Bos Tampan Pujaan Hati

Bos Tampan Pujaan Hati
Punya sahabat baru


__ADS_3

jam istirahat pun tiba, vani yang sudah merasa lapar langsung turun ke lantai dasar menuju kantin hendak segera makan siang sendirian.


gadis itu sudah duduk di salah satu kursi kantin setelah ia memesan makanan.


vani melamun kembali mengingat ucapan maaf dan senyuman manis dari bosnya yang tampan pagi tadi.


"hem ternyata selain ganteng dia baik juga ke orang lain" gumam vani tersenyum sambil menopang dagu di atas meja ia mengingat wajah tampan bos barunya itu.


entah sejak kapan jay sudah berdiri di sana sambil melambai lambaikan tangan di depan wajah vani.


"hai! apa boleh saya duduk disini?"


tanya jay hendak duduk di meja yang sama dengan vani karena melihatnya hanya duduk sendirian.


"eh bapak! em, iya boleh silahkan duduk pak"


vani kaget dan langsung berdiri dari duduknya karena melihat jay yang tiba tiba saja muncul di hadapannya. ia tersenyum canggung sambil mempersilahkan jay untuk duduk bersamanya.


"terima kasih"


jay pun tersenyum lalu duduk di hadapan vani sambil meletakkan makanan yang di bawanya.


keduanya duduk saling berhadapan dengan makan siang yang sudah berada di atas meja.


"oh ya, tadi kamu kenapa sih kok melamun sambil senyum senyum sendiri gitu"


jay bertanya karena merasa lucu melihat ekspresi vani yang aneh.


"em, masa sih. enggak papa kok pak hehe" vani nyengir canggung.


"kamu kaya orang yang lagi kasmaran aja deh sampe senyum senyum sendiri gitu" canda jay.


"e..enggak kok pak, tadi saya cuma ingat sama adek saya aja di rumah"


vani beralasan karena merasa malu sudah ketahuan sedang senyum senyum sendiri.


'huh! untung aja pak jay enggak tau apa yang aku pikirin tadi' batin vani menghembuskan nafas lega.


"oh kamu punya adek?"


"iya pak" vani mengangguk.


"em, emangnya adek kamu umur berapa sampe bisa buat kamu segemes itu ingat tingkahnya? "


jay mulai memakan makan siangnya dengan perlahan.


"eh! itu em, umur kami enggak jauh beda kok pak. cuma dia emang suka bercanda orangnya"


vani masih mencari cari alasan yang tepat.


"oh gitu"


jay mengangguk anggukan kepala sambil terus mengunyah makanannya.


"iya"


"oh iya, nama kamu siapa?"


jay pun kembali bertanya siapa nama wanita di hadapannya itu karena ia sudah lupa.


'jadi dari tadi udah ngobrol bareng tapi pak jay enggak tau nama ku?' batin vani bingung dengan sikap seniornya itu.


"em, maaf ya saya lupa nanya nama kamu tadi karena saya cukup sibuk hari ini"


jay tersenyum canggung merasa tidak enak.


"ah! enggak papa pak, saya ngerti kok bapak pasti sibuk banget dengan kerjaan setiap hari. kebetulan nama saya vani pak"


vani mengulurkan tangannya lalu di sambut oleh jay dengan menjabat uluran tangan itu.


"saya jay" jay pun memperkenalkan dirinya.


keduanya saling bertatapan dan melempar senyum yang manis pula.


jay sangat terpesona saat menatap senyuman manis gadis polos di hadapannya itu. ia tidak bisa menolak pesona vani yang merupakan seorang primadona di kampus maupun di kampung halamannya itu.


jika dilihat dari jarak yang lebih dekat maka wajah alami vani akan semakin terlihat cantik karena kulit wajahnya yang bersih berseri.


kecantikan alami dengan sikap apa adanya dalam diri vani selalu mampu membuat pria yang mengenalnya mudah jatuh hati namun sayang tidak ada satupun pria beruntung yang berhasil mendapat balasan cinta dari gadis itu.


selama ini vani selalu menutup diri dan hatinya dari para pria karena terlalu takut merasakan jatuh cinta apalagi mengalami patah hati.


terlebih lagi vani memang sedikit cengeng jika itu soal hati sebab ia punya perasaan yang terlalu lembut.


entahlah seperti apa sosok pria yang akan berhasil meluluhkan hati seorang vani kelak.


saat vani dan jay masih asik berbincang satu sama lain tiba tiba saja rachel datang menghampiri mereka.


