Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 199


__ADS_3

keesokan harinya vani sudah di perbolehkan pulang ke rumahnya. dokter mengizinkan pulang karena vani terus memintanya dengan catatan ia harus benar benar istirahat total di rumah.


sesampainya di rumah dika langsung meminta vani untuk beristirahat di dalam kamar.


vani pun hanya menurut saja lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"sayang ingat ya, kamu enggak boleh banyak gerak dulu ataupun ngelakuin sesuatu yang buat capek kata dokter pokoknya harus istirahat total oke!"


dika memperingati istrinya yang sudah berbaring di atas tempat tidur itu.


"oke papa" vani tersenyum sambil mengacungkan jempol.


"ya udah kalo gitu, kamu istirahat sekarang aku mau keluar sebentar ya" dika berbalik hendak keluar dari dalam kamar.


"mas tunggu...!!" vani menahan tangan suaminya agar tidak pergi.


"iya ada apa sayang?" dika kembali duduk di tepi ranjang.


"aku mau bicara sesuatu sama kamu"


vani menatap mata suaminya dengan serius setelah ia pun duduk bersandar di atas ranjang.


"oh ya, soal apa sayang?" dika merasa penasaran.


"soal calon bayi kita" vani menunduk melihat ke arah perutnya sambil mengusap lembut.


"kan kemaren aku udah bilang kalo aku percaya dia anak aku sayang jadi jangan bahas soal itu lagi ya"


dika memegang kedua pundak vani menatap lekat mata istrinya yang sedang menunduk.


vani menegakkan pandangan lalu menatap lekat sorot mata suaminya yang sedang menatap dirinya juga.


"apa kamu ingat tentang malam itu mas? malam yang kamu lewatin dalam keadaan mabuk di hotel M beberapa bulan yang lalu?"


pertanyaan vani itu seketika membuat dika kaget dengan wajah pucat karena ia hampir saja melupakannya, dika bahkan ingin menutup rapat apa yang sudah terjadi malam itu namun mengapa vani bisa sampai mengetahui tentang malam itu pikirnya.


"kamu tau tentang malam itu?" dika justru balik bertanya.


"em" vani mengangguk iya dengan polos.


"maafin aku ya sayang maaf aku enggak sengaja. aku beneran khilaf waktu itu, aku enggak sadar kalo rissa sengaja ngelakuin itu maafin aku ya. pliss"


dika gelagapan meminta maaf kepada istrinya karena berpikir jika vani sudah mengetahui tentang dirinya yang menghabiskan malam bersama rissa pada waktu itu.


"kamu ini kenapa sih mas kok minta maaf kaya gitu?" vani bingung dengan sikap suaminya.


"iya aku minta maaf karena waktu itu aku sama rissa di hotel itu udah,,," dika tidak melanjutkan ucapannya.


"emangnya kamu udah ngelakuin apa sama rissa?" vani memasang wajah seriusnya.


"aku sama rissa udah...."


dika terlihat semakin gugup dan pucat, ia takut jika istrinya akan marah dan membuat keadaannya kembali drop.


"mas, apa selama ini kamu berpikir kalo perempuan yang tidur sama kamu di hotel waktu itu adalah rissa?" vani menatap wajah suaminya dengan lekat.


"em" dika mengangguk pasrah menjawab pertanyaan dari istrinya itu.


"kamu jangan marah ya. aku enggak sengaja sayang..."


dika bingung harus membela dirinya dari sebelah mana karena dari segi manapun ia akan tetap salah apalagi dirinya sempat berniat untuk menutupi kesalahannya itu.


"apa kamu beneran enggak sadar siapa cewek yang kamu tidurin waktu itu?"


"em" dika menggeleng


"jadi kamu juga enggak ingat siapa cewek yang kamu terkam habis habisan sampe seluruh badannya berasa remuk dan susah gerak selama dua hari?"

__ADS_1


pertanyaan vani membuat dika mengernyitkan dahinya.


