
saat keluarga kecil itu sedang asik bersenda gurau di dalam mobil. entah apa yang terjadi sepertinya supir sedang berusaha untuk menghindari sesuatu yang melintas di depan mobil secara tiba tiba membuat mobil yang di tumpangi oleh dika berserta anak dan istrinya itu masuk kedalam sebuah jurang yang tinggi.
"aaakkkhhh" teriak keempat orang di dalamnya saat mobil terperosok ke bawah.
beruntung pada saat itu mobil menabrak sebuah pohon besar di dalam jurang sehingga membuat mobil berhenti karena tersangkut di sana. jika tidak mungkin saja mobil mereka akan jatuh sampai di dasar jurang dan tidak dapat di temukan.
setelah mobil tersangkut terlihat di dalam mobil itu tiga orang dewasa di dalamnya sudah tidak sadarkan diri dengan luka di bagian kepala mengeluarkan banyak darah. sedangkan raffa kecil sedang menangis di dalam pelukan papanya.
dika memeluk putranya dengan erat sehingga raffa tidak terlepas dari dalam pelukannya.
jika sampai raffa terlepas dari dalam pelukan papanya itu mungkin saja akan membuatnya juga terkena benturan keras saat mobil lepas kendali.
"mama! papa! hem,,, aaaa,,," raffa hanya bisa menangis karena kedua orang tuanya sudah tidak sadarkan diri dengan banyak darah yang keluar dari kepala keduanya.
tidak lama setelah kejadian itu beberapa pengendara lain yang juga melintas disana melihat ada sebuah mobil yang masuk ke dalam jurang. mereka langsung mengubungi polisi agar segera mengamankan mobil itu dan membawa pengendara yang sudah tidak sadarkan diri di dalamnya menuju rumah sakit.
polisi yang datang bersama dengan mobil ambulance pun langsung membawa ke tiga korban kecelakaan yang sudah tidak sadarkan diri itu menuju rumah sakit terdekat. sedangkan baby raffa yang masih menangis pun juga ikut di bawa untuk mengecek kondisinya.
rangga adalah orang pertama yang di hubungi oleh pihak polisi untuk memberi kabar tentang kecelakaan dika sebagai keluarga terdekat.
mendengar kabar kecelakaan adiknya itu rangga pun langsung bergegas menuju rumah sakit. tidak lupa ia juga menghubungi kedua orang tuanya dan keluarga vani.
kak aida tentu sangat kaget mendengar kabar kecelakaan vani dan dika pasalnya baru saja mereka pulang dari kampung halamannya itu.
semua keluarga yang mendengar kabar kecelakaan dika dan vani pun langsung bergegas menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan keduanya terlebih lagi mereka juga sangat khawatir dengan keadaan raffa yang masih kecil namun ikut dalam kecelakaan yang terjadi.
sesampainya di rumah sakit rangga melihat raffa sedang menangis di dalam gendongan salah seorang polisi yang ikut mengantar mereka ke rumah sakit itu.
"raffa sayang, sini sama paman nak" rangga pun langsung menggendong dan memeluk tubuh mungil keponakannya.
"cup cup cup jangan nangis ya sayang"
rangga berusaha untuk menenangkan keponakannya yang masih menangis dengan mengusap lembut punggung dari putra adiknya itu.
"apa ada yang sakit sayang?" rangga memeriksa seluruh tubuh raffa untuk memastikan keadaannya baik baik saja dan tidak ada luka atau pun memar di bagian tubuhnya.
meski tidak terdapat luka di bagian tubuh raffa namun rangga tetap meminta dokter untuk memeriksa keadaan keponakannya itu karena ia takut mental anak laki laki yang masih berusia dua setengah tahun itu mengalami trauma yang berat.
dokter mengatakan jika keadaan raffa baik baik saja ia hanya merasa syok dan kaget dengan apa yang terjadi hingga terus menangis.
raffa yang tidak melihat wajah mama dan papanya merasa khawatir dan tidak tenang mungkin saat ini raffa sangat ingin memeluk ibunya namun vani dan dika masih berada di ruang ICU dan belum sadarkan diri.
kondisi ketiganya kritis termasuk supir yang membawa mobil itu juga mengalami luka yang cukup parah.
