
setelah rangga sampai di kantornya, ia langsung menemui ray yang masih berada di meja kerjanya.
"loh bos, udah datang?"
ray bingung sebab tadi rangga pulang karena ada urusan.
"ray, tolong lacak nomor ini sekarang juga dan segera perintahkan beberapa anak buah lo buat nyari keberadaan dika di semua rumah sakit yang ada di kota C"
perintah rangga langsung dan membuat ray bingung.
"hah!! cari pak dika?" ray bingung.
"iya ray, nyari dika karena vani bilang nomor ini tadi dika pake buat nelpon dia barusan terus dia bilang kalo dika lagi ada di rumah sakit di kota C tapi belum sempat nyebutin nama rumah sakitnya apa telponnya udah terputus"
"em, bapak yakin? apa ini bukan hanya pekerjaan yang akan sia sia?" tanya ray yang ragu.
"huh! entahlah ray tapi lo tau sendiri kan gimana kontak batin antara vani sama dika dari dulu. entah kenapa gue ngerasa kalo apa yang vani bilang itu bener"
"baiklah pak, saya akan mengurus semuanya"
ray mengangguk menjawab dengan yakin.
"bagus, langsung kabarin gue apa itu benaran dika atau cuma orang iseng aja"
"baik pak" ray pun mengangguk.
rangga pun melangkah masuk ke dalam ruangannya.
di dalam ruangannya dika sedang duduk bersandar seperti sedang memikirkan sesuatu sambil tersenyum.
"ehem" arin berdehem membuyarkan lamunan dika.
"kamu lagi mikirin apa?"
arin duduk di kursi yang ada disamping tempat tidur dika.
"enggak ada"
dika masih dengan senyuman menghiasi bibirnya.
"aku liat kamu lagi senyum senyum sendiri pasti mikirin sesuatu"
arin terus menggodanya namun dika hanya tersenyum menanggapinya.
"apa kamu lagi mikirin seseorang yang istimewa buat kamu, pacar kamu mungkin?" tanya arin tersenyum.
dika hanya tersenyum namun tetap tidak ingin menjawab pertanyaan dari arin yang penasaran itu.
"ayolah, cerita dikit tentang kehidupan kamu dong, soalnya aku udah nyeritain semua kisah sedih hidup ku ke kamu"
arin dengan wajah melas karena dika hanya diam saja.
"aku senyum karena tadi aku bisa dengar suara lembutnya lagi" dika kembali tersenyum mengingat istrinya.
"wah! beneran, siapa sih dia? pasti seorang wanita yang sangat beruntung" arin semakin penasaran.
"akulah yang beruntung karena bisa memilikinya"
dika kembali tersenyum sambil membayangkan wajah cantik istrinya.
"apa dia pacar kamu?"
"bukan, tapi dia adalah istriku"
dika semakin tersenyum membayangkan wajah istrinya.
"oh ya, apa kamu udah nikah?"
arin kaget ia sempat berpikir jika pria pemilik senyuman manis itu masih single.
"iya, sekitar kurang lebih enam bulan yang lalu"
dika kembali menerawang mengingat momen indah saat ia menikahi gadis pujaan hatinya itu.
'ternyata dia benar benar udah nikah' batin arin tersenyum tipis melihatnya.
"oh iya gimana tentang kamu? dari kemarin kamu cuma ceritain tentang kisah sedih terus jadi tolong cerita sesuatu yang buat kamu bahagia sekarang. apa kamu punya pacar atau suami?" tanya dika menatap arin.
"hah!! suami? em pacar aja enggak punya mana mungkin ada cowok yang mau sama gadis jelek dan hidup sebatang kara kaya aku ini sih" arin tertunduk sedih.
"kamu jangan ngomong kaya gitu dong, kamu ini gadis yang baik hati dan manis"
dika tersenyum memegang dagu arin untuk menegakkan pandangannya yang selalu tertunduk sedih.
seperti kebanyakan gadis pada umumnya arin pun sangat terpesona saat menatap wajah tampan dan senyuman manis dika dari jarak yang sangat dekat. mereka saling bertatapan mata.
tatapan mata dika yang mampu menghipnotis banyak gadis hingga tidak sadar telah mengaguminya. di tambah dengan sikap dika yang baik hati dan lembut itu membuat seseorang yang berada di dekatnya akan merasa nyaman.
"tolong jangan ngomong sesuatu yang enggak benar"
arin baru tersadar dari tatapan mata indah itu lalu ia langsung mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"itu memang bener kan, buktinya aja kamu udah mau nolongin aku terus jagain aku disini sampe aku sembuh padahal kamu sama sekali enggak kenal sama aku" dika berkata apa adanya.