"maksud kamu?" dika bingung.


"iya selain mabok waktu itu kamu juga di kasih obat aneh sama rissa kan?"


"kok kamu bisa tau semuanya sih sayang?" dika semakin bingung.


"karena cewek malang yang jadi korban kebuasan kamu malam itu adalah istri kamu sendiri mas. huh!!! kamu tuh ya suami yang memperkosa istri sendiri tau enggak? udah gitu enggak sadar lagi sama perbuatannya sendiri" kesal vani dengan memanyunkan bibirnya.


"apa!! jadi cewek yang waktu itu kamu,,,?" selama ini dika mengira jika wanita itu adalah rissa.


"iya, aku ngikutin kamu sama rissa waktu itu karena aku takut hal buruk bakal terjadi sama kamu mas dan ternyata feeling aku bener. rissa mau ngelakuin hal buruk sama suami aku. kalo malam itu aku enggak ada disana kamu sama rissa pasti udah...." ucapan vani menggantung.


"sssttt,,,, udah jangan di ucapin. aku bersyukur banget kalo ternyata cewek malam itu adalah kamu" dika memeluk tubuh istrinya dengan erat.


"ih! tapi aku kesel sama kamu mas, bisa bisanya kamu ngirain kalo aku ini adalah rissa waktu itu" vani cemberut mendorong tubuh dika dari pelukannya.


"iya maaf sayang kan aku enggak sadar. lagian kamu tau enggak waktu itu, aku tuh benar benar ngebayangin lagi sama kamu tau bukan rissa" dika memegang kedua sisi wajah vani untuk meyakinkan istrinya itu.


"bohong, jelas jelas waktu itu kamu lagi lupa ingatan dan kamu enggak ingat kalo aku ini istri kamu"


vani tentunya tidak percaya dengan kebohongan suaminya ia menepis kedua tangan dika dari wajahnya.


"iya, aku,,, aku emang enggak ingat sayang tapikan aku bisa ngerasain" dika masih berusaha mencari alasan.


"ngerasain apa?" vani membelalakkan matanya dan menarik pelan telinga suaminya yang nakal itu.


"eh maksudnya, waktu itu meskipun aku hilang ingatan tapi aku suka sama kamu jadi aku ngebayangin lagi ngelakuin bareng kamu sayang" dika beralasan lain.


"bohong!!! terus kenapa sampe sekarang kamu tetep mikirnya kalo cewek itu adalah rissa?"


vani masih kesal dan semakin tidak percaya pada suaminya itu.


"iya habis aku enggak inget sayang, aku kan cuma inget terakhir kali aku sadar waktu itu aku lagi bareng sama rissa di cafe" dika mengusap usap telinganya setelah vani melepaskan tangannya.


vani memasang wajah sedih dengan menunduk karena mengingat kejadian itu.


"em, maaf ya sayang karena waktu itu rissa ngaku kalo dia lagi hamil anak aku makanya aku frustasi banget. padahal kan aku sukanya sama kamu tapi karena bingung harus gimana akhirnya aku jadi ngusir kamu deh biar kamu enggak deketin aku terus soalnya aku takut makin jatuh cinta sama kamu" dika menunduk sedih.


"hah! rissa hamil, terus gimana keadaan rissa sama calon bayinya sekarang mas?" tanya vani penasaran.


"iya enggak tau lagian kan itu bukan anak aku"


"kamu yakin?"


"kan kamu sendiri yang bilang kalo cewek malam itu kamu sayang gimana sih"


"emang kamu yakin cuma malam itu doang enggak ada malam malam khilaf lainnya mas?"


