Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab171


__ADS_3

vani kembali membuka matanya karena tersadar jika pria yang ada di hadapannya saat ini adalah suaminya sendiri sehingga ia tidak harus menutup matanya.


"vani! ayo sini kita berenang bareng seger banget nih" ajak dika yang sudah berada di dalam kolam.


"enggak deh pak saya udah mandi tadi pagi" ujar vani menolak.


mendengar kata mandi tadi pagi dika pun langsung keluar dari dalam kolam renang dan menarik vani ikut bersama dengannya.


"oh tadi pagi ya! kamu enggak liat ini udah sore. ayo mandi sekarang" dika menggenggam tangan vani menariknya untuk ikut.


"ih! enggak mau pak. saya mau mandi di dalam kamar mandi aja deh" vani terus menolak.


"kelamaan, udah ayo saya mandiin kamu"


dika langsung mengangkat tubuh vani ala bridal style menuju kolam lalu melompat masuk ke dalam bersama vani yang berada dalam gendongannya.


"aaakkhh" vani berteriak sambil memeluk erat erat tubuh dika agar ia tidak terjatuh.


byurr...!!!! keduanya masuk ke dalam kolam bersamaan.


"huh! huh!! ih pak dika jahat banget deh, tuh kan pakaian saya jadi basah semua" vani menepuk dada suaminya.


"ya habisnya kamu jorok banget sih enggak mau mandi dari tadi pagi" dika tidak mau di salahkan.


"tapikan saya mau mandi di dalam aja"


"emangnya kenapa kalo sama saya di sini?"


dika mendekat lalu memeluk pinggang vani membuat keduanya saling bertatapan.


vani hanya diam saja menatap mata suaminya, dengan perlahan dika mendekatkan wajah mereka hendak menyatukan bibir keduanya.


tiba tiba saja vani menyipratkan air ke wajah dika membuatnya tersadar.


"dasar pak dika mesum" uekk vani mendorong tubuh dika agar menjauh lalu berbalik badan hendak keluar dari dalam kolam namun dika langsung menahannya.


"eh! mau kemana kamu hem?"


"lepasin pak"


"enggak akan"


dika pun menyipratkan air kepada vani hingga akhirnya mereka menghabiskan waktu di dalam kolam renang itu sampai malam.


keesokan harinya, siang menjelang sore yang cerah itu setelah menyelesaikan pekerjaan di kantor dika dan vani pun memutuskan untuk segera pulang karena vani sudah sangat merindukan raffa dan tidak sabar ingin segera memeluk putra kesayangannya itu.


selama beberapa hari tidak bertemu dengan putranya membuat vani sangat merindukan pangeran hatinya.


dika pun mengajak vani untuk pulang ke rumah utama karena rangga dan ranty berserta anak anak juga sedang berada di rumah papa dan mama mereka saat ini.


sesampainya di rumah dika langsung memberikan mainan yang ia bawa kepada anak anak yang sudah menyambut kepulangan mereka.


"ini mainan buat kalian sayang" ujar dika, mainan itu membuat ketiganya merasa senang menerimanya.


"makasih om ganteng" emuach


kecup rara di pipi dika meski sudah beranjak remaja namun rara masih saja bersikap manja kepada om kesayangannya itu.


"iya sayang sama sama" dika tersenyum membalasnya.


sebenarnya rangga sudah melarang rara untuk bersikap manja seperti itu kepada dika namun kebiasaannya itu sulit untuk rara lupakan. rara menganggap jika dika dan papanya itu sama saja sebagai sosok seorang ayah untuknya jadi rara tidak ambil pusing dengan larangan papanya itu.


memang benar tidak ada yang melarang seorang anak untuk bersikap manja kepada papanya. terlebih lagi seorang anak perempuan yang selalu menganggap papanya adalah cinta pertama untuknya.


karena seorang ayah adalah satu satunya pria yang akan selalu menyayangi dan mencintai putrinya dan tidak akan pernah menyakitinya sampai kapan pun.


"makaci papa" raffa juga memeluk dan mengecup kedua pipi papanya.


"iya sayang. raffa main sama mbak rara dulu ya papa mau mandi sebentar nih" dika tersenyum kepada putranya.

