Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 127


__ADS_3

di kediaman wijaya terlihat mama ratih dan papa hardi sedang gelisah menunggu kepulangan putra dan menantu bungsunya karena sejak tadi tidak ada kabar apapun dari mereka.


saat ini ranty sudah berada di rumah mertuanya karena rangga sempat mengirim pesan kepada istrinya jika dirinya sedang bersama dengan dika mencari keberadaan vani yang hilang dan rangga meminta ranty datang ke rumah orang tuanya untuk menemani papa dan mamanya yang pasti merasa khawatir.


"aduh pa, gimana ini kenapa dika belum ngabarin juga ya?"


mama ratih berdiri tidak tenang sambil mondar mandir di depan suaminya.


"sabar ma mungkin mereka masih nyari vani atau udah jalan pulang"


papa hardi berusaha menenangkan istrinya meskipun ia sendiri juga tidak bisa tenang.


"tapi pa, handphone mereka itu enggak ada yang aktif semua enggak bisa di hubungin"


"mungkin enggak ada sinyal atau handphonenya lobet ma"


ranty pun ikut menenangkan mama mertuanya juga.


"iya tapi mama khawatir banget sayang"


di saat semua orang sedang gelisah sekaligus khawatir menunggu kabar dari vani yang hilang terlihat arin hanya duduk diam di atas sofa disana. ia tidak terlalu memikirkan tentang vani namun justru dirinya sedang memikirkan dika sedang dimana saat ini.


'mas dika lagi dimana ya?' batin arin.


"mama! papa sama om dika lagi bareng tante cantik ya?"


rara pun ikut mengerti kekhawatiran opa dan omanya itu.


"iya sayang, rara kalo udah ngantuk tidur aja disini dulu ya. mama masih mau nungguin papa sama om kamu pulang bawa tante cantik juga"


"iya ma"


rara mengangguk lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan meletakkan kepala di atas pangkuan mamanya yang sedang duduk.


saat dika dan yang lainnya sudah lelah berjalan di dalam hutan akhirnya mereka pun berhasil menemukan vani yang sudah terduduk lemah dan bersandar di bawah sebatang pohon yang besar itu.


"apa itu vani?"


rangga menunjuk kearah pohon yang terlihat ada seorang wanita duduk di bawahnya.


"hah! pak rangga yakin? gimana kalo ada hantu di hutan ini" yuli bersembunyi di balik punggung rangga dan dika.


"huh! dasar yuli bisa bisanya dia sembunyi"


ray menggelengkan kepalanya melihat yuli bersembunyi di balik punggung kedua pria itu.


ray pun segera turun dari dalam mobil lalu berjalan mendekati kedua bosnya disana.


"gimana bos, apa bos yakin kalo itu vani" tanya ray setelah berdiri di samping rangga.


"ayo kita kesana sekarang" ajak dika.


"lo yakin dik? tapi kok gue agak merinding ya" rangga mengusap tengkuknya.


"gue harus mastiin bang kalo kita pergi dan ternyata bener itu istri gue gimana?"


"iya juga sih. ya udah ayo" rangga akhirnya setuju.


dika langsung berlari mendekati wanita itu sedangkan yang lain ikut berjalan mengikuti langkah dika. meski sedikit ragu dengan apa yang di khawatirkan oleh yuli sebelumnya namun mereka harus tetap memastikan.


dika lebih dulu sampai di dekat pohon karena sebelumnya ia berlari hendak segera memastikan apa benar wanita yang sedang duduk disana adalah istrinya atau bukan.


"sayang?"


dika perlahan menyingkap rambut vani yang berantakan menutupi wajahnya.


"mas,,,"


vani yang masih berusaha untuk tetap sadar merasa ada orang yang datang mendekatinya.


dengan mata tetap terpejam vani memegang lengan orang tersebut dan meyakini jika seseorang itu adalah suaminya.


"iya ini aku sayang"

__ADS_1


dika yang sudah melihat wajah vani langsung memeluk istrinya itu.


"kak vani!! kamu baik baik aja kan?" yuli pun berlari mendekati kakaknya.


"mas dika, sakit!"


keluh vani dalam pelukan dari suaminya dengan suara yang lemah.


"mana yang sakit sayang?"


"anak kita mas"


"sayang, kamu tahan ya kita ke rumah sakit sekarang"


dika mengecup kening istrinya dengan lembut memberi perasaan tenang kepada vani padahal dirinya sendiri juga tidak bisa tenang melihat keadaan istrinya itu.


