
Sejak hari itu dika masih terus mengunjungi arin di rumah orang tuanya sepulang bekerja. dika pergi tanpa memberi tahu vani terlebih dahulu karena ia tidak ingin vani marah kepadanya jika mengetahui hal itu.
setiap hari mendapat perhatian dari dika membuat arin semakin jatuh hati pada sosok pria baik itu. meskipun sadar jika tidak seharusnya ia mencintai pria yang sudah beristri namun arin tidak bisa menolak perhatian lembut dari pria tampan itu.
saat ini di rumah utama terlihat dika sedang menemani arin duduk di sofa ruang tamu.
"gimana keadaan kamu hari ini?" tanya dika menatap arin yang sedang duduk bersandar sambil memeluk lengannya dari samping.
"kami baik mas, oh ya besok kamu bisa kan temenin aku check up lagi ke dokter terus kita jalan deh kaya kemaren" arin menatap dengan penuh harap
"em, aku usahain ya tapi aku enggak bisa janji arin soalnya kerjaan aku lagi banyak di kantor. aku harap kamu ngerti"
"kamu sibuk di kantor atau ada janji sama istri kamu mas?"
"aku bener bener lagi sibuk di kantor arin. kamu kan tau aku sering pulang lebih awal dari kantor buat nemuin kamu jadi kerjaan aku numpuk"
"hem, iya udah deh mas aku harap kamu bisa usahain datang besok"
"kamu tenang aja ya kan ada mama yang bisa nemenin kamu kalo aku lagi sibuk"
"iya aku ngerti kok mas tapi malam ini kamu nginap ya di sini. bilang aja sama istri kamu kalo kamu harus lembur jadi enggak bisa pulang malam ini" minta arin
"enggak bisa arin kan aku udah bilang sebelumnya sama kamu kalo aku harus pulang tiap hari buat nemenin istri sama anak aku di rumah soalnya enggak ada yang jagain mereka kalo aku enggak pulang" dika langsung menolak.
"iya, tapikan di sana juga banyak asisten sama penjaga yang bakal jagain mereka mas. plis kali ini aja ya" arin memohon.
dika kembali berpikir ia tidak mungkin menginap karena vani dan bayi mereka juga sangat membutuhkan dirinya di rumah. apalagi saat malam hari raffa sering menangis dan terbangun membuat vani kurang tidur.
"maaf arin aku enggak bisa aku harap kamu ngerti" dika tetap pada keputusannya.
"hem! ya udah deh mas terserah kamu aja" arin pun melepaskan pelukannya dari lengan dika.
"kamu jangan marah ya. aku janji bakal ajak kamu jalan jalan besok" dika kembali membujuk arin.
"em oke aku tunggu janji kamu ya mas" arin kembali tersenyum.
"hem" dika hanya tersenyum tipis.
"kamu pasti enggak bakalan datang deh" arin kembali murung karena merasa dika hanya terpaksa.
"oh iya. mama sama papa di mana ya kok aku enggak liat dari tadi?" tanya dika mengalihkan pembicaraan.
"iya itu juga yang buat aku bosan dari tadi mas. tante sama om lagi pergi jadi aku cuma sendirian di rumah dari pagi"
"oh ya tapi sekarang enggak sendirian lagi kan?" dika mengedipkan matanya.
"iya kan ada kamu di sini jadi aku enggak kesepian lagi deh" arin kembali memeluk lengan dika.
"hem, tapi enaknya kita ngapain ya. kayanya aku bosen deh liatin kamu terus dari tadi" dika kembali berpikir.
"ih ngeselin banget deh, liatin aku aja langsung bosen kalo liatin vani setiap hari enggak pernah bosen tuh" arin memutar bola matanya.
"ya iya dong vani kan istri aku, kalo lagi sama dia aku bisa lakuin apapun yang aku mau hehe" dika tersenyum nyengir.
"ih dasar mas dika mesum" arin menepuk lengan dika dengan bantal sofa di tangannya.
