setelah itu arin akan bingung harus dapat uang dari mana untuk menyambung hidupnya selain dari tanah perkebunan yang sudah di jualnya itu.


padahal itu adalah satu satunya tempat ia mencari nafkah untuk tetap bertahan hidup setelah kepergian neneknya.


setelah beberapa bulan berada di rumah sakit akhirnya pria itu pun tersadar dari komanya. ia membuka mata secara perlahan sambil menyebut nama seseorang dengan suara yang sangat pelan nyaris tidak terdengar.


"vani" guamamnya samar bahkan tidak dapat di dengar jelas oleh arin yang sedang duduk di sampingnya.


dari kejauhan sang pemilik nama merasa jika ada seseorang yang sedang memanggil namanya.


"mas dika" gumam vani sambil memegang dadanya.


ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara yang terasa sangat jelas di telinganya.


"mas dika! kamu dimana?"


vani masih mencari dengan tatapan yang kemana mana.

__ADS_1


"kenapa aku kaya dengar suara kamu baru aja manggil nama aku mas"


vani terduduk di kursi taman itu kembali air matanya tidak terbendung dan langsung menetes begitu saja namun ia segera menghapusnya.


"kamu udah sadar?"


arin menatap pria itu yang sudah membuka matanya namun pria itu hanya diam saja.


arin merasa bingung lalu memencet tombol untuk segera memanggil dokter.


tidak lama dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan pasien yang baru saja sadar dari komanya selama lebih dari dua bulan itu.


"alhamdulilah pasien sudah sadar tapi saat ini kondisinya masih lemah jadi biarkan saja dulu kalau dia diam karena pasien masih belum bisa terlalu banyak bergerak atau pun berbicara. saraf saraf di otaknya masih membutuhkan waktu untuk kembali normal. kalau begitu saya permisi dulu kalau ada sesuatu langsung panggil kami saja"


dokter menjelaskan kepada arin.


"baik dokter terima kasih" arin mengangguk.


selama beberapa bulan itu ternyata saat ini yuli dan hana sudah disibukkan dengan bekerja di butik baru milik vani yang telah launching bulan lalu.


semuanya telah di persiapkan oleh ray atas perintah dika sebelum ia mengalami kecelakaan waktu itu.


vani dan ray sengaja mempercepat persiapan pembukaan butik berlantai dua yang cukup luas itu agar yuli dan hana memiliki pekerjaan karena mereka merasa tidak enak tinggal di rumah vani tanpa melakukan pekerjaan apapun.


malam harinya saat hendak tidur, vani masuk ke dalam kamar yuli dan hana yang berada di sebelah kamarnya.


sebenarnya vani lebih sering tidur di dalam kamar yuli dan hana semenjak kepergian dika karena ia tidak mau terus menerus bersedih jika mengingat tentang suaminya itu saat sedang berada di dalam kamarnya.


hanya sesekali saat vani sangat merindukan dika barulah ia akan kembali tidur di dalam kamarnya sambil menangis dalam diam menatap dan memeluk foto suaminya sampai ia terlelap.


saat ini ketiganya sedang duduk di atas ranjang sambil bercerita bersama.


"yuli hana besok aku boleh ikut ke butik ya?"


vani meminta izin kepada adiknya.


"ya ampun kak vani kamu ngomong apa sih, itu kan butik punya kamu ngapain izin sama aku emangnya ada pemilik butik di larang masuk" yuli menatap kakaknya.


"iya bener kak, kakak itu enggak butuh izin dari siapa pun buat datang. lagian pasti makin seru deh kalo ada kakak juga jadi makin rame" sambung hana.


"makasih ya, soalnya aku mau nyari kesibukan di butik aja biar enggak bosen di rumah terus pengen nyari suasana baru" vani tersenyum.


peringat yuli karena khawatir pada kehamilan vani.


"tenang aja aunty baby di dalam kuat kok. iya kan sayang?"


vani berbicara pada calon bayinya sambil mengusap usap perutnya.


