Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 164


__ADS_3

Setelah selesai makan malam rangga dan istrinya duduk di dalam ruang keluarga yang di ikuti oleh vani juga duduk di samping kakak iparnya itu.


vani menunggu sesuatu yang ingin rangga bicarakan kepada dirinya seperti yang sudah ranty sampaikan sebelumnya.


lama vani sudah menunggu hingga matanya mengantuk namun rangga justru hanya diam saja santai sambil duduk di atas sofa memainkan ponselnya.


vani yang sudah mengantuk pun akhirnya bertanya lebih dulu kepada rangga tentang apa yang ingin di bicarakan kepadanya.


hal itu mengingatkan vani pada masa lalu saat pertama kali dirinya bertemu dengan rangga di kantor. bos aneh yang mengabaikan keberadaan dirinya padahal jelas jelas ia berdiri tepat di hadapannya. ternyata hal itu sama sekali tidak berubah begitu pikirnya.


"oh ya mas, apa yang mau mas rangga bicarakan?" tanya vani akhirnya membuat rangga menoleh kepadanya.


"oh iya mas sampe lupa, jadi gini vani mas mau mulai besok kamu balik kerja lagi di kantor sebagai sekretaris dika ya" ujar rangga.


"balik kerja di kantor?" vani bingung namun wajahnya terlihat lebih cerah dari pada sebelumnya.


"iya vani, kalo kamu kerja di kantor kan otomatis setiap harinya kalian bakal ketemu tuh jadi kamu bisa buat dika jatuh cinta lagi sama kamu atau secara perlahan dia bakalan ingat sama kamu lagi" jelas ranty tersenyum.


"jatuh cinta lagi?"


"iya, ingatan dika memang hilang sebagian tapi di hatinya tetap ada kamu kan jadi kamu harus semangat ya buat dapetin cinta dari suami kamu lagi"


ujar ranty selalu memberi dukungan penuh kepada adik iparnya yang sudah seperti adik kandungnya sendiri itu.


"em, mas yakin?"


"iya" rangga mengangguk.


"oke deh makasih ya mas"


"hem"


vani tersenyum memang benar yang dikatakan oleh rangga dan ranty jika ia kembali bekerja di kantor otomatis dirinya akan bertemu dengan dika setiap hari. setidaknya rasa rindu di hati kepada suaminya itu akan sedikit berkurang saat bisa menatapnya dari dekat.


vani masuk ke dalam kamarnya hendak segera tidur agar besok ia kembali bersemangat untuk pergi ke kantor.


"alhamdullilah, berarti mulai besok aku bisa ketemu lagi sama kamu mas. aku kangen banget sama kamu" vani menatap foto suaminya yang sedang ia pegang di tangan.


di kediaman dokter radit, menjelang tidur radit yang sudah berbaring di atas ranjang bersama istrinya pun bercerita kepada arin mengenai beberapa pasien yang di tangani setiap harinya.


radit bercerita sambil tertawa saat menceritakan ada pasien yang bersikap lucu di rumah sakit.


"semoga, pasien kamu semuanya cepet sembuh ya mas"


"amin"


"oh iya mas, kamu juga ikut menangani kondisi mas dika kan?"


"iya sayang aku sama dokter farhan"


"gimana perkembangan keadaannya mas?"


"untuk sekarang masih sama, tapi aku yakin dika enggak akan melupakan istri dan anaknya lebih lama kok"


"hem, kasian vani katanya sekarang mereka lagi pisah rumah mas"


"kita doain aja yang terbaik buat mereka, sekarang kita istirahat ya"


"em, iya" arin mengangguk dan tidur dalam pelukan suaminya.


sedangkan putri mereka sudah tidur di dalam box bayi sejak tadi.


Hari ini dengan semangat vani bangun dari tidurnya lalu bersiap hendak berangkat ke kantor bersama rangga.


setelah selesai sarapan akhirnya mereka berangkat ke kantor. tak lupa vani juga berpamitan kepada putranya terlebih dahulu.


"sayang, mama pergi kerja dulu ya ingat affa enggak boleh nakal di rumah. affa main sama mbak rara dan mbak rasty ya nanti" emuach!


"iya mama" raffa pun mengangguk memeluk mamanya.


"ayo vani, kamu udah siap kan?" tanya rangga.


"iya mas"


"mbak, aku titip raffa ya" vani menatap ranty.


"iya kamu tenang aja mbak pasti bakal jagain raffa sama kaya rara dan rasty juga" ranty mengusap lengan vani.


"makasih ya mbak, kalo gitu aku pamit ya mbak"


"semangat ya vani" ranty memeluknya.

__ADS_1


"iya mbak pasti"


"papa pergi dulu ya sayang ingat rara juga jagain adek adek ya dan jangan ada yang bandel kasian mama"


"siap papa" rara tersenyum sambil hormat.


"aku pergi dulu ya sayang kalian baik baik di rumah" rangga pun mengecup kening istrinya sebelum pergi


"iya kalian hati hati ya mas"


"dahh papa!" rara melambaikan tangannya.


sesampainya di kantor rangga langsung mengajak vani masuk ke dalam ruangan dika tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


ceklek!


keduanya berjalan masuk dan melihat dika yang sudah berada di dalam ruangannya. dika yang sedang duduk di kursi kerjanya pun menoleh ke arah pintu dan melihat kedatangan rangga bersama vani.


"dika!" rangga berjalan mendekati meja kerja adiknya.


"bang rangga, ada apa? kenapa dia ada disini?" dika melirik kearah vani.


"oh, mulai hari ini vani bakal kerja di sini"


"oh ya, bagus deh"


"iya dia bakal jadi sekretaris lo karena ray masih sibuk di london jadi untuk sementara vani yang bakal gantiin posisinya"


"hah! lo serius?"


