Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 103


__ADS_3

dari jarak yang tidak terlalu jauh karin dan raka sudah memantau pergerakan arin sejak tadi.


"bagus, ini akan membuat rencana kita bejalan mulus" ucap karin kepada raka.


"benar, ternyata dika tidak sebaik kelihatannya kamu liat kan dia bahkan merespon keinginan gadis itu untuk bertemu" raka tersenyum miring.


"ayo kita bergerak sekarang!" karin mengajak raka.


saat matahari sudah hampir terbenam tiba tiba saja arin diculik oleh orang suruhan raka dan karin lalu mereka membawa arin ke dalam sebuah club malam.


"emh!! emh!" arin di bius hingga pingsan.


"hhh! dasar cewek bodoh!" umpat raka.


tiga puluh menit berlalu, saat tersadar arin bingung dimana saat ini ia berada.


"emh! aku dimana?" arin baru tersadar dari pingsannya.


"tempat apa ini?" arin bertanya tanya melihat tempat disekitarnya.


ada banyak orang yang sedang menikmati suasana dalam kebisingan disana.


arin yang tidak terbiasa dengan suasana bising di dalam club merasa bingung harus melakukan apa. bau alkohol dimana mana begitu juga asap rokok yang bercampur dengan udara.


"aduh, tempat apa sih ini. bau banget lagi"


arin menutup hidungnya karena tidak tahan dengan aroma alkohol yang menyengat.


"hai cantik!" banyak pria hidung belang menghampirinya.


"ck! lepasin" arin berusaha membela diri.


melihat arin yang sedang kebingungan karin menghampiri dan menawarkan segelas minuman beralkohol kepadanya.


"hai! lepasin dia. kalian pergilah jangan ganggu dia"


karin mendekat kepada arin dan mengusir para cowok mata keranjang yang menggodanya.


"siapa kamu?" arin bingung menatap karin.


"itu enggak penting. ini minum, kamu akan merasa lebih nyaman setelah minum ini" tawaran karin.


"maaf aku enggak minum" arin menolaknya.


awalnya arin menolak namun dengan sedikit rayuan dan paksaan dari karin akhirnya arin pun meminum minuman beralkohol itu.


"ayolah, sebentar lagi kamu akan bertemu dengan pria yang kamu cintai kan?" bujuk karin.


"mas dika?"


"iya. sebentar lagi dia akan menjadi milik kamu" bisik karin.


"benarkah?


"iya tapi kamu harus meminumnya" karin mengangkat gelasnya.


"baiklah sedikit saja" arin pun meminumnya.


glek!


"emh! rasanya enggak enak" arin seperti ingin muntah saja.


"ayo minum lagi, itu masih terlalu sedikit" karin kembali memaksa arin meminum lebih banyak.


glek! glek!


"hhh! bagus!" senyum jahat di wajah karin pun tercipta.


tidak butuh waktu lama arin langsung berdiri dengan sempoyongan karena mabuk.


arin tidak pernah minum alkohol sebelumnya membuat dirinya langsung mabuk meskipun hanya minum sedikit.


"ck! minggir aarghh!!"


karin menatap raka yang sudah terlalu banyak minum sebelumnya hingga membuat dirinya mabuk. .


karin pun mendekati raka yang sedang menatapnya dengan penuh gairah.


"sayang!" raka mendekat dan menciumi tubuh karin namun karin menahannya.


"enggak sekarang sayang kamu liat gadis ini. bawa dia ke tempat yang sudah kita rencanakan"


karin berbisik tepat di telinga raka.


"baiklah kalo gitu antar kami saja, aku sudah tidak tahan" bisik raka yang sudah tidak bisa mengontrol dirinya.


awalnya raka berencana hanya minum sedikit saja namun akhirnya ia kembali mabuk karena terlalu banyak minum.


"kamu memang merepotkan raka. aku kan udah bilang jangan sampe mabuk"

__ADS_1


karin mengomel lalu menyuruh anak buahnya untuk mengantar raka dan arin masuk ke dalam salah satu kamar hotel yang sudah mereka rencanakan itu.


"ayo bawa mereka!"


