Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 212


__ADS_3

di rumah yang berbeda ternyata bukan hanya dika saja yang merasa khawatir namun yuli juga sedang cemas menantikan kepulangan suaminya yang belum juga pulang hingga larut malam.


yuli tidak menelpon dika untuk bertanya tentang suaminya karena sore tadi ray sudah mengabari dirinya lebih dulu.


ray mengatakan jika ia akan pulang terlambat dan dirinya juga sedang tidak bersama dengan dika.


"ih!! mas ray enggak mungkin kan sampe jam segini masih ketemu klien. apalagi katanya kalo sekarang dia lagi enggak bareng sama bang dika terus sama siapa dong" kesal yuli.


sejak tadi ia melirik jam di dinding yang sudah hampir menunjukkan pukul 02. 00 pagi. berulang kali yuli juga mencoba untuk menelpon suaminya namun tidak ada jawaban sehingga membuatnya membuang ponselnya sembarang.


"ish!! kesel, udah deh aku tidur aja kasian baby arka kalo aku sampe sakit karena nungguin mas ray pulang" yuli pun akhirnya tidur di samping putranya.


di dalam sebuah kamar hotel ray sedang tidur nyenyak sambil memeluk hangat tubuh seorang wanita yang pernah mengisi hatinya itu. ia baru saja menghabiskan malam indah bersama dengan wanita yang pernah dicintainya membuat tidurnya terlihat sangat nyenyak.


pagi dingin menyapa, hari ini adalah hari libur kesempatan untuk dika kembali tidur setelah selesai melaksanakan sholat subuhnya.


"ya ampun mas dika kamu kok tidur lagi sih sayang. ayo bangun liat tuh affa aja udah bangun enggak tidur lagi sehabis sholat, sana gih temenin anak kamu main mas. emang kamu enggak mau joging hari ini?" vani menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya.


"aduh, masih ngantuk sayang besok aja jogingnya ya lagian di luar tuh dingin banget enakan juga disini joging bareng kamu apalagi sambil meluk kalian" dika merayu dengan memeluk tubuh vani dan perut buncitnya.


"ih!! lepasin mas aku tuh mau masak tau" vani menarik lengan suaminya namun dika tidak mau melepaskannya.


"enggak usah deh sayang kamu disini aja ya nemenin aku" dika tetap memeluk istrinya.


"hem mulai deh mode manjanya kamu tuh udah menjelang tua juga masih aja manja mas"


"biarin sayang, lagian aku juga kaya gini kan cuma sama kamu doang" jurus andalan dika untuk membela diri.


"iya kalo sampe ada yang lain juga aku sunat itu kamu sampai habis mas" vani melotot ke arah suaminya.


"ampun nyonya enggak ada yang lain kok sayang" hehe dika nyengir menanggapinya.


"em" vani memicingkan mata.


"eh sayang, kayanya udah lama ya papa enggak jengukin kamu di dalam sini. papa kangen nih kamu juga kangen sama papa kan? iya dong..." dika mendekatkan wajahnya di perut vani seolah olah sedang berbicara dengan bayinya.


"ih! apaan sih mas baru juga kemaren" protes vani memanyunkan bibirnya.


"masa sih sayang kok perasaan udah lama ya" goda dika terus menerus.


"udah ahh mas! aku mau masak aja"


vani hendak berdiri dari ranjang namun dika menarik tangannya hingga terjatuh dalam pelukan suaminya itu.


"sebentar doang sayang" dika mengecupi bagian tengkuk hingga ke punggung vani membuatnya merasa geli.


"mas, aku lagi capek ahh!" tolak vani.


"sayang enggak boleh nolak suami loh dosa tau"


satu satunya ucapan yang sangat ampuh bagi dika untuk membuat istrinya tidak lagi protes dengan keinginannya.


"huhh!! iya terserah kamu deh"


vani menghembuskan nafasnya dengan berat bukannya ingin menolak namun ia benar benar sedang tidak mood.


"nah gitu dong" dika tersenyum penuh kemenangan dan hendak melanjutkan keinginannya.


"aduh aw!! sakit mas ini perut aku keram lagi kayanya" vani meringis.


