Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 234


__ADS_3

saat baru saja vani dan dika terlelap di alam mimpi yang indah suara tangisan raja pun terdengar memaksa mereka harus kembali bangun membuka mata yang sudah sangat mengantuk.


"ooekk!!! ooekk!!!" suara tangisan raja.


"em mas raja bangun tuh, aku masih ngantuk banget nih"


vani mengguncang tubuh suaminya agar dika segera memeriksa keadaan bayi mereka yang sedang menangis.


"hem, sayang raja pasti haus deh kamu lah yang bangun buat kasih asi"


dika juga sangat enggan untuk bangun dari tidurnya.


"ck! tapi mata aku berat banget nih mas, capek" keluh vani yang tidak mau beranjak.


"em, iya deh sayang"


dengan malas akhirnya dika pun membuka mata lalu bangun dan melihat pakaian mereka yang masih berantakan di sekitar ranjang.


segera dika bangkit setelah mengenakan piyamanya lalu berjalan menuju box bayi untuk menggendong raja yang sedang menangis.


"cup cup cup! jagoan papa jangan nangis ya, papa di sini sayang. oh raja ngompol ya hem?? sebentar ya ayo kita ganti popok raja dulu ya sayang"


dika mengajak putranya berbicara agar raja berhenti menangis.


dengan telaten dika mengganti popok putranya, setelah selesai mengganti popoknya. raja pun kembali menangis karena merasa haus dan lapar.


"sayang, raja haus ya hem? ayo kita bangunin mama"


dika menggendong putranya lalu mendekat dan duduk di samping istrinya yang masih tertidur pulas.


"sayang, sayang ini anak kita kayanya lagi haus banget deh dia enggak mau berhenti nangis kamu bangun dulu ya" dika membangunkan istrinya dengan cara yang lembut.


"em kasih susu formula aja mas" gumam vani masih enggan bangun.


"tapi sayang, apa raja mau minum susu formula?"


"iya, raja mau kok mas. dia suka dua dua enggak pilih pilih" vani benar benar tidak akan bangun dari tidurnya.


"oh ya udah deh aku buatin, sayang sebentar ya papa buatin susunya dulu"


dika tersenyum sambil meletakkan bayinya di atas ranjang lalu ia berjalan meninggalkan raja sejenak di samping istrinya untuk membuatkan susu formula.


setelah selesai membuat susu formula dika pun langsung memberikan susu itu kepada putranya. dengan sangat lahap raja menghisap susu dari dalam botol susu itu.


"anak papa laper banget ya? hem"


dika terus mengamati putranya yang sedang lahap menghisap susu dari dalam botol susu itu sambil tersenyum.


sesekali dika mengusap kening raja yang berkeringat karena sedang meminum susu hangatnya hingga susu di dalam botol itu habis.


"nah! sekarang susunya udah habis. raja bobok lagi ya sayang soalnya papa juga pengen bobok nih besok papa harus kerja lagi"


dika terus menggendong putranya hingga raja terlelap di dalam gendongannya.


setelah raja kembali tidur, dika pun meletakkan putranya di dalam box bayi yang berada tepat di samping ranjangnya itu. dika kembali terlelap dengan memeluk tubuh istrinya dalam dekapan yang hangat lalu memejamkan matanya untuk beristirahat.


pagi kembali datang menyapa, seperti biasanya saat ini yuli sedang berada di rumah vani karena ia akan merasa bosan jika di rumah sendirian.


mereka kembali membahas tentang naya seperti yang sebelumnya.


"kak gimana? kamu jadi nanya ke bang dika enggak?" tanya yuli.


"em, udah. mas dika bilang dia juga enggak tau"


"masa sih" yuli merasa tidak yakin.


"ih! udah dong kenapa sih kamu masih penasaran aja sama kehidupan mantannya suami kamu itu" ppfftt vani menahan tawanya.

__ADS_1


"ih! apaan sih kak aku enggak penasaran tuh, udah deh enggak usah bahas soal dia lagi" yuli merasa kesal.


