
di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda, tepatnya di kediaman mewah milik keluarga wijaya.
seorang pria tampan semakin terlihat tampan karena sedang tersenyum merayakan ulang tahun tuan putrinya.
"selamat ulang tahun tuan putri ku sayang" emuch,,,,
"makasih om ganteng ku yang tersayang" emuch,,,,
rara juga mengecup pipi dan memeluk omnya
"kadonya mana om?"
rara mengulurkan tangan untuk meminta hadiah dari omnya itu.
"emangnya rara mau kado apa sayang?"
"em,,, apa ya?"
rara pun menaruh jari di keningnya berusaha memikirkan sebuah kado untuk dirinya yang membuat semua orang gemas saat melihatnya.
"ih kelamaan mikir keburu basi nih kuenya. ayo dipotong"
rangga mencubit gemas pipi putri semata wayangnya itu.
"ih! papa sakit tau" rara manyun.
"aduh, sekarang rara udah gede ya makin berat. tangan om sampe pegel nih gendongnya"
dika menggoda keponakannya itu sambil menurunkan rara dari dalam gendongannya.
"ih om dika. bukan rara yang berat tapi om dika yang udah tua jadi enggak sanggup lagi buat gendong rara tau" hihi
rara tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"haha iya bener tuh sayang. om kamu nih udah tua enggak nikah nikah lagi" rangga menyindir adiknya itu.
dika menatap rangga dengan tatapan tajam, begitu pula sebaliknya rangga melotot ke arah dika.
"kenapa? lo pikir gue takut sama lo"
rangga menantang adiknya namun dika hanya diam tidak mau menanggapi.
"udah dong mas jangan mulai, ayo sayang kita potong kue"
ranty mengalihkan ucapan suaminya agar tidak terjadi perdebatan di waktu yang tidak tepat.
"iya ayo ayo"
mama ratih dan papa hardi juga melanjutkan acara ulang tahun cucu kesayangan mereka.
"em, gimana kalo hadiahnya tante baru aja om soalnya rara pengen punya tante" hihi
rara terkikik karena rangga yang membisikkan hal itu kepadanya.
"nah, bener tuh sayang" rangga tos dengan putrinya.
"iya iya nanti om beliin kamu tante baru" jawab dika cuek.
"kok di beli sih om, emangnya ada tante tante yang di jual di mall ya?" tanya rara polos.
"ppffttt!" ray menahan tawa mendengar ucapan putri dari bosnya itu.
"iya ada dong sayang, banyak banget tante tante yang cuma mau duit doang" dika kesal menjawabnya.
"haha, curhat nih ye" celetuk rangga.
"kamu nih mas godain dika terus" ranty menatap suaminya sambil tersenyum.
"biarin aja sayang, biar dia cepetan nikah kaya kita ini" rangga terus menggoda adiknya.
"udah udah ayo sayang suapin oma sama opa dong kuenya" minta mama ratih mengakhiri perdebatan di antara kedua putranya.
meskipun rangga belum nambah momongan dan dika juga belum mau menikah tetapi papa hardi dan mama ratih tak pernah memaksakan keinginan kepada kedua putra mereka itu.
papa hardi dan mama ratih selalu bersyukur dengan apa yang sudah mereka miliki saat ini. walaupun rasanya memang belum lengkap tanpa adanya kehadiran seorang cucu laki-laki dan menantu bungsu yang akan melengkapi kebahagiaan keluarga besar mereka namun mereka tidak ingin terburu buru dan memaksa kedua putranya.
dika pulang ke tanah air hanya untuk merayakan ulang tahun keponakannya, sekaligus ada hal penting yang harus ia kerjakan di kantornya.
ia akan kembali ke london setelah menyelesaikan meeting penting di kantornya karena selama ini hanya ray yang mengurus perusahaannya itu.
saat ini dika sedang duduk di atas sofa kamar sambil menatap sebuah cincin di dalam genggamannya.
'kenapa susah banget buat ngelupain kamu'
'apa sedalam itu cinta yang pernah kamu tanam di hati ku sampe aku enggak bisa ngelupain kamu sayang?' batin dika sambil menatap cincin yang masih sama.