__ADS_1


"ciap bos" raffa mengangkat tangannya untuk hormat.


melihat interaksi yang baik di antara anak dan ayah itu membuat papa hardi dan mama ratih serta yang lainnya juga tersenyum bahagia. meskipun dika masih belum mengingat putranya setidaknya sekarang dika sudah bisa menerima raffa yang memanggil dirinya dengan panggilan papa itu.


dika berjalan menuju kamar hendak segera membersihkan diri meninggalkan vani dan yang lainnya disana.


"ehem, kayanya ada yang mulai jatuh cinta untuk kedua kalinya sama orang yang sama nih mas"


ranty dan suaminya melirik vani yang masih berada di dekat mereka saat itu.


"iya nih sayang bau baunya bakal ada acara lamaran kedua hehe"


rangga tersenyum jahil menatap adik iparnya yang tersenyum malu di sana.


"apaan sih mbak, aku capek nih mau istirahat dulu ya"


vani dengan wajah merahnya berjalan tertunduk menuju kamarnya.


"eh, awas jangan sampe salah masuk kamar ya vani" ledek rangga pada vani yang sudah berjalan menjauh.


"hem, lucu banget ya sayang mereka udah kaya anak remaja yang lagi jatuh cinta aja deh"


"iya mas. syukur kalo hubungan mereka udah membaik semoga aja setelah ini dika bakal ingat semuanya lagi"


"aamiin" sahut rangga serta mama dan papa mereka yang masih berada di sana.


malam harinya setelah keluarga wijaya selesai makan malam bersama. vani masuk ke dalam kamar hendak menemani putranya yang akan tidur karena sudah mengantuk.


vani sedang mengusap lembut kepala raffa yang sudah berbaring di atas ranjang itu.


"ma, afa pengen deh bobok cama papa duga" minta raffa kepada mamanya.


"em, jangan sekarang ya sayang" vani sudah mengantuk.


"tapi affa mau bobok cama papa cama mama cekalang"


"besok aja ya sayang soalnya papa udah tidur" vani mencoba memberi pengertian kepada putranya.


"ya udah, ayo ma kita ke kamal papa aja" ajak raffa menarik narik tangan ibunya sambil merengek.


padahal sebelumnya raffa tidak pernah secengeng ini mungkin benar ia terlalu merindukan papanya itu.


"tapi sayang, affa jangan ganggu papa ya"


vani mau tidak mau harus ikut berjalan mengikuti langkah kaki kecil putranya yang mengajaknya keluar dari dalam kamar mereka lalu berjalan menuju pintu kamar papanya yang berada di samping kamar mereka.


tok...!! tok..!! tok....!!! raffa mengetuk pintu kamar papanya.


"papa!!! papa!!!" panggil raffa dari luar kamar sambil terus mengetuk pintu kamar dika.


ceklek!!


tidak lama pintu kamar terbuka terlihat dika yang sudah mengenakkan piyama tidurnya karena hendak beristirahat.


"iya ada apa vani?" tanya dika menatap vani.


"em... ini pak... raffa ..." vani merasa canggung bingung harus bagaimana mengatakannya.


"eh jagoan papa, ada apa sayang?" dika berlutut agar mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil putranya.


"affa mau bobok cama papa cekalang"


"oh, raffa mau bobok bareng papa ya?" dika yang sedang berlutut itu pun memegang kedua sisi pundak putranya.


"he' emm" raffa mengangguk anggukkan kepalanya.


"ya udah ayo kita masuk"


dika hendak menggendong tubuh raffa namun raffa menahan tangan papanya dan menarik tangan mamanya juga untuk ikut masuk kedalam.

__ADS_1


"mama duga ya pa" pinta raffa.


dika menatap vani dan raffa secara bergantian.


"itu.. em.." vani hanya menunduk dengan canggung.


"affa mau bobokna cama mama cama papa duga. boleh tan pa?" wajah raffa memelas meminta persetujuan.


berharap jika kedua orang tuanya akan menuruti keinginan dirinya itu untuk tidur bersama.


"em, sayang. sekarang affa aja ya yang bobok bareng papa. soalnya mama masih ada kerjaan lain nih"


vani pun berlutut membujuk putranya dan memberikan sebuah alasan untuk menolak karena melihat dika yang hanya diam saja.


"tenapa cekalang mama kelja telus cih. mama udah endak cayang cama afa lagi ya. hemm... em..." raffa menangis di hadapan mama dan papanya itu.