"iya kenapa?"


"iya enggak papa sih, baguslah seenggaknya ada yang bantuin gue buat ngatur jadwal"


"bagus kalo lo setuju mulai sekarang lo bisa bawa dia kemana pun yang lo mau, gue juga masih sibuk nih.


"hem"


"vani mas keluar dulu ya, semoga kamu betah"


"makasih mas" vani mengangguk.


rangga berjalan keluar dari dalam ruangan adiknya itu.


ingin rasanya vani memeluk tubuh suaminya itu karena sangat merindukannya namun tidak bisa ia lakukan sekarang.


"iya mas, makasih"


dika hanya diam mendengarkan panggilan sekretaris barunya itu kepadanya.


"hhhh! sopan banget" gumam dika meliriknya.


"em, maksud saya pak dika. terima kasih " vani meralat ucapan sebelumnya.


vani sudah terbiasa dengan panggilan itu rasanya sangat canggung jika harus kembali memanggil suaminya dengan sebutan pak dika.


"saya permisi pak"


"hem" dika mengangguk.


vani tersenyum canggung lalu berjalan keluar dari dalam ruangan dika.


"aneh banget" dika menggelengkan kepalanya.


setelah beberapa jam bekerja dika menelpon sekretarisnya.


kring..!! telpon di meja kerja vani berdering.


"hallo pak?"


"vani kamu masuk keruangan saya sekarang"


tut!! dika langsung menutup telponnya setelah mengatakan itu.


"baik pak"


vani beranjak lalu berjalan masuk ke dalam ruangan dika.


cklekk.....! vani membuka pintu ruangan lalau berjalan masuk mendekati meja kerja dika yang berada di dalam ruangan luas itu.


"permisi pak, apa yang visa saya lakukan?"

__ADS_1


vani melihat suaminya sedang sibuk membolak balik lembaran berkas di tangannya.


"tolong kamu antarkan berkas ini ke ruangan HRD dan berikan pada jay" dika menyerahkan sebuah map di tangannya.


"baik pak" vani pun mengangguk.


vani langsung berjalan keluar menuju ruangan jay untuk menyerahkan map secara langsung.


sesampainya di depan ruangan jay, vani mengetuk pintu lalu masuk ke dalam setelah mendapat persetujuan.


"permisi pak jay, ini berkas dari pak dika"


vani berjalan mendekati meja kerja jay lalu menyerahkan map di tangannya.


"vani! kamu kerja disini lagu?"


jay sedikit bingung karena nyonya muda wijaya datang keruangan kerjanya untuk mengantarkan sebuah berkas.


"iya pak jay"


"kenapa? bukannya waktu itu kamu bilang kalo pak dika enggak ngizinin kamu kerja lagi ya"


"saya udah di izinin kerja pak. ya udah kalo gitu saya permisi ya pak jay"


"vani tunggu sebentar"


"iya pak ada apa?"


"em, saya mau bilang"


"maaf pak jay saya masih sibuk kalo itu bukan tentang pekerjaan saya harus pergi sekarang"


"saya cuma mau bilang seharusnya kamu panggil saya aja untuk mengambil berkasnya jadi kamu enggak perlu capek capek mengantarnya"


"enggak papa pak jay. saya senang kok bisa jalan jalan sekalian lagian saya enggak capek pak"


"baiklah kalo gitu terima kasih ya"


"permisi pak"


vani berjalan keluar dari dalam ruangan jay.


jay hanya menatap kepergian vani hingga keluar dari dalam ruangannya.


"sungguh sangat sulit untuk menggapainya" jay tersenyum setelah kepergian vani dari dalam ruangannya.


sampai saat ini jay masih belum menikah padahal usianya sudah hampir menginjak angka tiga puluh namun ia masih betah sendiri menikmati hidupnya.


saat jam makan siang rangga mengajak dika dan vani untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang biasa mereka kunjungi.


saat ini ketiganya sudah duduk saling berhadapan hendak memulai makan siang di resto itu.


"ayo kalian pesan makanan dulu sekalian mas nitip pesan yang ini aja ya vani" ujar rangga sambil sibuk menatap ponsel di tangannya.


"baik mas" vani menatap daftar menu di tangannya.


"pak dika mau pesan apa?" tanya vani hendak memesan makanan untuk mereka bertiga.


"apa aja deh saya lagi enggak selera makan soalnya" jawab dika cuek sambil menatap ponselnya juga.


"ya udah saya aja yang pesenin ya" vani pun memesan makanan untuk mereka.


tidak lama setelah memesan, akhirnya waiters datang membawa makanan dan menyajikannya diatas meja.


melihat semua makanan yang tersaji di hadapannya itu dika pun bingung karena vani memesan makanan yang disukainya.


"em, ayo sekarang kita makan ya pak" ujar vani pada kedua bosnya itu.


"kamu kok bisa tau makanan kesukaan saya?"


pertanyaan dika menyadarkan vani jika seharusnya ia tidak tahu apa makanan kesukaan bosnya itu.


"em,,,"


vani bingung harus menjawab apa karena dika sedang menatapnya dengan serius.


"em, itu cuma kebetulan dika karena vani juga suka emangnya kenapa?" rangga memberi jawabannya.


"iya enggak papa" dika pun terdiam dan mulai memakannya saja.


hari hari mereka berjalan dengan baik karena bekerja di kantor membuat vani bisa bertemu dika setiap hari.

__ADS_1


meskipun hubungan keduanya hanya seperti seorang karyawan dengan bos namun hal itu membuat vani lebih semangat dalam berkerja.


__ADS_2