Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 96


__ADS_3

sore harinya vani sedang duduk di ruang tamu sambil menonton acara televisi kesukaannya dengan mata fokus tidak berkedip menatap televisi di hadapannya itu.


"haha lucu banget" tawa vani bahagia.


"ya ampun vani, kamu tuh umur berapa sih? masih nonton film kartun kaya gitu?"


kak aida menggelengkan kepalanya saat melihat vani sangat serius menonton animasi kesukaannya sambil terus tertawa.


"apa sih kak, lagian acaranya seru, lucu tau bisa menghibur dari pada nonton drama nangis nangisan cuma buat emosi mendingan nonton kartun" vani membela diri


"iya, tapikan itu tontonan anak kecil dek"


kak aida duduk di samping vani dan ikut menonton.


"emang kakak enggak liat nih di dalam perut aku ada anak kecil, dia juga pengen nonton animasi tau"


vani mengusap perut buncitnya dan menjadikan itu sebuah alasan untuk menonton kartun yang memang ia sukai.


"alasan, bilang aja emaknya yang mau nonton kartun kaya anak kecil" haha


"ih, apaan sih kak. tuh kakak juga ikutan nonton kartun emang umur kakak berapa coba?"


"eh,, em kamu enggak mau makan nih kakak udah buatin gado gado. kamu suka kan?"


kak aida mengalihkan pertanyaan adiknya itu tentang usia


"wah!!! mau banget dong kak, kebetulan aku lagi laper banget nih"


vani langsung mengambil piring makanan yang berada di tangan kakaknya itu.


"eh,, kamu ambil sendiri sana di dapur"


kak aida hendak mengambil kembali piring yang berisi makanannya itu dari tangan vani.


"em"


namun melihat mata adiknya berbinar menatap kearahnya membuat kak aida mengurungkan niatnya untuk kembali mengambil piring yang berada di tangan adiknya itu lalu ia membiarkan vani untuk memakannya dengan lahap.


"ya udah deh buat kamu aja"


"hehe makasih ya kak"


kak aida mengalah lalu pergi ke dapur kembali mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


vani memakannya dengan sangat lahap karena sudah lama ia tidak memakan makanan buatan kakaknya itu.


sebenarnya vani sudah sejak lama ingin makan masakan buatan kakaknya namun karena jarak mereka cukup jauh vani tidak tega meminta kakaknya untuk datang hanya agar membawakan masakan untuknya.


saat vani masih asik memakan makanannya sambil terus menonton acara kartun kesukaannya itu dika pun datang.


dika baru saja keluar dari dalam kamar setelah selesai mandi. dengan wajah yang tampan maksimal ia pun melangkah hendak menghampiri istrinya yang sedang duduk di atas sofa itu.


melihat vani yang sedang makan dengan lahap di sana dika pun mendekat dan duduk di samping istrinya.


"sayang kamu lagi makan apa tuh aku mau dong" dika mengambil makanan yang berada di tangan istrinya.


"mas dika ih, ambil sendiri di dapur dong aku juga masih laper tau"


vani tidak mau berbagi makanannya dengan dika namun dika tidak mendengarkan ucapan istrinya itu.


"dikit aja sayang"


dika tetap memakannya karena makan sepiring berdua dengan istrinya membuat rasa makanan itu terasa lebih enak baginya.


"kan tinggal dikit mas, lagian itu udah bekas bibir aku tau" vani manyun karena makanannya di ambil.


"hem bibir kamu juga aku makan sayang, lagian makan punya kamu tuh lebih enak rasanya jadi ada manis manisnya gitu bekas bibir kamu" hehe


dika beralasan sambil tersenyum menggoda istrinya dengan ucapan manis agar vani tidak marah.


"ih gombal, bilang aja kamu emang mau ngambil makanan aku karena males ngambil di dapur kan"


vani tak mau termakan rayuan suaminya.


"keduanya bener sayang"


dika mendapat tepukan pelan di bahunya dari sang istri.


"ck! dasar huh!"


"eh, dika kamu udah bangun. mau makan gado gado juga enggak nih kakak udah ambilin buat kamu"


kak aida memberikan makanan yang seharusnya untuknya itu kepada dika dengan senang hati.


"em makasih ya kak. kebetulan nih adek kakak pelit banget"


dika tersenyum menerima piring dari kakak iparnya sambil melirik vani.


"iya sama sama"


"ck! tadi aja waktu adeknya minta enggak di kasih sampe mau di ambil lagi piringnya sekarang giliran mas dika malah langsung dikasih gitu aja tanpa harus di minta dulu"


vani protes karena kakaknya pilih kasih padanya dan dika.


