Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 226


__ADS_3

hari terus berganti naya yang sedang bosan di rumah pun memutuskan untuk pergi ke sebuah supermarket di dekat rumahnya dengan di temani oleh mini asisten sekaligus sahabatnya itu.


"mini ayo temenin saya belanja" ajak naya.


"baik bu nyonya" mini tersenyum bersemangat.


"tolong jangan panggil saya nyonya lagi ya mini kan saya temen kamu" ucap naya.


"wah, mana berani saya nyonya" mini menggelengkan kepalanya.


"kenapa? kamu kan emang di tugasin suami saya buat nemenin saya"


naya berjalan karena super marketnya sangat dekat maka mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja.


"tapikan saya tetap asisten nyonya lagian saya ngerasa enggak nyaman kalo harus manggil nama nyonya secara langsung" mini tidak mau mengubahnya.


"hem" naya hanya terdiam karena mini tidak menerima permintaannya.


setelah selesai berbelanja, naya dan mini memutuskan untuk segera kembali pulang namun di dalam perjalanan dari supermarket ke rumahnya naya bertemu dengan seorang pria yang pernah mengisi hatinya.


"naya!"


rico yang merupakan mantan kekasih naya yang pernah menipunya dulu datang menghampiri mereka.


"mas rico?" naya memundurkan langkahnya.


"naya kebetulan kita ketemu di sini aku mau bicara sesuatu sama kamu naya please"


pria itu langsung menarik lengan naya yang hendak pergi.


"enggak! aku enggak mau"


naya menarik tangannya dari dalam genggaman rico.


mini yang melihat rico sedang memaksa naya untuk ikut dengannya pun tidak tinggal diam.


"ih lepasin! kamu itu siapa hah! jangan ganggu majikan saya" mini mendorong pria itu.


"oh jadi sekarang kamu udah berhasil dapetin cowok kaya raya sampe punya pembantu kaya gini"


rico memegang kuat lengan naya hingga ia meringis.


"mas lepasin! sakit"


naya mencoba melepaskan tangannya namun rico lebih kuat dari pada dirinya.


"ayo ikut"


"lepasin nyonya" mini mencoba untuk memukul rico.


bruk!


rico mendorong tubuh mini hingga terjatuh lalu menarik lengan naya dan membawanya pergi menaiki mobilnya.


"mini tolong!"


teriak naya sebelum ia masuk ke dalam mobil itu namun mini tidak sempat menolongnya mobil itu sudah pergi.


"nyonya!" mini panik karena sudah gagal menjaga naya.


"aku harus telpon bapak" ucap mini lalu merogoh ponsel di dalam sakunya.


setelah telpon tersambung mini pun langsung mengatakan tentang naya yang di culik kepada ray.


Mini: halo bapak!


Ray: ya ada apa mini?


Mini: itu nyonya pak!


Ray: ada apa dengan naya?


Mini: nyonya di culik pak.


Ray: apa!! kamu ada di mana?


Mini: saya di rumah pak


Ray: kok bisa!


Mini: tadi kami pulang dari supermarket terus tiba tiba ada yang bawa nyonya pergi pak.


Ray: ck! oke saya kesana sekarang.


tutt!! ray langsung mematikan telponnya lalu meninggalkan pekerjaannya begitu saja.


menjelang siang hari dika keluar dari dalam ruangannya hendak makan siang seperti biasanya. ia keluar dan melihat ray sudah tidak berada di meja kerjanya lagi


"lah, dimana nih anak?"


dika menunjuk meja kerja ray yang terlihat kosong.


"baru juga mau di ajak makan siang. eh udah kabur aja, emang kalo punya dua istri tuh sibuknya dua kali lipat ya"


dika geleng geleng kepala lalu berjalan sendirian menuju lift karena akan segera makan siang di luar.


setelah sampai di rumah naya ray langsung bertanya kepada mini bagaimana penculikan itu bisa terjadi.


"mini dimana naya. dimana istri saya?"


"maaf pak tadi..."


setelah mendengar pernyataan dari mini, ray pun merasa sangat kesal kepada para penjaga dan supir di rumahnya karena telah lalai dalam menjaga seorang wanita saja.


bughhh!!!! ray meninju wajah salah satu kepala penjaga di rumahnya.


"enggak becus! hanya menjaga seorang wanita saja tidak bisa. cepat kalian cari keberadaan naya, jika sampai terjadi sesuatu kepadanya kalian semua saya pecat!" ray marah kepada para penjaga di rumahnya.

