Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 174


__ADS_3

dika terus melenguh nikmat tidak perduli dengan rasa perih yang vani rasakan saat ini karena ia terlalu asik dengan gerakannya yang menghujam tubuh vani tanpa ampun.


lama kelamaan vani mulai terbuai dengan kenikmatan itu, ia meremas punggung suaminya seolah meminta dika agar semakin mempercepat gerakan padahal dirinya masih merasakan perih disana.


dalam sekejap vani melupakan rasa perihnya, awalnya ia memang merasakan sakit karena permainan kasar dari suaminya itu terlebih lagi vani sudah lama tidak melakukan hubungan membuatnya harus kembali merasa perih.


semakin lama gerakan itu mulai teratur, bergerak cepat namun terbiasa hingga membuat vani juga menikmati permainan suaminya.


"sshh!!! uuhh!!" lenguhan vani tidak tertahan saat dika menambah kecepatan gerakan pinggulnya.


vani mulai tak terkendali, tubuhnya tidak dapat berbohong jika saat ini ia merasa seperti sedang melayang hingga langit ketujuh. nafas keduanya pun terengah engah dengan peluh yang mengucur membasahi tubuh.


di dalam kediaman rangga terlihat raffa bahkan sudah tertidur pulas di dalam kamar bersama rara dan rasty. sebenarnya raffa sedang menunggu kepulangan mamanya hingga ketiduran di dalam kamar kedua mbaknya itu.


rangga dan ranty pun sudah menelpon vani berulang kali karena merasa khawatir namun tidak ada jawaban dari ponsel vani.


"vani dimana sih?" risau rangga gelisah.


"coba telpon lagi dong mas" ranty juga ikut khawatir.


"udah sayang, tetap enggak bisa"


akhirnya rangga pun menelpon supir pribadi vani untuk menanyakan keberadaan vani dimana.


setelah telpon tersambung supir pun menjawab jika saat ini vani sedang bersama dengan dika. hal itu membuat rangga dan ranty kembali merasa tenang.


"huh syukurlah"


"ya udah kita tidur aja ya sayang kan vani lagi bareng sama dika" ajak rangga.


"iya udah deh mas" ranty pun mengangguk.


akhirnya mereka memutuskan untuk tidur karena malam sudah larut tanpa berpikir hal yang lain lagi tentang vani.


di dalam kamar hotel, setelah puas menikmati aktivitas yang mereka lakukan akhirnya lenguhan panjang keluar dari mulut keduanya yang menandakan berakhirnya permainan panas di antara pasangan suami istri itu.


tubuh keduanya bergetar hebat saat melakukan pelepasan bersama hingga akhirnya dika ambruk di atas tubuh vani.


dika merasa sangat lelah karena sejak tadi harus menahan rasa sakit di dalam tubuhnya membuat mereka akhirnya terlelap dengan saling berpelukan.


menjelang subuh vani terbangun dari tidurnya, ia menatap dika yang masih terlelap di sampingnya sambil memeluk tubuhnya dengan posesif.


vani bergerak secara perlahan menggeser lengan dika yang sedang melingkar di perutnya lalu kembali memungut pakaian mereka yang sudah berhamburan di atas lantai. vani meletakkan pakaian dika di atas ranjang setelah itu ia memakai pakaiannya sendiri.


setelah selesai memakai pakaiannya dengan rapi vani pun memutuskan untuk segera pulang namun sebelum pergi ia kembali mendekati sisi ranjang dan menatap wajah dika.


cup! vani mengecup kening dan kedua pipi suaminya terlebih dahulu.


"maafin aku ya mas" bisik vani. ia segera melangkah keluar dengan perlahan dari dalam kamar itu.


"sshh aw!" dengan langkah tertatih vani berjalan keluar dari dalam hotel.


tubuhnya terasa sakit semua, tulangnya seakan remuk dan sulit untuk bergerak. dika benar benar membuatnya sulit berjalan kali ini. bahkan saat malam pertamanya dulu di pagi harinya vani masih bisa berjalan karena dika bermain lembut namun kali ini dika tidak menyadari perbuatannya yang sudah menyakiti tubuh vani.


meskipun akhirnya vani ikut menikmati namun setelah rasa nikmat itu hilang yang tersisa hanyalah rasa sakit di sekujur tubuhnya.


