
di dalam rumah, vani merasa sangat bahagia karena mimpi indahnya menjadi nyata.
"uh, sweet banget sih..."
vani tersenyum memejamkan mata sambil bersandar di daun pintu, mengingat kembali momen indah yang baru saja ia lalui bersama kekasihnya itu.
dari samping yuli datang melihat vani yang sedang senyum senyum sendiri dengan mata terpejam sambil bersandar di daun pintu itu.
"eh, kenapa nih anak merem sambil senyum senyum gak jelas? hem, gue kerjain nih orang"
yuli menyeringai hendak mengagetkan kakaknya.
"woy! "
yuli menepuk bahu vani membuatnya kaget.
"eh! ck ada apa sih yul, ganggu aja deh"
"ye, lagian ngapain sih lo nyender di pintu sambil senyum senyum sendiri gitu?"
"enggak papa, lagi seneng aja"
vani menjawab cuek sambil berjalan ke kamar secara perlahan karena kakinya masih sakit.
"hem, pasti lo ngebayangin lagi mesra mesraan sama bos ganteng lo itu kan? ngaku lo! "
"ya enggaklah, aku tuh bahagia karena ini"
vani mengangkat tangan di hadapan yuli sambil menunjukkan cincin yang ada di jari manisnya.
"wah, cantik banget cincinnya beli dimana?"
"hem, aku enggak tau belinya dimana tapi yang jelas ini tuh cincin istimewa dari mas dika"
vani terus tersenyum lalu duduk di depan meja riasnya hendak menghapus make up.
"apa!! serius lo?" yuli tak percaya.
"he'em" vani mengangguk.
"maksudnya, dalam rangka apa dia ngasih lo cincin kaya gini?"
"apa ini cincin sebagai ucapan makasih gitu?" yuli merasa bingung.
"iya, ucapan makasih karena aku udah mencintai dia dengan sepenuh hati"
"ck! apaan sih, orang serius juga. lebay deh..."
"biarin" vani hanya mengabaikannya.
"em, maksudnya lo udah jadian sama bos ganteng lo itu kak?"
"em" vani pun mengangguk.
"seriusan? ya ampun selamat ya kak. aku ikut seneng deh" yuli pun memeluknya.
"makasih ya adek ku yang bawel"
"em, emang lo yakin kalo dia serius?"
"maksud kamu?"
"em, ya maksud gue. apa mungkin elo pacar dia satu satunya? masa sih cowok ganteng plus tajir kaya pak dika selama ini jomblo? kok gue enggak yakin ya...."
yuli curiga memikirkan sesuatu.
"ck! kamu tuh ya curigaan mulu deh. udahlah aku ngantuk nih mau tidur aja, biar mimpi ketemu sama mas dika. bye!!"
tak mau memikirkannya vani pun berbaring hendak segera tidur setelah mengganti pakaiannya dengan piyama.
"ye! baru juga tadi ketemu sama dia, masa mau mimpi dia lagi sih" protes yuli.
"biarin aja, yang jomblo enggak boleh syirik tau"
vani langsung memejamkan matanya.
"hem, gini nih kalo lagi jatuh cinta dunia berasa milik berdua yang lain cuma ngontrak"
yuli pun ikut tidur di samping kakaknya yang sudah tidur membelakanginya itu.
di kediaman wijaya di dalam kamarnya, dika juga sedang berbaring di atas ranjang sambil tersenyum memandangi ponsel yang terdapat foto foto selfienya bersama vani tadi.
"kamu tuh cantik banget sih sayang"
dika tersenyum memandangi foto kekasihnya sampai tertidur pulas.
*
waktu berlalu dengan cepat, saat ini kaki vani sudah sembuh total dan bisa kembali berjalan dengan normal.
dika pun sering mengajak kekasihnya itu jalan jalan di malam hari setelah pulang ngantor.
semenjak kaki vani sembuh mereka banyak menghabiskan waktu bersama.
karena dika sudah berjanji akan mengajak vani jalan jalan setelah kakinya sembuh, sekarang saatnya ia menepati janjinya itu.
mereka juga dinner romantis berdua hingga liburan ke pantai saat sedang weekend.
vani merasa bahagia karena memiliki kekasih yang sangat mencintainya.
-
malam ini terlihat vani sedang jalan di pinggir pantai sambil bersandar di lengan dika.