"hai!!! "


rachel melambaikan tangan kepada vani dan jay disana.


"hai rachel" jay membalas sapaan dari rachel.


"em, aku boleh gabung enggak?"


rachel menatap jay dan vani secara bergantian dengan tatapan penuh harap.


"iya boleh dong" jawab keduanya secara bersamaan.


"cie!! kompak ni ye"

__ADS_1


rachel menggoda vani dan jay yang merupakan abang sepupu sekaligus atasannya tersebut.


vani dan jay yang sedang di goda pun hanya tersenyum canggung lalu kembali fokus pada makanan di hadapan masing masing.


tentu saja rachel tahu saat abang sepupunya itu sedang mendekati seorang wanita pastilah karena jay merasa tertarik pada gadis tersebut.


"oh ya kenalin nama aku rachel"


rachel mengulurkan tangannya sambil tersenyum manis.


"aku vani"


vani menyambutnya dengan tersenyum juga.


"senang bisa kenal kamu"


"iya aku juga. makasih ya"


"jangan sungkan sekarang kita bisa jadi teman baik kan"


"iya"


vani senang karena di hari pertamanya bekerja ia sudah memiliki dua orang teman yang baik.


ketiganya berbincang sambil makan siang bersama di kantin kantor.


sejak saat itu vani dan rachel berteman baik layaknya pasangan sahabat. mereka bertiga selalu makan siang bersama setiap jam istirahat di kantin kantor.


rachel adalah sosok gadis yang ramah dan ceria sehingga mereka mudah berteman baik.


.


tak terasa sudah beberapa minggu vani bekerja sebagai sekretaris di kantor wijaya, ia merasa sangat senang menjalani hari harinya bekerja di perusahaan besar itu.


malam ini rangga lembur karena banyaknya pekerjaan di kantor membuat vani juga harus ikut lembur.


tak lama terlihat rangga berjalan keluar dari dalam ruangannya hendak meminta vani untuk pulang lebih dulu.


ceklek!!


rangga keluar lalu menatap vani yang masih duduk di atas kursi meja kerjanya.


"vani, kamu boleh pulang duluan ya karena kemungkinan saya masih lama"


rangga meminta vani untuk pulang lebih awal karena malam semakin larut.


"baik, terima kasih pak"


vani mengangguk lalu merapikan barang barangnya hendak segera pulang.


"hem"


setelah selesai membereskan meja kerjanya vani berjalan turun menggunakan lift ke lantai dasar hendak segera pulang ke rumah namun karena hari sudah larut tidak ada kendaraan umum yang lewat lagi.


akhirnya vani pun memesan taksi online saja.


tidak menunggu lama taksi online yang sudah di pesan pun datang lalu vani masuk dan mobil langsung melaju menuju rumah kontrakannya.


saat dalam perjalanan pulangnya ternyata ban mobil yang sedang di tumpangi oleh vani bocor di tengah jalan yang cukup sepi membuat vani merasa gelisah.


"wah! maaf ya mbak kayanya ban mobil ini bocor deh, terus enggak ada bengkel juga di dekat sini"


ujar supir taksi setelah melihat ban mobilnya yang bocor.


"em, terus gimana dong pak di sini juga enggak ada kendaraan umum yang lewat lagi"


"ya sudah biar saya coba hubungin teman saya aja ya mbak" tawar supir taksi tersebut.


"iya pak"


vani pun langsung mengangguk setuju namun belum sempat supir taksi menelpon temannya untuk meminta bantuan, datang dua orang pria asing menaiki sepeda motor lalu menawarkan bantuan kepada mereka untuk menggantikan ban mobil yang bocor.


"ada apa mas, mobilnya mogok ya?"


tanya dua pria itu kepada supir taksi.


"ini mas, bannya bocor" jawab supir.


"wah! dekat sini enggak ada bengkel sih mas. gimana kalo kami bantu ganti bannya aja, mas punya ban cadangan kan?"


dua pria itu pun menawarkan bantuan.


"iya sih mas emang enggak ada bengkel dekat disini, kalo mas berdua enggak keberatan ya boleh banget bantuin. saya bawa ban cadangan kok di belakang. tunggu sebentar ya mas saya ambil dulu"


supir taksi dengan senang hati menerima bantuan itu.