"loh kan kamu duluan yang bahas kenapa sekarang jadi galak gitu sih" vani menggelengkan kepalanya.


"hem" yuli cuek memutar bola matanya.


vani dan yuli kembali mengalihkan pandangan mereka menatap baby arka yang sedang duduk di bawah sambil memegang mainan. saat ini baby arka sudah bisa duduk sendiri walaupun masih belajar merangkak namun ia mulai penasaran dengan mainan di hadapannya.


saat vani sedang asik bermain dengan baby arka dari arah pintu raffa pun masuk ke dalam ruangan itu. ia baru saja pulang dari sekolahnya bersama dengan hana yang menjemput keponakannya itu.


"mama! affa pulang" raffa langsung memeluk mamanya.


"eh! anak mama udah pulang ya sayang" emuch! vani mengecup pipi raffa.


"adek arka lagi main apa ma?" raffa menatap baby arka di dekat meja.


"main mobilan tuh sayang" jawab vani tersenyum.


"aunty, affa bolehkan main bareng adek arka kan?" raffa menatap yuli.


"boleh dong sayang, aduh affa makin gede makin ganteng aja deh"


gemas yuli hendak mencubit pipi keponakannya itu namun raffa langsung duduk di bawah bermain bersama baby arka dan mengabaikan tantenya.


"enggak usah di puji terus kaya gitu yul, lagian affa tuh enggak di puji juga udah pede tingkat tinggi"


vani mengingat kelakuan suaminya yang tertular kepada putranya.


"haha. kaya papanya ya kak?" yuli tertawa.


"hem" vani memutar bola matanya.


"iya wajar sih kak, affa kan ganteng nanti kalo udah gede pasti bakal meresahkan hati banyak anak gadis orang" hihi yuli tersenyum jahil.


"no! di larang keras jadi buaya!" vani memperingatkan.


"eh hana, apa kabar, oh ya gimana kabar farel?" tanya yuli menatap hana dengan tersenyum.


"ck! tau ah gelap" hana menjawab malas.


"loh kok gelap sih han, gimana ceritanya? ppfftt" yuli dan vani menggoda adik mereka.


"tau ah kak, aku capek mau istirahat" hana langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya.


"haha! dasar hana plin plan banget deh enggak jelas" yuli menggelengkan kepalanya.


"biarin aja lah yul, hana lagi ada di fase harus memilih pilihan yang tepat" vani tersenyum.


"iya kak" yuli mengangguk.


hari ini ray sedang berada di rumah naya, mereka sedang berkumpul sambil menghias rumah serta kamar untuk menyambut kelahiran calon bayinya beberapa minggu lagi.


"pak ray, makasih ya udah bantuin kita buat nyelesaiin semuanya" naya menatap ray dengan tersenyum.


"naya kamu kok bilang gitu sih, dia kan anak aku juga" ray mengusap calon bayinya.


"em, oh iya pak. kemarin saya belum jadi beli perlengkapan bayinya" ucap naya.


"loh kenapa? bukannya kamu udah pergi belanja bareng dila sama bagas juga ya. kan ada mini yang ngerti harus beli apa aja"


"iya tapi,," naya mengingat pertemuannya dengan yuli.


"tapi apa?" ray memegang kedua pundak naya.


"tapi baby pengen pergi belanja bareng ayahnya" naya menatap ray.


"oh gitu ya. em, ya udah nanti kita pergi bareng ya nak" ray menunduk lalu mengecup calon bayinya.

__ADS_1


naya merasa sangat canggung dan hendak melangkah keluar dari dalam kamar itu.


"naya" namun ray menghentikan langkah naya.


"iya pak?" naya berbalik badan.


"makasih ya, kamu udah jagain dia terus" ray kembali mengusap lembut perut naya.


"em, iya dia kan anak saya juga pak"


"em iya sih" ray mengusap tengkuknya bingung.


