Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 75


__ADS_3

arin masih saja mengamati ruangan di dalam rumah itu.


'wahh!! sekaya apa sih keluarga ini sampe punya rumah kaya istana gini ya' batin arin.


"siapa tante itu ma?"


rara bertanya kepada mamanya saat melihat arin namun ia justru bersembunyi di balik badan ibunya.


ranty menatap arin dari atas hingga ke bawah sungguh penampilan gadis yang sangat sederhana.


"siapa dia ma?"


ranty pun bertanya kepada mama mertuanya.


"kenalin ranty dia arin gadis baik yang udah nolongin dika dan ngerawat dika selama ini sayang"


mama ratih memperkenalkan arin kepada menantu sulungnya.


"beneran ma" bisik ranty ingin meyakinkan dirinya.


"iya" jawab mama lembut.


"em, hai kenalin saya ranty istrinya mas rangga"


ranty mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"eh, iya saya arin mbak"


arin menyambut jabatan tangan ranty.


"oh ya terima kasih ya arin kamu udah menyelamatkan dika dan merawat dia juga selama ini"


ranty memeluk arin yang merasa canggung.


"eh iya mbak sama sama"


arin pun mengangguk sungkan setelah ranty melepaskan pelukannya.


"ranty jadi arin juga bakal tinggal disini sama kita karena arin udah enggak punya keluarga lagi disana" ucap mama


"oh gitu ma" ranty tersenyum canggung.


"ayo arin kamu istirahat dulu di kamar kamu sekarang ya" ajak mama ratih pada arin.


"baik tante terima kasih"


arin pun mengikuti langkah mama ratih.


"biar ranty aja yang anterin arin ya ma. mama istirahat aja sama papa pasti mama capek" ucap ranty


"oh ya udah. makasih ya sayang"


"iya ma. ayo arin" ajak ranty.


"iya mbak"


arin pun mengangguk lalu mengikuti langkah ranty.


dengan langkah yang masih tertatih dika berjalan di bantu oleh rangga menuju kamarnya agar dika bisa segera beristirahat.


akhirnya mereka pun sampai di depan pintu kamar dika.


"sekarang lo istirahat aja dulu ya dik nanti dokter bakal datang secara rutin buat meriksa keadaan kaki lo sampe kondisi lo bener bener pulih total"


rangga masih memegangi lengan dika sambil berjalan.


"iya makasih ya bang" dika tersenyum.


"hem, ayo masuk"


ceklek!


rangga membuka pintu kamar dika lalu mereka pun melangkah masuk ke dalam secara bersamaan.


setelah masuk rangga dan dika melihat vani yang sedang tertidur pulas di atas ranjang dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya.


terlihat saat itu vani sedang tertidur dengan posisi miring menghadap ke arah pintu masuk.


"keliatannya vani masih tidur mungkin dia kecapekan dan butuh istirahat karena sejak mendengar pihak kepolisian menyatakan kepergian lo beberapa bulan yang lalu dia jadi murung dan mudah nangis"


rangga menceritakan tentang adik iparnya itu dengan wajah sedih karena sering kali melihat vani selalu menangis karena merindukan suaminya.


dika hanya diam sambil menatap sendu tubuh istrinya yang terlihat lebih kurus sekarang.


"ya udah lo istirahat juga ya, gue keluar dulu kalo lo butuh sesuatu bilang aja" rangga menepuk bahu dika pelan.


"oke makasih ya bang" dika pun mengangguk


"hem" rangga mengangguk lalu melangkah keluar dari dalam kamar adiknya itu.


di ruangan yang berbeda ranty hendak mengantar arin untuk beristirahat di dalam salah satu kamar tamu yang berada di lantai dua rumah itu.


mereka naik dengan menggunakan lift di dalam rumah membuat arin kembali kagum dengan rumah beserta fasilitas mewahnya.


'wah! ada lift nya bagus banget deh' batin arin.


sesampainya di depan pintu salah satu kamar tamu, ranty pun membukanya dan mengajak arin masuk ke dalam.

__ADS_1


ceklekk!


"arin ini kamar kamu buat istirahat, semoga kamu suka dan betah ya disini" ranty tersenyum.


"makasih ya mbak. kayanya pasti betah deh soalnya kamar ini bagus banget" arin tersenyum.


"iya sama sama. kamu enggak usah sungkan, kalo gitu mbak keluar dulu ya"


ranty pun melangkah keluar dari dalam kamar dan meninggalkan arin agar bisa beristirahat.


