Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Menjadi sekretaris pengganti


__ADS_3

setelah rangga selesai mengecek cv vani gadis yang akan menjadi sekretaris barunya itu. jay memecah keheningan dengan bertanya kepada bosnya.


"bagaimana pak?"


"iya bagus! kamu boleh kembali"


"baiklah pak kalau begitu saya permisi"


"hem, silahkan"


rangga mengangguk mengizinkan jay untuk keluar.


jay sedikit menunduk menghormati bosnya lalu berbalik badan hendak keluar dari sana.


setelah berbalik badan jay tersenyum tipis ke arah vani lalu berjalan menuju pintu keluar.


melihat senyuman itu vani pun langsung membalasnya dengan tersenyum juga.


hah! awalnya vani mengira jika sejak tadi ia sedang berhadapan dengan seorang robot yang sangat kaku namun ternyata jay bisa tersenyum juga pikirnya.


sudah cukup lama vani menunggu perintah dari atasannya itu namun sejak tadi rangga hanya diam saja membiarkan vani berdiri di depannya seperti patung.


rangga mengabaikan keberadaan vani di sana karena ia terlalu fokus menatap layar di hadapannya.


kaki vani sampai terasa pegal karena berdiri menunggu perintah dari bosnya itu.


'huh! sakit banget kaki ku. kenapa dia sama sekali enggak minta aku buat duduk atau seenggaknya nyuruh aku keluar dari sini gitu biar ngelakuin sesuatu' batin vani mengomel kesal menatap rangga.


namun vani harus menahan rasa kesal di hatinya karena tidak mungkin marah marah kepada atasannya itu apalagi ini adalah hari pertama ia akan mulai bekerja.


vani berusaha untuk mengingatkan bosnya itu dengan cara berdehem sedikit keras di sana agar rangga ingat pada dirinya yang masih berdiri menunggu perintah.


"ehem!"


vani berpikir rangga akan menoleh namun ternyata tidak mendapat respon apapun.


"ehem ehem"


vani beberapa kali berdehem pun tetap tidak di respon oleh rangga hingga akhirnya gadis itu menyerah dan memberanikan diri untuk bicara.


vani harus menggangu bosnya yang sedang fokus bekerja itu sebab rangga melupakan keberadaan dirinya yang masih di sana.


"maaf pak, apa saya harus berdiri disini sepanjang hari?"


vani memberanikan diri untuk bertanya namun sepertinya kalimat itu juga terlalu berani di ucapkan vani kepada bosnya di hari pertama bekerja.


"ah! maaf ya saya lupa kalo kamu masih disini"


rangga dengan santai menatap vani sambil tersenyum.


'huh! seriusan dia beneran lupa ada aku? emangnya enggak liat apa aku segede gini disini' batin vani mengomel kesal namun ia harus menahannya.


"iya tidak papa pak, saya mengerti bapak pasti sangat sibuk" vani memaksakan diri untuk tersenyum.


"iya kamu benar, nyatanya memang begitulah"


rangga malah tersenyum sambil curhat.


'sabar vani sabar' batin vani menenangkan dirinya sendiri.


"hem" vani tetap tersenyum.


"ya sudah, sekarang kamu bisa langsung mulai bekerja saja ya. meja kerja kamu ada di depan ruangan ini"


rangga hanya menatap vani sekejap lalu kembali fokus pada layar di hadapannya.


"baik pak, terima kasih"


vani menunduk lalu berbalik badan hendak segera keluar dari dalam ruangan rangga.


'hah! cuma gitu aja? dari tadi kek' batin vani lalu melangkahkan kakinya.


saat vani hendak melangkah pergi rangga pun kembali memanggilnya membuat vani harus menghentikan langkah dan berbalik badan menghadap ke arah rangga.


"em, tunggu sebentar!"


ucapan rangga menghentikan langkah vani lalu ia berdiri dan bersandar di bagian depan meja kerjanya.


"iya pak, ada apa ya?"


"siapa nama kamu?"


rangga baru sadar dirinya belum mengetahui nama gadis itu padahal baru saja ia mengecek cv vani namun karena tidak terlalu fokus saat melihatnya rangga pun melupakan itu.

