
di balik pintu saat luna masih fokus mengamati pasangan suami istri di dalam kamar itu, ia di buat kaget karena tiba tiba saja mendapat tepukan di bagian pundaknya dari arah belakang.
plak!!
tepukan itu membuat luna reflek langsung menutup pintu kamar dengan cepat karena takut akan ada yang melihat dirinya apalagi jika sampai mengadu kepada dika atau pun vani tentang perbuatannya itu.
"kamu lagi ngapain luna?"
hana menepuk pelan pundak luna saat melihat baby sitter dari keponakannya itu seperti sedang fokus mengamati sesuatu di dalam kamar kakaknya.
"eh! mbak hana, ini saya enggak ngapa ngapain kok tadi cuma nyariin mas afa tidurnya dimana tapi kayanya udah tidur di dalam sama bapak dan ibu deh"
luna merasa gugup karena hampir saja hana memergoki dirinya yang sedang mengintip.
"oh ya? terus ngapain diem di depan pintu kaya gitu, kenapa kamu enggak langsung masuk aja buat nanya sama kak vani" hana merasa curiga.
"em, saya enggak mungkin langsung masuk ke dalam kan enggak enak mbak tadi saya udah ketuk pintu tapi enggak ada jawaban makanya saya enggak berani" luna mencari alasan.
"kalo enggak ada jawaban kenapa kamu enggak langsung pergi aja kok masih berdiri di sini kaya orang lagi ngintip aja deh"
"ya ampun mbak hana enggak mungkin lah saya ngintip majikan sendiri di dalam kamar mereka"
"iya terus kamu ngapain di depan pintu?"
sepertinya hana ingin memperpanjang masalah dengan luna hingga terjadi perdebatan di antara mereka.
di dalam kamar vani dan dika mendengar suara berisik dari luar kamar mereka. keduanya pun langsung menghentikan aktivitas yang sedang mereka lakukan itu.
"mas, kamu denger enggak? kok kayanya ada yang lagi debat di depan kamar kita ya"
"em, iya sayang kaya ada yang lagi berantem di luar tapi siapa ya kayanya tadi hana belum pulang deg?"
vani merapikan piyamanya yang sudah berantakan karena ulah suaminya itu.
dika pun kembali memakai pakaiannya yang sudah terlepas sebelumnya.
"bentar ya mas, biar aku liat dulu" vani beranjak.
"em" dika pun mengangguk setuju.
vani berjalan menuju pintu hendak melihat apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu kamarnya itu.
ceklekk!!!
vani membuka pintu kamarnya dan melihat ternyata hana dengan luna yang sedang berdebat di sana. keduanya langsung terdiam saat melihat vani keluar dari dalam kamarnya.
"hana, luna kalian ngapain disini?" vani menatap kedua gadis yang berdebat di depan pintu kamarnya itu.
"eh kak vani, em belum tidur kak?"
hana balik bertanya saat melihat kakaknya sedang berdiri di hadapan mereka.
"ya gimana mau tidur kalo suara kalian tuh berisik banget sampe kedengaran ke dalam tau emangnya kalian lagi debat masalah apa sih?"
"enggak ada kok kak, kita cuma cerita doang hehe" hana beralasan namun vani tidak percaya.
"luna, apa yang terjadi terus kamu ngapain di sini?"
vani beralih menatap luna karena tidak yakin dengan jawaban dari adiknya.
"ini bu, saya tadi cuma mau mastiin apa mas afa malam ini tidur di sini bareng ibu sama bapak atau enggak karena saya mau istirahat tapi mbak hana malah nuduh saya"
"eh, siapa yang nuduh kamu kan aku cuma nanya. emang kamu yang mulai duluan kok keliatan mencurigakan!"
__ADS_1
hana memicingkan matanya menatap luna dari atas hingga ke bawah.
"udah stop!! stop!! hana, luna apapun masalah di antara kalian itu kakak enggak mau memperpanjang lagi jadi lebih baik sekarang kalian berhenti dan balik ke kamar masing masing. udah malam jangan debat lagi" vani bersikap tegas tidak mau di bantah.
"em, iya kak" hana mengangguk pasrah namun masih menatap tajam ke arah luna.
"baik bu, kalau gitu saya permisi"
luna pun langsung pergi menuju kamarnya meninggalkan hana dan vani yang masih berada disana.
"ya udah kak aku tidur dulu ya" hana hendak berjalan.
"oh ya hana, apa kakak boleh nanya sesuatu sama kamu?"
vani bertanya saat adiknya itu hendak berjalan menuju kamarnya.
"boleh, emangnya mau nanya apa kak?" hana berbalik badan menatap vani.
"kamu dari mana aja kok pulangnya sampe selarut ini?"
vani bertanya dengan hati hati karena takut hana akan tersinggung.
"em, aku dari..." hana merasa ragu.
"hana kakak bukan mau ikut campur semua urusan pribadi kamu tapi kamu itu anak gadis jadi enggak baik buat kamu pulang sampe selarut ini apalagi jalan bareng cowok kamu tau kan kalo kakak sayang sama kamu jadi kakak cuma enggak mau sampai terjadi sesuatu sama kamu jadi...."
"iya maafin aku ya kak karena enggak ngabarin kakak sebelumnya kalo aku pulang telat hari ini" hana menunduk.
"hana kakak enggak marah kok cuma kakak khawatir. ya udah kalo gitu sekarang kamu istirahat ya"
vani tersenyum sambil mengusap lengan adiknya agar tidak merasa bersalah lagi.
"em iya kak, ya udah kalo gitu aku ke kamar dulu ya"
hana hendak pergi ke kamarnya namun ia kembali berbalik badan menghadap kakaknya.
