
raffa sudah meletakkan jajanan yang berupa makanan dan minuman yang mereka bawa itu di atas meja.
"sayang ini kamu beli makanan apa sih? pasti belinya di pinggir jalan kan ini tuh enggak higienis sayang nanti kamu bisa sakit perut udah deh buang aja buang semuanya" omel dika melihat makanan yang di bawa putranya.
"enggak papa, ini tuh enak banget namanya baso mercon"
"apa mercon? tuh kan dari namanya aja udah enggak meyakinkan pasti rasanya pedes banget pokoknya afa enggak boleh makan nanti bisa sakit perut"
"tapi afa pengen makan ini papa lagian ini enggak pedes kok boleh ya ma?"
raffa menatap ibunya dengan mata berbinar agar mengizinkannya.
vani menatap suaminya yang sedang menggelengkan kepala ke arahnya agar ia tidak menyetujui permintaan putra mereka itu.
"boleh kok sayang, tapi dikit aja ya"
vani mengelus rambut raffa dengan lembut karena tidak tega melihat putranya menangis.
"yeeii makasih ya mama cantik. sayang deh mama" raffa memeluk mamanya.
"enggak boleh, pokoknya papa bilang enggak boleh afa!!!"
"kalo papa enggak mau ya udah afa makan sendirian aja"
raffa langsung melahap makanannya.
"mas, punya affa enggak pedes kok basonya isiannya juga cuma ada daging sama sambel dikit khusus buat makanan anak anak"
"iya tetap aja sayang itu kan ada sambel sama cabenya gimana kalo nanti...."
"ssttt!! udah jangan doain anak kita sakit perut dong"
"aku enggak doain sayang tapi..."
"mas ucapan itu adalah doa jadi jangan di ucapin dong"
dika pun diam dan hanya memperhatikan putranya yang makan dengan lahap.
"em, kalo ini apa sayang?"
dika menatap minuman dalam sebuah cup yang sedang diminum oleh istrinya itu.
"ini namanya es cendol mas, enak deh manis seger banget. kamu enggak bakal suka ini tuh enggak higienis"
vani tersenyum jahil.
dika menelan saliva menatap istrinya meminum minuman yang terlihat sangat manis lalu ia juga beralih menatap raffa melahap makanan pedas yang harumnya sangat menggoda iman itu.
dika menggigit kecil bibir bagian bawahnya berusaha menahan diri agar tidak tergoda dengan makanan dan minuman itu, namun akhirnya ia tidak tahan rasanya ia sangat ingin memakan dan meminumnya sekarang juga.
"sayang aku mau dong, minta ya?"
dika membujuk istrinya yang tidak mengizinkannya untuk memakan dan meminum makanan dan minuman yang mereka beli dari pinggir jalan itu.
"tapi ini enggak sehat mas buat kamu" vani mengingatkan.
"enggak papa sayan entar aku ngiler nih kalo enggak di kasih" dika menatap minuman itu dengan mata berbinar.
"em, yau dah deh nih kamu boleh minum mas itu juga masih ada satu lagi kok kalo mau kamu boleh abisin aja ya, aku mau mandi dulu nih soalnya udah gerah banget"
vani memberikan minumannya kepada dika lalu beranjak hendak melangkah menuju kamar mandi.
"makasih sayang, makin cantik deh kamu kalo baik"
vani hanya memutar bola matanya mendengar ucapan gombal dari suaminya itu dan langsung berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk segera membersihkan diri
dika meminum minumannya dengan hati yang senang karena rasanya es cendol itu benar benar sesuai dengan keinginannya siang tadi.
dika kembali menatap putranya yang sedang memakan baso di hadapannya itu.
"sayang, papa minta dong" dika kembali merayu anaknya agar mengizinkannya makan baso pedas itu.
"papa mau?"
__ADS_1
"em" dika pun mengangguk.
"ya udah deh, ini buat papa aja afa mau mandi dulu ya pa" raffa juga bergegas keluar menuju kamarnya.
"iya sayang makasih ya"
"oke papa"
dika langsung melahap makanan di hadapannya itu.
setelah selesai mandi vani mengganti pakaian dengan memakai daster rumahan selutut dengan serut di bagian pinggangnya membuat bentuk tubuh indahnya terlihat.
vani keluar dari dalam ruang ganti dan melihat suaminya sedang duduk bersandar di atas sofa sambil menonton tv dengan bekas jajanan yang masih berada di atas meja.
semua jajanan yang mereka beli sudah habis tak bersisa membuat dika kembali mengantuk setelah kenyang.
"sayang, kamu udah selesai mandinya ya? hem, kamu cantik banget deh tapi aku masih ngantuk nih sayang"
dika kembali memejamkan matanya masih bersandar di atas sofa.
"mas, kamu jangan tidur dulu dong dengar itu udah adzan magrib loh ayo kita sholat berjamaah dulu" vani dengan lembut mengelus lengan suaminya.
"em, iya deh sayang"
dika kembali duduk dengan tegak dan membuka matanya sedangkan vani membersihkan meja dari sampah jajanan yang sudah habis itu.
setelah selesai membersihkan meja, vani menggenggam tangan suaminya dan mengajaknya berjalan menuju ruangan khusus untuk sholat di dalam rumah.
pagi yang cerah datang matahari bersinar menyapa bumi namun tidak secerah apa yang dirasakan dika pagi ini.
pasalnya hari ini dika kembali merasa mual dan pusing lebih dari apa yang dirasakannya di hari kemarin.