"iya mbak makasih" arin mengangguk


setelah ranty keluar dari dalam kamar itu, arin kembali mengamati kamar barunya.


"wah! gede banget kamar tamunya, apalagi kalo kamar utama ya mungkin jauh lebih gede. tempat tidurnya juga empuk banget lagi pasti bakal buat tidur nyaman banget"


arin duduk di tepi ranjang sambil tersenyum.


karena merasa gerah arin pun bergegas menuju kamar mandi di dalam kamarnya itu.


arin mandi sambil terus mengamati barang barang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


masih merasa bingung dengan fasilitas canggih yang serba otomatis di rumah itu namun arin senang sambil mempelajari semua barang barang mewah di dalamnya.


arin mengganti pakaiannya dengan pakaian sederhana yang sudah ia bawa dari kampung halamannya lalu setelah selesai mandi arin merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang di rasa sangat empuk dan mewah itu.


"ya ampun enak banget ranjangnya, enggak kaya tempat tidur aku di kampung dulu" arin tersenyum senang.


di dalam kamarnya dika melangkah tertatih lalu duduk di tepi ranjang. ia menatap wajah istrinya yang terlihat pucat.


"sayang aku pulang" bisik dika tepat di telinga istrinya itu.


dengan lembut dika mengusap rambut vani lalu mengecup kening istrinya menyalurkan segala rindu yang selama ini ia rasakan.


cup!


"maafin aku ya udah buat kamu sedih" bisik dika setelah mengecup pipi istrinya itu.


dika pun berbaring di samping vani yang sedang tidur. ia masuk kedalam selimut yang sama lalu memeluk tubuh istrinya itu dari samping.


"aku kangen banget sayang"


dika menghirup dalam aroma tubuh istrinya dan merasa sangat nyaman sekarang karena vani sudah berada dalam dekapan tubuhnya.


dika pun ikut terlelap sambil terus memeluk tubuh istrinya.


saat arin sedang asik berbaring di kasur barunya. ia pun merasa terganggu dengan suara perutnya sendiri.


kriuk!! kriuk!! kriuk!!


arin memegangi perutnya yang terasa lapar.


"dimana aku bisa dapat makanan ya?" gumam arin sambil berjalan keluar dari dalam kamarnya dengan bingung.


tidak sengaja arin berpapasan dengan yuli dan hana yang baru saja pulang dari butik hendak masuk ke dalam kamar mereka juga.


"eh, siapa tuh kak?"


tanya hana kepada yuli saat melihat arin yang sedang berjalan kebingungan.


"em, aku juga enggak tau han"


yuli mengendikkan bahu sambil menatap arin.


melihat ada orang lain disana arin berjalan menghampiri yuli dan hana yang sedang berdiri memandang ke arahnya.


"em, maaf apa kalian bisa nunjukin dimana dapur rumah ini?"


arin menatap yuli dan hana yang sedang berdiri diam memperhatikannya.


"oh bisa ayo ikut kami bakal nganterin kamu"


yuli mengajak hana lalu mereka pun berbalik badan dan langsung berjalan menuju tangga.


arin pun berjalan mengikuti langkah dua gadis itu agar dirinya bisa sampai di dapur.


"kenapa kita harus jalan dari tangga bukannya di rumah ini ada liftnya ya?"


arin bingung karena tadinya ia naik ke lantai atas dengan menggunakan lift di dalam rumah itu namun sekarang yuli dan hana malah mengajaknya turun melalui tangga yang cukup panjang untuk di jalani itu.


"enggak papa, karena kami cuma numpang di rumah ini jadi lift itu cukup di pake sama pemilik rumah aja"


yuli berjalan menuruni satu persatu anak tangga hendak mengantar arin menuju dapur yang berada di lantai dasar.


"ohh gitu ya"


arin pun hanya mengangguk anggukan kepalanya.


mereka terus berjalan menyusuri lantai hingga sampai di dapur sesuai permintaan arin sebelumnya.


"nah kita udah sampe di dapur. ini dapurnya, kalau gitu kami mau balik ke atas ya" yuli tersenyum


"baiklah, terima kasih" arin mengangguk.


"iya sama sama" yuli berbalik dan mengajak hana pergi.


saat yuli dan hana berjalan kembali menuju kamar mereka hana pun bertanya kepada kakaknya.

__ADS_1


"siapa ya kak?"


hana merasa semakin penasaran dengan gadis asing yang mereka temui.


