Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 229


__ADS_3

beberapa bulan berlalu, sekarang ray sudah kembali menjalani kehidupannya dengan normal. ia sudah berusaha untuk melupakan tentang naya dan hanya fokus kepada keluarga kecilnya serta pekerjaannya saja.


malam ini di dalam kamarnya dika sedang mengelus elus lembut perut istrinya sambil mengajak calon bayinya berbicara dari dalam sana.


"sayang, baby lagi ngapain nih kok enggak gerak sih?"


dika menempelkan telinganya di perut istrinya.


"baby lagi bobok pa udah ngantuk nih" vani tersenyum sambil mengusap rambut dika.


"ya udah sayang kita bobok aja ya sekarang" dika pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"iya mas"


vani mengangguk namun tiba tiba saja ia merasa perutnya sangat sakit dari dalam hingga meringis kesakitan.


"aw!! mas sakit banget" vani memegangi perutnya.


"sayang kamu kenapa, sakit ya?"


dika dengan panik langsung terduduk dari tidurnya.


"sshh! aduh mas, kayanya aku udah mau lahiran deh ini sakit banget soalnya" vani terus meringis skait.


"hah! mau lahiran. oh iya ini juga kan udah bulannya sayang. ya udah kita ke rumah sakit sekarang aja ya"


dika segera bangkit dari duduknya lalu membawa vani menuju rumah sakit.


sesampainya di rumah sakit dika menemani vani masuk ke dalam ruang persalinan.


sejak malam mereka terus menunggu namun hingga pagi hari bayi belum lahir juga, dika masih setia menemani istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan putra kedua mereka itu dengan persalinan yang normal.


vani bersi keras ingin melahirkan secara normal meskipun sejak kemarin malam ia sudah menanggung rasa sakit yang luar biasa akibat kontraksinya.


"huhh! mas sakit"


vani terus mencengkram kuat lengan suaminya untuk menahan rasa sakitnya.


"sayang, udah ya aku enggak tega ngeliat kamu kesakitan terus kaya gini dari tadi malam. kamu enggak perlu kok maksain diri kaya gini buat lahirin normal bayi kita. please! aku selalu cinta sama kamu apapun keadaannya, buat aku kamu itu udah jadi seorang istri dan ibu yang terbaik untuk aku dan anak anak kita sayang" dika meyakinkan istrinya agar tidak memaksakan diri lagi.


"tapi aku kan pengen lahiran normal mas, kaya ibu ibu yang lain juga, aku pengen jadi seorang wanita yang sempurna yang benar benar bisa ngerasain perjuangan jadi seorang ibu mas" vani masih bersi keras di tengah rasa sakitnya.


"sayang, semua wanita hamil dan melahirkan itu sama sama udah jadi wanita yang sempurna meskipun harus melahirkan dengan cara yang beda beda, buat aku itu bukan masalah karena kamu udah sempurna. ini demi keselamatan kamu sama bayi kita juga" dika terus meyakinkan istrinya.


"aakkhhh!!! sakit mas!!!" vani meringis terus menerus hingga berteriak.


sudah dua belas jam penuh vani menahan rasa sakitnya bahkan sudah di beri obat perangsang agar bayi segera lahir namun tetap saja vani tidak bisa melahirkan bayinya secara normal.


dokter mengatakan jika pembukaan pada jalan keluar bayi tidak bertambah membuat bayinya sulit untuk menembus jalan keluarnya sehingga kemungkinan bayi tidak bisa keluar dari jalannya.

__ADS_1


dika terus menerus meyakinkan istrinya untuk segera melakukan persalinan jalur operasi saja karena ia tidak tega jika harus melihat istrinya itu kesakitan terus menerus.


alhasil saat ini kondisi tubuh vani pun sangat drop hingga akhirnya ia pingsan akibat kelelahan. tubuhnya terasa lemah membuat bayi di dalam kandungannya juga ikut melemah.


tidak ingin mendapat resiko apapun terhadap keduanya dika segera meminta dokter untuk mengambil tindakan operasi demi menyelamatkan nyawa istri dan bayinya.


akhirnya vani di bawa masuk ke dalam ruang operasi untuk segera melakukan persalinan dengan jalur caesar. dika dan keluarga yang lain masih menunggu dengan cemas.


raffa pun ikut menunggu kelahiran adiknya itu bersama dengan hana dan juga opa omanya di sana.


"bibi, gimana ya kondisi mama sekarang?" tanya raffa kepada hana bibinya.


"sayang, affa berdoa aja ya minta sama allah biar mama sama calon adek affa selamat dan sehat keduanya" hana memberi pengertian kepada raffa.


"iya bik affa berdoa terus kok" raffa mengangguk.