"baik bos!"


karin mengikutinya sambil memegang ponsel arin. ia pun segera mengirim pesan kepada dika untuk menemuinya di dalam sebuah hotel.


"selesai" karin tersenyum penuh kemenangan.


sesampainya di dalam kamar hotel itu, anak buah karin pun langsung merebahkan tubuh raka dan arin di tepi ranjang yang sama.


ceklekk!


"aakhh!" teriak raka karena merasa pusing di kepalanya.


"selamat bersenang senang bos" bisik salah satu anak buahnya pada telinga raka sambil menatap gadis yang akan menemani bosnya itu malam ini.


"hem, keluarlah" raka bergumam meminta anak buahnya untuk segera pergi.


"baiklah bos"


anak buahnya melangkah keluar dari dalam kamar hotel itu lalu kembali menemui karin.


"bagaimana?"


"semua beres bos"


"hem bagus"


"sekarang kami harus melakukan apa lagi bos?"


"sekarang tugas kalian adalah menjemput dika" ucap karin.


"baik bos" anak buah karin melangkah pergi.


di dalam kamar itu raka menatap tubuh arin dengan penuh gairah. ia pun langsung menyerang arin tepat pada bagian bagian sensitivenya membuat arin tidak berdaya.


dalam setengah sadarnya arin benar benar terbuai oleh sentuhan raka yang terasa lembut di tubuhnya namun karena arin selalu memikirkan tentang dika membuatnya berhalusinasi jika dika adalah pria yang saat ini sedang mencumbuinya dengan ganas hingga arin tidak menolak setiap sentuhan dari raka itu.


"mas dika" gumam arin pelan.


cup! raka bermain di bagian dadanya membuat arin semakin terlena.


arin begitu menikmati sentuhan itu sampai akhirnya raka benar benar memasukkan miliknya kedalam tubuh arin dengan cara yang kasar membuat arin menjerit kesakitan karena ini pertama kalinya bagi arin.


"aaakkkhh!!" ringis arin menjerit saat raka memasukinya.


ini juga pertama kalinya bagi raka menghabiskan malam bersama dengan seorang gadis yang masih virgin. dengan setengah sadar raka terus saja bergerak semakin cepat membuat arin yang awalnya menjerit kesakitan akhirnya berubah menjadi lenguhan yang tak tertahankan.


di kantor setelah jam pulang kantor rangga mengundang dika dan ray untuk merayakan kemenangan perusahaan mereka yang sukses hari ini dengan minum dan bersantai di dalam ruangannya.


tidak banyak yang mereka minum hanya sekedarnya saja karena tidak ingin sampai pulang dalam keadaan mabuk.


"cheers!"


ting! ting!


"ayo bersulang untuk kemenangan kita hari ini"


rangga dika dan ray pun mengangkat gelas bersamaan.


"semoga kedepannya semakin membaik lagi"


"iya" hhh!


setelah satu jam berlalu, ketiganya mulai terlihat tidak baik baik saja.


dika menatap ponselnya melihat chat yang masuk ternyata dari arin yang mengatakan jika dirinya sedang berada di dalam hotel.


'untuk apa dia ada di sana?' batin dika berpikir namun ia merasakan pusing di kepalanya karena efek minuman.


"sshh! ck! gue pusing"


dika yang sudah minum beberapa gelas membuat tubuhnya terasa panas dan sedikit pusing.


"hhh! sama gue juga"


rangga juga mulai terasa pusing di kepalanya.


"gue harus pulang sekarang, entar vani nyariin" ucap dika.


"emang lo belum izin tadi?" rangga menatap adiknya.


"udah sih, tapi inikan udah malam gue udah ngantuk pengen tidur" dika pun memasukkan ponsel ke dalam sakunya.


"pengen tidur apa pengen nidurin vani lo" haha rangga tertawa menggoda adiknya.


"iya kalo bisa dua duanya kenapa enggak" jawab dika.

__ADS_1


ray hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum mendengar jawaban dari sahabatnya itu.


"ya udah. lo hati hati di jalan ya" ucap rangga.


"oke" dika mengangguk


"atau mau gue anterin?" ray menawarkan diri.