"iya enggak papa dong" dika menatap ponsel yang bergetar di tangannya ternyata ada pesan masuk dari istrinya.
karena merasa bosan akhirnya arin mendapat ide untuk melakukan sesuatu yang mengasikkan.
"hem gimana kalo kita nonton drama aja mas kayanya seru deh" ajak arin pada dika.
"hah! drama? hem enggak dulu deh! kamu sama aja kaya vani dan adik adiknya suka banget liat drama. aku enggak terlalu suka drama tau"
dika menolak namun pandangannya tidak beralih dari ponsel di tangan dan terus tersenyum menatap ponsel karena sedang membalas pesan dari istrinya.
__ADS_1
"ya udah kamu temenin aku nonton aja, kamu enggak usah ikut nonton juga lagian aku enggak maksa kamu buat ikutan nonton kok"
"hah!! semua cewek sama aja!" kesal dika dengan jawaban arin yang berarti sama saja ia harus menonton.
"ih, semua cowok juga sama aja. semuanya mesum cuma mau enaknya doang" arin pun menjadi kesal.
"em, iya dong kalo bisa enak kenapa enggak"
dika tersenyum miring sambil terus menatap ponsel di tangannya karena sebenarnya ia tidak begitu fokus pada arin melainkan hanya fokus dengan ponselnya saja.
"ihh, kamu main handphone mulu deh mas. ya udah mending kamu pulang aja sana, aku lagi kesel!"
arin mengusir dika karena sejak tadi hanya fokus pada ponsel saja dan tidak terlalu memperdulikan dirinya.
"alhamdullilah. ya udah aku pulang dulu ya" dika pun tersenyum lalu beranjak hendak pergi.
"ih mas dikaaa!! harusnya kamu temenin aku sampe tante sama om pulang dong" arin semakin kesal.
"tadi nyuruh aku pulang. gimana sih" gerutu dika kembali duduk.
"habisnya kamu fokus handphone mulu lagi chattingan sama siapa sih mana sambil senyum senyum sendiri lagi" arin melirik dika dengan kesal.
"iya sama istri aku lah masa sama istri orang sih" dika semakin sengaja membuat arin kesal.
"oh" jawab arin singkat. ia benar benar sudah berada di tingkat tertinggi kesabarannya.
"ya udah sekarang kamu duduk di sini aja ya sambil nonton drama. aku mau masakin sesuatu buat kamu biar kamu enggak marah marah terus"
"hem" cuek arin
dika berjalan ke dapur untuk menghindar dari arin yang terus saja bertanya kepada dirinya.
setelah selesai memasak dika kembali menemui arin dengan membawa dua piring berisi mie pasta yang sudah ia masak. kemudian mereka pun makan bersama sambil menonton drama yang membosankan itu hingga kedua orang tuanya pulang.
tepat jam 19.30 malam dika sampai di rumahnya dan langsung bergegas mandi agar dapat menemui putranya.
setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, dika pun berjalan menghampiri istrinya yang sedang duduk di atas sofa sambil menggendong putra mereka.
"sayang, anak papa belum tidur ya?" tanya dika menatap putranya sambil mengelus lembut kening raffa.
"mas kamu udah pulang" vani menatap suaminya.
"iya sayang, maaf ya aku lagi banyak kerjaan di kantor" dika mengusap pipi istrinya.
"iya enggak papa mas aku ngerti kok" vani pun tersenyum.
"makasih ya sayang" senyum dika pada istrinya.
"oh iya, ini tolong kamu gendong raffa bentar ya mas aku mau ke toilet nih kebelet pipis" vani meletakkan raffa di dalam pelukan dika lalu melangkah menuju kamar mandi.