"aku tetap enggak bisa lupain kamu padahal aku udah berusaha untuk sibuk kerja siang dan malam setiap hari sampe jatuh sakit karena kecapekan. aku juga pergi jauh dari hidup kamu kaya yang kamu minta tapi kenapa aku enggak bisa nemuin wanita lain yang seperti kamu"
__ADS_1
dika berbicara sendiri lebih tepatnya ia sedang berbicara dengan sebuah cincin di tangannya.
"kamu benar benar udah buat aku gila vani"
"arrgghhh!!!!"
ckrakk!! brukk!!
dika merasa kesal lalu melempar vas bunga di hadapannya ke sebuah cermin di dalam kamarnya hingga kedua benda itu hancur bertaburan di lantai.
rangga yang kebetulan sedang lewat di depan pintu kamar adiknya pun mendengar suara yang cukup keras dari dalam sana lalu ia segera melihat apa yang sedang terjadi.
"apa yang lo lakuin dika?"
rangga langsung masuk ke dalam kamar adiknya namun dika hanya diam saja tidak perduli dengan kehadirannya.
"dika lo kenapa, lo baik baik aja kan?"
rangga mendekati adiknya yang terlihat sedang marah namun juga terlihat sangat rapuh itu.
"gue baik baik aja, tinggalin gue sendiri"
dika melangkah lalu berbaring di atas ranjang dan menutup matanya.
rangga menatap sendu wajah adiknya yang terlihat selalu murung sejak dua tahun terakhir.
*
saat ini vani dan yuli sedang berbincang di dalam kamar yang berada di sebuah rumah kontrakan baru mereka.
vani menceritakan tentang raka yang sudah melamarnya sambil menunjukkan cincin pemberian raka kepada yuli.
"liat deh sebentar lagi aku bakal nikah"
vani tersenyum sambil menunjukkan cincin di jarinya.
"wah!!! selamat ya kak atas lamarannya" yuli memeluknya
"makasih ya, kamu kapan nyusul nih masa mau pacaran mulu udah tua loh" hihi vani menggoda adiknya itu.
"ih, enak aja aku masih muda tau" yuli manyun.
"iya muda. muda mudahan kan?" haha vani tertawa
"huh! apaan sih kak lagian kita juga seumuran"
"em, entar aja deh belum pengen soalnya kan nikah itu enggak gampang kak. harus siap lahir batin dan nerima pasangan kita apa adanya" yuli membayangkan.
"em iya juga sih"
"eh, itu berarti kamu udah move on ya? hem"
"em" vani menggelengkan kepalanya.
"lah! terus maksudnya?" tanya yuli bingung.
"justru aku berharap aku bisa lupain dia kalo aku nikah" hehe vani tersenyum nyengir.
"apa! lo udah gila ya kak terus kalo nanti setelah nikah lo tetap enggak bisa juga buat lupain dia gimana? lo mau cerai gitu, terus lo mau jadi janda kembang?"
yuli tak habis pikir atas ucapan dan tindakan yang vani lakukan itu.
"terus gimana dong, aku enggak bisa lupain dia sampe sekarang jadi aku harus nunggu sampe kapan? gimana kalo aku enggak bakal bisa lupain dia selamanya. apa kamu mau punya kakak yang jomblo sampai tua"
"itu bukan alasan ya lo harus berusaha buat ngelupain dia"
"aku udah berusaha yul, udah berusaha selama dua tahun kurang apalagi coba" vani kesal sendiri mengingatnya.
"em, jadi gimana kalo lo sampe nikah sama orang yang enggak lo cinta. terus coba lo bayangin deh kalo nanti kalian mau malam pertamaan sama suami lo tapi yang ada di dalam otak lo malah cowok lain gimana?" pertanyaan absrud dari adiknya itu pun keluar.
"mulai ngaco deh" vani memutar bola matanya.
"berarti nanti saat lo lagi ehem ehem sama bang raka tapi lo bayanginnya lagi sama bang dika dong haha"
yuli tertawa saat membayangkan hal hal random di pikirannya.
"ih, apaan sih lo ya enggak gitu juga kali" vani memukul adiknya itu dengan bantal.
"hahaha"
yuli tertawa renyah sedangkan vani hanya memanyunkan bibirnya kesal.
"eh tapi ya, kenapa sih lo susah banget buat lupain bang dika bukannya dia udah jadi suami orang ya?"
"em, aku juga enggak tau. padahal aku udah berusaha banget selama ini buat nerima mas raka sebagai pacar aku tapi tetep aja aku susah buat lupain dia. enggak faham deh" vani menutup wajahnya dengan bantal.