"ya allah selametin mama sama adek affa ya allah. amin"


"aamiin. affa pinter banget sayang" mama ratih tersenyum memeluk cucunya.


kurang dari satu jam proses operasi itu pun pun selesai. setelah selesai melakukan operasi vani dan bayinya segera di pindahkan ke dalam ruang perawatan


setelah dika selesai mengadzani bayinya, keluarga yang ikut menemani di sana pun masuk ke dalam ruangan vani untuk melihat putra kedua dari dika dan vani itu.


kondisi vani masih lemah namun ia sudah sadarkan diri di atas bankar.


mama ratih dan papa hardi pun bergantian menggendong dan memeluk cucu ke empat mereka yang baru saja lahir.


keduanya memutuskan untuk stay di tanah air sejak beberapa bulan terakhir sengaja ingin menantikan kelahiran cucu mereka itu.


rangga dan ranty serta kedua putri mereka pun menemani dika selama berada di rumah sakit.


rangga baru saja pulang setelah pergi ke london beberapa minggu yang lalu namun ia segera memutuskan untuk kembali ke tanah air setelah mendapat kabar jika keponakan keduanya itu akan lahir.


dika sangat antusias dalam menjaga putra kedua mereka begitu juga dengan raffa yang sangat menyayangi adiknya. rafa selalu mengatakan jika mereka akan bermain bola bersama saat adiknya sudah besar nanti.


"pa, adek lucu banget! nanti affa mau main bola sama adek ya kalo udah gede" raffa menatap adiknya yang sedang berada di dalam pelukan papanya itu.


"iya sayang harus dong, nanti affa jagain adek terus ya" dika tersenyum menatap putra sulungnya.


"oke papa" raffa mengacungkan dua jempolnya.


"pinter sayang bibi" hana mengusap rambut raffa.


sekarang kebahagiaan papa hardi dan mama ratih semakin lengkap karena mereka sudah memiliki dua pasang cucu yang cantik dan tampan dari kedua anak mereka di tambah lagi satu anak ray menjadi 5 orang cucu di dalam keluarga wijaya.


tidak lupa ray dan yuli pun datang untuk melihat keadaan kakaknya dan baby yang baru lahir.


saat ini usia baby arka sudah menginjak enam bulan, yuli dan ray juga mengajak baby arka ke rumah sakit untuk mengunjungi vani dan baby yang baru lahir.

__ADS_1


"hai sayang aunty kamu kok ganteng juga sih sama kaya abang kamu nih, abang affa yang sok kegantengan kaya papanya" yuli tersenyum menatap bayi mungil yang berada di dalam gendongannya itu.


"ih bibi! iya jelas dong adek affa itu ganteng, kaya affa sama papa" protes raffa saat mendengar ucapan bibinya.


"iya tapi kalo affa itu kan udah terlalu over narsisnya kaya papa beda dong" yuli melirik kearah dika.


"biarin aja sayang, bibi kamu tuh cuma iri aja liat kegantengan kita makanya deh bilang kaya gitu" dika menimpali.


"iya pa hihihi" raffa cekikikan.


"ck! emang anak sama bapak satu server ya" yuli menatap malas abang iparnya itu.


dika menatap vani lalu mengusap lembut rambut istrinya yang sedang tersenyum menatapnya.


"gimana keadaan kamu sayang?"


"aku bahagia banget mas, sekarang anak kita udah dua"


"makasih ya sayang kamu udah jadi mama yang hebat"


cup! dika mengecup kening istrinya.


beberapa hari kemudian vani dan bayinya akhirnya sudah boleh pulang dari rumah sakit mereka pun memutuskan untuk segera kembali pulang ke rumah.


sesampainya di rumah, dika dan vani langsung masuk ke dalam dengan hana dan raffa yang berjalan di belakang tubuh mereka mengikuti langkah mama dan papanya.


"assalamualaikum!"


"sayang, selamat datang di rumah kita"


dika menggendong putra keduanya sambil masuk ke dalam rumah mereka.


hari hari dika dan istrinya di dalam rumah itu pun semakin berwarna dengan bertambahnya anggota keluarga baru yaitu putra kedua mereka.


di dalam kamarnya raffa senantiasa berada di samping adiknya yang sedang terlelap di atas ranjang. ia menjaga adiknya dengan penuh kasih sayang sambil melakukan kegiatan yang ia sukai yaitu belajar dan menggambar.


saat masih asik menggambar raffa melihat adiknya yang menggeliat dan menangis bagun dari tidurnya. raffa yang melihat adiknya itu menangis pun langsung bergegas memanggil mamanya.


"mama! adek affa nangis nih! tapi affa enggak tau gimana buat adek berhenti nangis" raffa mengadu kepada ibunya.


"oh iya sayang, ya udah biar mama yang gendong adek ya mungkin adek affa lagi haus nih" vani mengelus pipi putra pertamanya itu dengan gemas.


"iya ma" raffa mengangguk lalu kembali fokus pada buku gambar dan pensilnya.


setiap hari raffa selalu berada di sisi adiknya itu, ia selalu menjaga adiknya dengan baik dan tidak membiarkan adiknya untuk sendirian maka ia akan mengadu kepada mamanya saat melihat adiknya menangis.


meskipun raffa sangat suka menggambar namun saat ini, ia akan lebih suka berada di sisi adiknya sambil belajar.


raffa sangat menyayangi adiknya bahkan ia tidak rela jika ada seekor nyamuk pun yang mendekati adiknya.

__ADS_1


__ADS_2