"bukan gitu sayang. mama sayang banget sama affa tapi...mama...." hiks! hiks!


vani memeluk tubuh putranya sambil menangis. ia bingung harus bagaimana cara menjelaskan kepada putranya yang masih kecil itu.


"maafin mama ya sayang"


keduanya menangis sambil berpelukan disana.


dika yang melihat anak dan ibu menangis di hadapannya itu pun merasa sangat sedih di dalam hatinya.


"sayang, affa jangan nangis lagi ya mama juga boleh ikut kok bobok bareng kita"


dika menghapus air mata di pipi gembul putranya lalu menggendong tubuh raffa dengan satu tangannya yang lain menggenggam tangan vani mengajaknya agar ikut melangkah masuk ke dalam kamar yang sebenarnya adalah kamar mereka bersama.


vani yang tangannya di genggaman oleh dika pun hanya diam dan ikut berjalan masuk.


setelah sampai di dalam kamar itu, vani menatap kearah sekelilingnya terlihat barang barang di dalam kamar yang sudah cukup lama tidak pernah ia masuki lagi.


seluruh isi kamarnya masih sama seperti dulu hanya saja sekarang semua foto mereka yang terpajang di dinding maupun di atas nakas sudah tidak ada lagi. lemari pakaian pun sudah banyak yang kosong hanya terdapat pakaian dika di dalamnya karena seluruh pakaian vani sudah di pindahkan ke dalam kamar sebelah.


vani menatap sendu ke arah ranjang yang menjadi saksi bisu bagaimana ranjang itu bergoyang setiap malamnya karena perbuatan mereka di atasnya. ingin tertawa namun vani merasa sedih karena saat ini jangankan bermesraan seperti dulu bahkan sekarang dika sangat sulit untuk ia sentuh pikirnya.


"mama cama papa peluk afa cambil bobok ya" minta raffa lalu ia berbaring di tengah ranjang.


dika dan vani pun saling bertatapan karena merasa ragu dengan permintaan putra mereka itu. keduanya merasa canggung padahal sebelumnya mereka selalu tidur dengan berpelukan bahkan tanpa ada raffa di antara keduanya. namun saat ini berbeda mereka sudah seperti orang yang asing dalam waktu yang cukup lama membuat keduanya merasa canggung.


"em, sayang kamu bobok sekarang ya" vani tetap duduk di tepi ranjang sambil mengusap pucuk kepala putranya.


sedangkan dika sudah ikut merebahkan diri di samping raffa sambil memeluk putranya itu.


"cini ma peluk affa duga"


raffa menarik tangan ibunya dengan cukup kuat hingga tubuh vani tersentak dan jatuh memeluk kedua lelaki yang sedang berbaring di hadapannya itu.


wajah vani pun berada tepat di samping wajah dika yang sedang berbaring miring menghadap ke arah raffa.


dika dapat merasakan hembusan nafas vani yang berada tepat di pipinya saat ini. mungkin jika dika sedikit saja menoleh ke samping maka bibir vani akan menempel di pipinya saat itu juga namun dika hanya memilih untuk tetap diam dan tidak bergerak.


"hihihi" raffa terkikik geli melihat mama dan papanya yang malu malu di hadapannya itu.


tersadar dengan posisinya saat ini, vani langsung menarik diri menjauh lalu berbaring di samping putranya dengan canggung.


aneh sekali, menatap suaminya sedekat itu masih saja membuat vani merasa gugup. padahal mereka sudah sangat sering melakukan hal yang lebih sebelumnya. namun mengingat mereka yang sudah berpisah rumah cukup lama kembali membuat mereka seperti orang asing.


vani memejamkan matanya sambil memeluk tubuh raffa untuk menetralkan perasaannya yang tidak karuan.


"mama papa makaci ya. afa ceneng deh"


raffa tersenyum bahagia karena berhasil mendapatkan keinginannya yaitu tidur bersama kedua orangtuanya malam ini.


raffa memeluk keduanya sambil tertidur membuat jarak di antara vani dan dika semakin menipis.


keduanya bertatapan dari jarak yang sangat dekat namun vani langsung mengalihkan pandangannya dan kembali memejamkan mata saja.

__ADS_1


__ADS_2