
sebenarnya dika tidak tega melihat karin terus menangis namun ia juga tidak bisa menerima karin kembali dalam hidupnya karena sekarang di hatinya sudah ada vani gadis yang ia cintai.
"udahlah karin, kamu jangan nyiksa diri sendiri kaya gini. aku emang enggak bisa nikah sama kamu"
"tapi kenapa? aku cinta banget sama kamu"
"aku enggak bisa lanjutin rencana pernikahan kita karena aku enggak cinta sama kamu karin. aku harap kamu ngerti"
"enggak dika, jangan bilang kaya gitu. aku enggak mau kehilangan kamu" hiks! hiks!
"selama ini aku udah berusaha buat nerima kamu karin, tapi apa? kamu malah pergi dan enggak pernah ngasih kabar apapun ke aku. kamu udah buat semua usaha ku untuk cinta sama kamu jadi sia sia"
"maafin aku, aku nyesel banget sayang" karin memegang tangan dika.
"kamu ingat? waktu itu kamu cuma ngasih aku kabar dari tagihan kartu kamu yang terkirim di handphone aku. bukan kabar keadaan kamu"
dika kecewa karena selama ini handphone nya berbunyi hanya karena ada notifikasi tagihan kartu kredit yang masuk bukan pesan chat dari karin untuknya.
"bukan kaya gitu sayang..."
"kalo waktu itu aku enggak bekuin kartu kamu, mungkin aja kamu enggak akan pernah pulang lagi karin"
"itu enggak bener sayang, aku tuh cinta sama kamu"
"apa itu yang kamu sebut cinta?"
"tapi aku cuma mau..."
"cukup karin! apa pun alasannya aku tetap mau hubungan kita berakhir"
dika berdiri hendak melangkah keluar dari ruangan karin.
"dika!!! aku enggak mau,,,,"
karin memeluk lengan dika dengan erat agar tidak pergi.
"lepasin karin, maafin aku"
dika melepaskan pelukan karin dari lengannya lalu berjalan menuju pintu keluar.
"enggak! aku lebih baik mati dari pada harus kehilangan kamu dika...!!!"
karin mengambil pisau buah yang berada di atas nakas lalu menyayat pergelangannya sendiri.
"aw!!"
karin meringis, terlihat darah segar mengalir dari pergelangan tangannya.
"karin! apa yang kamu lakuin?"
dika panik melihatnya lalu memanggil dokter sambil memegangi tangan karin yang sedang mengeluarkan banyak darah.
"aku mohon jangan tinggalin aku dika..." ujar karin sebelum ia tidak sadarkan diri.
'maafin aku karin, tolong jangan sakiti diri kamu lagi'
dokter datang hendak mengobati luka karin lalu dika pun langsung keluar dari dalam ruangan itu untuk menunggu di luar saja.
"ck! karin..."
dika mengambil ponsel dari dalam sakunya lalu menelpon ray untuk meminta bantuan.
setelah telpon tersambung.
Dika: halo ray lo dimana?
Ray: ya bos, gue lagi di alam mimpi yang indah nih tapi lo ngerusak semuanya.
Dika: bodo amat, lo ke rumah sakit sekarang.
Ray: hah!! lo sakit apa bos?
Dika: bukan gue, tapi lo urus karin. gue mau pulang.
Ray: hah! ck... dasar karin, selalu aja buat masalah yang ngerepotin orang lain. tapi gue enggak bis,,,,
tut! tut! tut!
telpon terputus karena dika mematikannya secara sepihak.
"hah!! dasar bos. enggak abangnya enggak adeknya sama aja kelakuannya. untung aja lo berdua bos gue, kalo gue yang jadi bosnya udah gue pecat lo berdua" gerutu ray tiada arti lalu ia bergegas pergi ke rumah sakit.
dika langsung pulang setelah menghubungi sekretarisnya dan meminta ray untuk mengurus semua yang bersangkutan dengan karin. ia semakin malas untuk kembali berurusan dengan keras kepalanya karin itu.
sesampainya di rumah dika kembali masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya karena tangan dan bajunya sempat terkena noda darah karin.
setelah itu dika pun berbaring karena merasa pusing memikirkan karin yang menolak jika pernikahan mereka akan di batalkan.