"nah!!! bagus dong kalo kamu semangat kaya gitu kak jadi kita juga makin semangat kerjanya. ayo kita toss bareng buat majuin bisnis butik kamu sama sama sampe nanti kita bisa buka banyak cabang dimana mana"


yuli mengangkat tangannya ingin toss dengan adik dan kakaknya itu namun tangannya tidak mendapat sambutan dari siapapun.


"amin"


vani dan hana serentak menyapukan kedua tangan ke wajah mereka tanpa berniat untuk membalas tangan yuli yang ingin bertoss ria dengan mereka.


"kok enggak di sambut sih" protes yuli manyun.


"enggak ah, lagi males toss sama kamu"


vani pun menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.


"haha" hana hanya tertawa melihat kakaknya manyun.


"kamu tega..."


yuli bertingkah dramatis dengan pura pura menangis yang membuat vani tertawa melihat adiknya itu.


"haha"


akhirnya mereka tertawa bersama melepaskan segala beban di hati yang menyesakkan dada.


"hem, enaknya kita ngapain ya kak" tanya hana bingung.


"eh! gimana kalo kita nonton drama baru bareng yuk, udah lama nih enggak nonton"


yuli mengajak vani dan hana.


"iya aktornya ganteng banget loh kaya jodoh ku gitu"


hana tersenyum membayangkan wajah aktor drama favoritnya menjadi jodoh nyata di hidupnya.

__ADS_1


"hhh! halu banget sih lo. ya enggak mungkinlah"


yuli memutar bola matanya malas melihat hana.


"em, enggak deh entar jadi pengen lagi"


jawaban vani membuat yuli dan hana membelalakkan matanya.


"hah!! pengen apa kak?" tanya hana dengan polosnya.


"pengen itu"


vani menyatukan jari tangannya untuk memperagakan adegan romantis di dalam drama yang sering mereka lihat yaitu adegan berciuman.


"ppffttt haha. ya ampun kak vani kalo kakak pengen gituan, tuh ada kak yuli"


hana pun menunjuk yuli karena berniat menggoda mereka.


"ih ogah! jomblo jomblo gini gue masih normal kali"


yuli bergidik merasa geli.


"iya aku juga" ucap vani yang ilfeel.


"haha. bercanda loh kakak kakak ku sayang"


hana merangkul kedua kakaknya.


"em, aku lagi pengen makan sesuatu deh"


vani memegang perutnya.


"kamu pengen makan apa kak?"


yuli dan hana serentak bertanya.


"aku lagi pengen makan spaghetti" vani menunduk.


"em. ya udah gimana kalo kita pesan aja atau kita minta chef di rumah ini untuk buatin" yuli memberi solusi.


"sebenarnya aku pengen makan spaghetti buatan dari papanya si baby" vani semakin menunduk sedih.


"em, aduh maaf ya baby sayang. kalo soal itu aunty jadi bingung deh gimana buatnya tapi kamu bisa kok makan spaghetti buatan papa kamu nanti ya sayang"


ucapan yuli itu tidak di mengerti oleh hana dan vani.


"maksudnya kapan kak, bukannya itu enggak mungkin ya?"


hana merasa tidak enak menatap vani yang sedih.


"iya nanti kalo baby udah punya papa baru hehe"


yuli membuat hana membelalakkan matanya.


"ya ampun kak yuli! kamu tuh bercanda mulu deh"


hana menepuk pelan karena kakaknya itu selalu saja bercanda.


"maaf ya kak" hehe


yuli merasa tak enak karena melihat vani yang hanya terdiam menatapnya.


"enggak papa kok yul. kamu emang bener kok itu enggak mungkin terjadi"


"kamu jangan sedih lagi dong. ayo senyum, gimana kalo kita nonton drama baru yang aktornya ganteng banget itu ini serius loh kak!"


yuli ingin kembali mencair suasana yang sempat redup.


"masa sih, yang pacar aku ya?" hana ikut penasaran.


"ye, lo liat yang bening aja langsung ngaku pacar"


yuli menatap hana dengan mata julidnya.


"biarin dong. mana tau beneran jadi jodoh ku"


"uekk mimpi dong lo" yuli terus mengejek adiknya.


"jahat banget sih kak yul" kesal hana.


vani yang melihat perdebatan kedua adiknya itu pun kembali tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2