Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 158


__ADS_3

sesampainya di dekat danau dika dan dan vani hendak turun bersama dari dalam mobil, tidak perduli dengan gerimis yang masih cukup deras namun dika melarang istrinya untuk ikut turun.


"sayang kamu jangan ikut ya entar kalo kamu sakit raffa juga bisa sakit jadi kamu di dalam mobil aja ya"


"tapi mas, aku kan khawatir" vani berkata dengan wajah yang sedih.


"iya aku tau sayang tapi kamu percayakan sama suami kamu ini, aku bakal cari yuli di dalam sana. kamu tunggu di sini aja ya" dika meyakinkan istrinya.


"em, iya mas" akhirnya vani pun mengangguk setuju.


dika turun dari dalam mobil sendirian lalu masuk ke area sekitar danau. ia melihat kesana kemari untuk mencari keberadaan yuli.


dika berlari kecil mengelilingi tepian danau itu namun dirinya tak kunjung menemukan keberadaan yuli.


"yuli...!" panggil dika namun tak ada jawaban. ia tidak melihat ada seorang pun di sana.


dika terus berjalan ke sisi lainnya namun tetap tidak menemukan adik iparnya itu.


"yuli lo dimana sih, tau gak lo itu sama aja deh kaya vani setiap galau pasti ngilang" dika mengomel sendiri sambil terus berjalan mencari.


"atau mungkin dia udah pulang ya?"


setelah lelah mencari keberadaan yuli akhirnya dika pun melihat seorang wanita sudah jatuh pingsan di bawah pohon besar yang berada di pinggiran ujung danau.


"itu yuli bukan sih, kok agak serem ya?"


dengan cepat dika berjalan menghampiri wanita yang sudah tergeletak di bawah pohon besar itu karena meyakini jika wanita yang dilihatnya adalah yuli.


setelah memastikan jika wanita pingsan itu benar benar adik iparnya, dika pun langsung mengangkat tubuh yuli dan membawanya menuju mobil.


sepertinya yuli sedang bersembunyi di sana hingga tidak sadar ia berada di tempat yang cukup jauh dari danau.


saat masih gelisah menunggu di dalam mobil akhirnya vani melihat suaminya kembali dengan menggendong tubuh seorang wanita yang ia yakini adalah adiknya.


vani menjadi semakin panik karena melihat yuli yang tidak sadarkan diri dengan tubuh sudah basah kuyup.


sesampainya di dalam mobil vani langsung memeluk tubuh adiknya yang terasa sangat dingin karena sudah berada di dalam guyuran air hujan selama berjam jam lamanya.


"ya ampun mas, yuli kenapa kok bisa pingsan?"


vani sudah pindah tempat duduk untuk menemani adiknya di bagian jok belakang.


"enggak tau sayang, kita ke rumah sakit sekarang ya"


vani mengangguk setuju, dika langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


di dalam kamarnya ray sedang berpikir dan merasa bingung atas ucapan dika sebelumnya karena telah memarahi dirinya.


saat ini ray memang sedang merasa bersalah karena telah meninggalkan yuli tanpa mengantarnya pulang lebih dulu sore tadi di tepi danau itu.


"ck! gimana keadaan yuli sekarang ya" ray merasa khawatir dengan keadaan gadis itu.


"gue harus cari yuli"


ray berdiri lalu berjalan keluar dari dalam kamarnya berniat untuk ikut mencari keberadaan yuli di tepi danau.


saat ini vani dan dika sedang cemas menunggu kondisi yuli di rumah sakit. setelah dokter selesai memeriksa keadaannya yuli langsung di pindahkan ke dalam ruang rawat inap yang berada di rumah sakit itu.


setelah memastikan kondisi yuli stabil dika pun menelpon ray untuk memberitahukan jika adik iparnya itu sudah di temukan.


tidak menunggu lama ray langsung menjawab telpon dari bosnya itu.

__ADS_1


"halo dika, gue mau ikut cari yuli di sana ya"


"gue udah nemuin yuli jadi lo enggak perlu cari dia lagi" jawab dika dengan sedikit ketus.


"ah syukur lah kalo gitu, apa kalian udah sampe di rumah sekarang?" ray ingin memastikan.


"enggak, kita lagi di rumah sakit. gue nemuin yuli udah pingsan di pinggir danau" .


"apa! pingsan? oke gue kesana sekarang" ray langsung mematikan telponnya lalu kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


setelah mematikan telponnya dika kembali masuk ke dalam ruangan yuli dan melihat istrinya sedang duduk di samping bankar sambil menangis tanpa suara.


dika berjalan mendekat lalu mengusap lembut kedua sisi pundak istrinya dari samping untuk menenangkan vani yang sedang sedih.


"sayang kamu jangan nangis kaya gini dong, kan kamu sendiri yang bilang kalo yuli enggak selemah itu jadi dia pasti kuat tadi dokter juga bilang kondisinya udah baik baik aja dan cuma butuh istirahat sekarang"


"mas aku enggak tega liat dia kaya gini" hiks hiks


vani memeluk tubuh dika yang sedang berdiri tepat di


sampingnya itu lalu menenggelamkan wajahnya di bagian perut suaminya sambil terisak.


"iya aku tau sayang, kamu tenang dulu ya sekarang" dika mengusap lembut rambut istrinya yang sedang sedih itu.


merasa vani sudah sedikit tenang dika pun melepaskan pelukannya lalu berlutut di hadapan istrinya yang sedang duduk di kursi itu.


dika memegang dan mengecup kedua punggung tangan istrinya dengan lembut lalu tersenyum menatap vani yang masih sesegukan karena menangis.