__ADS_1


"nama saya vani pak"


vani tersenyum dengan suara lembut sambil menahan sedikit kesal karena sejak tadi ia di abaikan bahkan tidak ada yang bertanya tentang namanya.


"hem baiklah vani kalo gitu selamat bergabung dan semoga kamu betah ya. saya ingin kamu memberikan kinerja terbaik kamu disini"


rangga tersenyum lalu kembali duduk di atas kursi kerjanya.


"baik pak terima kasih, saya pasti akan bekerja dengan sangat baik disini. kalau begitu saya permisi pak" vani menunduk.


"hem" rangga mengangguk.


vani pun berjalan keluar dari dalam ruangan bosnya.


setelah keluar dari dalam ruangan rangga vani pun duduk di atas kursi meja kerjanya yang berada di depan ruangan tersebut.


vani mulai melihat satu persatu berkas yang harus ia pahami agar bisa mengatur semua jadwal bosnya untuk beberapa hari ke depan.


setelah vani selesai mengecek jadwal bosnya yang padat itu ternyata pagi ini mereka akan melakukan pertemuan penting bersama para staf di dalam ruang meeting.


vani kembali mengetuk pintu ruangan rangga lalu berjalan masuk setelah mendapat izin.


tok! tok! tok!


"permisi pak"


vani berjalan masuk ke dalam ruangan dan sampai di depan meja kerja bosnya.


"ya, ada apa vani?" rangga menatapnya.


"pukul 09.30 nanti bapak akan ada meeting dengan para staf kantor"


vani mengingatkan jadwal dengan tersenyum.


"oh iya saya hampir lupa, baiklah tunggu sebentar"


rangga mengambil ponselnya berniat menelpon seseorang.


tut! tut! tut! tut!


saat telpon sudah tersambung rangga langsung berbicara kepada seseorang di seberang sana.


"halo dika lo dimana? cepetan datang ke ruangan gue sekarang! kita ada meeting"


rangga langsung mematikan sambungan telpon secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari sang adik.


"hem, kebiasaan banget sih ni anak"


dika mengomel pada telpon yang sudah di tutup sepihak oleh rangga. ia langsung berdiri dari duduknya lalu berjalan keluar dari dalam ruangan.


tidak lupa dika juga mengajak ray sekretaris kesayangannya yang sedang duduk di meja kerjanya itu untuk segera ikut menuju ruangan rangga.


"kenapa lo enggak ingetin gue kalo ada meeting pagi ini"


dika melirik ray dengan nada datarnya sambil berjalan.


"maaf pak tapi saya sudah mengatakannya sejak pagi tadi saat bapak baru sampai di kantor"


ray mengingatkan untuk membela diri karena memang begitu faktanya.


"iya kan harusnya lo bisa ingetin gue lagi sekarang"


"baik pak, maaf"


"satu lagi ya ray, gue udah bilang elo enggak usah panggil gue bapak kalo kita lagi berdua. emangnya lo pikir gue ini bapak lo"


dika merasa kesal karena sahabatnya itu selalu saja berbicara formal dengannya.


"maaf pak, tapi saat ini kan kita sedang berada di kantor"


ray akan tetap berbicara formal jika mereka berada di kantor karena ia selalu melakukan pekerjaannya dengan profesional.


"huh! terserah lo deh"


dika hanya pasrah dan terus berjalan menuju ruangan rangga.


ray adalah sahabat dika sejak masih sekolah hingga sekarang.


itulah kenapa dika ingin ray berbicara dengan menggunakan bahasa yang santai saja saat mengobrol dengan dirinya karena mereka berteman namun ray tetap akan memanggil dirinya dengan sebutan bos jika sedang berada di kantor.


tidak lama kemudian mereka sampai di dalam ruangan rangga.


dika langsung masuk ke dalam ruangan abangnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu di ikuti oleh ray yang berjalan di belakangnya.

__ADS_1


ceklek!


dika mendorong pintu ruangan itu lalu berjalan masuk dan bertanya kepada rangga mengapa mereka harus datang ke dalam ruangannya terlebih dahulu bukannya langsung menuju ke ruang meeting saja.