__ADS_1
"makasih ya mas, kamu udah ngajak aku jalan"
"iya sayang, apa sih yang enggak buat kamu"
dika menghentikan langkahnya lalu menatap vani sambil tersenyum.
keduanya saling bertatapan lekat lalu dengan perlahan dika mendekatkan wajah membuat vani memejamkan mata.
saat bibir mereka hampir bersatu, tiba tiba saja terdengar suara gemuruh di langit membuat keduanya kembali membuka mata.
"em, kayanya mau ujan deh mas"
vani menarik diri dengan canggung lalu mengalihkan pandangannya.
"em, iya nih. ya udah yuk kita pulang aja udah malam juga" ajak dika.
"yuk" vani pun mengangguk setuju.
akhirnya mereka pulang karena besok harus kembali bekerja.
sesampainya di rumah vani, dika berpamitan hendak langsung pulang ke rumahnya.
"sayang, aku pulang dulu ya"
"iya, kamu hati hati ya mas" vani mengangguk.
"em,,,"
sebelum pergi dika kembali mendekat hendak mengecup bibir vani namun tiba tiba saja yuli keluar dari dalam kamar membuat keduanya reflek saling menjauhkan diri dengan canggung.
ceklek! pintu kamar terbuka.
vani dan dika langsung mengalikan pandangan bersamaan.
"loh, kak vani sama pak dika udah pulang ya? kok tadi gak kedengaran sih suara mobilnya. kirain belum pulang"
yuli menatap keduanya yang bertingkah aneh.
"iya nih baru aja yul, kita pikir kamu udah tidur"
dika tersenyum mengusap tengkuknya dengan canggung.
"saya engga bisa tidur pak kalo kak vani belum pulang. saya harus mastiin kakak saya pulang dengan selamat"
"oh gitu. ya udah nih kakak kamu udah pulang dengan selamat kok, enggak berkurang satu apapun" ujar dika nyengir.
"iya bagus deh"
yuli mengalihkan pandangan menatap kearah vani yang hanya diam saja sejak tadi.
"ya udah, aku masuk duluan ya mau tidur beneran nih"
yuli pun kembali masuk ke dalam kamarnya.
"em, iya udah deh sayang"
dika jadi tak bersemangat sebab keinginannya tuk mengecup bibir manis sang kekasih harus kembali gagal karena yuli tiba tiba saja muncul.
*
keesokan harinya vani sudah kembali bekerja seperti biasanya di kantor. ia merasa senang karena sekarang bisa pergi dan pulang kantor bersama dika setiap hari.
hari ini tepat jam istirahat, rangga mengajak sekretarisnya itu untuk makan siang.
"vani, ayo kita lunch bareng" ajak rangga.
"baik pak" vani pun mengangguk dan ikut.
terlihat rangga dan dika sedang makan siang bersama dengan kedua sekretaris mereka di dalam sebuah restoran. keempatnya sudah duduk saling berhadapan.
"sayang, suapin aku dong" ujar dika bersikap manja pada kekasihnya.
sedangkan rangga dan ray saling bertatapan melihat pasangan sejoli di hadapan mereka itu.
"ehem, jadi pengen cepat pulang deh gue" rangga menyindir.
"iya nih bos, emang enggak bisa ya bersikap biasa aja gitu di depan jomblo kaya saya ini" ray merasa keberatan.
"syirik aja deh lo berdua"
dika hanya cuek sedangkan vani merasa malu.
"sayang, aku suapin kamu ya"
dika sengaja ingin membuat kedua pria itu semakin kesal dengan kemesraannya.
"em, enggak usah pak makasih. saya bisa makan sendiri kok"
vani menolak karena merasa malu dika hendak menyuapinya di hadapan rangga dan ray.
"ppfftt.... bapak? oh jadi gitu ya"
rangga menahan tawanya saat mendengar panggilan vani kepada dika.
"ckckck!" ray pun terkikik geli.
"terserah lo berdua deh"
dika hanya mengabaikan saja ejekan dari kedua saudaranya itu.
"hubungan elit tapi panggilan sulit ya pak"
ledek ray sambil melirik kearah pasangan itu.
__ADS_1
"udah ray, lo jangan ledekin terus dong. kasian vani kayanya udah tertekan gitu" ujar rangga.
"oke oke, maaf ya vani" ray berhenti tertawa dan kembali melanjutkan makannya.
"iya engga papa kok pak" vani mengangguk.
dika hanya menatap malas kearah dua pria di hadapannya itu.