"sshh! akkhh! kenapa badan aku sakit semuanya" keluh vani sambil terus berjalan tertatih hingga akhirnya sampai di parkiran dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


supir yang malang itu pun sampai ketiduran di dalam mobil sambil menunggu majikannya kembali.


"pak, ayo kita pulang sekarang" ujar vani membangunkan supirnya yang tertidur dengan posisi duduk itu.

__ADS_1


"eh! nyonya udah balik. i iya baik nyonya kirain pulangnya besok pagi nyonya" hehe nyengir supirnya.


"em, oh ya pak. jangan bilang sama mas rangga kalo kita pulang pagi ya" ujar vani kepada supirnya.


"baik nyonya, tapi tadi tuan rangga sudah nelpon saya sih nyonya katanya ponsel nyonya enggak aktif pas di telpon. tuan rangga sangat khawatir dan bertanya ke saya tentang keberadaan nyonya" jelas supir.


"terus bapak jawab apa?"


"saya jawab kalau nyonya sedang bersama pak dika"


"terus bapak bilang apa lagi?"


"enggak ada sih nyonya, soalnya setelah saya bilang kalo nyonya sedang bersama pak dika saat itu terdengar suara tuan rangga sudah merasa lebih tenang dan dia matikan telponnya"


"ya udah, saya minta bapak jangan bicara apapun sama mas rangga tentang malam ini ya"


"emangnya ada apa sama malam ini nyonya? bukannya beneran ya kalo nyonya lagi bareng pak dika di dalam"


"em, iya sih tapi enggak ada apa apa kok pak. ya udah ayo kita pulang aja" vani berkilah.


"baiklah nyonya" supir mengangguk.


supir itu sebenarnya bingung melihat kondisi vani yang berantakan dengan wajah lelahnya namun ia tidak berani bertanya lebih banyak dan langsung melajukan mobil kembali pulang menuju rumah rangga.


sesampainya di rumah, vani langsung berjalan masuk dan tidak melihat siapapun di sana yang menandakan jika semua orang masih tertidur.


vani melangkah menuju kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk berendam di bathtub berisi air hangat setelah menuangkan cairan aroma terapi agar kembali merilekskan tubuhnya yang terasa kaku.


saat sedang berendam vani kembali mengingat apa yang sudah terjadi malam ini. air mata mengalir dari pipinya bukan karena perbuatan suaminya yang kasar namun karena tindakan rissa yang sangat nekat melakukan itu untuk merebut suaminya.


entah apa yang sudah rissa lakukan kepada dika sehingga membuat suaminya yang biasa selalu bersikap lembut itu menjadi sangat brutal malam ini vani tidak tahu tentang obat perangsang itu.


vani berjalan keluar dari dalam kamarnya hendak melihat raffa yang sedang tidur bersama kedua kakaknya. ia yakin jika saat ini raffa pasti berada di dalam kamar rara dan rasty.


ceklek!


vani masuk ke dalam kamar rara dan melihat tiga malaikat kecil itu masih tertidur pulas di atas ranjang.


vani mengecup kening ketiganya dengan lembut lalu kembali berjalan menuju kamarnya berniat untuk istirahat karena seluruh tubuhnya masih terasa sakit dan lelah.


sesampainya di dalam kamar vani langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang lalu memejamkan matanya untuk tidur. ia pun langsung terlelap karena memang masih merasa kelelahan.


pagi harinya tepatnya jam 07.00 di dalam kamar hotel itu dika terbangun dari tidurnya dan melihat keadaan dirinya serta ranjang yang sangat berantakan.


"akkhh!!!" dika memegangi kepalanya yang masih terasa sangat pusing.


"apa yang udah terjadi ya, kenapa semuanya berantakan kaya gini. apa yang udah gue lakuin?"


dika mencoba untuk mengingat apa yang sudah terjadi tadi malam.


bayangan saat ia sedang bermesraan dengan seorang wanita teringat cukup jelas di dalam ingatannya namun dika tidak dapat mengingat siapa wanita itu.