"dika kayanya vani udah pendarahan deh"


rangga melihat ada darah mengalir di kaki adik iparnya itu pun semakin khawatir juga.


"ya ampun kak, pasti sakit banget ya"


yuli sangat khawatir dan tidak tega melihatnya.


"ayo ke rumah sakit"


dika langsung menggendong tubuh vani dan berjalan menuju mobil. ray pun dengan sigap membukakan pintu mobilnya agar mereka dapat segera pergi ke rumah sakit.


yuli duduk di bagian jok belakang mobil untuk menemani vani dan dika sedangkan rangga di bagian depan bersama ray yang menyetir mobil.


mobil mereka segera menuju ke rumah sakit terdekat karena keadaan vani yang sudah sangat lemah.


"shh!! perut aku sakit mas kayanya aku enggak kuat lagi"


dengan suara lemah vani berusaha untuk tetap sadar.


"sakit banget ya sayang, sabar ya kamu pasti kuat sebentar lagi kita sampe di rumah sakit"


"mas apapun yang terjadi nanti aku mohon kamu selametin anak kita ya" minta vani kepada suaminya.


"jangan ngomong gitu dong sayang, kamu sama anak kita pasti bakal baik baik aja" dika mengecup kening istrinya.


vani mencengkram kuat kedua lengan suaminya dan terus meremas tangan dika sambil menahan rasa sakitnya.


"vani kamu tahan ya, jangan sampe kamu kehilangan kesadaran" pinta rangga.


"tapi aku udah enggak kuat lagi mas"


vani yang sejak tadi sudah bersandar di dada suaminya menjawab dengan lemah.


dika tidak sanggup mendengarnya, ia benar benar tidak tau harus berbuat apa untuk mengurangi rasa sakit di tubuh istrinya itu.


"kuat ya sayang aku mohon"


dika semakin memeluk istrinya dengan erat sambil mengecup pucuk kepala vani.


hingga akhirnya dika sudah tidak merasakan pergerakan dari istrinya lagi, tangan vani sudah berhenti mencengkram ataupun meremas lengannya karena ternyata vani sudah kehilangan kesadaran diri di dalam pelukan suaminya itu.


"sayang,,,, bangun sayang"


dika memegang kedua pipi istrinya yang sudah tidak bisa menjawab lagi.


"sayang aku mohon jangan kaya gini.." hiks!


dika menangis sambil terus memeluk tubuh pucat istrinya yang terasa dingin.


untuk kesekian kalinya dika harus merasakan kecemasan yang sama seperti sebelumnya bahkan kali ini kondisi vani dan bayi mereka lebih mengkhawatirkan karena vani mengalami pendarahan yang banyak.


"ray, percepat jalannya mobilnya lo enggak liat vani udah pingsan"


rangga juga khawatir terlebih lagi vani sudah mengalami pendarahan sejak tadi dan itu membuat mereka takut jika bayinya sudah tidak bisa tertolong lagi.


"iya bos ini juga udah cepat"

__ADS_1


ray merasa panik namun ia harus tetap mengontrol laju mobilnya.


sebenarnya ray sudah menyetir mobil dengan kecepatan yang tinggi hanya saja, karena mereka panik rangga merasa jika mobil terlalu lama dalam perjalanan.


sesampainya di rumah sakit vani langsung di bawa masuk ke dalam ruang operasi untuk melahirkan secara caesar.


sebenarnya keinginan vani sangatlah besar untuk bisa melahirkan secara normal dengan di temani oleh suaminya namun takdir tuhan berkehendak lain ia harus melahirkan bayinya dengan cara caesar demi keselamatan keduanya.


setelah dokter memeriksa keadaan vani ternyata keadaan keduanya sudah sangat lemah. dokter kembali menemui dika dan yang lainnya di luar ruangan operasi.


"suami pasien?" tanya dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.


"saya dokter" jawab dika cepat.


"maaf pak kondisi istri dan anak bapak sangat lemah kami akan segera melakukan tindakan untuk menyelamatkan salah satunya jadi bapak harus memilih mengutamakan keselamatan istri atau anak bapak?" ucap dokter


"apa! harus memilih salah satunya?" kaget mereka.


"tidak dokter, bagaimana mungkin saya bisa memilih antara anak dan istri saya. tolong selamatkan keduanya dokter karena saya tidak bisa memilihnya"


dika sedikit kesal atas pertanyaan itu namun hatinya juga sangat hancur saat mendengarnya.