__ADS_1


"baik pak" mereka hanya bisa menunduk takut saat ray marah lalu segera pergi untuk mencari keberadaan naya.


saat ini ray sedang sibuk mencari petunjuk kemana arah mobil itu membawa naya pergi.


"ck! naya kamu dimana sih. kenapa kamu selalu buat saya khawatir kaya gini"


sambil fokus menyetir mobilnya ray merasa cemas karena belum tau kemana arah yang akan di tuju.


drt! drt! drt! ponsel ray berdering tanda ada telpon masuk.


ray pun langsung menjawab telponnya meskipun ia tidak tau siapa yang menelpon.


Ray: halo!


Naya: halo pak ray, tolongin saya pak. saya takut!


suara naya terdengar di dalam panggilan telpon itu.


Ray: naya! naya kamu ada dimana sekarang?


Naya: saya enggak tau pak tapi saya takut banget. hiks!


Ray: kamu tenang ya, kamu jangan takut saya akan segera menemukan keberadaan kamu.


Rico: halo, apa benar ini suaminya naya?


Ray: siapa kamu?


ray mendengar suara seorang pria di telpon itu.


Rico: sepertinya anda tidak perlu tau tentang itu tapi yang jelas saat ini istri anda ada si tangan saya.


Ray: punya nyawa berapa kamu berani bermain main dengan ku. geram ray


Rico: begini saja kalau kamu ingin naya pulang dengan selamat siapkan uang sebesar satu milyar untuk menebus nyawanya.


rico dengan senyum penuh kelicikan mencoba untuk memeras ray.


Ray: brengsek!!!! jangan sampe lo berani sentuh naya sedikit pun atau gue bakal habisin nyawa lo.


Rico: terserah! yang jelas gue udah kasih lo pilihan kalo lo enggak setuju gue bakal habisin dia sekarang juga.


rico sambil mencekik leher naya untuk mengancam ray.


naya: aakkhh lepasin! uhuk!!! uhuk!!


naya yang merasa kesakitan hanya bisa pasrah.


Ray: naya! heh brengsek!! oke gue setuju tapi lepasin dia.


ray yang tidak tega mendengar suara naya kesakitan akhirnya setuju dengan permintaan rico.


Rico: bagus gue tunggu secepatnya, gue bakal kirim alamat dimana lo harus bawa uangnya.


rico tersenyum dengan penuh kemenangan.


Rico: tapi ingat! gue enggak mau ada polisi atau naya bakal bener bener mati hari ini juga.


Ray: hhh!! lo tenang aja gue bukan pengecut yang bakal bawa polisi cuma buat nanganin tikus got kaya elo.


ray tersenyum semirk.


Rico: oke bagus!


ray langsung mematikan sambungan telponnya lalu lanjut menelpon dika untuk meminta uang tebusan.


drt! drt! drt!


dika yang melihat panggilan telpon dari sekretarisnya itu pun langsung menjawabnya.


Ray: halo dika!


Dika: ya ray, eh lo kemana aja sih? tiba tiba aja udah hilang terpaksa deh gue jadi makan siang sendirian nih.


omel dika yang sedang duduk di meja sebuah cafe sambil menikmati makan siangnya.


Ray: gue jelasin nanti aja ya yang penting sekarang lo izinin gue buat cairin uang 1M oke.


Dika: heh! gila ya lo? udah kerjaan lo enggak beres tiba tiba minta gaji di bayar di muka lagi.


Ray: dika gue lagi buru buru nih gue harus nyelametin nyawa istri gue sekarang!


Dika: hah! emangnya yuli kenapa?


Ray: bukan yuli tapi naya.


Dika: oh sorry ya gue salah server ternyata, emangnya naya kenapa?. dika meralat pertanyaannya


Ray: naya di culik dan mereka minta uang tebusan.


Dika: emangnya tuh penculik tau ya kalo naya bini lo kok bisa dia minta tebusan segede itu.


Ray: gue enggak tau dika, sekarang gue harus perioritasin keselamatan naya dulu setelah itu gue bakal urus soal dia.


Dika: oke lo dimana sekarang?


Ray: gue masih di jalan mau kesana lo stay di kantor aja ya, soalnya kan pak rangga juga lagi enggak ada di kantor.


Dika: oke deh, entar lo kabarin gue lagi ya.


Ray: thanks ya dika.


Dika: hem


tut!! dika pun mematikan sambungan telponnya.


"hah!! nyesel gue angkat telpon dari dia" gumam dika sambil menyantap makanan di hadapannya.

