Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 201


__ADS_3

sesampainya di dalam rumah raffa kembali bertanya kepada mamanya.


"ma kata bibi kita nanti mau pergi juga ya?" tanya raffa memastikannya.


"iya sayang tapi nanti ya kalo dokter udah izinin mama buat pergi ya" vani mengusap usap rambut putranya.


"iya ma affa mau main dulu ya ma" raffa pergi ke kamarnya untuk mengambil mainan.


"iya sayang" vani mengangguk


"mas kamu mau kemana?" vani melihat suaminya beranjak.


"mau ke ruang kerja sayang" dika terus berjalan


"em, ya udah deh aku nemenin affa main di kamar aja" vani juga berjalan menuju kamar putranya.


"sayang?" dika menoleh.


"iya?" vani pun kembali menoleh pada suaminya.


"jangan lupa istirahat ya" dika kembali mengingatkan.


"iya mas aku cuma liatin affa main kok sambil rebahan"


"okay"


dika kembali berjalan ke dalam ruang kerjanya sedangkan vani masuk ke dalam kamar anaknya.


malam harinya raffa benar tidur bersama kedua orang tuanya di dalam kamar mereka.


vani sedang membacakan dongeng sebelum tidur agar putranya mengantuk namun bukannya mengantuk raffa justru sangat antusias saat mendengarkan ceritanya.


sehingga bukan raffa yang terlelap melainkan vani yang merasa lelah karena membaca dan akhirnya ia tertidur di samping putranya.


"yah, mama kok malah tidur?" raffa melihat mata vani terpejam dan sudah berhenti membaca.


"kayanya mama kecapekan deh sayang, biar papa yang lanjutin ceritanya ya" ucap dika.


"iya pa" raffa mengangguk setuju sambil tersenyum.


akhirnya kisah yang vani baca dalam buku dongeng harus berlanjut dengan dika yang membacakannya untuk raffa hingga selesai.


"nah, sayang ceritanya udah selesai sekarang affa bobok ya cup! selamat malam jagoan papa jangan lupa baca doa ya sayang"


"iya papa"


raffa pun memejamkan matanya setelah ia membaca doa dan langsung tidur.


dika menatap anak dan istrinya yang sudah terlelap pulas di sampingnya lalu mengecup kening keduanya.


beberapa hari sudah berlalu, pagi kembali datang dengan sinar matahari yang cerah.


setelah vani selesai menyiapkan sarapan di meja makan, ia pun berjalan menuju kamar hendak membangunkan suaminya untuk segera bersiap pergi ke kantor.


"ceklekk...!!


vani membuka pintu lalu masuk ke dalam kamarnya melihat ranjang yang sudah kosong dan meyakini jika kedua lelaki itu pasti sudah bangun. ia pun merapikan tempat tidur yang sudah berantakan dengan mengganti sprei serta selimutnya.


setelah vani selesai merapikan ranjang, dika pun datang dari arah belakang langsung memeluknya.


"em sayang...!!" dika mengelus elus perut istrinya yang sudah mulai terlihat menonjol.


"mas kamu udah siap kan ayo kita sarapan dulu"


vani berbalik badan melihat suaminya yang sudah memakai pakaian kerja dengan rapi.


"tolong pakein dong sayang" dika menunjukkan dasi yang masih ia pegang.


"oke, oh ya mas maaf ya tadi malam aku ketiduran"


tangan dan mata vani fokus memasang dasi di kerah kemeja suaminya.


"iya enggak papa sayang lagian aku tau kamu pasti capek nemenin affa seharian main. kan aku udah bilang biarin aja affa main bareng luna sama sri kamu harus istirahat" dika merapikan helaian rambut istrinya.


"iya mas tapi kan aku juga pengen nemenin affa main. aku enggak mau entar anak aku lebih deket sama baby sitter dari pada sama mamanya sendiri"


"iya enggak papa dong sayang affa kan udah gede dia juga pasti tau gimana kondisi mamanya sekarang lagian kamu udah jagain affa dari sejak di dalam kandungan sampe sekarang."