*
beberapa bulan sudah berlalu, hubungan vani dan dika semakin terlihat mesra karena selalu bertemu di kantor.
tanpa sepengetahuan dika, hari ini terlihat karin sudah kembali pulang ke tanah air.
dengan langkah pasti karin memasuki gedung wijaya group dan langsung berjalan menuju lantai teratas yaitu ruangan radika wijaya hendak menemui kekasihnya.
kaki jenjangnya terlihat sangat anggun saat berjalan membuat semua mata yang melihat langsung tertuju kearahnya.
memiliki body bak model internasional karin melangkah dengan sangat percaya diri memasuki gedung itu.
terlebih lagi ia akan menikah dan menjadi nyonya radika wijaya yang otomatis akan menjadikan dirinya ibu bos di perusahaan raksasa itu.
menjadi nyonya wijaya merupakan impian banyak wanita namun karin tidak menyadari jika keputusannya meninggalkan dika pergi berlibur itu adalah hal yang sangat fatal untuk hubungan mereka.
karin berpikir dirinya pergi hanya sebentar saja padahal hampir satu tahun ia tidak kembali.
kepergian karin sudah menyadarkan dika jika sebenarnya calon istrinya itu tidak benar benar mencintai dirinya.
kebetulan hari ini ray sedang pergi bersama rangga maka seperti biasanya vani yang akan menggantikan posisinya menjadi sekretaris dika, kekasihnya sendiri.
selama ini vani tidak pernah mau menunjukkan tentang hubungan spesialnya bersama dika di hadapan para karyawan kantor meskipun dika terus melakukannya.
di dalam ruangannya, terlihat dika sedang membujuk vani agar tidak marah lagi namun gadis itu masih merasa penasaran atas gosip yang ia dengar dari para karyawan lain tentang karin kekasih dika.
"mas, apa bener kamu udah punya calon istri?"
vani menatap dika dengan mata bulatnya yang polos itu.
"iya udah sih, emangnya kenapa?"
"serius?"
"serius dong"
"siapa?"
"iya kamulah sayang, emang siapa lagi hem..?"
"ck! pasti kamu bohong, kata mereka kamu tuh udah punya..."
"ayolah sayang, kamu jangan percaya sama omongan orang lain dong kamu lebih percaya sama aku kan?"
dengan lembut dika menggenggam tangan vani lalu menarik tubuh kekasihnya hingga duduk di atas pangkuannya.
dika memeluk erat pinggang ramping gadis itu agar tidak beranjak darinya.
"mas lepasin dong, ini kan di kantor. aku malu entar kalo ada yang liat gimana"
vani berusaha untuk melepaskan tangan dika yang sedang memeluk tubuhnya itu.
"kenapa sih, kamu malu ya jadi pacar aku?"
"bukan gitu tapi..."
"enggak bakal ada yang liat sayang, ini kan ruangan aku jadi enggak mungkin ada yang berani masuk sembarangan tanpa seizin aku"
dika meyakinkan namun vani masih terus menolaknya.
"ck! mas..."
vani masih berusaha mendorong tubuh dika agar berhenti memeluknya.
"kamu cinta sama aku kan?"
"iya tapi,,,"
cup!
belum selesai vani berbicara dika langsung membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya.
ia melumvt dengan lembut bibir mungil yang cerewet itu membuat vani akhirnya berhenti memberontak lalu ikut menikmati ciuman yang dika berikan.
vani merangkul leher dika dengan kedua tangan lalu memperdalam ciuman mereka.
keduanya pun larut menikmati ciuman hangat satu sama lain di dalam ruangan itu.
akhirnya dika melepaskan ciumannya ketika melihat vani hampir kehabisan nafas.
"huh! huh!"
vani berusaha menetralkan nafasnya yang tersengal akibat ulang kekasihnya itu.
ini memang bukan pertama kalinya vani dan dika berciuman karena sebelumnya mereka sudah melakukan hal itu namun vani masih kesulitan untuk mengimbangi permainan dika.
jujur saja dika merupakan pacar pertama vani sedangkan dika sendiri? entahlah vani bahkan tidak berani bertanya hal itu kepadanya apalagi menanyakan tentang ciuman pertama dika kepada wanita mana.
"kamu manis banget sih sayang"
dika tersenyum sambil mengusap lembut bibir vani dengan jarinya.
"kamu nakal banget deh mas"
"mau lagi ya? hem"
__ADS_1
dika pun menyatukan kening mereka lalu menyentuh hidung vani dengan hidungnya juga.