"rissa?" dika mengingat jika terakhir kali ia sadar dirinya sedang bersama dengan rissa.


"brengsek, akkhh!!!" dika berteriak menepis barang barang di atas nakas yang berada di samping ranjangnya.


dika marah karena perbuatan rissa yang dengan sengaja melakukan ini semua kepadanya.


di rumahnya terlihat rangga dan istrinya sedang duduk hendak sarapan bersama di meja makan namun di sela sela makannya rangga kembali teringat pada vani lalu ia pun bertanya kepada istrinya tentang adik iparnya itu.


"sayang apa vani udah pulang?"

__ADS_1


rangga sambil mengunyah santai sarapannya sebelum berangkat kerja.


"udah mas, tapi dia masih tidur" ranty pun memakan sarapannya.


"apa dia enggak ke kantor?"


"em, kayanya enggak deh mas. mungkin vani lagi enggak enak badan"


"oh" rangga mengangguk anggukkan kepalanya.


setelah selesai sarapan rangga berjalan ke depan rumah untuk menemui supir pribadi vani yang kebetulan juga sudah menyiapkan mobil karena akan mengantar vani pergi ke kantor.


"pak, kayanya vani enggak ke kantor hari ini"


rangga berjalan menghampiri supir yang sedang berdiri di dekat mobil vani.


"oh begitu ya pak. baiklah pak bos" supir hanya tersenyum.


"oh ya pak, saya mau nanya jam berapa ya kalian pulang tadi malam. emangnya vani sama dika pergi kemana?" tanya rangga yang merasa penasaran.


"em itu pak. kami pulangnya sekitar jam...?"


ucapan supir di timpali oleh vani yang baru saja datang sambil berjalan mendekati mobilnya dan menatap rangga yang juga berada di sana.


"ehem, pak ayo kita langsung berangkat sekarang aja ya" ujar vani kepada supirnya.


"eh, baik nyonya. silahkan masuk nyonya" supir langsung mempersilahkan vani untuk masuk ke dalam mobil.


rangga yang melihat vani hendak pergi pun langsung menahannya dengan beberapa pertanyaan.


"vani! kamu kemana tadi malam?" tanya rangga.


"em, enggak kemana mana kok mas" vani menatap rangga.


"tapi supir bilang kalo kamu pergi sama dika tadi malam ya apa itu benar?"


"em iya sih mas" vani mengangguk.


"kalian pergi kemana dan pulang jam berapa?" sepertinya rangga sedikit terlalu banyak bertanya.


"mas rangga, apa aku harus ngelaporin semua kegiatan yang aku lakuin setiap hari sama mas ya?"


rangga pun terdiam memang benar tidak seharusnya ia banyak bertanya kepada adik iparnya itu namun rangga sudah menganggap vani seperti adiknya sendiri sehingga ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.


"em iya enggak harus. maaf ya vani kalo kamu ngerasa enggak suka sama pertanyaan mas yang over ini" rangga pun meminta maaf.


akhirnya mereka berangkat ke kantor seperti biasanya.


pukul 09.00 pagi dika baru sampai di kantor ia hanya melirik sekilas kearah vani yang sedang duduk di meja kerjanya. dika langsung masuk ke dalam ruangannya dan melewati vani begitu saja.


vani yang melihat kedatangan dika pun hanya diam dan tetap menatap fokus pada layar di hadapannya sambil mengabaikan kedatangan dika yang langsung masuk ke dalam ruangannya itu. tidak seperti biasanya mereka akan saling menyapa ketika sedang berpapasan.


setelah masuk ke dalam ruangannya dika duduk di atas kursi meja kerjanya. ia masih terus memikirkan tentang apa yang sudah terjadi kemarin malam.


dika berusaha untuk menghubungi rissa namun ponselnya tidak aktif.


tut!!! tutt!!


"ck! kemana sih dia!!"


dika berusaha untuk menenangkan dirinya karena merasa frustasi mencari keberadaan rissa.

__ADS_1


__ADS_2