
mama ratih datang dan memeluk arin karena melihatnya sedang menangis histeris disana.
"kamu kenapa arin?"
mama ratih memeluk sambil mengusap punggung arin untuk menenangkannya.
"mas dika jahat tante, dia enggak mau ngakuin anaknya sendiri" arin terisak dalam pelukan mama ratih.
"kamu sabar ya dika pasti akan nerima anak kamu setelah kalian nikah nanti"
mama ratih menenangkan arin agar berhenti menangis.
"sshh aw! perut aku sakit tante"
arin meringis sambil memegangi perutnya yang sakit.
"perut kamu sakit? tahan ya arin pa cepat panggil dokter " mama ratih khawatir.
" iya ma. ya udah kita bawa arin ke kamarnya dulu ayo"
papa hardi pun memanggil beberapa asisten untuk membantu mereka membawa arin masuk ke dalam kamarnya.
dika kembali pulang kerumahnya hendak segera menemui istri dan anaknya yang sesungguhnya.
sesampainya di rumah dika langsung masuk ke dalam kamarnya namun tidak melihat vani berada di sana. ia pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
setelah selesai mandi dika melihat vani yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka. ia langsung melangkah hendak mendekati istrinya.
vani yang baru saja kembali dari luar itu pun masuk dan menutup pintu kamarnya dari dalam namun saat vani berbalik badan ia kaget melihat dika yang tiba tiba saja sudah berada di belakang tubuhnya.
"ahh"
vani menatap dika yang hanya mengenakan handuk terlilit di bagian pinggang sedang mendekat kearahnya itu.
"mas dika?"
vani kaget reflek memundurkan langkah hingga tubuhnya bersandar di daun pintu kamar yang sudah tertutup.
"kamu dari mana aja sayang?"
dika sudah berdiri tepat di hadapan vani sambil menatapnya.
"em, tadi aku dari dapur mas kamu kenapa enggak langsung ganti baju?"
vani merasa gugup menatap tubuh suaminya yang sedang bertelanjang dada itu.
"hem, emangnya kenapa kalo gini aja?"
dika tersenyum menggoda istrinya karena melihat vani yang menatap lekat pada bagian tubuhnya.
"em, iya enggak papa sih"
vani yang gugup langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"oh yakin?" goda dika semakin mendekatkan wajahnya.
merasa tersudut vani pun hendak segera melangkah menuju ranjang namun dika langsung menahannya dengan meletakkan kedua tangan kekarnya di kedua sisi dinding tubuh vani agar istrinya itu tidak pergi.
"kamu mau kemana sayang?"
dika tersenyum dan langsung melahap bibir mungil istrinya hingga vani merasa kesulitan bernafas sebab ia tidak mau membalas ciuman dari suaminya itu.
vani menepuk nepuk pelan dada dika agar menghentikan perbuatannya.
"emh!" plak! plak! plak!!
"huh!! huh!! huh!!"
vani langsung mengatur nafas setelah dika melepaskan ciumannya.
dika tersenyum menatap istrinya yang sedang mengatur nafas agar kembali normal akibat perbuatannya tadi.
"ih, kamu apa apaan sih mas kamu mau aku sama anak kamu ini kehabisan nafas ya"
vani kesal lalu mendorong tubuh dika agar menjauh darinya.
"aku kangen sayang"
"lepasin!" vani melangkah menuju ranjang.
"maaf ya sayang"
dika memeluk tubuh vani dari belakang lalu melingkarkan satu tangannya di dada dan tangan satunya lagi di bagian perut istrinya ia juga meletakkan wajahnya di antara leher dan pundak istrinya itu membuat vani merasa geli.
"iya mas tapi kamu pakai baju dulu sana"
vani melepaskan pelukan suaminya karena merasa geli lalu ia mendorong tubuh dika ke arah ruang ganti.
"yah, baru juga mau di buka semuanya sayang malah disuruh pake lagi"
dika manyun namun menuruti keinginan istrinya dengan berjalan menuju ruang ganti.
vani hanya tersenyum menatap punggung suaminya hingga menghilang di balik pintu ruang ganti itu lalu melangkah dan duduk bersandar di atas ranjangnya.
setelah selesai memakai pakaiannya dika pun keluar dari dalam ruang ganti dengan menggunakan baju tidur lalu ikut naik ke atas ranjang mendekati istrinya.
"sayang kamu cantik banget deh"
dika menatap istrinya sambil tersenyum namun vani hanya fokus pada ponselnya saja.
"pasti ada maunya" gumam vani melirik dika dan kembali menatap ponsel.