"istriku yang cantik jangan nangis lagi ya, entar cantiknya hilang terus jadi jelek deh" dika menoel hidung vani sambil bercanda untuk menghibur istrinya itu.


"biarin! emangnya kalo aku jadi jelek kamu enggak cinta lagi ya sama aku?" vani sambil mengusap hidungnya yang mengeluarkan air.


"ih! kamu jorok banget deh sayang liat tuh kamu ingusan, nih di lap dulu pake tisu" dika menyodorkan kotak tisu kepada istrinya.


"ih kamu jelek banget sih sayang kalo nangis kaya gitu, sampe ingusan lagi"


omel dika namun sambil mengusap dengan lembut air mata di pipi istrinya serta hidungnya juga dengan beberapa lembar tisu di tangannya sedangkan vani hanya diam saja.


"jangan nangis lagi ya sayang ku, aku bakal selalu cinta kok sama kamu. ya walaupun kamu jadi jelek"


dika tersenyum jahil sambil menggenggam wajah istrinya yang sudah memerah karena menangis vani mengangguk lalu terdiam.


"nah gitu dong istriku yang cantik" dika memeluk tubuh istrinya yang sudah lemah karena sejak tadi menangis.


beberapa menit kemudian, ray yang sudah sampai di rumah sakit langsung masuk ke dalam ruangan yuli dengan wajah terlihat khawatir.


ceklek!


ray membuka pintu ruangan itu dan melihat vani serta dika yang masih berada di sana.


"dika! gimana keadaan yuli sekarang?" tanya ray menatap wajah dika yang datar.


"iya, kondisinya udah lumayan stabil"jawab dika seadanya.


"vani maafin aku ya karena udah ninggalin yuli di sana tadi sore" ray beralih menatap vani.


"em, iya enggak papa kok mas ray itu juga bukan salah kamu" jawab vani dengan suara pelan.


mendengar ucapan istrinya itu rasanya dika ingin sekali memarahi ray karena sudah pura pura tidak peka pada perasaan yuli selama ini kepadanya.


sebagai sesama pria yang juga memiliki hati dika merasa jika selama ini ray hanya pura pura tidak tau bukannya benar benar tidak tahu tentang perasaan yuli yang begitu terlihat kepadanya. lagi pula selama ini ray juga selalu membalas perhatian yang yuli berikan kepadanya.

__ADS_1


hal itu membuat dika merasa kesal pada sahabatnya itu. jika memang ray tidak memiliki perasaan apapun kepada adik iparnya mengapa selama ini ray harus memberi harapan kepada yuli begitu pikirnya.


"eh ray..." ucapan dika menggantung karena vani langsung menahan tangan suaminya agar tidak memarahi ray lagi.


vani merasa jika hal itu memang bukanlah kesalahan ray sepenuhnya. melainkan juga kesalahan adiknya yang terlalu berharap kepada ray.


"mas, em gimana ya aku kepikiran raffa nih" vani pun mengalihkan pembicaraan.


"ee, ya udah kita telpon hana aja ya sayang" dika hendak mengambil ponselnya.


ddrrt! ddrrt! namun sebelum dika menelpon hana justru ponsel vani sudah berdering karena hana sudah lebih dulu menelpon kakaknya itu.


"ini hana telpon mas" vani segera menjawab telponnya.


Vani: ya halo hana, ada apa?


Hana: kak gimana, apa kak yuli udah ketemu?


Vani: udah hana tapi yuli masih pingsan.


Hana: hah! kok bisa kak.


Vani: nanti kakak ceritain ya.


Hana: oh iya udah kak.


Vani: iya, hana raffa gimana?


Hana: nah itu dia kak, bisa enggak kalo kakak pulang sekarang soalnya dari tadi raffa nangis terus nih enggak mau berhenti nangisnya, padahal aku udah kasih susu tapi tetap enggak mau dia manggil mama terus.


Vani: oh iya udah kalo gitu kakak pulang sekarang ya hana.


Hana: iya kak.


vani pun mematikan sambungan telepon lalu menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.


"hana bilang apa sayang?" tanya dika melihat raut wajah khawatir istrinya.


"hana bilang raffa nangis terus manggil aku mas. aku khawatir deh kalo dia enggak mau berhenti nangisnya"


"oh ya udah kalo gitu kita pulang sekarang ya sayang"


"tapi yuli gimana mas, masa kita tinggalin sendirian sih"


"udah kamu tenang aja ya, kan ada ray disini yang bakal jagain yuli. iya kan ray?" dika menatap ray tajam.


"em, iya vani aku pasti bakal jagain yuli di sini dengan baik. kalian pulang aja kasian raffa di rumah lagian dika juga udah basah kuyup kaya gitu" jawab ray saat vani menatap kearahnya.


"iya sayang aku juga udah kedinginan nih" dika dengan wajah melasnya.


"ya udah deh mas kalo gitu kita pulang sekarang. mas ray tolong jagain yuli di sini ya"


"pasti vani" ray mengangguk.


"ya udah kami pulang dulu ya ray jangan lupa langsung kabarin kalo ada apa apa sama yuli" ujar dika.


"baik bos" ray kembali mengangguk.


setelah kepulangan dika dan vani dari sana, ray pun duduk di kursi yang berada di samping bankar yuli. ia menatap wajah pucat yuli dengan rasa bersalah.


"maafin saya ya yuli"

__ADS_1


ray menggenggam serta mengusap tangan gadis itu.


__ADS_2