Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 159


__ADS_3

keesokan harinya ray terbangun dari tidurnya dan melihat yuli juga sudah sadar namun ia menatap yuli hanya diam saja dengan tatapan kosong.


"yuli kamu udah bangun, apa ada yang masih sakit?" tanya ray menatapnya


'iya masih sakit banget nih hati saya pak ray' batin yuli menatap ray yang juga sedang menatapnya namun tidak ia ucapkan secara langsung.


"saya enggak papa kok pak, oh ya dimana kak vani?" tanya yuli mencari keberadaan kakaknya karena yakin jika vani pasti sudah tau tentang keadaannya sekarang.


"vani sama dika harus pulang tadi malam karena raffa nangis terus di rumah" jawab ray.


"oh" yuli pun mengerti.


"em, maafin saya ya yul karena saya udah ninggalin kamu di tepi danau sendirian kemarin" ray masih menatap yuli.


"iya enggak papa kok lagian itu bukan salah bapak, kan saya yang minta buat tetap disana kemaren" yuli tidak mau menatap mata ray.


"kenapa kamu enggak langsung pulang aja kemaren?"


yuli hanya diam dan tidak mau menjawab pertanyaan itu, akhirnya ray pun terdiam tidak melanjutkan pertanyaannya karena yuli tidak meresponnya.


sebenarnya ray pun sudah mengerti tentang perasaan yuli kepada dirinya. sejak dika mengatakan kepadanya kenapa bukan yuli gadis yang ia lamar kemarin malam.


"oh ya kamu pasti laperkan, ayo sekarang kamu harus makan setelah itu baru minum obat"


ray memberi perhatian yang membuat yuli semakin malas mendengarnya.


yuli benci dengan semua perhatian itu karena membuatnya sudah salah paham tentang perasaan ray kepada dirinya selama ini.


ray mengambil mangkuk bubur di atas nakas lalu hendak menyuapi yuli namun gadis itu hanya menatap sendok berisi suapan bubur di hadapannya dengan datar.


"ayo buka mulutnya, please" bujuk ray sambil tersenyum.


"saya bisa makan sendiri kok pak" yuli hendak meraih sendok dari tangan ray.


"tolong izinin saya buat suapin kamu ya. anggap aja ini sebagai permintaan maaf dari saya ke kamu yul"


"enggak perlu repot repot pak. makasih" yuli menolaknya.


"please yul" pinta ray memohon.


"huh" setelah mengalihkan pandangannya dari ray akhirnya yuli pun memakan suapan bubur itu.


"nah gitu dong. kamu makan yang banyak ya" ray tersenyum.


di sela sela makan tiba tiba saja yuli kembali membahas tentang lamaran ray kemarin.


"oh iya, selamat ya atas acara lamaran bapak kemarin"


"iya terima kasih ya yul tapi sebenarnya kemarin acara lamaran itu gagal" ray pun bercerita kepada yuli dengan nada suara murung.


"em, kenapa?" tanya yuli yang sebenarnya tidak terlalu perduli.


"iya karena dia nolak saya katanya sih dia udah punya calon suami" lanjut ray bercerita dengan miris.


dalam diamnya yuli melirik wajah ray yang terlihat sedih namun ia tidak mau bertanya lebih banyak perihal lamaran yang di tolak itu.


"sepertinya saya enggak di takdirkan untuk menikah mungkin fokus bekerja memang lebih baik" ray mencoba untuk berdamai dengan hatinya.


'kayanya gue termasuk salah satu cewek beruntung yang bisa ngeliat cowok brengsek kena karmanya secara langsung deh' batin yuli melirik malas.


"em, sabar ya pak ray mungkin dia memang bukan jodoh bapak. pasti suatu hari nanti bapak bakalan ketemu sama wanita yang menjadi jodoh bapak" lain di mulut lain pula di hatinya.


"iya makasih ya yul" ray tersenyum menatap yuli. ia sangat bersyukur karena ternyata yuli tidak membenci dirinya.


beberapa bulan telah berlalu, sejak kejadian itu hubungan di antara ray dan yuli memang sudah berjarak karena yuli tidak ingin berharap lagi pada cintanya.


namun saat menyadari yuli yang semakin menjauhi dirinya ray pun terus berusaha lebih dekat agar yuli benar benar memaafkan dirinya.