"iya maunya kamu hehe"
"hem"
"tapi ini serius sayang badan kamu makin berisi sekarang buat kamu keliatan makin cantik dan seksi loh" dika terus merayu istrinya.
"hem" vani tidak terlalu menanggapi.
__ADS_1
"sayang liat deh mama kamu cuek banget ya sama papa"
dika pun mengadu pada calon bayinya sambil mengusap perut istrinya dan mendekatkan wajahnya di sana.
"sssh! aw!!"
vani kaget karena mendapat tendangan cukup kuat dari dalam perutnya.
"kenapa sayang sakit lagi ya?" dika pun khawatir.
"enggak papa mas cuma kaget kayanya tadi baby nendang kuat deh di sini" vani mengelus perutnya juga.
"oh ya? jagoan papa enggak boleh nakal ya di dalam sini enggak boleh buat mama sakit dan harus sayang sama mama oke" emuach! dika mengecup perut istrinya.
vani tersenyum melihat dika yang sangat menyayangi anak mereka.
"iya pa, baby enggak nakal kok di dalam" vani membalas ucapan suaminya.
"sayang baby masih gerak terus nendangnya kuat nih, sakit enggak?"
dika terus meraba perut istrinya yang masih saja gerak gerak karena pergerakan bayi mereka aktif dari dalam.
"biarin aja mas enggak sakit kok, mungkin dia lagi happy karena papanya perhatian banget hari ini"
"sayang maafin papa ya karena akhir akhir ini kita jarang ngobrol bareng"
dika berbaring lalu meletakkan kepala di atas pangkuan vani sambil menatap ke arah perut buncit istrinya.
vani mengusap bagian rambut dika dengan lembut seperti biasanya.
"udah deh mas kamu jangan ngerasa bersalah gitu ini juga salah aku kok karena selalu ngehindar dari papanya akhir akhir ini" vani masih mengusap rambut suaminya
"iya tapi kan kamu kaya gitu juga karena kesalahan aku sendiri sayang. maafin aku ya.."
dika bangkit dari tidurnya kembali duduk di samping istrinya.
"maaf buat apa sih mas" vani menatap suaminya
"iya aku udah nyakitin ka...."
"sssttt!!!"
vani meletakkan jari di bibir dika agar tidak meminta maaf dan kembali membahas masalah yang sama karena saat ini vani sangat malas untuk berdebat dengan suaminya.
vani tau setiap mereka membahas masalah itu pasti akan berakhir dengan perdebatan lagi pikirnya.
namun tiba tiba saja dika langsung melahap jari vani yang menempel di bibirnya itu seperti sedang menikmati sebuah permen.
"emh!"
"ih mas dika!! kamu jorok banget sih"
vani langsung menarik tangan karena jarinya sudah berada di dalam mulut suaminya itu.
"biasanya juga kamu suka tuh"
ucapan dika membuatnya mendapat tepukan pelan dari sang istri.
vani ngambek lalu hendak beranjak namun dika langsung menarik tangan istrinya hingga tubuh vani berbalik hampir terjatuh beruntung kedua tangan vani bertumpu pada dada suaminya membuat tatapan mereka kembali bertemu.
"apanya yang enggak biasa sayang?"
dika tersenyum lalu mendudukkan tubuh vani di atas pangkuannya.
"emmuch"
dika kembali menyatukan bibir mereka namun kali ini vani mencoba untuk menerimanya.
"mas, aku lagi capek nih mau tidur"
vani pun melepaskan ciuman mereka lalu menyandarkan kepalanya di bagian dada suaminya.
"ya udah kamu tidur di pelukan aku aja sayang"
dika melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh vani.
vani tersenyum lalu memejamkan matanya hendak tidur dalam dekapan hangat suaminya itu.
saat pasangan suami istri itu sedang tidur dengan posisi berpelukan terdengar ponsel dika berdering menandakan ada panggilan masuk.
vani pun membuka matanya saat mendengar suara ponsel suaminya itu.
"mas hp kamu bunyi tuh kayanya ada yang nelpon deh"
vani menatap suaminya yang masih memejamkan mata.
"biarin aja sayang aku lagi males nih masih nyaman di peluk kamu"
dika terus memeluk istrinya dan tidak ingin melihat ponsel.
vani meraih ponsel dika untuk melihat panggilan itu dari siapa karena takut ada yang penting begitu pikirnya.
"mas, ini dari mama"
ucapan vani membuat dika kembali membuka matanya dengan malas.
"hem" dika mengambil alih ponsel dari tangan istrinya lalu menjawab panggilan telpon dari mamanya itu.
