
saat keduanya masih berbincang vani kembali teringat dengan ponselnya.
"oh ya hana tolong ambilin hp kakak ya di situ dong"
"oh ini ya kak" hana memberikan ponsel yang vani minta.
"makasih ya"
vani mulai membuka ponsel di tangannya.
"buat nelpon siapa kak?" tanya hana penasaran.
"enggak ada sih, ini tuh mas diki kakak mau hapus aja nomornya. kakak takut abang kamu salah paham terus"
"loh emangnya selama ini kakak masih saling komunikasi sama bang diki ya?" tanya hana bingung.
"em, cuma sesekali"
vani menatap layar ponselnya yang terlihat begitu banyak panggilan tak terjawab serta pesan yang menunjukkan kekhawatiran diki kepadanya.
"bukannya dulu kakak udah nolak dia ya terus buat apa sekarang harus temenan lagi. saran aku sih mendingan kakak jauhin cowok kaya bang diki itu"
hana melirik ponsel vani dan melihat banyak sekali pesan posesif di dalamnya.
"em, iya kakak salah. kakak terlalu simpati sama orang lain kakak pikir dia bisa jadi temen yang baik"
"mana ada temen baik yang sekhawatir itu ke istri orang kak. apalagi dia tau kalo sekarang kakak lagi bareng sama suami kakak sendiri"
hana sempat membaca beberapa pesan yang di hapus oleh kakaknya.
"iya kamu bener sih han, ya udah kakak enggak bakal temuin dia lagi mulai sekarang"
vani akhirnya memblokir nomor ponsel sahabatnya itu.
"gitu dong kak, lagian kakak enggak peka banget sih kalo sebenarnya bang diki itu masih suka sama kakak sampe sekarang tau"
"kamu tau darimana, sok tau deh" hehe
"iya keliatan banget kok"
"masa sih, tapikan mas diki emang cowok yang baik"
"iya baik, tapi bang dika tuh jauh lebih baik dari pada dia kak. udah deh mendingan sekarang kakak fokus sama rumah tangga kakak aja enggak usah mikirin yang lain"
"iya iya"
"semoga kedepannya bisa lebih baik lagi, dan rumah tangga kakak langgeng terus ya"
"amin makasih ya hana sayang" vani memeluk hana.
"iya sama sama kakak ku"
"oh iya han kamu kan udah dewasa sekarang, kapan mau ngenalin seseorang ke kakak nih? jangan diam diam terus entar tiba tiba nikah ya hehe"
vani menggoda hana yang terlihat malu.
"ih, kakak apaan sih" hana manyun.
"tau enggak dulu waktu seumuran kamu gini yuli tuh sering banget curhat sama kakak tentang cowoknya tapi kayanya kamu enggak nih"
"em, sebenernya ada sih kak someone yang mau aku kenalin ke kakak tapi aku malu" hana menunduk.
"loh! kenapa harus malu sih hana?"
"iya soalnya dia enggak seganteng dan enggak setajir bang dika atau pun bang ray kak"
hana menjawab dengan suara pelan dan semakin menundukkan kepalanya.
"terus?"
"dia cuma cowok biasa yang enggak punya jabatan tinggi dan bukan berasal dari keluarga terpandang juga"
"ya ampun hana, kamu kok ngomongnya kaya gitu sih"
hana hanya diam menunduk karena merasa ragu.
"emang menurut kamu kita ini berasal dari keluarga yang terpandang gitu?"
"enggak sih" hana menggeleng.
"terus kenapa kamu ngomong kaya gitu"
"aku cuma enggak pede aja kak"
"hana kita juga berasal dari keluarga yang biasa aja dari dulu kalo pun kakak sama yuli dapat jodoh berkecukupan bukan berarti kamu juga harus sama kan"
"iya kak"
"kamu enggak boleh minder ingat jodoh itu udah Allah yang menentukan jadi kamu jangan ngomong kaya gitu ya"
"iya kak, tapi..."