"vani harusnya kan kamu yang ngambilin makanan buat dika tapi karena kakak baik hati dan tidak sombong jadi kakak bantuin kamu ngambilin makan buat suami kamu"


kak aida membela diri karena tidak terima dengan ucapan adiknya itu.


"alesan, bilang aja enggak sayang" nyinyir vani pelan.


"apa kamu bilang! kakak enggak sayang sama kamu? kalo kakak enggak sayang mana mungkin kamu sampe segede ini haha"


kak aida tertawa jahat sambil berjalan kembali menuju dapur meninggalkan adiknya.


"ih! jahat banget deh"


vani manyun membuat dika tersenyum melihat kakak beradik yang sedang berdebat itu sambil terus memakan makanan di piringnya.

__ADS_1


"em, enak banget deh" dika menggoda istrinya.


"bagi dong mas"


vani meminta karena makanan di piring sebelumnya sudah dika habiskan.


"ini bekas bibir aku loh sayang" hehe


dika tersenyum menatap istrinya.


"ya udah aku makan kamu aja kalo gitu. rrwrr"


vani ngambek lalu mengalihkan pandangannya.


"ppfftt! lucu banget sih istri aku gemesin deh" dika mencubit gemas pipi istrinya.


"ih! sakit tau"


"nih sayang, di habisin ya biar anak papa cepet gede di dalam"


dika menyodorkan suapan di dekat bibir vani sambil mengelus lembut perut istrinya.


"jangan gede banget dong sayang entar gimana lahirnya, sakit tau" vani tetap memakan suapan dari suaminya itu.


"buatnya juga sakit ya sayang" bisik dika.


"buatnya enak tau"


vani tersenyum sambil menyembunyikan wajahnya di lengan dika karena merasa malu atas ucapannya sendiri.


"ppfftt!!! ckckck" dika menahan tawanya.


keduanya tertawa dengan ucapan mereka sendiri, kak aida yang sedang lewat pun di buat bingung dengan tawa vani dan dika yang sepertinya sangat asik disana.


'kenapa nih orang berdua' batin kak aida menggeleng lalu melangkah pergi karena takut mengganggu kesenangan adik adiknya itu.


malam harinya setelah selesai makan malam bersama vani dan dika berkumpul di dalam ruang keluarga bersama kakak dan abangnya.


"oh iya kak, minggu depan rencananya kita mau ngadain acara tujuh bulanan buat calon bayi kami"


dika menatap kakak dan abang iparnya yang juga menatap kearahnya.


"oh ya udah tujuh bulan? enggak kerasa banget ya bentar lagi keponakan bibi mau lahir"


kak aida mendekat lalu mengelus perut buncit adiknya itu.


"iya kak, bentar lagi baby bakal lahir nih" vani tersenyum.


"kami harap kakak, abang sama semuanya juga bisa hadir di acara itu ya" dika pun mengatakan maksudnya.


"pasti dika, kalo enggak ada halangan kami semua pasti bakalan datang buat liat acara tujuh bulanan adek semata wayang kami ini" kak aida mengusap lembut rambut vani.


"makasih ya kak" vani dan dika pun tersenyum.


"oh ya dimana nanti acaranya?" tanya rio.


"oh oke. kami pasti datang kok"


"makasih bang"


"bibi, adek bayi mau lahir ya?" dira mendekat.


"iya sayang. doain ya semoga adek bayi lahirnya sehat"


"amin. sehat ibunya dan baby juga" ujar kak aida.


"amin" yang lainnya ikut mengaminkan.


setelah selesai berbincang mereka memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar masing masing karena malam sudah semakin larut.


dika mendekati vani yang sedang duduk bersandar di atas tempat tidur lalu memeluk pinggang istrinya.


"sayang" dika memainkan rambut istrinya.


"hem, ada apa mas?"


vani membiarkan saja suaminya memainkan rambutnya sedangkan ia masih fokus menatap ponsel.


"mau nagih janji kamu nih, katanya boleh lanjut disini kan?"


"em janji apa ya mas?" vani pura pura lupa


"ck! pura pura deh"


"enggak, serius aku beneran lupa tau mas"


"janji ini sayang" cup!


"emh huh!!"


"em mas aku capek, besok aja ya"


vani menolak halus setelah dika melepaskan ciumannya.


"tapi kan tadi kamu udah janji"


"iya tapi kan tadi pagi udah mas"


"mau lagi sayang"


"tapi"


"enggak boleh nolak suami loh sayang dosa tau"


ucapan yang menjadi andalan dika agar vani tidak menolaknya.


"hem ya udah deh"

__ADS_1


vani pasrah tidak bisa menolak keinginan suaminya itu.


"nah, gitu dong istriku yang cantik jadi makin cinta deh" dika tersenyum penuh kemenangan.