"ck! karin.... kenapa sih lo buat gue stress aja deh" dika mengacak rambutnya.
bosan memikirkan tentang karin akhirnya dika kembali teringat pada kekasihnya.
ia mengambil ponsel lalu kembali menelpon vani dengan panggilan video karena saat ini pikirannya sedang kacau. dika merasa mungkin akan lebih tenang setelah bisa mendengar suara lembut dan melihat wajah cantik gadis yang dicintainya itu.
*
di rumah kak aida vani sedang rebahan di dalam kamarnya bersama dengan yuli dan seorang adik sepupu yang lain bernama hana sambil menonton drama kesukaan mereka.
saat ketiga gadis itu sedang fokus menatap layar di hadapan mereka tiba tiba saja ponsel vani berdering menunjukkan panggilan video di layarnya.
yuli melirik ponsel vani yang berada di samping mereka sedang bergetar dan terlihat layar itu bertuliskan nama my price di dalamnya.
"eh, ada panggilan masuk tuh dari pangeran ku" yuli terkikik geli menggoda kakaknya.
__ADS_1
"ish, apaan sih yul"
vani langsung mengambil ponse lalu beranjak duduk bersandar di bagian kepala ranjang.
"haha"
kedua adik sepupunya tertawa melihat vani kesal.
setelah duduk vani menjawab panggilan video.
Dika: hai sayang, kamu lagi ngapain nih?
Vani: hai mas, ini lagi nonton drama bareng yuli sama hana juga.
Dika: hem, dimana mana ada yuli mulu ya haha.
Vani: iya nih dia seneng banget deket deket aku soalnya.
Yuli: eh, mana ada ya. pacar abang nih yang ngajak aku kesini buat nemenin dia nonton drama bareng.
yuli yang tak terima pun menyela percakapan pasangan kekasih itu.
Vani: haha, kok ngamok?
Yuli: enggak ada akhlak ya lo berdua.
Dika: haha, sabar ya yul jangan marah marah entar kamu cepat tua loh. eh kayanya emang udah tua sih hehe.
Yuli: eh, ni orang berdua emang cocok banget ya jadi pasangan sama sama nyebelin tau gak.
Hana: haha, sabar kak yul mending kita lanjut nonton.
Yuli: iya nih. ayo cuekin aja mereka.
Vani: oh ya, kamu udah makan mas?
Dika: belum nih sayang.
Vani: loh kenapa?
Dika: iya tadi tuh aku lagi,,,
Vani: lagi apa?
Dika: em, aku lagi pengennya di suapin sama kamu sayang hehe. (dika harus berbohong)
Vani: oh gitu, tapi kan kamu lagi jauh disana. gimana dong...
Dika: iya nih, makanya kamu sini dong tinggal bareng aku biar bisa suapin aku tiap hari. hehe
Vani: kamu aja yang datang kesini, biar aku suapin.
"ck! hana, ayo kita keluar aja. enek banget gue dengernya"
yuli menatap hana saat mendengar percakapan pasangan kekasih yang sedang jatuh cinta itu.
"ih, syirik aja deh lo berdua" kesal vani.
"haha" yuli dan hana tertawa puas.
"awas aja ya lo berdua berdua" vani memicingkan mata.
"apaan sih kak vani, kita kan lagi enggak ngetawain kamu"
yuli dan hana pun lanjut nonton drama.
Vani: udah dulu ya mas, disini hujan jadi suara kamu enggak kedengaran.
vani beralasan sebenarnya ia hanya ingin menghindari kekasihnya itu.
Dika: kamu kan bisa pake earphone sayang biar suara aku kedengaran.
pinta dika agar vani tidak menutup telponnya.
Vani: iya sih, tapi aku udah ngantuk nih soalnya disini dingin banget karena hujan jadi aku mau bobok aja deh.
vani pun memakai earphone agar suara dika dapat terdengar jelas.
Dika: ya udah sini boboknya biar aku angetin.
Vani: kamu dong yang dateng kesini mas.
Dika: beneran nih sayang?
Vani: hem...
Dika: oke aku datang ya.
Vani: eh! jangan dong mas.
Dika: kenapa sayang, kok enggak boleh sih.
Vani: ini kan udah malam terus hujan juga, aku enggak mau kamu kenapa napa di jalan lagian kan jauh.
Dika: uh! perhatian banget sih pacarku.
Vani: iya dong.
Dika: jadi kamu enggak mau aku kenapa napa ya sayang.