"oh iya kak, kakak beneran enggak penasaran ya sama apa yang udah di lakuin luna disini tadi?" hana memastikan.
"em, emangnya apa yang udah dia lakuin? bukannya tadi luna udah jelasin kalo dia cuma mau liat afa aja"
vani yang polos balik bertanya namun sedikit penasaran.
"haduh terus kakak percaya gitu?"
"terus mau ngapain?"
"hadeuh!!!" hana memutar bola matanya.
"kayanya dia mau ngintip kalian di dalam kamar deh kak ppfftt..." hana terkikik geli menahan tawanya setelah membisikkan di dekat telinga kakaknya itu.
"apa!!"
hana semakin tidak dapat menahan tawanya ketika melihat ekspresi vani yang membulatkan mata saat mendengarnya.
"kok ekspresinya gitu banget sih kak, jangan bilang kalo tadi di dalam kalian lagi. ehem!" hana memainkan alisnya semakin menggoda vani yang terdiam mematung.
"haiissh!! kamu ini ngomong apa sih hana. udah deh sana kamu tidur" usir vani karena kesal dengan godaan adiknya.
"haha! kalo beneran iya juga enggak papa sih kak kan udah suami istri tapi hati hati loh lain kali kalo mau enak enak di dalam jangan lupa kunci pintunya ya"
hana tertawa sambil berjalan menuju kamarnya dengan langkah cepat karena takut telinganya akan jadi sasaran empuk dari vani yang sedang kesal.
"ck! hana!!! huh, dasar adek enggak ada akhlaknya" umpat vani pada adiknya yang terus menggodanya itu.
__ADS_1
'em, apa bener yang di bilang hana ya kalo luna tadi tuh,,,?' batin vani kembali memikirkan ucapan adiknya.
vani menutup wajahnya karena malu membayangkan jika apa yang di katakan oleh hana itu benar karena itu berarti luna sudah melihat apa yang terjadi di dalam kamar tadi.
'"issh!! masa sih ck! udah deh aku ngantuk nih lagian kenapa harus malu sih kan aku ngelakuin itu sama suami sendiri bukan sama suami orang lain lagian buat apa juga si luna ngintip, mungkin dia enggak sengaja" kesal vani lalu kembali masuk dan menutup pintu kamarnya.
di dalam kamar dika masih setia menunggu istrinya untuk kembali masuk. ia juga masih duduk di atas sofa yang sama seperti sebelumnya sambil memainkan ponsel di tangannya.
tak lama dika melihat istrinya berjalan masuk dengan wajah yang sedang memikirkan sesuatu lalu ia pun bertanya setelah vani kembali duduk di sampingnya.
"ada apa sayang kok mukanya serius banget gitu sih?" dika langsung memeluk tubuh istrinya dari samping.
"itu mas tadi hana bilang kalo luna..."
vani akhirnya menceritakan semua kegundahan yang ada di dalam hatinya tentang apa yang di ucapkan oleh hana kepada suaminya.
"masa sih luna berani ngelakuin itu? hem udah lah sayang mungkin hana cuma salah paham aja ya mungkin alasan luna itu benar kan"
dika tidak terlalu menanggapinya karena sedang fokus mengecup pundak istrinya yang menggoda.
"mas mood aku lagi berantakan malam ini jadi aku mau tidur aja"
vani berjalan menuju ranjang lalu merebahkan tubuhnya sambil memeluk raffa yang sudah terlelap sejak tadi.
"hem, ya udah kamu istirahat aja ya sayang" cup!
dika mengikuti langkah vani ke ranjang lalu mengecup kening istrinya.
"kamu juga mau bobok mas?" vani melihat suaminya sudah mengambil posisi hendak tidur di samping putranya.
"iya dong sayang aku kan juga udah ngantuk" dika pun memejamkan matanya.
"bukannya tadi kamu masih mau nyelesaiin kerjaan kamu ya mas" tanya
"em, udah selesai sayang jadi aku udah ngantuk" dika langsung terlelap dengan nyenyak.
"oh ya udah mimpi indah ya suamiku" vani mengusap gemas pipi dika.
"em, aku maunya mimpiin kamu aja sayang bukan mau mimpiin indah" gumam dika yang memejamkan mata.
"hhh!! terserah kamu deh mas" vani pasrah mendengar jawaban dari suaminya.
keesokan harinya dika pergi ke kantor seperti biasanya, sedangkan vani masih di rumah hendak pergi ke butik bersama hana.
"hana, hari ini kamu sibuk enggak?" tanya vani saat mereka berjalan keluar menuju mobil.
"em, enggak sih kak emangnya kenapa?" tanya hana balik.
"kakak mau minta tolong nanti kamu jemput afa di sekolah ya kakak mau pergi sebentar" vani menatap hana begitu juga hana yang menatap ke arahnya.
"emangnya kakak mau kemana? jangan bilang kalo kakak mau ketemuan lagi sama..." hana memikirkan sesuatu.
"ish! bukan, kakak cuma mau beli sesuatu aja kok" timpal vani yang mengerti arah dari ucapan adiknya.
"oke deh, nanti aku sekalian jemput afa di sekolah. ya udah kakak hati hati ya kalo mau pergi. bye!!!" hana masuk ke dalam mobilnya.
"iya bye!" vani pun masuk ke dalam mobil yang lain.
sesampainya mobil hana di depan pagar sekolah raffa, ternyata bel pulang belum berbunyi. akhirnya hana dan supirnya pun harus menunggu beberapa menit lagi.
"em, kenapa kak vani keliatan mencurigakan ya? tapi enggak mungkin kan kalo dia masih ketemuan sama cowok itu"
hana memikirkan tentang kakaknya sambil menunggu keponakannya di dalam mobil itu.
__ADS_1