__ADS_1
saat ini mereka sudah di pindahkan ke dalam ruang perawatan masing masing namun dari ketiga korban kecelakaan itu kondisi vani yang terlihat paling parah. ia mengalami pendarahan yang cukup serius sehingga membutuhkan transfusi darah secepatnya.
rangga pun dengan cepat menawarkan diri untuk di periksa darahnya apakah cocok dengan vani atau tidak agar ia dapat melakukan transfusi darah secepatnya.
beruntung golongan darah rangga cocok sehingga ia tanpa ragu mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan nyawa adik iparnya itu.
setelah mendapatkan transfusi darah dari rangga, kini kondisi vani sudah melewati masa kritisnya namun ia belum sadarkan diri hingga sekarang begitu pun dengan dika yang juga belum sadar.
beberapa jam berlalu, keluarga yang sudah datang pun menunggu hingga kondisi vani dan dika membaik.
mereka sudah merasa lebih tenang saat keadaan vani dan dika sudah melewati masa kritis masing masing meskipun belum ada yang sadarkan diri.
sedangkan raffa sudah di bawa pulang oleh rangga agar ranty dan rara saja yang akan menjaganya di rumah karena saat ini raffa harus banyak istirahat.
keesokan harinya ray dan yuli pun sudah sampai di rumah sakit untuk melihat keadaan vani dan dika. mereka langsung berangkat dari london kembali ke negaranya setelah mendapat kabar bahwa vani dan dika mengalami kecelakaan mobil.
di dalam ruangan dika mulai tersadar dan menggerakkan jari tangannya. mama dan papa hardi yang melihat itu pun langsung memanggil dokter untuk memastikan kondisi dika baik baik saja.
secara perlahan dika membuka matanya dan menatap lurus ke atas langit langit ruangan itu kemudian ia juga berusaha untuk menoleh ke samping. matanya menatap lekat pada dokter serta keluarganya yang berada disana.
melihat putranya yang sudah sadar itu mama ratih pun mendekati bankar dika.
"dika, kamu udah sadar nak?" tanya mama ratih yang mendekat lalu mengusap kepala putra bungsunya itu dengan lembut.
"papa, bang rangga?" panggilnya juga.
dika pun menoleh lagi ke samping ada ray yang sedang berdiri juga menatap ke arahnya.
"ray, radit" gumamnya pelan dika kembali memejamkan matanya karena merasa sangat pusing di bagian kepalanya.
"dika lo baik baik aja kan?" rangga juga mendekat karena ia melihat adiknya yang terus memegangi bagian kepalanya seperti merasakan kesakitan disana.
"bang siapa mereka?" tanya dika kepada rangga saat ia menatap secara bergantian yuli dan arin yang juga berada disana.
"maksud lo apa dika emang lo enggak kenal sama mereka, ini tuh yuli sama arin mereka ada disini sekarang" ujar rangga membuat dika kembali memegangi kepalanya yang terasa sakit karena mencoba untuk mengingatnya.
"gue enggak kenal"
"kamu serius dika?"
"bang dika jangan bercanda dong, masa enggak kenal sama aku sih?" yuli menatap dika berharap kalau abang iparnya itu hanya bercanda seperti biasanya namun tak mungkin juga pikirnya apalagi dika baru saja sadar.
"aarrgghhh, sakit!" dika meringis kesakitan namun ia terus mencoba untuk mengingatnya.
__ADS_1
"dika, kamu enggak papa kan nak?" mama ratih khawatir karena melihat dika benar benar kesakitan.
semua keluarga yang berada di sana pun kembali cemas karena dika terus menerus berteriak menahan rasa sakitnya.
