Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
bab 195


__ADS_3

Keesokan harinya, dika pergi ke kantor dengan perasaan yang sangat tidak menentu.


di dalam mobil menuju kantor dika masih memikirkan tentang istrinya. di satu sisi ia tidak ingin melihat vani bersedih namun di sisi lain entah mengapa tetap selalu memikirkan hal yang sama.


sesampainya di kantor dika merasa tidak bersemangat untuk melakukan pekerjaannya. kepalanya terasa pusing dan perutnya juga masih saja merasa mual membuat dika semakin malas bekerja.


akhirnya dika memutuskan untuk beristirahat saja di dalam ruangan kamar yang berada di ruang kerjanya.


menjelang siang hari saat dika sedang bersiap hendak makan siang bersama rangga dan ray seperti biasanya. rissa kembali muncul di kantor ia datang dan masuk ke dalam ruangan dika tanpa mengetuk pintu meskipun ray sudah melarangnya.


"dika" panggil rissa membuat dika menoleh menatapnya.


"maaf bos saya sudah melarangnya untuk masuk tapi dia tidak mau mendengarkannya" ray melapor kepada dika sambil menatap rissa dengan kesal.


"hem!" dika mengangguk sambil menggerakkan tangannya meminta ray untuk keluar dan membiarkan rissa masuk.


"baiklah" ray pasrah lalu keluar dari dalam ruangan dika.


"ada apa?" dika menatap rissa setelah memastikan ray keluar dari sana.


"dika aku kangen banget sama kamu emang kamu enggak kangen sama aku ya, hem?" rissa merangkul pundak dika dengan kedua tangannya.


"enggak" jawab dika ketus.


"ck! ayolah dika lagian kita kan udah pernah ngelakuin itu sebelumnya. gimana kalo malam ini kita...."


"lepasin rissa! apa maksud kamu. kamu tau kan waktu itu aku lupa ingatan" dika mendorong tubuh rissa yang sedang memeluknya itu.


"kamu kasar banget sih! udahlah dika kamu enggak usah nolak gitu. lagian apa bedanya kamu lupa ingatan sama sekarang" rissa akan terus menggoda dika hingga berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya.


"aku sibuk! lebih baik sekarang kamu keluar" dika mengusir rissa.


"aku enggak mau pergi aku maunya sama kamu" rissa terus berusaha memeluknya meskipun dika sudah menolak dirinya.


"ck! jangan buat aku marah rissa, pergi kamu!!"


"ih dika"


"pergi!!"


"oke aku bakal pergi tapi setelah kamu..."


rissa mendekatkan wajah mereka lalu *cup* mengecup bibir dika dengan lembut.


"see you baby" rissa melangkah pergi keluar dari dalam ruangan dika.


dika hanya menatap kepergian rissa dengan ekspresi datar lalu mengalihkan pandangannya.


sepertinya dika sudah kehilangan selera makan siangnya dan akhirnya ia memutuskan untuk kembali duduk di atas kursi kerjanya.


di dalam kamarnya vani sedang istirahat karena merasa tidak enak badan. akhir akhir ini ia terlalu banyak berpikir berlebihan hingga mengalami sedikit stres membuatnya sulit untuk tidur.


vani sedang duduk bersandar di atas ranjangnya sambil memikirkan sikap dingin suaminya belakangan ini.


'kenapa ya akhir akhir ini mas dika selalu menjauh dari aku, kayanya dia emang sengaja menghindar dari aku deh' batin vani menimbang sikap suaminya sekarang.


"sshhh! aww!!! perut aku sakit. maafin mama ya nak mama terlalu banyak memikirkan sesuatu ya" vani mengusap bagian perutnya.


hari ini vani sengaja menyibukkan diri di butiknya, karena merasa bosan sendirian di rumah. sedangkan hana pergi menemani raffa yang akan ikut study tour bersama guru dan teman teman sekolahnya.


vani meminta hana untuk mewakili dirinya dan dika sebagai orang tua raffa di sekolah karena mereka tidak bisa ikut pergi. dika sangat sibuk di kantornya sedangkan vani tidak bisa melakukan perjalanan jauh yang akan membuat tubuhnya lelah.


malam ini vani sedang menunggu kedatangan dika untuk menjemputnya di butik karena dika meminta vani untuk menunggu dirinya yang juga akan pulang dari kantor.


vani masih setia menunggu kedatangan suaminya yang hendak pulang bersama dengan dirinya itu. meskipun sebenarnya vani sudah merasa lelah namun ia tetap sabar menunggunya.


dika tidak kunjung datang membuat vani merasa takut jika sebenarnya suaminya itu lupa untuk menjemput dirinya di butik. akhirnya ia memutuskan kembali menelpon dika namun tidak ada jawaban.


tut!!!


tut!!!