"hem" naya tersenyum canggung sambil mengalihkan pandangannya.


"ya udah kita makan dulu aja ya" ray masih canggung.


"iya" naya mengangguk.


keduanya pun berjalan dengan canggung menuju meja makan bersama.


di kantor, dika sedang terlihat diam memikirkan sesuatu sambil duduk di atas kursi meja kerjanya. rangga masuk ke dalam ruangan adiknya hendak mengajaknya makan siang bersama namun ia melihat dika sedang melamun.


rangga yang baru saja pulang dari london minggu lalu itu pun berjalan mendekati adiknya di dalam ruangannya.


"dika, lo kenapa?" rangga mengagetkan dika.


"eh bang rangga, enggak papa kok gue cuma lagi banyak kerjaan aja nih bang" nyengir dika beralasan.


"tumben lo disini bukannya di kantor lo lagi banyak kerjaan juga ya?" tanya rangga.


biasanya dika akan lebih sibuk berada di kantornya yang lain dari pada berada di kantor papanya itu. ya meskipun keduanya memang berada dalam pengawasan dika.


"enggak, gue lagi kosong. lagian ada ray disana bang jadi ya gue disini aja biar lebih nyaman"


dika mencari alasan yang sebenarnya dirinya juga ingin menyendiri karena sedikit ragu jika harus bertemu dengan ray untuk saat ini.


"oh gitu, ya udah kalo gitu ayo kita makan siang bareng udah lama juga kita enggak makan bareng kan. gue pikir akhir akhir ini lo terlalu sibuk di kantor lo itu hhh"


"em oke, ya gue emang sedikit sibuk kemaren bang but its okay ayolah kita makan bareng karena bisa aja kan tiba tiba besok lo udah pergi ke london lagi" sindir dika yang melihat rangga akhir akhir ini sibuk di london.


"hhh! lo bener dik, minggu depan kayanya gue bakal balik ke london lagi nih. kasian papa kewalahan sendirian di sana jadi kapan lo bakal punya waktu main ke london?" tanya rangga tersenyum miring.


"gue belum tau sih bang, titip salam dan sayang dari gue aja deh buat papa sama mama disana. jangan lupa kalian stay healthy ya di sana. gue masih ada kerjaan yang belum bisa gue tinggal di sini" ujar dika pada abangnya.


"its okay lo tenang aja, tapi saran gue lo juga jangan terlalu kecapekan apalagi sampe sakit karena kerjaan. lo bisa cuti kalau lagi capek, next time kita liburan keluarga bareng kalo jagoan kecil udah lebih gedean. okay"


rangga merangkul adiknya sambil berjalan keluar.


"oke deh"


mereka akhirnya meluangkan waktu untuk lunch bareng di cafe dekat kantor.


saat ini dika dan rangga sudah berada di sebuah cafe. mereka duduk berhadapan sambil menikmati makan siang bersama di sela makannya rangga sempat bertanya tentang ray yang akhir akhir ini sangat jarang terlihat.


"oh ya dik, kok tumben lo enggak ngajak ray gitu buat lunch bareng kita disini. gue juga udah jarang banget ketemu sama dia, emang sesibuk itu ya dia?" tanya rangga.


"em, iya kayanya dia emang lagi sibuk banget bang. sampe sampe gue juga udah jarang lunch bareng sama dia"


dika menjawab sambil terus menyantap makanannya.


"oh ya? em tapi emang enggak ada masalah apa pun kan di antara lo berdua?" mata rangga memicing.


"ya enggak lah, lagian ngapain juga kami berdua ada masalah sih. santai aja bang semuanya aman" dika tersenyum tipis.


"hhh! okay lah kalo gitu tapi saran gue lo berdua jangan sampe berantem ya. kan enggak lucu anak udah pada gede masih ribut terus"


rangga selalu mempercayai ucapan adik satu satunya itu.

__ADS_1


"iya bang" dika tersenyum.


__ADS_2