"kamu tuh dimana mana mesum mulu deh mas" vani merebahkan tubuhnya.


"eh, siapa bilang dimana mana cuma di kamar doang kok sayang"


"oh jadi kalo di kamar orang lain kamu mesum juga?"


vani menyindir dika yang beberapa waktu lalu selalu berada di dalam kamar arin dengan alasan menjaganya karena sakit.


"iya enggak dong sayang, cuma sama kamu satu satunya"


dika mengerti arah pembicaraan istrinya itu.


"oh ya, jadi aku satu satunya di hati kamu?"


"iya dong sayang, enggak ada yang lain"


"mana buktinya?" vani tidak percaya.


"ini buktinya, cuma kamu satu satunya wanita di hidupku"


dika mengelus lembut buah hatinya yang masih berada di dalam perut istrinya itu.


"jangan bawa bawa anak ku deh mas"


vani tidak ingin dika menjadikan anaknya sebagai alasan.


"eh, inikan anak aku juga sayang"


dika tidak terima karena vani hanya menyebut anak ku bukan anak kita kepada dirinya.


"oh ya kamu tau dari mana kalo ini anak kamu juga?"


vani ingin melihat reaksi suaminya terhadap anaknya.


"iya taulah, kan aku yang udah capek usaha buat anak kita setiap malam sayang. emangnya ada cowok lain yang ikutan buat?"


pertanyaan dika membuat vani membelalakkan matanya.


"em, ada enggak ya?" vani berpikir membuat dika tertawa.


"haha. kamu tuh lucu banget sih mana mungkin ada yang berani mengusik punya aku sayang" dika tersenyum.


"kalo ada yang lain, kamu mau apa?"


semakin penasaran dengan reaksi suaminya vani berpikir mengapa dika terlihat tidak pernah cemburu kepadanya.


"iya enggak mungkinlah, kamu kan cinta sama aku jadi kamu enggak bakalan bisa ngelakuin hal kaya gitu selain sama aku"


dika yakin atau mungkin ia terlalu kepedean.


"tapi kamu...."


"sstt!! diam sayang! aku bakal buktiin kalo kamu sama dia cuma punya aku"


dika melanjutkan aksinya membuat vani tidak dapat menahan suara lenguhannya.


"emh!! mas, hhh!!"


dika pun bermain di bagian dada istrinya membuat vani langsung terbuai kenikmatan.


"emh, mas aku baru ingat sesuatu"


vani menahan tubuh dika dengan kedua tangannya membuat dika menghentikan aktivitasnya.


"ingat apa sayang?"


"kamu masih ingat gelang couple kita kan?"


vani sengaja mencari alasan agar dika kembali menghentikan permainannya.


"hah! gelang? em, gelang apa ya sayang? hh" dika pura pura lupa.


"kok kamu enggak pake sih mas?"


vani merasa sedih melihat gelang itu tidak ada di tangan suaminya.


"eh, waktu itu aku lepas karena mau mandi sayang. entar rusak lagi kalo kena sabun" dika gugup beralasan.


"tapi gelangnya masih kamu simpan kan mas?"


'aduh mati aku! dimana ya gelang itu' batin dika mencoba untuk mengingat ingatnya namun ia tidak bisa mengingat dimana terakhir kali meletakkan gelang itu.


"ih mas, kok bengong sih. kamu enggak buang gelang itu kan atau jangan jangan gelang kamu itu udah hilang ya?" vani semakin sedih.


"e,,em, itu gelangnya ada kok sayang tapi ketinggalan di rumah. iya pasti aku simpan kok enggak mungkinlah aku buang gelang yang pemberian dari kamu itu sayang" hehe. dika semakin gugup.


meskipun panik dika berusaha untuk menutupinya karena tidak ingin melihat istrinya marah dan sedih karena gelang itu hilang.


"em, kok kamu tinggal sih mas padahal aku selalu bawa kemana pun punya aku" vani menunduk.


"iya maaf ya sayang aku lupa karena tadi kan kita buru buru sayang" dika tersenyum miris.


"ya udah deh. nanti kalo kita udah pulang pokoknya kamu harus tunjukkin dimana gelang itu ke aku ya" vani masih tidak percaya.


"eh! iya sayang" hem


dika tersenyum sambil berpikir dimana harus mencari gelang itu


'ck! dimana ya gelang itu. apa aku beli baru aja ya' batin dika berpikir.


akhirnya vani pun tertidur dan berhasil menghindar dari suaminya yang sebelumnya sangat antusias itu.


sedangkan dika masih bingung dan berusaha untuk mengingat ingat keberadaan gelang yang benar benar sudah dihilangkannya.

__ADS_1


__ADS_2