"mungkin karena bang dika terlalu ganteng kali makanya sulit buat di lupain. haha"
__ADS_1
"ck! yuli"
"tapi menurut aku sih bang raka juga ganteng deh cuma kurang tinggi dikit aja" hehe yuli hanya bercanda.
"apaan sih yul enggak jelas banget"
vani kesal lalu berbaring di atas kasur.
"huh gitu aja ngambek, kalo lo enggak mau sama bang raka dia buat gue aja ya"
"ck! diem enggak!" vani menutup telinga.
akhirnya yuli terdiam karena melihat kakaknya yang sudah berubah mood itu.
*
hari ini saat dika sedang duduk bersama ray untuk menunggu seorang klien karena mereka akan melakukan meeting di dalam salah satu restoran di sebuah mall, tak sengaja ia melihat vani yang sedang berjalan menuju arah toilet yang berada disana.
dika beranjak dari duduknya hendak mengikuti langkah vani lalu meminta ray untuk menunggu dan melanjutkan meeting dengan klien sendiri.
"eh, lo mau kemana?" tanya ray saat melihat dika berdiri.
"gue mau ke toilet bentar, lo lanjut meeting aja kalo misalnya gue lama nanti ya" dika langsung melangkah.
"hhh!!! ada ada aja deh" ray hanya pasrah.
dika pun berjalan menuju arah toilet untuk memastikan apa yang ia lihat sebelumnya.
saat vani baru saja keluar dari dalam toilet itu, dika dengan cepat menarik tubuh gadis itu dari arah belakang lalu membawanya masuk ke dalam salah satu ruang ganti yang ada disana.
"emh!!"
vani ingin berteriak namun mulutnya sudah di bekap membuatnya merasa takut dan berusaha untuk memberontak namun dika langsung mengunci pintu dari dalam agar tidak ada yang melihatnya.
karena merasa panik vani pun menggigit tangan pria itu agar melepaskan bekapan tangannya.
kckk!!!
"aakhh!!!"
dika meringis sambil mengibaskan tangannya karena gigitan vani sampai membekas di tangannya.
"lepasin" teriak vani kesal.
"sstttt!!! ini aku"
dika sudah melepaskan tangannya dari mulut vani agar ia tidak kembali berteriak.
"mas dika!! kamu mau apa?"
vani kaget melihat ternyata dika lah pria yang menyeretnya masuk ke dalam ruangan kosong itu lalu menguncinya dari dalam.
"aku kangen banget sama kamu"
dika memeluk tubuh gadis yang dicintainya itu.
vani pun membalas pelukan itu karena ia juga sangat merindukan dika namun beberapa saat kemudian vani kembali tersadar.
"lepasin mas!"
vani melepaskan pelukan dika dari tubuhnya lalu hendak melangkah keluar.
"tunggu!!!"
dika menghalangi dengan meletakkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh vani hingga ia tidak bisa kemana mana.
vani menatap takut sorot mata dika yang sulit diartikan.
"mas, kamu mau apa?"
vani merasa takut kalau dika akan berbuat nekat atau memperkaos dirinya disana namun vani segera menepis pikiran buruknya tentang sosok dika yang selama ini ia ketahui adalah seorang pria baik. tidak mungkin dika akan melakukan hal seburuk itu kepadanya begitu pikirnya vani pun berusaha untuk tetap tenang.
"kenapa kamu pergi, hem?"
dika menyatukan kening mereka.
"em, ma-maafin aku mas"
vani menunduk takut lalu dika menggenggam wajahnya dan mengecup keningnya dengan lembut membuat gadis itu memejamkan mata merasakannya.
dika mengecup kedua mata vani yang sudah terpejam lalu beralih pada bibir mungil yang selama ini sangat ia rindukan rasanya.
dika melumvt lembut bibir vani memperdalam ciumannya melepas rindu yang sudah mereka tahan selama ini.
vani pun tidak bisa menolaknya dan menikmati ciuman seperti yang pernah ia rasakan dulu.
gadis itu terhanyut dalam ciuman, tangannya merangkul pundak dika dan memeluk tubuh pria yang dicintainya itu.
__ADS_1
melihat vani yang tidak menolak bahkan membalasnya dika semakin memperdalam ciumannya.