"oke sayang, sini sama papa ya. hem,,, anak papa wangi banget deh" dika mengecup pipi bayinya.
saat ini dika sudah bahagia karena setiap hari sepulang bekerja ia dapat bermain bersama putra kecilnya yang menggemaskan membuat semua rasa lelah seharian di kantor seketika hilang dengan melihat wajah mungil putranya itu.
beberapa minggu telah berlalu, terlihat hari hari dika dan vani berjalan dengan baik meskipun masih ada sebuah kebohongan yang dika sembunyikan dari istrinya namun itu tidak akan melukai siapapun karena memang masih ada suatu hal antara dirinya dengan arin yang belum selesai dan ia harus segera menyelesaikannya.
dika hanya ingin membuat kedua wanita itu merasa bahagia ketika sedang bersama dengan dirinya namun tanpa ia sadari tubuhnya menjadi kelelahan karena terlalu memaksakan diri.
pasalnya belakangan ini dika harus membagi waktu untuk dua wanita itu, di tambah pekerjaan yang banyak di kantor dan juga selalu menjaga putranya setiap malam agar vani bisa beristirahat dengan nyenyak hingga akhirnya dika pun jatuh sakit karena kelelahan dan kurang istirahat.
sudah beberapa hari ini dika tidak pergi ke kantor dan tidak menemui arin di rumah orang tuanya membuat arin merasa khawatir kepada dika.
bukan hanya itu dika juga tidak menjawab telpon atau membalas pesan darinya selama sakit membuat arin sangat merindukannya.
-
__ADS_1
menjelang siang hari, arin memutuskan untuk mendatangi rumah vani hendak menemui dika disana.
sesampainya di depan gerbang rumah vani, arin berjalan masuk tanpa hambatan apapun disana karena para penjaga rumah sudah mengenali arin saat ia datang di acara baby raffa beberapa waktu lalu.
arin sampai di depan pintu utama lalu mengetuk pintunya.
tok...tok..tok...!
arin mengetuk pintu dengan cukup keras karena sudah tidak sabar ingin menemui dika.
cklekk! tidak lama pintu pun terbuka. terlihat bi ina yang membukanya.
"maaf mbak nyari siapa ya?" tanya bi ina menatap arin.
"saya mau ketemu sama mas dika atau vani bisa tolong panggilkan bik?" jawab arin.
"oh baik mbak. tunggu sebentar ya"
bik ina pun berjalan menuju kamar baby raffa hendak memanggil majikannya.
di dalam kamar baby raffa terlihat vani baru saja selesai memandikan bayinya di bantu oleh sri selaku baby sitter.
setelah selesai memandikan bayinya vani juga menyusui raffa agar kembali tertidur seperti biasanya.
tok..!!!! tok..!!! tok...!!!!
bik ina mengetuk pintu kamar baby raffa.
hana yang sedang menemani vani di dalam pun langsung membukakan pintunya.
ceklek! pintu terbuka.
"iya ada apa ya bik?" tanya hana menatap bik ina.
"maaf non, ada tamu yang datang ingin bertemu dengan nyonya" ucap bi ina kepada hana.
"oh siapa ya bik?"
"maaf tapi saya juga lupa nanya namanya non"
"iya udah nanti kak vani bakal keluar buat nemuin kok bik, suruh tamunya nunggu aja dulu ya. soalnya kak vani masih nyusuin baby raffa"
"baiklah non"
bik ina kembali berjalan menemui arin hendak mengatakan kepadanya untuk menunggu vani sebentar lagi.
sesampainya di ruang tamu bik ina pun menyampaikan ucapan vani sebelumnya agar arin menunggu.
"maaf mbak mohon tunggu sebentar ya karena nyonya masih menidurkan baby raffa di kamar"
"iya udah bik saya tunggu di sini aja deh kalo gitu. oh ya bi, mas dika di mana ya?" arin hendak memastikan.
"pak dika udah pergi ke kantor tadi pagi mbak"
"em, bukannya mas dika lagi sakit ya kenapa udah pergi ke kantor?" tanya arin bingung.
"iya mbak. pagi tadi kondisi pak dika sudah membaik dan beliau memutuskan untuk pergi ke kantor hari ini karena pekerjaannya yang banyak" jawab bi ina.
"oh ya udah bi makasih ya" arin pun mengangguk.
"sama sama mbak"
bik ina pun berjalan menuju dapur meninggalkan arin sendirian di dalam ruang tamu.
"ih mas dika udah sembuh tapi enggak ngabarin aku sama sekali" gerutu arin kesal.
__ADS_1