"yuli tunggu...!" panggil ray.


"bapak ngapain sih ngikutin saya terus. apa sekarang bapak udah jadi pengangguran ya, yang enggak punya pekerjaan lain" kesal yuli.

__ADS_1


"saya antar kamu ya"


"enggak perlu saya masih punya kaki jadi bisa jalan sendiri" tolak yuli.


"please yul"


"ck! jangan ikutin saya atau saya bakal laporin bapak ke bang dika lagi"


yuli pergi meninggalkan ray sendirian di sana.


"huh" ray hanya menghembuskan nafas beratnya.


bulan terus berganti namun ray masih tetap berjuang untuk kembali mendapatkan hati gadis yang dulu pernah ia buat kecewa itu. hingga akhirnya hubungan di antara mereka membaik dan kembali akrab seperti biasanya.


suatu malam terlihat yuli sedang curhat kepada kakaknya di dalam ruang keluarga.


"kak, menurut kamu aku harus gimana?"


"tentang apa?"


"permintaan maaf dari pak ray"


"bukannya kamu emang udah maafin dia ya"


"iya sih, tapi kali ini dia mau serius katanya"


"serius apa?"


"mau ngelamar aku"


"perasaan kamu sendiri ke dia gimana?"


"aku bingung. aku pernah cinta tapi kecewa dan sekarang justru dia yang bilang cinta, apa aku harus percaya?"


"menurut aku ya tanya hati kamu. kalo kamu masih cinta silahkan tapi kalo enggak jangan di paksain"


"em, kayanya kami lebih baik cuma temenan aja kak" ujar yuli yakin pada keputusannya.


beberapa bulan berikutnya yuli memutuskan untuk kembali menerima cinta ray yang kali ini terlihat benar benar tulus kepada dirinya padahal sebenarnya ia sendiri sudah ikhlas menerima hubungan mereka yang hanya menjadi sebatas teman saja.


vani dan dika pun akhirnya kembali menyetujui kedekatan di antara keduanya karena merasa kini ray benar terlihat sungguh sungguh tentang perasaannya kepada yuli.


setelah kembali mendapatkan hati gadisnya itu ray pun memutuskan untuk segera melamar yuli menjadi istrinya. keinginan ray pun di setujui oleh vani dan keluarga wijaya yang lainnya.


tepat di hadapan keluarga besar keduanya yang pada saat itu sedang liburan bersama di sebuah vila mewah milik keluarga wijaya ray pun mengungkapkan perasaannya kepada yuli dan niat untuk melamar gadis pujaan hatinya itu agar menjadi pendamping hidupnya.


ray sudah mempersiapkan kejutan di acara malam itu untuk melamar yuli di hadapan semua keluarga yang hadir. lamaran ray pun di sambut baik oleh pihak keluarga yuli yang setuju dengan hubungan kedua pasangan sejoli itu.


yuli yang mendapat kejutan lamaran dari ray pun hanya bisa terdiam. ia menatap pria yang dicintainya itu sedang berlutut di hadapannya sambil memegang sebuah kotak cincin untuk melamar dirinya.


"yuli aku sangat mencintai kamu maukah kamu menikah dengan ku?" ray menatapnya dengan tersenyum.


yuli menatap kearah vani dan keluarga lainnya yang sedang tersenyum menatap ke arahnya.


vani terlihat menganggukkan kepalanya sebagai jawaban setuju dari dirinya.


"iya aku mau" akhirnya yuli pun menerima lamaran dari pria yang dicintainya itu.


prok prok prok! tepuk tangan semua keluarga yang ikut berbahagia.


satu bulan berlalu setelah acara lamaran itu mereka pun melangsungkan acara resepsi pernikahan ray dan yuli di hotel berbintang milik keluarga wijaya.


seluruh keluarga besar dari kedua belah pihak turut hadir dalam memeriahkan resepsi mewah yang di gelar oleh keluarga terpandang itu.


vani dan dika sedang berada di acara resepsi pernikahan ray dan yuli. keduanya pun ikut bahagia karena akhirnya perjalanan cinta adiknya itu berlabuh di pelaminan dengan bahagia seperti harapan mereka.


terlihat rangga dan ranty beserta kedua putri mereka pun turut hadir dalam resepsi pernikahan untuk mengucapkan selamat kepada ray dan yuli.


ternyata anak kedua rangga dan ranty pun seorang anak perempuan yang berarti kini mereka telah memiliki dua orang putri cantik dan menggemaskan. adik dari rara itu bernama rasty andriani wijaya.


tampak dokter radit dan arin yang sedang hamil pun turut hadir di sana untuk memberi selamat.