__ADS_1


setelah ray mendapatkan alamat yang dikirim oleh rico, ia pun langsung melajukan mobilnya menuju lokasi itu.


di dalam kamar sebuah rumah kosong rico sedang menyekap naya.


"lepasin aku"


"heh! kamu jangan munafik naya. kamu juga pasti mau kan? ayolah"


rico hendak melecehkan naya namun dengan keras naya menendang bagian sensitifnya hingga rico meringis.


"sshh!! naya!!"


"kamu jahat!" teriak naya.


"hhh! kamu yang bodoh. kamu pikir aku bakal mau nikahin cewek miskin yang punya ibu penyakitan kaya kamu?"


"pergi kamu"


"naya naya, kamu pikir bakal ada cowok yang mau nerima kamu dan menanggung beban hidup berat kamu itu?"


"hiks! hiks!"


"tapi ternyata ada juga sih cowok bego yang mau sama kamu dan menanggung beban berat kamu itu"


"kehidupan berat aku itu bukanlah beban buat suami aku. dia enggak keberatan sama keadaan keluarga aku bukan kaya kamu, cowok miskin yang mau manfaatin cewek lemah. dasar penipu"


"diam kamu!"


plakk!! rico kembali menampar wajah naya.


"lepasin aku"


"hhh! kamu bakal disini sampe kapan pun karena suami kamu enggak bakal datang buat nyelametin kamu. kamu itu cuma beban buat hidupnya"


"enggak!" hiks! hiks!


rico pergi meninggalkan naya yang sudah ia ikat disana.


rico kesal karena sejak dulu naya selalu menolak untuk melakukan hal itu dengannya.


sesampainya di tempat itu, ray turun dari dalam mobilnya dan berjalan mendekati anak buahnya yang juga baru keluar dari dalam mobil mereka.


"dengar! salah satu dari kalian akan menemui penculik itu sebagai suami naya sedangkan saya dan yang lain akan berjaga di belakang mengerti?" ray menatap anak buahnya.


"baik bos" mereka mengangguk serentak.


"ayo bergerak" mereka pun menuju tempat masing masing.


"siap bos"


"apa mereka ada banyak?" tanya ray kepada anak buahnya yang sedang mengintai sisi lainnya.


"tidak bos, sepertinya hanya main tunggal" jawab anak buah ray.


"apa!!! sendirian? besar juga nyalinya!" ray semakin geram.


"kalau gitu langsung kita serang saja bos"


"nanti saja setelah naya berada di tangan kita"


"baik bos" mereka mengangguk.


"sekarang ayo kita masuk dan bebasin naya" perintah ray mengajak anak buahnya.


Di dalam kamar kosong itu naya sedang berdiri dengan tubuh terikat dan mulut tertutup. ia sudah merasa lelah karena sejak tadi berteriak dan berusaha melepaskan diri.


tubuhnya juga mengalami dehidrasi karena terus menangis.


rico selalu mengancam dan bersikap kasar kepadanya membuat naya kesakitan. hal itu membuat naya merasa semakin benci melihat pria seperti rico yang hanya bisa menyakiti seorang wanita.


ray sedang berusaha mencari keberadaan naya di dalam rumah kosong itu. mereka masuk dari pintu belakang dengan berjalan perlahan karena mengira ada rekan penculik lain yang akan melihat.


"sepertinya dia benar benar sendirian ayo percepat langkah kita" ucap ray kepada yang lainnya.


"tunggu bos, kayanya ada dua orang temannya disana" tunjuk anak buah ray.


"kalo gitu cepat kalian bereskan tanpa suara sedikitpun"


"baik bos"


anak buah ray langsung membius dua rekan rico yang berjaga disana dari arah belakang.


"beres bos"


"sekap mereka" ray menatap dua orang yang sudah pingsan itu.


"baik bos"


"ayo cepat" ray berjalan memasuki setiap ruangan.


setelah menemukan ruangan tempat naya disekap ray pun langsung mendekati istrinya yang sedang terikat itu.


"naya! kamu baik baik aja kan?"


ray melihat banyak bekas luka di wajah naya yang sudah membiru.


"emhh" naya hanya mengangguk.


"dasar brengsek" umpat ray kesal karena pria itu sudah menyakiti istrinya.


ray langsung membuka penutup mulut naya secara perlahan.


"aw!! sakit pak!" naya meringis.


"sebentar ya, saya buka ini dulu"


ray berusaha untuk membuka ikatan tali dari tubuh naya.

__ADS_1


__ADS_2