"oke mas" mereka tersenyum miring.


"sebentar ya mbak, lebih baik mbak nunggu di dalam mobil aja sambil duduk"


supir taksi meminta vani menunggu di dalam mobil saja.


"baik pak"


vani mengangguk lalu kembali masuk ke dalam mobil untuk menunggu.


supir taksi turun dari dalam mobil lalu berjalan ke arah belakang hendak membuka bagasi mobilnya namun bukannya membantu untuk mengganti ban yang bocor kedua pria itu justru memukul supir taksi dari arah belakang hingga jatuh pingsan.


bugh!!!


"akhhh!!" supir itu jatuh pingsan di tempat.

__ADS_1


vani yang melihat hal itu langsung panik karena merasa saat ini dirinya sedang berada dalam bahaya.


setelah membuat supir taksi pingsan kedua pria itu pun langsung membuka pintu mobil bagian belakang dari kedua sisinya.


mereka berusaha untuk memperkaos vani di dalam mobil.


ceklek!!!


dua orang itu masuk dari kedua sisi pintu mobil membuat vani berada di tengah mereka.


"hai cantik"


"mau apa kalian! jangan macam macam ya"


"kita enggak mau macam macam kok cantik cuma mau satu macam aja. iyakan haha"


"iya, ayolah sikat jangan malu malu gitu cantik"


"lepasin, tolong!!!"


vani berteriak dengan suara yang cukup keras meskipun jalanan itu sangat sepi dan tidak mungkin ada orang lain yang akan mendengar teriakannya.


"haha! teriak aja cantik, enggak bakal ada yang dengar"


kedua pria itu tertawa jahat sambil menatap tubuh vani dengan tatapan penuh gairah seperti seekor binatang buas kelaparan yang siap menerkam mangsanya.


"pergi kalian!!! jangan ganggu aku" hiks!


vani menepis tangan keduanya sambil menangis.


"tenang cantik, kami enggak mau ganggu kamu kan kita cuma mau seneng seneng aja di sini"


"enggak mau!"


vani berusaha untuk mendorong salah satu pria itu agar ia bisa keluar dari dalam mobil namun kedua pria jahat itu langsung memegang kedua tangannya dan membuat vani bersandar.


satu pria berusaha meraih kancing kemeja vani hendak membuka pakaian gadis itu.


"akh! lepasin!!! lepasin aku!"


vani menarik kedua tangannya dengan kuat berusaha untuk memberontak.


"heh! diam kamu!"


"lepasin aku!"


"diam!!"


plak!!!


"aw"


karena gadis itu terus memberontak membuat kedua pria jahat itu kesal lalu salah satu dari mereka menampar wajah vani agar ia terdiam.


tamparan itu dengan keras mendarat di pipi mulus vani membuat sudut bibirnya berdarah.


"lepasin"


tubuh vani melemah namun tidak di hiraukan oleh kedua pria bajingan yang sudah di kuasai oleh nafsu itu.


"haha. cantik banget gadis ini ya bos. mulus!"


salah satu dari pria itu menggerakkan tangan mencoba untuk meraba paha mulus vani dan berusaha membuka roknya.


"jangan sentuh aku!!"


vani kembali menepis tangan bajingan yang berusaha untuk meraba tubuhnya itu.


"ayolah cantik jangan munafik gitu, kita cuma mau seneng seneng aja disini. kamu juga pasti bakal ngerasain enak kok"


"bener itu bos" haha


"enggak!"


keduanya tertawa lalu mereka membuka paksa kemeja vani hingga beberapa kancing terlepas.


"enggak mau, tolong!!!"


vani masih tidak menyerah untuk berteriak.


"tutup mulutnya, ayo pegangin"


salah satu pria itu meminta temannya menutup mulut vani.


"oke bos"


"emhh!!!"


mereka membekap mulut vani agar tidak berteriak lalu memegangi kedua tangannya dengan kuat hingga memerah dan membuat vani merasa kesakitan.


"haha! mantap banget ya bos"


"iya, gue duluan ya"


"okelah bos tapi cepetan ya gua juga udah gak tahan lagi liatnya"


"haha. oke oke"


"emhh!"


vani hanya bisa menangis karena saat ini tubuhnya sudah tidak dapat bergerak lagi.

__ADS_1


__ADS_2