__ADS_1


berulang kali vani mencoba untuk menelpon suaminya namun tetap tidak ada jawaban bahkan sekarang ponsel dika sudah tidak aktif lagi.


lama vani menunggu kedatangan suaminya sambil berdiri di depan butik namun dika tidak kunjung datang juga untuk menjemputnya.


vani sudah lelah karena terlalu lama menunggu hingga ia merasa pusing di bagian kepalanya.


"aduh! mas dika kok lama banget sih. kepala aku udah pusing banget lagi" vani memegangi kepalanya yang terasa berputar.


semakin lama pandangan vani mulai buram ia masih terus mencoba untuk menelpon dika berharap suaminya akan menjawab telpon darinya namun tetap tidak ada jawaban apapun.


"aw!! shhh!! aakkhh!! sakit"


vani merasa pusing di kepalanya semakin bertambah sakit hingga ia hampir terjatuh.


diki yang saat itu kebetulan sedang lewat menuju pulang pun melihat vani sedang berdiri sendirian di pinggir jalan.


"loh itu kan vani, ngapain ya malam malam gini sendirian?"


diki menghentikan mobilnya dan segera turun hendak menyapa vani di sana. ia berjalan mendekati vani namun dari arah belakang diki melihat tubuh vani sudah berdiri dengan tidak seimbang.


karena melihat vani akan jatuh, diki langsung menopang tubuhnya dari arah belakang..


"vani! kamu kenapa?"


"mas diki?"


"kamu ngapain di pinggir jalan sendirian kaya gini?" diki masih memegangi tubuh vani yang terlihat lemah itu


"aku mau pulang mas" vani mencoba untuk berdiri sendiri tanpa di pegangin.


"kamu mau pulang sama siapa? ini udah larut malam loh bahaya kalo kamu sendirian di luar kaya gini. gimana kalo aku antar aja ya?" diki menawarkan tumpangan untuk vani.


"em, enggak usah mas makasih. ini aku juga lagi nunggu suami aku jemput" vani yang kondisinya semakin lemah itu pun hampir pingsan.


"vani! tapi kondisi kamu lagi kaya gini lagian suami kamu juga belum datang terus gimana kalo dia lupa buat jemput kamu. apa kamu mau disini sampe besok, lebih baik aku anterin kamu pulang jangan nolak ya. aku khawatir sama kamu" bujuk diki agar vani tidak menolaknya.


"em, iya deh mas"


jika vani terus memaksakan diri bisa saja dirinya akan benar benar pingsan di pinggir jalan itu.


"ya udah, ayo sekarang kamu masuk ke dalam mobil aku dulu ya"


diki berjalan pelan sambil memegangi pundak vani agar tidak terjatuh menuju mobil. ia membukakan pintu mobil bagian depan agar vani duduk di kursi tepat di sampingnya yang akan menyetir.


setelah mereka duduk bersebelahan, diki pun melihat vani yang sepertinya sangat kesakitan.


"sshh!! aw"


"kita ke rumah sakit ya?" diki merasa khawatir melihat keadaan vani yang terlihat lemah dan pucat itu.


"enggak usah mas, tolong antar aku pulang aja ya"


vani memejamkan mata karena rasanya sudah sangat sulit untuk membuka matanya lebih lama lagi.


"oke kalo gitu kamu pakai seat belt dulu ya"


diki mendekat hendak memasangkan sabuk pengaman karena vani sudah benar benar memejamkan matanya.


bila vani membuka matanya maka ia akan merasa bumi sedang berputar hebat dalam pandangannya.


dari arah yang berbeda mobil dika pun datang dan berhenti tepat di depan mobil diki ketika vani sudah berada di dalam sana.


emosi dika memuncak saat melihat istrinya sedang berduaan bersama dengan pria lain di dalam mobil itu.


terlebih lagi dari arah depan mobil dika melihat pria itu sedang mendekat kearah wajah istrinya sehingga terkesan seperti pasangan yang sedang berciuman.


melihat hal itu darah dika langsung mendidih rasanya ingin sekali ia menghabisi pria itu sekarang juga karena sudah berani menyentuh istrinya


"brengsek! berani beraninya kalian" dika dengan marah memukul stir mobilnya


brakk!!