"iya, itu cuma karena rasa kemanusiaan aja" arin canggung
"oh iya dari mana kamu dapet uang buat biaya pengobatan ku yang pastinya enggak sedikit selama ini?"
dika menatap arin yang ragu menjawabnya.
"em, sebenarnya aku udah jual satu satunya tanah peninggalan nenek ku" gumam arin pelan.
"apa! kamu jual satu satunya harta peninggalan dari nenek kamu cuma buat menolongku?"
dika kaget ia tidak habis pikir dengan kebaikan hati arin kepadanya.
"iya" arin mengangguk polos.
"hhh! aku enggak nyangka hati kamu setulus itu. makasih ya arin kamu baik banget" dika tersenyum.
"hem" arin pun tersenyum tipis.
"makasih banyak karena ketulusan hati kamu aku masih hidup sekarang"
dika memegang kedua pundak arin sambil menatapnya dengan senyuman.
arin pun hanya tersenyum malu membalasnya karena tak sanggup menatap mata dika dari dekat seperti itu.
sudah beberapa hari mencari keberadaan dika namun anak buah ray masih belum bisa menemukan bos mereka hingga akhirnya ray pun turun langsung untuk ikut mencari keberadaan bos sekaligus sahabatnya itu di banyak rumah sakit yang berada di kota C itu.
saat ini ray sudah sampai di sebuah rumah sakit terbesar di kota tersebut.
"permisi! apa disini ada pasien yang sedang di rawat atas nama radika wijaya"
ray bertanya pada setiap resepsionis di lobby rumah sakit yang ia datangi namun semuanya menjawab tidak ada.
kemudian ray pun berpikir bagaimana caranya agar ia bisa segera menemukan dika yang pastinya tidak memiliki identitas saat masuk ke rumah sakit pada saat itu.
mengingat dika sudah menelpon vani pada waktu itu artinya dika sudah sadar dan bisa berbicara begitu pikirnya.
ray pun meminta agar pihak rumah sakit memberi pengumuman untuk mencari pasien atas nama radika wijaya.
"tolong beri pengumuman pada seluruh pasien di rumah sakit ini, jika ada pasien yang bernama radika wijaya tolong segera melapor ya"
pinta ray pada petugas resepsionis rumah sakit.
ray mengatakan perintah seperti itu pada semua rumah sakit yang ia datangi dan meninggalkan nomor ponselnya agar bisa di hubungi oleh pihak rumah sakit saat ada pasien dengan nama yang ia cari.
ray juga datang bersama beberapa orang polisi untuk meyakinkan pihak rumah sakit jika ia sedang mencari seseorang yang telah mengalami kecelakaan dan hilang tanpa identitas.
petugas resepsionis pun menuruti permintaan itu
ting!! ting!! ting!!
tanda pengumuman muncul di seluruh penjuru rumah sakit termasuk pada setiap kamar di sana.
"kepada seluruh teman atau kerabat pasien yang menjaga tolong harap melapor ke resepsionis jika ada pasien bernama radika wijaya yang di rawat di rumah sakit ini. sekali lagi, jika ada pasien bernama radika wijaya harap melapor terima kasih"
seorang petugas resepsionis itu memberi pengumuman seperti yang di perintahkan oleh ray.
pengumuman itu pun terdengar di seluruh sudut rumah sakit sehingga semua orang dapat mendengarnya dan melapor jika memang benar ada pasien yang sedang mereka cari.
dika yang mendengar pengumuman itu pun tertegun ia merasa bingung kenapa namanya tidak terdaftar pada catatan nama pasien di rumah sakit itu.
'kenapa nama ku tidak ada di daftar pasien rumah sakit ini?' batin dika bingung.
"siapa radika wijaya? kaya dia orang yang penting banget" gumam arin hanya senyum miring cuek menanggapinya.
"apa kamu enggak daftarin namaku sebagai pasien di rumah sakit ini" tanya dika kepada arin.
"hah!! nama kamu?"
arin kaget dengan pertanyaan dika.
"iya namaku yang tadi di sebut di pengumuman rumah sakit ini" dika menatap arin.
"em, maaf ya aku enggak tau kalau itu nama kamu, bukannya kamu cuma nyebutin nama kamu itu dika" jawab arin canggung.
"iya. kamu enggak salah"
"baiklah, aku pergi dulu ya aku mau bilang ke resepsionis kalau orang yang sedang mereka cari ada disini "
arin berdiri hendak melangkah keluar ruangan.