__ADS_1
"enggak papa dia itu cowok biasa yang penting kalian saling sayang dan cinta satu sama lain selebihnya enggak terlalu penting karena semua cowok itu sama aja yang penting tanggung jawabnya"
"iya kak, maaf ya aku udah ngerasa enggak percaya diri sama pilihan aku sendiri"
"udah jangan ngomong kaya gitu, ingat! kalo dia datang di dalam hidup kamu pasti dia adalah cowok terbaik yang udah Allah kirim buat jagain kamu"
"em, iya kak makasih ya"
"oh iya emangnya dia kerja apa han?"
"tuh kan tadi katanya enggak mandang fisik sama harta"
"hehe, bukan gitu hana kan kita hidup juga buat jalanin kenyataan bukan cuma sekedar mimpi indah jadi harus lebih realistis dalam memilih"
"sama aja"
"ya jangan sampe pemulung juga kamu terima dong han selama masih ada pilihan yang lebih baik kenapa enggak" vani memainkan alis matanya.
"ck! kakak ih!!" manyun hana.
"masa beneran pemulung sih han? haha"
"ih ya bukan pemulung juga sih kak" hana memutar bola matanya.
"terus apa dong?"
vani menahan tawa karena merasa lucu dengan wajah hana yang memerah karena godaannya.
"hem" hana hanya diam pasrah melihat kakaknya yang tertawa lepas saat memgejeknya.
saat vani dan hana masih asik berbincang tiba tiba saja rangga sekeluarga datang hendak melihat keadaan vani.
ceklekk!!!
"assalamualaikum" ranty membuka pintu ruangan.
"walaikumsalam" hana dan vani menoleh bersamaan.
rara dan rasty serta kedua orang tuanya datang hendak melihat keadaan tante cantiknya yang sedang sakit.
"tante cantik"
"rara, rasty sini sayang" vani merentangkan tangannya.
"gimana keadaan tante sekarang?" rara memeluk vani.
"tante baik sayang, tante kangen banget deh sama kalian"
"kita juga kangen banget sama tante"
"iya tante cantik"
"vani gimana keadaan kamu?"
ranty berjalan mendekat sambil membawa buah untuk adik iparnya itu.
"alhamdulillah mbak, mas aku udah lebih baik" vani menerima bingkisan yang ranty berikan.
"oh ya dika dimana vani?" rangga mencari keberadaan adiknya yang tidak terlihat di sana.
"mas dika lagi keluar sama raffa mas tadi katanya mau beli jajanan"
"oh gitu kirain" rangga mengangguk mengerti.
"kirain apa?"
"hhh! enggak papa, kirain dia amnesi lagi" gumam rangga.
"kamu sakit apa sih vani kok mbak enggak tau?" ranty baru saja mendapat kabar itu dari suaminya.
"aku enggak papa kok mbak kata dokter aku hamil tapi kemaren sempet pendarahan ringan jadi sekarang harus istirahat total"
"oh ya kamu hamil? Alhamdullilah berarti bentar lagi afa mau punya adek dong" ranty tersenyum.
"iya mbak Alhamdulillah"
"selamat ya vani mbak ikut seneng dengernya, pokoknya kamu jaga kesehatan terus ya" ranty memeluk vani.
"iya makasih ya mbak"
"wah! berarti bentar lagi hana harus jadi tante yang lebih ektra dong buat jagain dua keponakannya" goda rangga karena melihat hana diam saja sejak tadi.
hana tersenyum sambil mengangguk menanggapinya.
"iya enggak dong mas, bentar lagi kan hana mau nikah jadi gak bisa jagain mereka terus"
vani pun ikut menggoda hana yang melotot ke arahnya.
"wah!! serius kapan nih hana?" ranty menimpali.
'ih bumil satu ini ember banget sih' batin hana melirik kakaknya geram.
__ADS_1
"eh, enggak kok mbak masih belum tau juga hehe" hana hanya mengelak dari pertanyaan.
"ahh, kamu mau makan enak aja harus malu malu gitu sih hana"
rangga sudah duduk di atas sofa dalam ruangan itu, ucapannya tidak berhenti menggoda hana namun matanya hanya fokus menatap ponsel di tangannya.
"em, enggak kok ih apaan sih semuanya" hanya manyun.
"hahaha" mereka pun tertawa.
saat mereka sedang tertawa dika dan raffa pun datang kembali masuk ke dalam ruangan vani.
ceklek!
