Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Butuh penjelasan


__ADS_3

malam harinya dika datang ke rumah vani berniat untuk memberikan penjelasan kepada kekasihnya itu tentang hubungannya dengan karin.


tok!! tok!! tok!! dika mengetuk pintu.


di dalam rumah, kedua gadis itu masih asik menonton drama kesukaan mereka sambil rebahan di atas ranjang.


"eh siapa tuh yang datang?"


yuli bertanya namun vani hanya mengendikkan bahunya tanda tidak tahu.


"gue liat dulu deh"


yuli beranjak dari atas ranjang lalu melangkah keluar dari dalam kamar.


"iya sebentar"


teriak yuli bergegas membuka pintu depan.


ceklek!


"siapa ya?"


saat membuka pintu yuli membelalakkan mata ketika melihat dika yang datang.


"eh! pak dika"


dengan ekspresi canggung yuli berjalan keluar untuk mendekat.


"yul, vani ada kan? tolong panggilkan dia ya. saya mau bicara"


dengan tidak sabar dika bertanya.


"em, iya sebentar ya pak saya panggil dulu"


yuli kembali ke dalam tanpa mempersilahkan dika untuk masuk terlebih dahulu, akhirnya dika pun menunggu di luar dan duduk di kursi teras.


lama dika menunggu namun bukannya vani yang datang menemuinya justru yuli kembali sendirian.


"dimana vani?"


tanya dika yang tak melihat kekasihnya datang.


"em, maaf pak tapi dia udah tidur" ujar yuli.


"tidur?"


dika melihat jam di tangannya masih menunjukan pukul 20.00 malam.


'masih jam segini, enggak mungkin vani udah tidur' batin dika.


pasalnya selama ini mereka selalu berbalas pesan atau bahkan telponan setiap malam hingga larut pikirnya.


"kamu pasti bohong kan, vani enggak mungkin udah tidur masih jam segini" dika tak percaya.


"iya tapi, dia emang udah tidur pak"


yuli semakin gugup namun ia tetap tidak akan mengatakan yang sebenarnya.


"kalo gitu tolong kamu bangunkan dia sekarang" dika tidak mau di tolak.


"hah! em itu, tapi pak..."


yuli pun bingung, tidak menyangka kalau dika akan memintanya untuk membangunkan vani.


"kamu yang bangunkan atau saya sendiri"


dika berdiri dari duduknya hendak masuk ke dalam rumah dan membangunkan vani secara langsung.


"ehh,,, iya, iya pak. sebenarnya dia masih belum tidur sih tapi dia emang enggak mau ketemu sama bapak"


yuli akhirnya jujur karena tidak ada pilihan lain.


"bilang sama vani kalo saya akan tetap nunggu disini sampe dia mau nemuin saya" dika kembali duduk.


"jangan pak! em, pak dika enggak usah aneh aneh deh. lagian kak vani kaya gitu kan juga karena bapak sendiri yang udah bohongin dia, kenapa sih? bapak tega banget mainin hati kak vani. sebenarnya saya enggak mau ikut campur masalah kalian tapi bapak udah nyakitin hati kakak saya. ya saya enggak akan terima"


"justru itu saya datang kesini mau jelasin sama vani kalau saya enggak ada hubungan apa apa sama karin. ini cuma salah faham yul jadi tolong kamu bujuk vani ya"

__ADS_1


dika kembali melunak dan berbicara dengan lembut.


"maaf pak dika, tapi tolong biarin dia sendiri dulu dan kasih kak vani waktu buat nenangin dirinya jadi lebih baik sekarang bapak pulang. bicarain ini besok aja ya" yuli memberi solusi.


'lagian dia juga malu buat nemuin bapak karena matanya bengkak' batin yuli menahan tawa namun tetap bersikap serius.


"baiklah, kalo gitu saya pulang dulu tapi tolong kamu jaga dia ya. jangan biarin vani nangis"


ucapan dika sebenarnya sudah di dengar langsung oleh vani dari balik pintu.


ternyata sejak tadi vani sudah mendengarkan percakapan mereka dari dalam rumah.


"pasti pak" yuli mengangguk.


"terima kasih ya, kalo gitu saya pamit. Assalamualaikum"


"Walaikumsalam"


dika pun melangkah masuk kedalam mobilnya.


"hem, kenapa kalo ngeliat pak dika kaya gitu gue jadi kasian ya. gue enggak percaya dia playboy. ah, tapi semua ucapan manis cowok itu emang meyakinkan biar cewek cewek pada ketipu sama gombalannya. dasar buaya darat"


satu sisi yuli melihat dika yang baik dan tulus kepada vani namun disisi lain ia juga melihat dika memiliki wanita selain kakaknya.


huh!!! yuli bingung dan akhirnya ia masuk kedalam rumah setelah mobil dika pergi.


saat masuk ke dalam rumah, yuli kaget melihat vani yang ternyata sudah berdiri di balik pintu sejak tadi untuk mendengarkan percakapan itu.


"Astaghfirullah!! kak vani!"


yuli kaget seperti sedang melihat hantu namun vani hanya diam saja dan tidak merespon cara kaget yuli yang terlihat lucu itu.


"udah dong, kamu jangan sedih lagi ya. enggak usah terlalu di pikirin juga, ayok kita istirahat" ajak yuli kepada vani.


"aku enggak mikirin itu kok yul, ya udah kamu duluan aja ya aku masih mau disini" jawab vani.


"oke deh, tapi kamu jangan nangis lagi ya" peringat yuli.