"iya makasih" dika pun tersenyum.
arin pun berjalan turun ke lantai dasar lalu melangkah menuju resepsionis.
sesampainya di meja resepsionis arin langsung memberi tahu jika pasien yang sedang mereka cari ada disana.
"permisi mbak"
"iya mbak?"
__ADS_1
"saya mau melapor kalau pasien bernama radika wijaya yang tadi ada di pengumuman itu sedang berada di kamar E03 lantai tiga rumah sakit ini"
arin memberi tahu petugas resepsionis itu.
"oh baiklah mbak kalau begitu terima kasih. saya akan langsung menghubungi keluarga pasien"
petugas resepsionis itu tersenyum kepada arin.
"em"
arin mengangguk lalu kembali menuju ruangan dika dengan perasaan bingung.
'siapa sebenarnya radika itu? kayanya dia bukan orang biasa' gumam arin yang sedang berada di dalam lift.
setelah mendapat kabar dari pihak rumah sakit bahwa memang ada pasien atas nama radika wijaya disalah satu rumah sakit di kota itu ray pun langsung bergegas menuju rumah sakit itu untuk memastikan apakah itu benar benar dika yang sedang mereka cari atau bukan.
"baiklah terima kasih saya akan segera kesana"
ray baru saja menjawab telpon dari rumah sakit itu.
sesampainya di rumah sakit ray langsung menanyakan dimana ruangan dika pada petugas resepsionis di lobby rumah sakit itu.
"permisi saya keluarga pasien atas nama radika wijaya, boleh saya tau di mana ruangannya?" tanya ray.
"oh baiklah pak ruangannya ada di lantai tiga E03 ya" jawab petugas.
"baik terima kasih"
"sama sama"
ray pun bergegas menuju ruang rawat itu dengan tidak sabar setelah mengetahui dimana ruangannya.
sesampainya di depan pintu ruangan yang ia cari ray pun menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. ia berharap jika dika yang ia cari benar benar berada di dalam sana.
"huh! semoga ini benar"
ray menghembuskan nafas untuk menetralkan perasaan nya lalu menarik gagang pintu dan membukanya.
ceklekk!!
ray melihat seorang gadis duduk di samping seorang pria yang sedang berbaring membuatnya bimbang.
"apa benar ini ruangan yang ku cari? kenapa ada seorang gadis disana?"
ray bertanya sambil terus melangkah masuk secara perlahan.
ray melangkah masuk dengan perlahan karena takut akan menggangu mereka lalu ia melihat ke arah wajah pria yang sedang tertidur itu dan ternyata benar dika yang sedang tertidur disana adalah bosnya.
"dika!" gumam ray.
ia semakin berjalan mendekat lalu mengamati tubuh dika terutama wajahnya takutnya hanya mirip saja karena ray masih tidak percaya kalau sahabatnya itu benar benar masih hidup namun ia sangat bersyukur melihat dika yang berada di hadapannya.
"ini benaran dika, enggak mungkin salah"
ray pun tersenyum menatap tubuh dika yang sudah sehat di hadapannya.
ray langsung menelpon rangga setelah ia memastikan jika seseorang itu benar radika yang mereka cari.
setelah telpon terhubung rangga langsung menjawabnya.
Ray: halo pak.
Rangga: ya ray.
Ray: pak saya sudah menemukan pak dika
Rangga: kamu serius!!
Ray: iya pak. seseorang itu memang benar pak dika beliau masih hidup dan sekarang sedang berada di hadapan saya.
Rangga: Alhamdulillah. lo benar benar yakin kan ray kalo itu dika bukan cuma mirip aja?
Ray: saya serius pak. ini enggak mungkin salah soalnya saya belum pernah ketemu sama orang yang mukanya seganteng adek bapak ini.
Rangga: maksud lo apa gue enggak ganteng!
"Ray: maaf pak hanya bercanda.
Rangga: baiklah ray kami akan segera datang kesana. tolong kamu kirim tempat dan ruangannya ya.
Ray: baik pak akan segera saya kirim.
Rangga: terima kasih
tut!! tut!! rangga mematikan sambungan telponnya.
"Alhamdulilah"
rangga sangat bahagia mendengar kabar bahwa adiknya sudah ditemukan dengan kondisi selamat.
"papa mama!"
__ADS_1
rangga langsung memberi tahukan pada mama ratih dan papa hardi. mereka sangat bahagia saat mendengarnya.