__ADS_1


secara bergantian para tamu dan kerabat yang datang pun mendekati pelaminan untuk memberi selamat kepada kedua mempelai.


saat ini dika dan vani sedang berada di hadapan kedua pengantin untuk memberi selamat.


"selamat ya ray yuli atas pernikahan kalian semoga langgeng terus sampai punya cucu" dika memeluk sahabatnya begitu juga vani yang memeluk adiknya.


"amin makasih ya dika vani kalian juga semoga akur terus ya" ray tersenyum.


"pasti lah iyakan sayang" dika memeluk pinggang istrinya.


"ciee romantis banget sih kakak ku. semoga kita juga bisa romantis terus kaya kalian ya" yuli pun memeluk lengan suaminya.


"amin, ya haruslah"


"eh, ada keponakan tersayang aunty yang paling ganteng ini emuachh ganteng banget sih kamu sayang"


yuli mengecup pipi raffa yang kini sudah berusia dua tahun lebih itu.


raffa yang mendapat kecupan dari aunty kesayangannya itu pun langsung mengusap usap pipinya karena tidak mau di kecup oleh siapapun. ia benar benar tidak suka jika ada orang lain yang mengecup wajah tampannya termasuk aunty yang selalu memanjakannya itu.


"ih! sombong banget deh anak siapa sih ini hem?"


yuli semakin gemas menoel pipi keponakannya yang cuek itu namun raffa sama sekali tidak mau menjawabnya. ia justru berbalik badan dan memeluk tubuh papanya yang sedang menggendong dirinya itu.


"ya anak siapa lagi yang super ganteng plus cuek ini, kalo bukan anaknya dika sama vani" celetuk rangga yang juga sedang berada disana untuk memberi selamat pada kedua pengantin.


"haha, iya raffa sombong banget deh enggak mau di cium terus juga enggak mau ngomong sama aunty. iya kan?"


yuli terus saja menggoda keponakannya padahal ia sudah sangat mengerti tentang sikap dingin dari putra kakaknya itu namun ia memang sangat suka mengganggu raffa.


setelah larut malam acara resepsi pernikahan pun selesai, kedua pengantin memasuki kamar pengantin bersama.


setelah selesai membersihkan diri di dalam kamarnya yuli pun duduk di atas ranjang berdekatan dengan ray yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya itu.


keduanya merasa canggung seperti orang yang baru saling mengenal saja.


sebagai seorang suami ray pun tidak tinggal diam dan berusaha untuk mencairkan suasana canggung di antara keduanya.


ray bergeser mendekat lalu memeluk tubuh istrinya dari samping tatapan keduanya pun bertemu.


dengan perlahan ray mendekatkan wajah mereka hendak mengecup bibir ranum istrinya.


yuli memejamkan matanya dan menerima kecupan itu hingga keduanya saling memperdalam ciuman.


hasrat keduanya pun semakin tidak tertahan, perlahan tangan ray bergerak hendak membuka piyama istrinya.


ketika ray sudah berhasil membuka beberapa kancing bagian atas piyama istrinya itu, tiba tiba saja yuli menahan tangan suaminya untuk menghentikan aksinya.


"jangan!" ujar yuli menggenggam tangan suaminya.


"kenapa?" tanya ray bingung.


"aku..."


"hem?"


"aku lagi,,, datang bulan" cicit yuli pelan membuat ray menghembuskan nafas beratnya.


"huh" ray pun kembali duduk dengan tegak di tepi ranjang.


"maaf ya mas" yuli merasa tak enak.


"enggak papa sayang cuma seminggu kok" ray mencoba untuk tersenyum walaupun moodnya sudah berantakan.


yuli juga tersenyum karena merasa suaminya sangat pengertian.


"ya udah kita tidur aja yuk" ray beralih ke sisi ranjang yang lain lalu merebahkan tubuhnya di samping yuli.


"em" yuli mengangguk dan ikut berbaring.


"i love you" ray memeluk tubuh istrinya dari arah samping lalu tertidur.

__ADS_1


__ADS_2