"em" vani mengangguk.


vani berjalan menuju sofa lalu duduk disana sambil mengingat kenangan indah yang singkat bersama dika.


baru saja beberapa bulan merasakan indahnya cinta namun sekarang vani harus ikhlas untuk melepaskannya.


tidak bisa menahan kesedihan di hatinya vani pun kembali meneteskan air mata.


"enggak! aku enggak boleh nangis kaya gini karena dari awal nerima pak dika berarti aku juga harus siap nerima konsekuensinya"


vani mengahpaus air mata di pipinya.


'kayanya aku berpikir terlalu jauh dan berharap terlalu banyak sama hubungan ini. harusnya aku emang enggak boleh egois pengen kamu jadi milikku tapi ya mau gimana lagi semua udah terlanjur. maaf karena aku sudah mencintaimu' batin vani


"udahlah aku harus lupain semuanya"


akhirnya vani memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar dan segera beristirahat.


ceklekk!!!


vani membuka pintu kamarnya dan melihat yuli yang sudah tidur dengan pulas di atas ranjang. ia berjalan mendekat lalu merebahkan diri di samping adiknya.


lama vani berusaha untuk tertidur namun ia tetap tidak bisa memejamkan matanya.


"ih, kok susah banget sih" kesalnya lalu kembali duduk bersandar.


vani menatap ponselnya di atas nakas yang sejak tadi ia silent karena tidak mau di ganggu.


"liat enggak ya?" gumam vani ragu.


"em, coba aja deh" vani pun mengambil ponselnya.


saat membuka ponsel, vani melihat hanya ada dua kali panggilan tak terjawab dan satu pesan chat dari dika disana.


iya hanya satu pesan saja tidak banyak karena dika yakin vani tidak akan membalasnya.


"ck! apa yang aku harepin sih" kesal vani kembali menutup ponselnya.


mungkinkah ekspektasinya akan ada puluhan panggilan?

__ADS_1


vani kembali menonton drama kesukaannya di dalam laptop hingga larut malam dan akhirnya ia pun tertidur dengan sendirinya karena sudah merasa lelah.


*


keesokan harinya vani memutuskan untuk tidak bekerja karena malas bertemu dengan dika.


"kamu enggak ngantor kak?"


tanya yuli melihat vani masih duduk santai di depan tv tidak bersiap untuk pergi bekerja.


"enggak deh, lagi enggak enak badan" jawab vani tidak menoleh.


"oh, enggak enak badan atau enggak enak hati"


yuli tersenyum bercanda.


"hem, dua duanya mungkin"


vani acuh sambil memakan roti kesukaannya sebagai sarapan.


"em, terserah kamu aja deh. aku berangkat ya"


yuli pamit untuk pergi bekerja.


"oke hati hati ya" vani melambaikan tangan.


"iya" balas yuli melambaikan tangan juga.


di kantor dika sudah menantikan kedatangan vani dengan tidak sabar karena hendak segera menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka.


dika sudah sangat rindu pada kekasihnya itu. biasanya mereka saling menunjukan perhatian lewat pesan atau membahas sesuatu yang sedang mereka lakukan setiap harinya namun sejak kemarin vani sama sekali tidak mau mengangkat telpon ataupun sekedar membalas pesan darinya.


jam sudah menunjukan pukul 10.00 pagi namun ternyata vani tidak datang untuk bekerja karena dika tidak melihat gadis itu ada di meja kerjanya.


justru karin lah yang datang dan sedang duduk di meja kerjanya saat ini.


ray sedang sibuk bekerja namun ia bingung melihat bosnya yang sejak tadi hanya berdiri di samping meja sambil menatap ke arah ruangan rangga dari kejauhan.


"maaf pak, apa yang bapak lakukan disana?"


tanya ray menatap dika dengan heran.


"ray, tolong lo handle kerjaan gue dulu ya, gue mau pergi sebentar ada urusan"


dika pun melangkah pergi hendak mendatangi rumah vani untuk mejelaskan semuanya.


"baik pak" ray hanya mengangguk saja.


dika turun ke lobby langsung berjalan menuju parkiran lalu masuk ke dalam mobil dan melaju dengan kecepatan tinggi agar lebih cepat sampai di rumah vani.


sesampainya di rumah vani, dika turun dari dalam mobilnya dan melangkah cepat lalu mengetuk pintu rumah itu.


tok! tok! tok!


vani yang masih asik menonton televisi diruang tamu itu pun mendengar suara ketukan pintu dari luar.


"siapa sih?"


vani beranjak dari duduknya hendak membuka pintu.


ceklek!


saat membuka pintu vani membelalakkan mata karena melihat ternyata dika yang datang. ia langsung menutup kembali pintu rumahnya namun di tahan oleh dika agar vani tidak menghindar lagi.


"sayang, aku tau kamu sengaja ngindarin aku karena salah paham kemaren. tolong kasih aku kesempatan buat jelasin ke kamu pliss!!"


dika tidak berniat mendorong pintu secara paksa karena takut vani akan terjatuh.


mengingat dirinya tidak mungkin bisa terus menghindar akhirnya vani pun membuka pintu.


vani membuka pintu lalu menatap dika dengan datar, padahal sebenarnya ia sangat rindu.


dika tersenyum menatap wajah gadis yang di cintainya itu berada di hadapannya.


"sayang..."


dika hendak menggenggam tangannya namun vani langsung berbalik dan berjalan masuk ke dalam tanpa mengucapkan sepatah katapun kepadanya. hingga dika terus mengikuti langkah vani masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2