"sayang kamu serius sakit?" dika merasa khawatir.


"iya mas sakit sshh!"


vani sebenarnya hanya berpura pura saja agar ia dapat menghindari suaminya itu.


"maaf ya sayang" dika menatap wajah istrinya yang sedang meringis.


"iya enggak papa kok mas makanya kamu jangan sering sering minta ya. perut aku kan masih sering sakit nanti kalo aku pendarahan lagi gimana" vani memelas.

__ADS_1


"hem, iya deh sayang maafin papa ya" dika mengelus perut istrinya.


vani tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil menjinakkan suaminya.


di dalam kamar mandi sebuah hotel itu naya sedang duduk di bawah guyuran air shower sambil terus menangis.


"aarrghh!!! kenapa ini terjadi kenapa?!!" teriak naya frustasi sambil memukul dinding di sampingnya.


naya tidak menyangka mahkota yang selalu ia jaga selama ini harus di renggut oleh pria yang pernah mencintainya namun ia tolak karena lebih memilih pria lain yang juga berakhir menyakiti dirinya.


jika saja waktu itu ray masih sendiri mungkin naya akan meminta ray untuk kembali mencintainya lagi namun saat naya sadar bahwa ray adalah pria yang terbaik untuknya ia harus menerima kenyataan jika ray sudah menikah dan tidak mungkin kembali mencintainya.


ray terbangun dari tidurnya dan menatap di sekeliling kamar itu.


"aarrgh!!! apa yang terjadi? dimana aku?" ray memegangi kepalanya yang masih terasa berat.


"aakkhh!!"


ray mendengar teriakkan naya dari dalam kamar mandi membuatnya semakin tersadar dengan apa yang sudah terjadi.


"naya?" gumam ray lalu bergegas memakai kembali pakaiannya yang sudah lusuh.


setelah itu ray berjalan mendekati kamar mandi hendak menghampiri naya yang sedang berteriak.


tok! tok! tok!


"naya kamu baik baik aja?"


ray mengetuk pintu kamar mandi namun tidak ada jawaban membuat ray merasa khawatir.


"naya tolong buka pintunya" ray terus mengetuk pintu.


"pergi!!! tolong pergi!!" teriak naya dari dalam kamar mandi.


"naya saya minta maaf tolong buka pintunya"


akhirnya naya pun membuka pintu kamar mandi lalu keluar dalam keadaan basah kuyup dengan sekujur tubuh yang terasa dingin.


"saya baik, sangat baik pak ray"


naya yang sebenarnya mengatakan sesuatu kebalikan dari apa yang sedang ia rasakan di hatinya.


"naya saya,,," ucapan ray menggantung saat naya terus berjalan melewatinya.


"tolong biarkan saya sendiri sekarang"


naya berbicara dingin seperti dingin tubuhnya yang sudah di guyur air menjelang subuh itu.


"jangan seperti ini naya, saya minta maaf tolong jangan sakiti diri kamu sendiri kaya gini ya"


ray memegang kedua pundak naya yang hampir terjatuh.


"terus saya harus gimana, harus..."


bruk! naya jatuh pingsan.


"naya"


ray langsung membawa tubuh naya menuju ranjang dan merebahkannya di sana.


dengan ragu ray harus kembali membuka pakaian naya yang sudah basah kuyup agar naya tidak kedinginan.


"maaf naya" ucap ray saat menggerakkan tangannya.


setelah memakaikan handuk kimono yang tebal di tubuh naya. ray pun menarik selimut untuk menutupi tubuh naya yang terasa dingin.


sepuluh menit berlalu akhirnya naya kembali siuman.


"naya kamu udah sadar?" ray mendekat.

__ADS_1


naya langsung duduk dari tidurnya saat melihat ray di hadapannya. ia hanya diam sambil terus meneteskan air matanya tanpa bersuara.


"maafin saya ya ini terjadi pasti karena perbuatan orang orang tidak bertanggung jawab itu" ray memeluk naya.


"pergi!" naya mendorong tubuh ray.


setelah naya mengganti pakaiannya dengan pakaian baru yang sudah ray belikan. ia pun memutuskan untuk segera kembali pulang ke rumahnya.


naya berjalan hendak keluar dari dalam kamar itu.