__ADS_1


dika turun dari dalam mobilnya dengan emosi yang tidak bisa ditahan lagi. ia melangkah cepat langsung mengarah pada pintu mobil diki tanpa di sadari oleh vani yang berada di dalam sana.


sesampainya di samping mobil itu dika langsung menarik handle pintu mobil diki dan membukanya.


dengan cepat tangan dika menarik kerah baju diki hingga keluar dari dalam mobilnya.


"sini lo dasar brengsek!!!!! bughhh!!!!! bughhh!!!!!" dika menghajar diki tanpa ampun.


"maaf anda sudah salah paham" diki berusaha membela diri namun dika tidak menghiraukannya.


"salah paham iya. bughhh!!! bughhh!!!" dika terus meninju wajah dan bagian perut diki hingga ia kesakitan.


"tolong dengar dulu" bughh!


"ini yang lo sebut salah paham! bughhh!!!"


"mas dika"


vani yang pandangannya sedang buram karena merasa pusing itu masih bisa melihat siapa pria yang baru saja datang dan tiba tiba memukul diki di sana.


vani sangat yakin jika pria itu adalah suaminya, dengan perlahan ia keluar dari dalam mobil hendak melerai pertengkaran itu karena melihat diki yang sudah babak belur di tangan suaminya.


"sshh!!! mas dika berhenti...!!! stop mas. kamu ngapain mukulin mas diki, dia enggak salah" vani mendekati suaminya yang sedang emosi.


"diam...!!!! ngapain kamu belain dia. apa yang udah kalian lakuin di belakang aku hah!!!! jawab!!!"


dika membentak vani dan menggenggam erat lengan istrinya itu hingga memerah.


"apa maksud kamu, aku sama mas diki itu enggak ada hubungan apa apa. kami juga enggak ngelakuin apa apa mas kamu salah paham tadi itu mas diki cuma bantuin aku pasang seat belt aja karena aku lagi pusing tolong percaya sama aku mas"


vani mencoba untuk menjelaskan namun dika tidak percaya.


"bohong!" bughhh...!!! bughhh..!!! diki yang malang menjadi sasaran kemarahan dika saat ini.


"aku enggak bohong mas tolong kamu percaya sama aku. jangan kaya gini mas"


vani memegangi lengan suaminya agar berhenti memukuli diki yang sudah tidak berdaya.


"lepasin!!" dika langsung menepis tangan vani membuat istrinya itu terjatuh.


bruk!


"aww!!! sshh!!"


vani terjatuh karena hendak melerai pertengkaran itu. bukan, bukan sebuah pertengkaran karena diki sama sekali tidak membalasnya.


"sakit mas!" vani memegangi perutnya.


"vani! kamu enggak papa kan?"


diki yang sedang menahan pukulan dari dika masih perduli dengan keadaan vani yang terjatuh.


"minggir lo gak usah ikut campur" dika mendorong tubuh diki menjauh dari vani.


"ayo pulang" dika memegang lengan istrinya agar berdiri lalu menarik tangan vani ikut masuk ke dalam mobilnya dan membawa istrinya itu pulang.


"aw! sakit" ringis vani.


"heh!!! lo udah gila ya. istri lo itu lagi sakit bisa enggak sih lo jangan kasar terus" diki geram melihat sikap kasar dika kepada vani.


"bukan urusan lo! dengar ya urusan kita belum selesai"


dika menunjuk wajah diki lalu masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.


"dasar gila ya lo"


diki heran mengapa dulu vani bisa sampai jatuh cinta kepada pria gila seperti itu pikirnya namun dika tidak menghiraukan ucapannya.


di dalam mobil vani semakin merasa kesakitan karena menahan rasa pusing di tambah lagi sekarang perutnya juga sakit akibat benturan saat terjatuh tadi.


"sshh!!"

__ADS_1


vani hanya memejamkan mata sambil memegangi perutnya yang sakit karena saat ini suaminya sedang marah sehingga ia tidak dapat membela diri karena pasti akan tetap salah di mata dika.


__ADS_2