Dika: iya halo ma.
dika menjawab sambil terus memeluk istrinya.
Mama: dika kamu dimana sekarang? kamu pulang ya nak, arin lagi sakit nih tadi dia juga sempet pendarahan ringan jadi mama khawatir karena arin enggak mau ke dokter kalo kamu enggak nemenin katanya.
Dika: apa!! pendarahan ma.
ucapan kaget dika membuat vani penasaran.
Mama: iya dika. sekarang kamu pulang ya mama tunggu.
__ADS_1
Dika: tapi ma...
tut! tut! tut!
mama ratih mematikan sambungan telponnya agar dika tidak membantah ucapannya lagi.
"ada apa mas?"
vani menatap suaminya yang terlihat cemas setelah menutup telponnya.
"em, tadi mama bilang arin ngalamin pendarahan sayang jadi mama minta aku pulang buat nemanin dia ke dokter"
dika menatap mata istrinya dengan lekat.
"oh ya udah mas kamu pergi aja temenin arin ke dokter kasian bayinya kalo sampe kenapa napa gimana. itu kan baby kamu juga"
vani pun melepaskan pelukan dari suaminya itu.
"tapi sayang. aku,,, enggak mau" dika memelas.
"mas kamu enggak boleh kaya gitu gimana pun juga itu tanggung jawab kamu sebagai papanya"
vani membujuk dika agar suaminya mau pergi mengantar arin ke dokter.
"tapi dia kan bisa pergi bareng mama sayang dianya aja yang terlalu manja" dika masih mencari alasan.
"aku emang enggak suka liat kamu sama arin mas tapi aku lebih enggak suka liat kamu enggak peduli sama tanggung jawab kamu sebagai seorang ayah"
vani mengalihkan pandangannya.
"hh! ya udah deh sayang aku bakalan pergi maaf ya aku tinggalin kamu sebentar di sini"
dika menghembuskan nafas kasarnya lalu akhirnya setuju atas permintaan dari istrinya.
"em" vani mengangguk pelan.
"ya udah aku pergi dulu ya sayang" cup!
dika mengecup kening istrinya lalu beranjak dan keluar dari dalam kamarnya.
vani hanya diam sambil meneteskan air mata menatap kepergian suaminya itu mencoba untuk ikhlas namun sangat menykitkan pikirnya.
tidak lama dika pun sampai di kediaman orang tuanya ia langsung masuk ke dalam untuk menemui arin.
"Assalamualaikum"
"Walaikumsalam
mama ratih tersenyum melihat putranya sudah sampai.
"dika kamu udah sampe nak arin ada di dalam kamarnya sekarang jadi kamu langsung temuin dia aja ya disana"
"iya ma"
dika mengangguk sambil melangkah menuju kamar arin.
ceklek!
dika membuka pintu kamar arin dan melihatnya sedang berbaring di atas ranjang. ia berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang arin.
"kamu kenapa hem?"
dika mengusap kening arin dengan lembut.
"perut aku sakit mas" jawab arin dengan suara lemah.
"terus kenapa enggak mau ke dokter sama mama?" dika menatap mata arin dengan lekat.
"aku enggak mau dokter aku cuma mau kamu ada di sini nemenin aku mas aku juga butuh kamu disini"
arin menggenggam tangan dika dengan wajah sedihnya.
"hem ya udah sekarang ayo kita ke dokter" ajak dika.
"enggak mau, kamu temenin aku aja ya di sini" mata arin kembali berkaca kaca.
"hhh! ya udah sekarang kamu makan dulu ya"
dika melihat makanan arin yang masih utuh di atas nakas karena ia tidak memakannya.
"aku enggak selera makan apapun"
arin mengalihkan pandangannya menatap kearah lain.
"aku suapin kamu ya"
dika mengambil makanannya namun arin masih tetap tidak mau makan.
"enggak mau mas aku mual kalo makan"
"oke kalo kamu enggak mau makan aku bakal pergi"
dika kembali meletakkan piring yang di pegangnya.
"mas jangan pergi, iya aku mau makan tapi kamu jangan pergi lagi ya"
arin menahan tangan dika yang hendak pergi dari sana.
"iya aku enggak bakal pergi"
dika kembali duduk lalu menyuapi arin makan.
"makasih ya mas"
setelah selesai makan dika pun membuatkan susu untuk arin karena arin memintanya.
"sekarang kamu istirahat ya"
dika tersenyum mengusap rambut arin.
__ADS_1
"tapi kamu temenin aku sampe aku tidur ya mas" arin menatap dika.
"em" dika pun mengangguk setuju.