"saya antar ya" ray yang masih khawatir melihat wajah pucat naya pun menawarkan diri.


naya hanya diam dan mengikuti permintaan ray yang hendak mengantarnya pulang.


mobil melaju menuju rumah naya, namun sebelum sampai di rumahnya naya menghentikan mobil ray.


"stop! saya turun di sini pak. terima kasih" ucap naya saat mobil masih berada di pinggir jalan.


"tapi dimana rumah kamu?" tanya ray bingung sebab naya hanya turun di pinggir jalan.


naya tidak menjawab dan segera turun dari dalam mobil.


"naya?" naya pergi meninggalkan ray yang bingung.


setelah mengantarkan naya di tempat itu ray pun segera pulang ke rumahnya.


ray semakin khawatir karena istrinya pasti akan marah karena melihat dirinya pulang pagi.


sesampainya di rumah ray bergegas masuk secara perlahan ke dalam kamarnya. ia melihat istri dan anaknya yang masih tertidur.


"huh!! syukurlah"


ray menghembuskan nafas lega karena tidak akan mendapat banyak pertanyaan dari istrinya. ia segera mengganti pakaiannya dengan piyama lalu berbaring di samping putranya.


yuli yang baru saja terbangun dari tidurnya pun merasa bingung saat melihat suaminya sudah berada di samping putranya.


"hem kapan pulangnya?"


yuli bertanya tanya sejak kapan suaminya itu pulang dan sekarang sudah tidur di samping mereka pikirnya karena ia sama sekali tidak mendengar suara apapun setelah tertidur pukul dua tadi.


yuli melihat jam di dinding menunjukkan pukul 06:45 pun langsung kaget.


"ya ampun, aku telat bangun. pasti karena tadi malam nungguin mas ray sampe begadang deh ini" yuli menepuk jidatnya.


"hem, biarin aja deh pasti mas ray juga masih ngantuk"


yuli yang mengira suaminya itu pasti masih lelah karena lembur bekerja pun membiarkannya tetap tidur lalu ia beranjak dan berjalan keluar dari dalam kamarnya menuju dapur hendak segera membuat sarapan.


ray yang merasa istrinya sudah keluar dari dalam kamar pun kembali membuka matanya yang sejak tadi terpejam karena ia hanya berpura pura tidur agar tidak mendapat banyak pertanyaan dari istrinya saat itu.


"aakkhh!!!"


ray menarik kasar rambutnya dengan kedua tangan hingga rambutnya berantakan.


"gue harus gimana sekarang apa gue harus ceritain semuanya atau gue diam dan lupain aja apa yang udah terjadi" ray merasa frustasi.


entah apa yang harus dilakukannya sekarang ray benar benar merasa bersalah kepada istri dan juga putranya. ia bahkan tidak bisa berpikir jernih saat ini karena tiba tiba saja ray merasa jika otak geniusnya menjadi terbodoh.


"apa yang harus gue lakuin?" ray masih bingung harus mengatakan apa kepada istrinya.


jika ray berkata jujur kepada istrinya maka yuli pasti akan marah dan bisa saja membenci dirinya atau bahkan juga meninggalkannya karena sudah mengkhianati cinta tulus istrinya itu namun di sisi lain jika ia berbohong apakah mungkin ray bisa menutupi semua yang sudah terjadi dari istrinya itu selamanya.


"apa yang harus gue lakukan sekarang?"


"siapa yang udah ngelakuin ini semua?"


ray kembali berpikir bahwa ini semua pasti sudah di rencanakan oleh seseorang yang ingin menghancurkan nama baiknya


"argh!! siapapun orangnya tetap aja gue udah ngelakuin itu sama naya. bodoh banget sih gue" batin ray frustasi namun ia tidak mungkin berteriak di dalam kamarnya.

__ADS_1


ray sangat yakin jika ada seseorang yang sengaja melakukan ini semua kepadanya dan juga naya.


"kalo gue tau siapa dalangnya gue habisin tuh orang huh!!!" geram ray mengepalkan tangannya.


__ADS_2