"dokter gimana ini, dika kenapa dok?" tanya rangga kepada dua orang dokter yang sedang berada di sana.
segera dokter radit menyuntikkan obat penenang agar dika tidak terus menerus merasa kesakitan hingga akhirnya dika kembali tertidur setelah dokter menyuntiknya.
"dokter radit, sepertinya pasien mengalami amnesia di sebagian ingatannya" ujar dokter farhan yang sedang berdiskusi dengan rekannya dokter radit.
"iya saya juga berpikir demikian dok karena dari hasil pemeriksaan sebelumnya. terdapat beberapa luka di bagian saraf pasien" dokter radit pun berpikir hal sama.
"apa pasien pernah mengalami kecelakaan yang parah sebelumnya?" tanya dokter farhan kepada rangga.
"iya dokter, dika memang pernah mengalami kecelakaan sebelumnya hingga mengalami koma hampir dua bulan. tapi kecelakaan itu sudah cukup lama sekitar tiga tahun yang lalu" jawab rangga.
"begini pak rangga sepertinya saat ini pasien mengalami amnesia atau hilang ingatan sebagian. terlihat dari interaksi yang baru saja pasien katakan dia mengingat beberapa orang di sekitarnya namun ada beberapa orang yang tidak ia kenali juga. terlebih lagi pasien sudah pernah mengalami kecelakaan yang parah sebelumnya hingga mengakibatkan dirinya koma. hal itu membuat luka pada bagian saraf yang pernah rusak menjadi semakin parah" dokter farhan menjelaskan kepada keluarga pasien.
"lalu kapan adik saya bisa kembali mengingat semuanya lagi dokter?" tanya rangga dengan cemas.
"belum dapat di pastikan pak karena ingatan pasien dapat kembali bertahap dari waktu ke waktu secara perlahan. hilang ingatan sebagian ini bisa terjadi dalam jangka pendek atau panjang yang berarti bisa saja pasien kembali mengingat dalam waktu dekat atau dalam waktu yang lama. pasien akan mengingat potongan demi potongan ingatannya itu seperti puzzle sebelum akhirnya ia berhasil mengingat semuanya" jelas dokter.
"em, bagaimana kalau dika terus menerus akan merasa kesakitan seperti itu dok?" tanya ray.
"untuk saat ini saya harap keluarga pasien dapat mengerti kondisinya. tolong biarkan saja dulu pasien hanya mengingat sebagian orang yang memang dia ingat saja saat ini. jangan terlalu memaksakan pasien untuk segera mengingat semuanya secara langsung karena hal itu hanya akan memperburuk keadaan pasien nantinya" dokter memberi saran.
"maksud dokter kami tidak boleh memberi tahu tentang masa lalu yang tidak bisa dia ingat?" tanya ray lebih jelas.
"iya pak, jangan bertanya atau memberi tahu tentang sesuatu yang pasien tidak bisa mengingatnya saat ini. karena hal itu akan membuat otaknya berpikir secara keras dan tentu juga tidak baik untuk sarafnya yang sedang rusak saat ini" jelas dokter farhan dengan perlahan agar keluarga pasien dapat mengerti keadaan pasiennya itu.
"begini pak rangga, dika akan merasa bersalah kepada orang yang dia lupakan saat ini maka ia akan berusaha mengingat orang tersebut, kalau dika memaksakan untuk mengingat secara langsung akan semakin memperburuk keadaan saraf yang rusak. saya harap keluarga dapat menjaga agar dika tidak memaksakan ingatannya untuk segera kembali saat ini" jelas dokter radit.
"baik lah dokter, kami mengerti dan akan berusaha untuk menjaganya" rangga mengangguk.
"setelah pulang dari rumah sakit pun dika harus tetap melakukan pengobatan berjalan dan kontrol secara rutin setiap minggu di rumah sakit agar kita dapat melihat perkembangan dari keadaan dika pak"
"baik dokter"
"kalau begitu saya permisi dulu" dokter farhan pun keluar dari dalam ruangan dika.
"terima kasih dokter"
rangga dan ray mengangguk.
__ADS_1