__ADS_1


"mas yang namanya seorang ibu pasti bakal selalu jagain anaknya mau sampe kapan pun walaupun anaknya udah tua sekalipun"


akhirnya vani selesai memakaikan dasi suaminya.


"iya deh sayang. oh iya ngomong ngomong soal ibu aku jadi keinget mama deh udah lama ya kita enggak nelpon" dika baru saja teringat kepada mamanya.


"huh!! dasar kamu ya mas, anak apaan sih ini sampe lupa nelpon ibunya sendiri" vani duduk di tepi ranjang.


"bukan lupa sayang tapi enggak ingat"


"ya ampun itu sama aja mas dika"


"hehe ya beda lah sayang" dika masih membela diri.


"kemaren aku baru aja telponan sama mama loh mas"


"oh ya kapan, kok kamu gak ngajakin aku sih sayang?"


"em, kan kamu lagi kerja mas lagian aku nelpon mama buat ngabarin soal kehamilan aku. ternyata kamu juga belum ngabarin ke mama sama papa kalo affa bakalan punya adek"


"iya iya maaf sayang kan kemaren itu kondisi kamu lagi drop jadi fokus aku cuma ke kamu sama anak kita aja di tambah kerjaan kantor yang numpuk aku pusing. lagian aku juga enggak mau mama khawatir sama keadaan kamu kalo mama tau kita lagi dirumah sakit"


"iya sih mas, kamu sibuk banget ya di kantor?" tanya vani karena belakangan ini suaminya sering lembur di rumah.


"ya gitu deh sayang, kamu tau kan ray lagi cuti biasanya dia yang selalu ngerjain tujuh puluh persen kerjaan aku di kantor" keluh dika.


"bukan mas tapi sembilan puluh lima persen kerjaan kamu di kantor itu mas ray semua yang ngerjain. aku bingung deh kenapa ya papa malah jadiin kamu itu bos di kantor harusnya kan mas ray yang lebih cocok jadi bosnya tau"


"eh kamu tuh harusnya bersyukur sayang kalo aku yang jadi bosnya karena kamu bisa disebut sebagai istrinya bos. hehe"


"hem kamu tuh ya mas ada aja deh"


"kan emang bener sayang"


"oh ya mas, kapan kita pulang ke kampung buat liat anak yuli aku kan udah sembuh kemaren aja waktu periksa dokter bilang kondisi kandungan aku udah membaik dan kita udah boleh pergi" vani penuh harap.


"em tapi kerjaan aku masih banyak banget di kantor sayang" dika menatap istrinya dengan ragu.


"ya udah kalo gitu kamu kerja aja mas biar aku sama affa yang pergi di anter supir" vani melepaskan pelukan suaminya.


"eh eh, jangan dong sayang aku khawatir kalo kalian pergi sendirian" dika menolak ucapan istrinya.


"kamu yakin anak kita udah kuat di dalam sini sayang?" dika menatap istrinya.


"em" vani mengangguk yakin.


"kalo gitu ayo kita coba" dika tersenyum jahil.


"coba apa?" tanya vani bingung.


"ya di coba dong sayang, baby di dalam udah kuat goyangan atau belum" dika dengan kejahilannya.


"ih! kamu mesum banget deh mas, kamu masih punya waktu dua minggu lagi buat puasa tau"


"ayolah sayang, aku udah enggak tahan nih liat kamu yang makin hari makin cantik" goda dika membujuk istrinya.


"gombal" vani tak mau terpengaruh.


"serius sayang aura kecantikan kamu itu makin keluar sekarang" dika masih saja merayu.


"oh jadi maksud kamu selama ini aku enggak cantik gitu"


"hem, enggak tau deh sayang mama pelit banget papa mau nyari mama muda yang lain aja deh" dika ngambek mengalihkan pandangannya.


