
sesampainya mobil dika di depan rumah yuli dan hana, kedua gadis itu pun langsung masuk ke dalam mobil karena sudah menunggu lama di depan teras rumahnya.
setelah mereka masuk mobil dika pun langsung melaju menuju rumah kakak iparnya di kampung halaman seperti tujuan mereka sebelumnya.
saat berada di dalam mobil, ingin rasanya yuli kembali protes kepada pasangan suami istri di hadapannya itu karena sudah membuat dirinya dan hana menunggu lama sekali namun ia urungkan karena mengingat vani sedang yang hamil.
pasalnya waktu setengah jam yang vani katakan saat dalam telpon tadi ternyata hanya sebuah kata kiasan. karena kenyataannya mereka sudah menunggu lebih dari dua jam setelahnya.
"maaf ya yul, kalo tadi kita lama dikit"
dika memecah keheningan dan membuat perasaan kesal yang sudah yuli pendam sejak tadi kembali meluap.
"hhh, iya enggak papa kok bang dika kita ngerti lah, ngerti banget iyakan hana" yuli berbicara sambil tertawa geram.
pasalnya dika mengatakan jika mereka hanya sedikit terlambat padahal yuli dan hana sudah sangat lama menunggu.
"hhh! iya kak yul"
hana pun tersenyum dengan bingung.
sebelumnya vani memberi kabar pada kedua adiknya itu untuk segera bersiap sejak subuh tadi namun hingga hari sudah menjelang siang mereka baru berangkat menuju kampung halaman.
"em, emang kenapa kalian bisa lama banget sih kak?" tanya hana.
hana berpikir jika kakak dan abang iparnya itu tidak mungkin harus mengerjakan pekerjaan rumah terlebih dahulu baru bisa berangkat sehingga membuat mereka kesiangan.
"em, itu karena- ee karena,,,em itu"
vani merasa gugup serta bingung harus menjawab apa kepada hana. tidak mungkin ia mengatakan jika mereka terlambat karena hal itu kepada adiknya.
"karena apa kak?"
hana semakin ingin vani memperjelas semuanya.
"ih, udah deh hana kamu enggak usah banyak nanya deh yang penting sekarang kita libur kerja terus bisa pulang"
yuli mengalihkan pertanyaan dari hana karena melihat vani bingung menjawabnya.
"iya juga sih kak"
hana pun tersenyum senang karena akhirnya mereka bisa berlibur dari aktivitas biasanya.
sedangkan vani dan dika hanya tersenyum mendengar perdebatan kedua gadis di belakangnya itu.
saat dalam perjalanan vani merasa gelisah, rasanya sangat tidak nyaman untuk duduk.
"sshh! emh! huhhh!"
vani berulang kali menghembuskan nafas beratnya sambil menggeser letak duduk yang tidak nyaman. peluh pun mengalir dari dahinya padahal AC mobil sedang menyala.
"sayang kamu kenapa?"
akhirnya dika menyadari jika istrinya sedang gelisah.
"shh! emhh perut aku mules mas?"
"em, kamu kebelet pipis ya?"
"enggak, tapi mules aja"
vani terus mengelus perut buncitnya agar lebih nyaman.
"sayang, kamu serius sakit banget ya? atau kita ke rumah sakit dulu gimana?" dika pun mulai khawatir.
"enggak usah mas. aku enggak papa kok" hoek!! hoekk!
"kak, kamu sakit ya?" yuli dan hana juga merasa khawatir.
"aduh! mobilnya berhenti dulu dong mas. aku mual banget" ucap vani.
"oke sayang" dika pun menghentikan laju mobilnya.
"kak. kamu minum dulu deh"
yuli menyodorkan botol minum yang sudah ia bawa sebelumnya.
glek! glek! glek!
"makasih ya yul"
vani kembali menyerahkan botol setelah meminumnya.
__ADS_1
"kak, pake minyak angin biar enggak mual"
hana pun mengoleskan minyak angin di pundak kakaknya agar vani merasa lebih tenang.
sedangkan dika membantu vani untuk mengelus perutnya karena vani akan merasa lebih nyaman jika perutnya dielus seperti itu.
di rumah, arin merasa sedih karena dika pergi bahkan tidak mau menyapa dirinya pagi ini.
'mas dika jahat banget sih kenapa coba dia cuek kaya gitu sama aku' batin arin sambil menangis.
'huh!! enggak! aku enggak boleh nangis gimana pun juga aku udah jatuh cinta sama mas dika jadi aku enggak boleh nyerah gitu aja!" arin menghapus air matanya.
"aku pasti bisa dapetin hati kamu lagi mas"
arin berdiri dari kursi rodanya dan berjalan dengan langkah perlahan menuju meja rias di dalam kamarnya.
setelah duduk arin mulai memoles wajahnya dengan make up dan berusaha untuk merubah penampilannya.
"aku tau vani itu cantik, tapi aku juga pasti bisa secantik vani kalau ngelakuin perawatan kaya dia" arin menatap pantulan wajahnya di dalam cermin itu sambil tersenyum.
setelah mobil dika sampai di depan halaman rumah kakak iparnya mereka pun turun dari dalam mobil.
"loh kalian pulang, kok enggak ngabarin sebelumnya sih kakak kan bisa masak yang banyak" kak aida menyambut adik adiknya yang datang.
"iya enggak papa kok kak nanti kita bisa masak sendiri" vani tersenyum sambil memeluk kakaknya.
"apa kabar dika?"
bang rio menatap dika yang sedang menjabat tangannya.
"alhamdulilah baik bang, gimana keluarga disini semua sehat kan bang?" tanya dika juga
"alhamdulillah sehat semua disini" rio juga tersenyum.