"hoekk!!! hoekk!!!"
dika memuntahkan sisa makanan di dalam perutnya pada wastafel kamar mandi membuat tubuhnya terasa lemas. ia berjalan keluar dari dalam kamar mandi dengan langkah sempoyongan.
"sayang!!!"
dika memanggil istrinya namun saat ini vani sedang tidak berada di dalam kamar.
vani yang baru saja masuk ke dalam kamar pun melihat suaminya sedang berjalan sempoyongan dan langsung berjalan cepat ke arah dika untuk menopang tubuh suaminya yang terlihat tidak seimbang itu.
"mas, kamu kenapa sini aku bantuin ya sayang"
vani memeluk tubuh dika dari samping lalu membantu suaminya itu berjalan menuju ranjang.
dika duduk di tepi ranjang dan langsung merebahkan tubuhnya karena merasa sangat pusing di kepalanya.
"mas kamu masih pusing ya?" vani pun duduk di samping suaminya.
"em" dika yang sudah berbaring hanya mengangguk.
"apa mungkin, ini efek dari kecelakaan yang pernah kamu alami waktu itu ya mas?"
"hem, aku enggak tahu sayang. bukannya waktu itu dokter bilang luka di kepala aku udah sembuh ya?"
dika memejamkan matanya namun tetap merasa jika saat ini kamar itu sedang berputar hebat.
"iya sih tapi apa sekarang ingatan kamu udah balik sepenuhnya mas?"
"em" dika mengangguk.
sebenarnya dika belum mengingat sepenuhnya hanya mengangguk karena tidak tau harus menjawab apa.
"bisa jadi sih mas karena efek ingatan kamu yang masih terus berusaha balik lagi"
"iya mungkin soalnya aku sering banget pusing akhir akhir ini tapi kenapa mual juga ya?"
"enggak tau sih mas kita ke dokter aja ya buat cek"
"em, nanti aja deh sayang aku masih lemes banget nih"
"kamu laper mas aku ambilin makanan dulu ya"
__ADS_1
vani hendak berdiri untuk mengambil makanan di dapur namun dika menahannya.
"enggak usah sayang"
"kenapa? aku mau ambilin makanan buat kamu"
"aku enggak mau sayang, aku lagi enggak pengen makan apa pun sekarang" dika dengan wajah pucat.
"tapi mas nanti kalo kamu enggak makan perutnya bisa makin sakit loh"
"tapi aku mual sayang"
dika benar benar tidak bisa memakan sesuatu apapun saat ini.
"makanya kamu harus makan biar enggak sakit lagi" vani terus membujuk suaminya.
"enggak mau sayang jangan di paksa terus dong!"
"terus kamu maunya makan apa mas biar aku buatin ya"
"aku lagi enggak pengen makan apa apa sayang"
"hhh! kamu serius?"
"hem, aku maunya kamu di sini aja temenin aku dan jangan jauh jauh dari aku apalagi sampe pergi dari sini"
dika terus menggenggam tangan istrinya dan dengan perlahan memejamkan matanya namun saat mata dika mulai terpejam, perutnya kembali bergejolak rasanya seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
"emhh hoek!!! hoek..!!!!"
dika kembali berlari masuk kedalam kamar mandi yang baru saja ia tinggalkan itu.
"mas dika!!"
vani yang khawatir pun mengejar langkah suaminya masuk ke dalam kamar mandi.
"ya ampun mas, kamu enggak papa kan aku khawatir banget sama kamu mas. kita ke dokter aja ya sayang?"
vani mengelus lembut bagian punggung dan dada suaminya agar rasa mual dika reda.
"hhh!!! aku enggak papa kok sayang. kamu enggak usah khawatir ya"
dika mencoba tersenyum agar vani tidak terlalu khawatir dengan keadaannya.
"kamu kan lagi sakit mas, gimana aku enggak khawatir coba?"
vani menyodorkan segelas air hangat untuk suaminya.
"uluh! uluh! perhatian banget sih istriku yang cantik ini, makasih ya sayang"
dika mencubit gemas pipi istrinya membuat vani tersipu namun juga merasa sedikit kesal karena suaminya itu masih bisa bercanda saat keadaan seperti ini.
"mas, ih enggak usah becanda deh aku lagi serius tau"
vani berusaha untuk tidak terpengaruh dengan ucapan suaminya.
"siapa yang bercanda sih sayang. aku serius loh, liat deh muka kamu ini. istri aku emang cantik banget tau apalagi kalo lagi senyum gitu"
dika menunjuk wajah istrinya membuat wajah vani memerah karena tidak dapat menyembunyikan sesuatu dari suaminya.
"ih! udah dong mas, aku malu nih" vani menutup wajahnya seperti anak remaja yang sedang di goda oleh pacarnya.
"hehe! kamu lucu banget deh sayang, dari dulu masih aja malu sama suami sendiri" dika memeluk istrinya.
"em, kalo udah ngerasa baikan kita langsung ke dokter sekarang aja ya mas buat cek kondisi kamu" vani mengalihkan pembicaraannya.
"aku lagi enggak pengen pergi kemana mana nih sayang jadi tolong kamu telpon dokter aja minta dia yang datang kemari"
dika berjalan perlahan kembali menuju ranjang.
"tapi mas" vani bermaksud akan membawa suaminya itu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"kamu telpon dokter radit aja ya aku enggak mau ke rumah sakit" dika kekeh pada penolakannya.
__ADS_1
"hhh! iya terserah kamu aja deh mas" akhirnya vani pasrah lalu segera menelpon dokter.