Vani: he'em. mendingan kamu istirahat aja mas besok kan harus kerja
Dika: ya udah deh kalo gitu good night sayang. i love you
__ADS_1
Vani: iya hem.
Dika: love you. ulang dika sekali lagi.
Vani: love you too.
vani akhirnya membalas ucapan itu lalu mengakhiri sambungan telponnya.
tutt!!!
"cie, love you too padahal mau di putusin tuh" yuli kembali menggoda vani.
"loh kenapa kak, kok mau putus sih padahal kan kalian cocok banget" hana tidak mengerti dengan ucapan yuli.
"udah deh. kamu masih kecil hana jadi belum ngerti masalah orang dewasa" yuli menatap hana.
"ih! aku kan udah gede kak" hana memanyunkan bibirnya.
"hh! gede apanya?" haha mereka pun tertawa.
*
saat ini yuli dan hana sedang menatap hujan yang deras dari balik jendela kaca kamar vani.
"haish, kenapa hujannya deras banget sih di luar jadi males banget deh gue mau pulang" ujar yuli
"iya nih kak gimana mau pulang, walaupun rumah kita cuma lima langkah dari sini tetep aja bisa basah kuyup"
hana melihat vani yang sudah masuk kedalam selimutnya hendak tidur.
"kalian pake payung aja, tuh ada payung"
vani menunjuk payung yang berada di dekat pintu.
"ih males banget, tetep aja bakal kena cipratan air hujan yang dingin. mending kita tidur disini aja deh"
yuli masuk ke dalam selimut lalu memeluk tubuh vani yang berada di dalam selimut.
"iya juga sih, em anget banget..."
hana pun ikut masuk ke dalam selimut memeluk tubuh vani dari sisi yang lain membuat vani kini berada di tengah antara kedua adiknya.
"ih kalian apa apaan sih, aku sesak nafas di peluk tau gak"
vani protes pada keduanya karena membuat tubuhnya sulit bergerak.
"ck! kamu kalo di peluk bang dika aja pasrah" celetuk yuli.
"iya beda dong"
"apa bedanya sama sama anget kok" ujar yuli.
"plis, boleh ya kak vani"
hana meminta izin untuk menginap dengan mata berbinar.
"hem, kalo gue sih boleh atau enggak boleh gue bakal tetep tidur disini" yuli terus memeluk vani
"em, ya udah deh kalian boleh nginep disini tapi ingat jangan ada yang ngorok"
peringat vani tersenyum menggoda adiknya.
"ehh, siapa juga yang tidurnya ngorok. ada ada aja deh kak" hana tertawa.
"ya kalian pasti ada yang ngorok kan?"
"enggak tuh" jawab keduanya serentak.
*
di dalam kamarnya dika kembali mengingat karin. ia masih khawatir dengan keadaan gadis itu di rumah sakit namun jika harus kembali menemuinya dika takut karin akan semakin nekat.
'hem mendingan aku jenguk karin lain kali aja deh tunggu sampe keadaannya lebih tenang' batin dika.
akhirnya dika memejamkan mata dan tertidur pulas.
hari ini dika kembali ke rumah sakit untuk menjenguk karin sambil membawa bingkisan buah di tangannya.
sesampainya di rumah sakit, dika langsung menuju ruang rawat dan masuk ke dalamnya. ia pun di sambut oleh senyuman hangat karin.
"karin, gimana keadaan kamu?"
dika meletakkan buah yang ia bawa di atas meja kecil di samping bankar karin.
"sayang, kamu dateng? aku baik" karin tersenyum.
"ini aku bawain kamu buah biar kamu cepat sembuh, di makan ya" dika pun tersenyum.
"makasih ya. aku engga butuh buah selama ada kamu disini aku pasti cepat sembuh sayang"
karin menggenggam tangan dika yang tidak menolaknya.
"ya udah kamu makan yang banyak ya biar cepat sembuh terus nanti kamu harus makan yang teratur biar sakitnya enggak kambuh lagi"
"iya sayang tapi kamu jangan lupa buat ingetin aku terus ya"
"hem, iya"
"makasih sayang"
"kalo gitu kamu makan dulu"
"suapin..." minta karin manja.
__ADS_1
"em, oke" dika pun menyuapi karin
setelah memastikan karin makan dan kembali beristirahat akhirnya dika pun pergi menuju kantor karena ada meeting yang penting.