"maaf pak, saya tau ini pilihan yang sangat sulit kami pun pasti akan tetap berusaha melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan keduanya tapi bapak harus memilih salah satu yang harus kami utamakan keselamatannya karena kondisi mereka lemah apapun bisa terjadi pada saat operasi berjalan pak" dokter mejelaskan.


dika kembali mengingat permintaan istrinya jika sampai terjadi sesuatu kepadanya maka vani meminta dika untuk menyelamatkan anak mereka saja namun bagaimana mungkin itu terjadi. dika tidak bisa kehilangan istri yang sangat dicintainya akan tetapi ia juga sangat menyayangi anaknya.


dika benar benar bingung hingga ia hanya bisa terdiam saat memikirkan pilihan sulit itu.


"maaf pak, waktu kita tidak banyak kami harus segera melakukan operasi untuk menyelamatkan pasien" dokter kembali bertanya.


karena merasa bingung dika pun mengalihkan pandangan menatap kearah rangga untuk meminta pendapat dari abangnya.


rangga yang mengerti maksud tatapan dari adiknya itu pun langsung mengangguk tanda setuju dengan apapun keputusan yang akan dika ambil untuk keselamatan anak dan istrinya, rangga percaya apapun keputusan yang dika ambil pasti itu yang terbaik untuk mereka pikirnya.


"tolong selamatkan istri saya dokter"


dengan memejamkan matanya dika menjawab membuat air mata yang sudah ia tahan sejak tadi meluncur bebas di pipinya.


'maafin aku sayang' di dalam hati dika meminta maaf kepada istri dan anaknya karena tidak bisa memenuhi permintaan vani yang ingin agar dirinya menyelamatkan bayi mereka saja.


"baiklah pak kalo begitu kami akan berusaha semampu yang kami bisa untuk menyelamatkan keduanya dengan mengutamakan keselamatan istri bapak" jawab dokter.


yuli yang mendengar keputusan dika pun merasa tersentuh karena melihat bukti nyata begitu besar rasa cinta yang dimiliki abang iparnya itu kepada kakaknya meskipun harus memilih keputusan yang sangat sulit namun dika tetap mengutamakan istrinya.


"suster tolong minta tanda tangan pak dika" ucap dokter kepada salah satu perawat yang menemaninya.


"baik dokter, pak dika tolong tanda tangan disini dan disini juga ya"


perawat itu menyodorkan kertas bukti persetujuan dari pihak keluarga pasien untuk di tanda tangani oleh dika sebagai suami yang berhak dan bertanggung jawab atas kondisi istrinya.


dika langsung menanda tangani lembaran kertas itu agar vani bisa segera di tangani, meskipun dengan tangan yang gemetar dika menanda tanganinya.


"baik terima kasih pak"


suster itu kembali masuk ke dalam ruangan setelah mendapatkan tanda tangan persetujuan.


'maafin papa sayang, papa sayang banget sama kamu tapi papa juga enggak sanggup kehilangan mama kamu. papa memang papa yang egois maafin papa yang enggak bisa jagain kamu, maaf sayang...'


dika berlutut di lantai sambil menangis karena benar benar tidak sanggup dengan keputusannya sendiri hingga ia tidak dapat berdiri dengan tegak di atas kakinya.


"dika, lo yang sabar ya kita cuma bisa berencana tapi tuhan yang menentukan takdir "


rangga pun memeluk adik kesayangannya itu.


"gue bukan papa yang baik bang, gue enggak bisa jagain anak gue sendiri. gue ini papa yang jahat! gue enggak bisa milih keputusan kaya gini hiks! gue emang egois bang, gue bodoh..."


dika memaki sambil menyalahkan dirinya sendiri karena telah mengambil keputusan itu.


"tenang dika, ini semua bukan sepenuhnya kesalahan lo. kita udah berusaha melakukan yang terbaik tapi kehendak tuhan enggak bisa kita ubah jadi lo jangan nyalahin diri lo terus kaya gini ya" rangga mencoba menenangkan adiknya.


melihat kesedihan yang mendalam di wajah abang iparnya, yuli pun ikut menangis ia pun memikirkan kakaknya yang juga pasti akan sangat sedih jika mendengarnya nanti.


yuli tahu jika vani sangat menyayangi calon bayinya dan juga selalu berusaha untuk menjaga dengan baik namun kini keduanya harus rela kehilangan bayi yang sudah mereka nantikan kelahirannya itu.

__ADS_1


__ADS_2