"oh ya udah sana cari yang lain, mama juga bisa cari papa muda yang lain" vani tak mau kalah.


"eh, emangnya kamu berani?" dika menyipitkan matanya.


"ya berani dong emangnya kamu doang yang bisa cari mama muda mas" wajah kesalnya terlihat lucu.


"pfft" dika menahan tawanya agar vani tidak semakin marah kepadanya.


"gak lucu"


"sayang" dika memeluk istrinya.


"udah ahh, sana kamu makan aja sendirian deh aku males" vani ikutan ngambek ia kembali berbaring di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"aku kan cuma bercanda sayang masa gitu aja kamu marah sih" dika dengan suara manja.


"udah sana mas aku mau istirahat aja di sini" vani mendorong tubuh suaminya yang masih duduk di tepi ranjang.


"aku juga mau nemenin kamu istirahat sayang" dika hendak berbaring.


"ya ampun mas liat baju kamu kusut lagi nih"


"biarin baju aku kusut yang penting muka kamu enggak kusut lagi liat aku"


"ihh! iya iya aku enggak marah lagi nih sekarang kamu pergi ya mas"


vani memaksa diri untuk tersenyum di hadapan dika.


"mana buktinya?" dika tidak percaya.


"bukti apalagi sih mas?"


"bukti yang ini sayang"


emuch! dika langsung melahap bibir mungil yang akhir akhir ini selalu cerewet itu.


"mas, hemph huh! huh! kamu gila ya mas. aku hampir kehabisan nafas nih"


vani menetralkan nafas yang tidak beraturan setelah dika melepaskan ciumannya.


dika langsung pergi karena vani terus saja menolak serta marah marah kepadanya.


"mas dika!! kenapa jadi dia yang ngambek sih?" vani mengikuti langkah dika keluar dari dalam kamarnya.


"mama?" raffa yang baru saja keluar dari dalam kamarnya melihat mamanya juga baru keluar dari dalam kamar.


"eh sayang affa udah mandi ya, uh!!! ganteng banget sih anak mama. cup!!" vani mengecup kening anaknya.


"ma ayo kita sarapan, em papa mana ma?" tanya raffa yang tidak melihat papanya.


"ayo sayang papa udah ada di meja makan duluan tuh"


"iya ma"


vani dan raffa berjalan bersama menuju meja makan dan melihat dika yang sudah menyelesaikan sarapannya.


"papa udah selesai?" raffa baru saja duduk di kursinya.


"udah sayang, papa buru buru harus ke kantor nih" dika meminum segelas susu hangatnya.


"mas, kok cepat banget sih makannya?"


vani bingung pasalnya baru beberapa menit yang lalu dika keluar dari dalam kamar.


"iya laperrr" jawab dika singkat.


vani menatap suaminya yang hanya meliriknya dengan wajah kesal itu.


vani tersenyum lalu mengecup punggung tangan suaminya yang hendak pergi bekerja namun dika hanya diam tidak seperti biasanya akan membalas dengan mengecup kening vani setelahnya.


raffa melakukan hal yang sama dan mendapat kecupan ringan di pipinya oleh dika.


"papa kok enggak cium mama sih?"


raffa yang biasanya selalu melihat keromantisan dari kedua orang tuanya itu pun bertanya.


"oh iya sayang papa lupa"


cup!! akhirnya dika mengecup kening vani dengan lembut.


vani tersenyum menerima kecupan hangat dari suaminya.


"papa pergi ya"


dika tersenyum pada putranya dan hanya melirik sekilas pada istrinya.


"iya hati hati ya pa"


"iya sayang"


"dahh papa!"

__ADS_1


"dah sayang!!"


dika masuk ke dalam mobil dan langsung berangkat menuju kantor karena sudah hampir terlambat sebab drama ngambeknya tadi.


__ADS_2