Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 163


__ADS_3

Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit akhirnya hari ini vani dan dika sudah di izinkan untuk kembali pulang dan bisa beristirahat di rumah saja.


semua keluarga yang datang dari kampung halaman untuk menjaga vani di rumah sakit pun kembali pulang ke rumah masing masing sedangkan yuli sudah kembali ke london bersama suaminya karena pekerjaan yang tidak bisa ray tinggalkan.


hari ini rangga tidak pergi ke kantor karena akan membawa vani pulang kerumahnya. untuk sementara waktu vani akan tinggal bersama mereka hingga dika kembali mengingat anak dan istrinya itu.


sedangkan dika sendiri akan kembali ke rumah utama bersama kedua orangtuanya, mereka sudah bersiap untuk segera pulang ke rumah.


dika yang masih melihat vani berada di antara mereka pun kembali bertanya kepada mamanya.


"ma, sebenarnya siapa sih cewek itu kenapa dia masih ada di sini juga. emang dia enggak punya keluarga yang jemput ya?" dika menatap vani karena akan ikut pulang bersama dengan mereka. ia juga tidak melihat ada keluarga lain yang akan menjemput vani.


"dia adek ipar gue dika, masa lo lupa" jawab rangga yang ikut membawa barang barang adiknya menuju mobil.


"adek ipar? maksud lo adeknya mbak ranty, bukannya adek mbak ranty itu cowok ya?" dika bingung membuat rangga tertegun ia bahkan tidak berpikir sampai kesana.


"em, iya adek mbak lo kan ada dua orang" rangga semakin membuat dika heran.


"sejak kapan lahir lagi, bukannya adek mbak ranty cuma ada satu?"


"eh, kebanyakan nanya lo. bisa bisanya yang lain lo lupain sedangkan adek ipar gue ada berapa aja lo inget. kan gue udah bilang kata dokter ingatan lo itu lagi bermasalah jadi mungkin lo lupa kalo adek ipar gue ada dua" ujar rangga malah memarahi adiknya yang merasa bingung itu.


rangga pun berjalan menuju mobilnya bersama dengan vani yang akan ikut pulang kerumahnya. sedangkan dika masuk ke dalam mobil yang berbeda, bersama kedua orang tuanya untuk kembali pulang kerumah utama.


vani menatap nanar mobil yang sudah berlalu di depannya, ia kembali meneteskan air matanya karena harus kembali berpisah dengan suaminya itu.


"vani, untuk sementara waktu kamu pulang ke rumah mas dulu ya. seenggaknya sampe keadaan dika membaik" rangga melihat vani kembali bersedih.


"iya. aku enggak papa kok mas" vani mengusap air matanya lalu tersenyum tipis menatap rangga.


rangga melajukan mobil menuju rumahnya agar vani bisa segera istirahat.


sesampainya di rumah, kepulangan rangga dan vani sudah di sambut oleh ranty bersama ketiga anak mereka dengan senyuman.


"mama! afa tangen tama mama"


raffa langsung memeluk tubuh mamanya saat melihat vani pulang karena sudah beberapa hari ini ia hanya bisa melihat wajah ibunya dari balik layar ponsel.


vani dengan tersenyum pun membalas pelukan putranya dengan erat.


"sayang, mama juga kangen banget sama affa. emuach...." vani mengecupi seluruh bagian wajah putranya.


"tante, rara juga kangen banget deh sama tante"


rara yang kini hampir menginjak usia 10 tahun pun ikut memeluk vani.


"tante juga kangen banget sama kalian cantik sekarang udah gede dan makin cantik"

__ADS_1


vani mengecup pipi kedua keponakannya yang cantik yaitu rara dan rasty yang masih kecil.


"oh ya tante, kata mama tante sama adek affa mau tinggal disini ya?" rara memastikan ucapan mamanya itu benar.


"iya sayang, boleh enggak kalo tante sama affa tinggal disini?" tanya vani meminta izin.


"boleh banget dong tante cantik, rara sama rasty seneng banget kalo tante sama affa tinggal disini jadi rara bisa main sepuasnya sama adek" rara tersenyum senang.


"makasih ya sayang"


"oh ya emangnya om dika ada dimana sih tante kok enggak ikut kesini juga?" tanya rara membuat vani bingung menjawabnya.


"em, om dika lagi..." vanibingung bagaimana harus menjelaskannya pikirnya.


"om kamu lagi sibuk kerja, jadi dia nitipin tante sama adek kamu disini" rangga memberikan pengertian pada rara.


"oh gitu ya pa" rara mengangguk mengerti.


"sayang biarin tante kamu istirahat dulu ya. soalnya tante kan baru sembuh" ujar ranty.


"iya ma. ayok dek kita main lagi" rara pun mengajak kedua adiknya untuk kembali bermain di tempat lain saja.


"ya udah vani sebaiknya kamu langsung istirahat aja ya di dalam kamar"


"iya mbak, makasih ya mbak udah jagain raffa"


"iya mbak" vani tersenyum lalu berjalan menuju kamarnya yang sudah ranty siapkan.


setelah kepergian vani dari sana ranty menatap rangga yang juga di balas tatapan oleh suaminya itu.


ceklek!


vani masuk kedalam kamar dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang untuk segera beristirahat.


raffa yang selalu terlihat diam itu pun datang dan masuk ke dalam kamar hendak bertanya kepada mamanya dimana keberadaan papanya yang sudah hampir satu minggu tidak terlihat oleh matanya itu.


raffa berjalan mendekat lalu naik ke atas ranjang agar lebih dekat dengan mamanya. dengan logat bicara khas anak kecilnya raffa pun bertanya.