"gimana kehamilan kamu vani, kamu pasti capek banget ya karena perjalanan menuju ke sini"
kak aida mengajak adiknya masuk ke dalam ruang tamu lalu mereka pun duduk.
"iya aku enggak capek kok kak. malah aku lebih capek kalo di rumah terus"
vani lalu melirik suaminya yang juga sedang menatap kearahnya itu.
"iya sih tapi,,,,"
"tapi apa?"
kak aida merasa jika sedang ada sesuatu yang ingin di katakan oleh adiknya melihat wajah vani yang sedikit terlihat pucat itu.
"em enggak papa kak. oh iya kak aku mau istirahat sebentar ya di dalam kamar mau lurusin pinggang aku soalnya pegel banget nih"
vani mengusap usap bagian pinggang belakangnya.
"oh ya udah kalian istirahat aja dulu ya kalo gitu"
"makasih ya kak"
dika dan vani pun akhirnya masuk ke dalam kamar mereka untuk beristirahat karena merasa lelah.
ceklekk!
"huh! alhamdulilah akhirnya sampe juga"
vani pun duduk di atas ranjang kamar yang sudah ia rindukan itu.
"sayang kamu langsung tidur aja kalo capek"
"iya mas, ini mau tidur" vani pun merebahkan tubuhnya.
vani dan dika sedang berbaring di atas ranjang beruntung kamar kecil itu sudah di pasang AC membuat mereka tidak kepanasan lagi walaupun kamarnya sempit terlebih karena cuaca yang juga sedang terik di luar.
saat hendak memejamkan matanya tiba tiba ponsel dika berbunyi tanda ada panggilan masuk.
drt! drt! drt!
"ck siapa sih"
"jawab dulu mas"
"mama?"
dika langsung menjawab telpon karena ternyata panggilan itu dari mama ratih.
__ADS_1
Dika: halo ya ada apa ma?
mama: halo dika kamu sama vani ada dimana sih mama sama papa udah pulang tapi kata arin kalian lagi pergi ya?
Dika: iya nih ma, dika sama vani lagi di rumah kak aida di kampung halaman vani sekarang. emangnya kenapa ma?
mama: enggak papa, mama cuma mau ingetin ke kamu sama vani aja tentang acara tujuh bulanan calon cucu mama sama papa loh. mama minta kamu sekalian bilangin keluarga disana juga buat hadir di acara tujuh bulanan vani minggu depan ya dika.
Dika: iya ma, pasti nanti kita bilangin disini sama keluarga semuanya.
mama: iya udah, kalo gitu mama sama papa mau istirahat dulu ya soalnya mama sama papa juga baru sampe ini.
Dika: iya ma, dika sama vani juga baru sampe jadi mau istirahat dulu.
mama: oke deh, bye sayang. see you!!!!
Dika: see you too mom.
tut!! telpon terputus.
dika mematikan sambungan telponnya lalu kembali meletakkan ponsel di sampingnya.
"siapa sayang?" tanya vani setelah dika mematikan ponselnya
"mama sayang, katanya papa sama mama baru aja sampe di rumah. mereka pulang karena mau persiapan tujuh bulanan anak kita"
dika tersenyum sambil mengusap lembut perut istrinya.
"oh gitu. em, gimana kalo kita enggak usah buat acara itu mas soalnya aku masih trauma sama syukuran yang waktu itu apalagi aku sampe keracunan"
vani menunduk dengan wajah sedihnya.
"kamu jangan ngomong kaya gitu dong sayang itu kan cuma kebetulan aja. aku yakin kok itu enggak bakalan terulang lagi"
dika menenangkan istrinya agar tidak merasa khawatir dengan acara tujuh bulanan bayi mereka.
"oh ya mas, kita belum beli perlengkapan buat baby loh"
vani tersenyum membayangkan mereka akan membeli perlengkapan seperti baju dan sepatu kecil bayi yang berwarna pink.
"kita kan emang enggak boleh beli perlengkapan bayi dulu sebelum tujuh bulan sayang, kata orang tua itu pamali"
"iya, tapi kan sekarang baby kita udah lebih dari tujuh bulan mas. aku udah enggak sabar deh pengen beli semuanya buat bayi kita warna pink ya mas"
"hem, warna pink? sayang kita kan belum tau anak kita nanti cowok atau cewek, kok malah mau di beliin warna pink semua sih. gimana kalo anak kita yang lahir cowok?"
"em, iya sih mas tapi aku suka banget sama warna pink"
"iya iya terserah kamu deh" dika pasrah lalu memejamkan matanya.
"makasih sayang"
sambi tersenyum membayangkannya tangan vani terus saja bergerak mengelus dada suaminya yang sedang mengenakan kaos polos itu.
"sayang emangnya kamu enggak capek ya?"
dika menatap tangan istrinya yang nakal itu.
"em, eh aku capek mas"
reflek vani langsung menarik tangannya karena baru sadar jika sejak tadi tangannya bergerak menggoda suaminya.
"ya udah kalo gitu kamu istirahat ya" cup
dika mengecup kening istrinya lalu memejamkan mata.
vani memeluk tubuh suaminya dari samping lalu ikut memejamkan matanya namun vani kembali membuka mata karena teringat sesuatu.
"oh iya mas, tadi kenapa kamu enggak ngomong langsung aja sama arin kalo kita mau pergi?" vani menatap dika.
"eh itu,,,, enggak papa sayang. aku kan udah janji sama kamu buat jaga jarak sama arin" ucap dika beralasan.
"oh"
vani mengangguk mengerti dan percaya kepada suaminya.
"ya udah sekarang kita bobok aja sekarang ya"
"em" vani mengangguk.
keduanya memejamkan mata untuk beristirahat sejenak karena sangat mengantuk.
__ADS_1