"enggak usah gue bisa sendiri, lo disini aja dulu nemenin bang rangga yang lagi galau"


dika tersenyum lalu melangkah keluar dari dalam ruangan rangga.


"enak aja gue enggak galau kalee"


rangga mengoceh namun tidak di dengarkan oleh dika lagi.


"oke deh hati hati ya" ray mengangkat tangannya.


mobil dika melaju menuju hotel yang sudah arin kirim sebelumnya. ia akan memastikan jika keadaan arin baik baik saja di sana.


"arin ngapain ya di hotel, apa jangan jangan dia lagi dalam masalah?" dika merasa khawatir memikirkannya.


"kayanya aku harus liat keadaan arin dulu buat mastiin kalo dia baik baik aja disana baru aku langsung pulang"


saat dalam perjalanan, mobil dika terhalang oleh sebuah mobil yang tiba tiba saja berhenti tepat di depan mobilnya.


tin!


ciittt!


dika mendadak harus menginjak rem untuk menghentikan laju mobilnya ketika melihat sebuah mobil berhenti dan menghalangi jalannya.


"gila tuh orang, siapa sih?" umpat dika kesal.


brak!!


dika keluar dari dalam mobilnya hendak menanyakan sang pemilik mobil di depan apakah ada masalah dengan mobil yang dikendarainya sehingga berhenti mendadak di tengah jalan atau tidak.


saat hendak berjalan menuju mobil di depannya itu tiba tiba saja dika di pukul dari arah belakang hingga ia tidak sadarkan diri.


bugh!!!


"aakh"


prankkk!


"aw! shh"


bersamaan dengan itu di dalam kamar gelas yang sedang di pegang oleh vani pun jatuh dari genggamannya hingga gelas itu pecah berserakan di lantai bahkan pecahan kacanya melukai kaki vani namun ia mengabaikan luka kecil di kakinya itu karena perasaannya sedang tidak karuan saat ini.


"ya ampun ada apa ya, kok perasaan aku enggak enak?"


vani bertanya pada dirinya sendiri sambil memegangi bagian dadanya.


"mas dika! kok dia belum pulang ya jam segini. apa aku telpon dia aja?"


vani bergegas mengambil ponselnya yang berada di atas ranjang.


ddrtt! ddrtt! tut!!


"kok enggak di angkat ya?"


vani khawatir dan semakin gelisah saat ponsel suaminya menjadi tidak aktif lagi setelah beberapa panggilannya yang tidak di jawab oleh dika.


"aku enggak boleh berpikir yang enggak enggak tentang suami ku, mas dika pasti baik baik aja sekarang dia kan lagi sama mas rangga sama mas ray juga di kantor"


vani pun mencoba menenangkan dirinya sendiri.


"mungkin sebentar lagi suamiku pulang"


sudah lama vani menunggu kabar dari suaminya sampai ia tertidur di atas ranjangnya namun dika masih belum juga kunjung kembali pulang.


tubuh dika yang sudah lemah tidak berdaya itu di bawa masuk ke dalam kamar yang telah ada arin di dalamnya.


para anak buah karin langsung pergi meninggalkan dika setelah mereka berhasil membuka pakaian yang sedang dika kenakan untuk memuluskan rencananya.


"ck! sshh!"


dika mulai bergerak di balik selimut itu karena merasa dirinya sedang setengah sadar. ia pun berusaha untuk membuka matanya namun pandangan hanya terlihat buram.


dika beralih menatap seorang wanita sedang tertidur di sampingnya. ia tersenyum kecil saat melihat wanita yang sangat dikenalinya itu.


dika mendekat lalu mengecup dengan lembut kening wanita itu.


cup!


"kamu cantik banget sayang" gumam dika memeluk tubuh wanita yang berada di sampingnya.


tangan dika bergerak kemana mana untuk menyentuh tubuh wanita itu namun matanya hanya bisa terpejam karena ia merasa sangat pusing di bagian kepala dan tengkuknya yang terasa berat.

__ADS_1


efek minuman yang membuat tubuh dika terasa panas itu benar benar menguasai dirinya dan bekas pukulan yang keras di bagian pundaknya membuat dika akhirnya tidak sadarkan diri dalam pelukan wanita itu.


__ADS_2