"eh udah rame?"
dika melihat ruangan istrinya yang sudah menambah pengunjung di dalamnya.
"dika lama banget sih lo!" rangga langsung melirik tajam adiknya yang baru masuk itu.
"biasalah bang cari angin" jawab dika santai sambil berjalan mendekat.
"hai afa! makin ganteng aja deh sini sama bude sayang"
ranty mengambil alih raffa dari gendongan papanya lalu dika berjalan menuju sofa hendak duduk bersama rangga.
"cari angin atau cari mama muda lo?" rangga melirik adiknya yang baru saja duduk di sampingnya itu.
"enggak seru lah mama muda, gue niatnya mau nyari daun muda aja sih bang" dika tersenyum dengan candaannya.
"haha kangen malam pertama lagi lo?" rangga tertawa.
"enggak juga sih, udah pernah" dika hanya tersenyum.
"oh ya, selamat ya dik katanya vani lagi hamil ya" rangga mengulurkan tangannya.
"oh iya, makasih ya bang" dika menyambut tangan rangga.
"gue baru tau" rangga menyindir adiknya yang tidak memberi kabar apapun kepadanya.
"oh ya, lo kok tau gue ada dirumah sakit sih bang?" dika justru mengalihkan pertanyaan abangnya.
"dari ray dia juga titip salam buat lo sama vani karena dia enggak bisa datang soalnya dia lagi ada di kampung buat nemenin istrinya yang udah sering kontraksi mungkin lahirannya udah dekat"
"oh iya. walaikumsalam, kayanya gue juga belum bisa ajak vani pulang ke kampung deh buat liat lahiran yuli nanti soalnya vani harus istirahat total kata dokter"
"iya enggak papalah dik mereka juga pasti ngerti kok keadaan kalian. lagian setelah lahiran nanti kalian masih bisa liat kan"
"iya sih bang" dika hanya mengangguk.
"oh ya dika, emangnya kenapa vani kok bisa sampe pendarahan sih?" tanya ranty penasaran.
"em, itu mbak karena aku..." dika gugup dan bingung harus menjawab apa.
jika dika menceritakan masalah yang terjadi karena dirinya yang terlalu cemburu berlebihan hingga menyebabkan vani pendarahan maka rangga dan ranty akan memarahinya habis habisan pikirnya.
"em, aku yang terlalu kecapekan mbak soalnya banyak kerjaan di butik" vani yang menjawab pertanyaan itu.
"ya ampun vani, kenapa kamu masih sibuk ke butik sih kan ada hana disana yang selalu jagain" ucap ranty.
"iya soalnya aku bosen dirumah mbak jadi iseng iseng berhadiah deh" vani tersenyum.
"haha berhadiah gimana?" ranty tertawa mendengar jawaban vani yang aneh.
"iya kalo aku enggak kecapekan terus pingsan aku juga enggak bakal tau kalo aku lagi hamil mbak" vani nyengir.
"haha, ada ada aja deh kamu van. emangnya kamu enggak ngerasain mual setiap pagi?"
"enggak mbak"
"oh ya kok bisa sih?"
"enggak tau nih mbak malah mas dika yang ngerasain mual setiap hari. mungkin baby pengen papanya ngerasain gimana capeknya mual setiap pagi kali ya" jawaban vani membuat semua orang tertawa.
"haha iya bener juga sih, biar adil yakan?" ranty setuju.
"bener tuh mbak"
"sayang kok gitu sih" dika manyun
"iya emang benerkan mas"
"haha" mereka tertawa bersama.
sore harinya rangga dan ranty sudah kembali pulang ke rumah mereka. hana dan raffa pun pulang karena dika meminta hana untuk menjaga raffa di rumah saja.
saat ini hanya tinggal vani dengan dika yang menemani istrinya di rumah sakit.
dika meminta vani untuk kembali istirahat agar kondisinya cepat membaik.
"sayang, sekarang kamu istirahat aja ya aku mau keluar sebentar beli makanan buat kamu"
__ADS_1
"iya mas" vani hanya mengangguk.
setelah memastikan istrinya tertidur dika pun keluar dari dalam ruangannya.