"enggak tau, nanti kita tanya mbak ranty aja deh"


yuli tidak mau ambil pusing memikirkan siapa wanita tadi.


padahal mereka bisa saja langsung bertanya kepada arin namun yuli dan hana memilih akan menanyakannya pada pemilik rumah saja karena takut akan menyinggung perasaan tamu dari sang pemilik rumah itu.


kriu! kriuk!


suara perut arin kembali berbunyi membuatnya merasa malu.


"aduh aku harus makan apa ya, aku laper banget"


arin melihat kesana kemari untuk mencari cari makanan.


"maaf nona, apa yang sedang nona cari?"


seorang pelayan datang menghampiri arin.


"em, saya laper bisakah saya mendapat makanan?" tanya arin canggung.


"baiklah nona, silahkan tunggu di meja makan saya akan menyiapkannya" ucap pelayan itu kepada arin.


"baiklah. terima kasih"


arin tersenyum lalu berjalan ke arah meja makan yang panjang dan terdapat banyak kursi disana.


akhirnya arin pun duduk sambil menunggu makanannya datang.


menjelang matahari terbenam vani terbangun dari tidur nyenyaknya lalu membuka mata secara perlahan.


saat hendak bangun vani merasa ada tangan seseorang yang sedang melingkar di bagian pinggang hingga ke perutnya.


vani pun berbalik badan dengan perlahan menghadap ke arah belakang lalu melihat ada wajah tampan suami yang sangat ia rindukan sedang tertidur di sampingnya.


sambil tersenyum manis vani mengelus lembut wajah tampan suaminya itu.


"mas dika, kalo ini cuma mimpi aku enggak mau bangun lagi dari mimpi indah ini"


vani tetap tersenyum dan terus membelai wajah dika.


merasa ada sentuhan tangan yang sedang mengelus lembut wajahnya dika pun terbangun dan membuka matanya secara perlahan. ia juga tersenyum menatap wajah cantik istrinya itu.


vani tertegun dengan mata berkaca kaca saat melihat senyuman dika yang terasa sangat nyata baginya itu.


vani merasa jika saat ini dirinya benar benar sedang melihat wajah suaminya tersenyum kepadanya.


"mas dika"


dengan cepat vani bangkit dari tidurnya lalu terduduk di atas ranjang.


air mata vani kembali menetes membasahi pipi mulusnya. ia pun langsung menutup wajahnya dengan telapak tangan karena mengira jika dirinya terus saja berhalusinasi seperti sedang melihat senyuman manis di wajah suaminya itu.


"hiks! hiks!"


senyuman itu terlihat begitu nyata di hadapannya.


"sayang, kenapa kamu nutup muka kamu kaya gitu. kamu enggak mau ngeliat aku lagi ya?"


dika ikut bangkit lalu duduk disamping istrinya kemudian ia pun menyentuh kedua tangan vani secara langsung.


mendengar suara suaminya dengan jelas vani akhirnya membuka tangan yang menutup wajahnya lalu menatap kearah wajah dika yang terlihat begitu nyata.


"mas dika, apa aku cuma mimpi?"


vani kembali memastikan dengan memegang kedua sisi wajah dika.


"bukan mimpi sayang. ini nyata, aku ada disini sama kamu sekarang. aku udah pulang buat kamu sayang kan aku udah janji sama kamu"


dika pun melakukan hal yang sama dengan memegang kedua sisi wajah istrinya yang sedang menangis itu.


"ini beneran kamu mas aku enggak lagi mimpi kan"


vani masih tidak percaya.


"iya sayang ini aku suami kamu. maafin aku ya karena aku udah buat kamu nangis selama ini"


dika menghapus air mata di pipi vani lalu mengecup kedua kelopak mata istrinya itu dengan lembut.


"Alhamdulillah Ya Allah, ini beneran mas dika suamiku" hiks!


vani langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya yang sangat dirindukannya itu sambil menangis bahagia.


"iya ini aku sayang, kamu enggak mimpi. ini nyata, aku udah pulang buat kamu"


"aku kangen banget sama kamu mas"


vani masih terus menangis di dalam pelukan dika.


"aku juga kangen banget sama kamu sayang"


dika pun memeluk erat tubuh vani dan mengecup pucuk kepala istrinya.


keduanya saling berpelukan cukup lama untuk melepas rindu yang sudah mereka pendam selama ini.

__ADS_1


__ADS_2