"ma, dimana papa affa?" tanya raffa menatap mata ibunya yang kembali berkaca kaca saat mengingat suaminya itu.


"em, papa affa lagi kerja sayang. kerjanya jauh di luar kota jadi belum bisa pulang buat main sama affa sekarang." ujar vani memberi alasan kepada putranya itu.


"Oooo"


raffa tetaplah raffa ia hanya akan bertanya sekedar dan berbicara juga secukupnya saja hanya tentang vani dan dika maka ia akan bertanya selain tentang kedua orang tua dan keluarganya maka ia tidak akan perduli.


"sekarang affa bobok ya"

__ADS_1


"iya ma"


raffa mengangguk lalu tidur disamping ibunya karena vani tau putranya itu lebih suka tidur dari pada bermain namun ada saatnya raffa juga akan senang bermain jika ia sedang ingin bermain.


raffa memejamkan matanya sambil berbaring di samping mamanya. vani yang melihat wajah polos putranya sedang tertidur kembali meneteskan air mata karena memikirkan apa yang akan terjadi kepada mereka jika suaminya tidak akan bisa kembali mengingat mereka.


'aku harus kuat demi raffa aku yakin semua akan ada jalan yang terbaik untuk keluarga kami' batin vani mencoba untuk tersenyum.


akhirnya vani pun memejamkan mata dan segera tidur di samping putranya.


hari hari vani berjalan dengan sepi, ia hanya pergi ke butik bersama raffa setiap harinya untuk mengisi waktu kosong di siang hari dan pulang setelah matahari terbenam.


di setiap sholatnya tidak pernah lupa vani selalu berdoa untuk kesembuhan suaminya agar dika bisa segera mengingat dirinya dan juga raffa putra mereka kembali.


sedangkan dika juga menjalani hari hari seperti biasanya sama seperti dirinya saat masih sendiri. ia pergi ke kantor di pagi hari dan pulang di sore hari. dika bahkan tidak ingat jika ia sudah menikah dan memiliki seorang putra yang saat ini hampir menginjak usia tiga tahun itu. belakangan ini hatinya selalu merasa hampa. merasa ada sesuatu yang kurang namun entah apa yang membuat hatinya kosong ia sendiri tidak tau.


dika sering merasakan sakit di bagian kepalanya saat bayangan ingatan masa lalunya muncul secara tiba tiba namun ia tetap tidak bisa mengingat apapun meski berulang kali mencoba untuk mengingatnya.


dika sering bertanya kepada mamanya tentang hal hal apa saja yang sebenarnya sedang ia lupakan namun mama ratih tidak berani untuk memberitahu karena takut akan terjadi sesuatu yang fatal terhadap putra bungsunya itu.


malam ini vani sudah pulang dari butik bersama dengan raffa seperti biasanya.


"assalamualaikum...."


vani masuk ke dalam rumah sambil menggendong raffa yang sudah tertidur saat dalam perjalanan pulang dari butik tadi.


"walaikumsalam vani kamu udah pulang. raffa udah tidur ya kasian kayanya kecapekan" ranty melihat vani yang sedang menggendong raffa.


"iya mbak. aku mau langsung ke kamar dulu ya" vani hendak melangkah menuju kamarnya.


"em, oh ya vani. tadi katanya mas rangga mau bicara sesuatu sama kamu deh. kita ketemu di meja makan ya" ujar ranty.


"oh iya mbak" vani mengangguk lalu masuk kedalam kamar untuk meletakkan raffa tidur di atas ranjang kamar mereka.


cup...."love you sayang mama" vani mengecup dahi putranya sebelum ia keluar dari dalam kamar untuk menuju meja makan.


malam ini sama seperti malam biasanya dika kembali masuk ke dalam kamarnya setelah selesai makan malam bersama kedua orang tuanya.


dika merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu lalu memejamkan matanya yang terasa sangat berat karena mengantuk namun tiba tiba kilas bayangan hitam kembali terlintas dalam pikiran yang membuat kepalanya terasa sakit dan pusing.


"agghh, kenapa sih aku harus lupa ingatan. sakit banget tau enggak. huh!!!" keluh dika pada dirinya sendiri.


dika beranjak dari tidurnya lalu meraih ponselnya di atas nakas. ia membuka ponsel untuk melihat galeri foto di dalam ponselnya berharap akan menemukan sesuatu di dalamnya.


"apa apaan ini kenapa handphone ini kosong semua malah enggak ada satu foto pun di dalamnya. oh iya mungkin ini handphone baru karena yang lama udah rusak waktu aku kecelakaan" ujarnya.


"hah! lebih baik sekarang aku ke ruang kerja aja deh dari pada kepikiran sesuatu terus" dika berjalan keluar dari dalam kamarnya menuju ruangan kerjanya.

__ADS_1


hampa dan kosong di dalam hatinya seperti tidak ada tujuan dalam hidupnya itulah yang saat ini dika rasakan. hal itu kerap membuatnya merasa frustasi dan mengalami stress berlebihan sehingga kepalanya sering sakit namun mau bagaimana pun dika tetap berusaha untuk hidup dengan lebih tenang dan damai.


__ADS_2