"em, kayanya yakin sih"


"ck! itu namanya ragu"


"soalnya enggak lama setelah kamu pergi waktu itu rissa kan masih aja gangguin aku terus, ternyata diam diam ray selalu ngawasin langkah rissa di belakang aku jadi waktu itu ray minta aku buat ngikutin dia ke suatu tempat. aku sih ngikut aja walaupun enggak tau mau kemana eh ternyata dia ngajak aku buat mergokin rissa lagi chek in hotel sama pacarnya sayang. ya akhirnya aku tahu deh kalo rissa itu bohong dan dia hamil sama pacarnya"


dika menceritakan semua kejadian yang di alaminya saat vani tidak di sisinya.


"terus kamu putusin dia mas?" tanya vani dengan polosnya.


"putus apaan sih sayang aku enggak ada hubungan apa apa sama rissa kok" dika memutar bola matanya.


"hem masa sih, kamu yakin?" vani menyipitkan matanya.


"iya terserah kalo kamu enggak percaya habisnya aku kan enggak punya bukti lain buat meyakinkan kamu kecuali cinta tulus ku ini" dika memainkan alisnya.


"iya deh aku percaya"

__ADS_1


"makasih ya sayang" dika memeluk istrinya.


saat masih berada di dalam pelukan suaminya vani kembali murung karena pertanyaannya sendiri.


"kenapa ya banyak banget cewek yang suka sama kamu mas sampe pada ngaku ngaku hamil anak kamu lagi biar kamu nikahin mereka" vani menunduk sedih.


"em, enggak tau tuh maaf ya sayang tapi kamu tenang aja, aku kan cintanya cuma sama kamu doang sayang hehe" dika memeluk istrinya agar tidak sedih.


"hem"


"eh, bentar deh sayang itu berarti..?"


"iya kan aku udah bilang kalo ini anak kamu mas" vani memutar bola matanya malas.


"hehe maafin papa ya sayang papa khilaf papa kan juga manusia biasa yang bisa khilaf sayang" dika mengelus perut istrinya.


"hem, makanya pa kalo mau yang enak enak itu jangan langsung di lupain dong" vani melirik suaminya.


"ya ampun sayang kamu kan juga waktu itu menikmati banget" goda dika sambil menoel hidung istrinya.


"ya mau gimana lagi terpaksa!" vani mengalihkan pandangannya.


"terpaksa gimana kamu yang minta nambah juga"


dika semakin menggoda vani karena melihat wajah istrinya yang memerah.


"ih! enggak ada ya, kamu tuh yang ngelakuinnya kasar banget sampe aku kesakitan" vani mengelak.


"oh kesakitan apa keenakan sayang?"


dika menekan kata keenakan pada kalimatnya untuk terus menggoda istrinya agar mengakuinya.


"udah deh jangan bahas itu lagi sekarang aku capek tau"


vani tidak mau mengaku lalu merebahkan tubuhnya.


"oh ya sayang, kok kamu bisa hamil sih padahal kan kita lakuin cuma sekali doang bukannya kamu masih pake.."


"aku udah enggak pake lagi karena kamu lupa ingatan mas, lagian buat apa aku cegah kehamilan kalo enggak ada yang ngehamilin" vani memejamkan matanya.


"lagian waktu itu kita emang udah rencana mau nambah anak kan sayang?"


"iya sih mas tapi belum sempet ke dokter eh kita udah kecelakaan terus kamu lupain aku"


"maaf ya sayang"


"iya iya"


"tapi kita harus bersyukur sayang karena kejadian malam itu sekarang dia hadir di dalam hidup kita" dika mengelus perut istrinya.


"em, iya sih mas"


"Alhamdullilah" dika mengecup perut istrinya


"apa kita juga harus bilang makasih ke rissa karena udah nyiapin malam itu buat kita"


vani sebenarnya sengaja menyindir dika.


"em, boleh sih kalo kamu mau sayang"


"ih males deh" vani manyun


"ya udah sekarang kamu tidur ya, kan kamu harus banyak istirahat sayang"


"em" vani mengangguk.


cup!

__ADS_1


dika mengecup kening vani lalu menarik selimut menutupi tubuh istrinya.


__ADS_2