"kenapa lo masih disini sih bang bukannya langsung ke ruang meeting aja?"


dika mengomel kepada abang semata wayangnya itu.


"ah! karena sebelumnya gue mau ngenalin sekretaris baru gue dulu nih ke kalian biar entar lo berdua enggak banyak nanya lagi siapa dia"


rangga melirik ke arah vani yang sejak tadi hanya diam berdiri di samping mereka.


dika dan ray pun menoleh secara bersamaan menatap ke arah sekretaris itu.


melihat sosok pria tampan di hadapannya itu vani pun kembali berpikir jika dirinya pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya namun tidak ingat dimana mereka pernah bertemu.


'kayanya aku pernah liat cowok ini deh tapi dimana ya?' batin vani berpikir sambil menunduk.


akhirnya lamunan vani di buyarkan oleh ucapan dika yang langsung mengingat dirinya.


"kamu?? "


saat melihat vani dika langsung mengingat pertemuan pertama mereka yang saling berpelukan dramatis seperti di sinetron itu.


mendengar ucapan dika itu seketika vani kembali teringat pada lelaki di hadapannya yang merupakan seorang pria tampan yang pernah menabrak tubuhnya hingga hampir terjatuh di lobby kantor waktu itu.


namun pria itu juga yang sudah menolong vani agar tidak sampai terjatuh di hadapan banyak orang pada saat akan melakukan interview beberapa hari yang lalu.


"em, oh!"


vani tertegun dengan ekspresi kaget menatap dika ketika ia baru saja mengingatnya.


vani tidak menyangka jika pria yang membuat dirinya merasa kesal waktu itu adalah bosnya di kantor ini.


ia pun merasa malu dan canggung setelah mengingat hal itu. takut jika dika sempat mendengar ocehannya waktu itu.


"hem"


vani merasa bingung harus berkata apa, ia pun hanya senyum saja menanggapinya.


"oh! ternyata kalian udah saling kenal sebelumnya ya?"


rangga tersenyum melihat kecanggungan di antara keduanya.


"ya enggak sih bang, cuma dia pernah hampir jatuh karena gue jalan buru buru sampe nabrak dia waktu itu" dika menjelaskan.


"wah! parah lo dik badan segede gini nabrak cewek. ya pasti mental lah tuh cewek haha" rangga bercanda sambil tertawa.


"ppfftt!!" ray pun ikut tersenyum menahan tawa saat mendengarnya.


"oh iya, maaf ya waktu itu saya enggak sengaja karena sedang terburu buru"


dika tersenyum menatap vani di hadapannya.


melihat senyuman manis dari bosnya itu membuat vani semakin gugup dan bingung.


"em"


vani pun hanya tersenyum canggung sambil mengangguk pelan untuk membalasnya.


"ya udah kalo gitu ayo kita ke ruang meeting sekarang aja"


rangga menatap adiknya dan kedua sekretaris mereka itu.


"baik bos"


ray dan dika mengangguk lalu mengikuti langkah rangga begitu juga vani.


mereka berjalan menuju lift dan masuk ke dalam ruang meeting bersama.


saat rangga dan dika masuk ke dalam ruangan itu semua karyawan yang sebelumnya sudah berada di dalamnya pun langsung berdiri dari duduk masing masing lalu menunduk memberi hormat kepada atasan mereka yang baru saja datang.


"selamat pagi pak" sapa mereka bersamaan.


"pagi semuanya, silahkan duduk"


ujar rangga sebagai pemimpin meeting hari ini setelah ia duduk di atas kursi khususnya.


setelah rangga dan dika duduk di kursinya lalu mempersilahkan para karyawan untuk kembali duduk barulah mereka kembali duduk di kursi masing masing.


meeting pun di mulai setelah semuanya duduk.


dalam meeting kali mereka akan membahas tentang plan perilisan produk baru dan strategi pemasaran produk itu sesuai keahlian masing masing stafnya.

__ADS_1


setelah kurang lebih satu jam berada di dalam ruang meeting, dika dan rangga pun keluar lalu kembali ke dalam ruangan masing masing.


__ADS_2